
(Aku Sherry. Gadis yang mengalami sebuah takdir aneh. Jiwaku tertukar dengan seorang gadis lain. Saat ini jiwaku sedang terperangkap dalam tubuh seorang gadis bernama, Vermouth.)
Mendengar Sherry protes, Relly tersenyum.
"Tidak semua orang memperhatikan hal itu dengan sengaja. Kamu pasti terbiasa membaca situasi dengan cara seperti itu. Layaknya seorang jagoan," Relly menyimpulkan dengan sangat cerdas. Dia mulai bisa membentuk sebuah bayangan visual seorang Sherry dalam otaknya, hingga membuatnya tersenyum senang. Mungkin Sherry terbiasa membuat matanya awas saat mengikuti Aska, adiknya saat sedang berkelahi. "Aku jadi sangat ingin tahu dirimu yang sebenarnya."
Relly melihat Sherry dengan senyuman menawan.
Itu menyilaukan. Sherry melirik sekilas lalu melihat ke arah selimut yang menutupi sebagian tubuhnya.
"Kenapa tidak ada yang lapor polisi?" lanjut Relly.
"Aku tidak tahu. Bahkan di rumah Ve sendiri, semua orang beranggapan Ve melakukan percobaan bunuh diri."
"Semua?" Sherry mengangguk. "Kamu sendiri, tidak melaporkan kejadian itu pada polisi?" tanya Relly.
"Aku merasa tidak aman jika melakukannya. Jadi aku coba bersembunyi dan menganggap tidak ada apa-apa." Bibir Sherry rupanya tidak bisa mengontrol untuk tidak menceritakan semuanya. Dia mulai sangat terbuka di depan Relly.
"Lalu kenapa sekarang sangat terbuka padaku, kalau itu membuatmu tidak aman? Bisa saja aku termasuk dalam daftar orang yang sedang mengincarmu?" ujar Relly. Sherry menipiskan bibir geram.
"Selain karena paksaanmu, aku juga tahu satu hal penting tentangmu." Relly sangat tertarik mendengar ucapan Sherry.
"Soal apa?"
"Kemungkinan kau juga mengincar Vermouth ada, walaupun sedikit, karena dia membuatmu tidak nyaman. Walaupun pendiam, Vermouth gadis yang sepertinya menyulitkanmu dengan sikapnya. Tapi aku tidak berpikiran kau akan tega melakukan hal itu kepada Ve..." ucap Sherry jujur. Ini pendapat pribadinya. Ini pandangan seorang Sherry. Relly diam.
Sherry melanjutkan kalimatnya, "Kau yang tidak menyukai Ve, tapi tetap memilih tidak pergi darinya. Tidak menjauh, atau bahkan membenci gadis ini, walaupun sikapnya yang sangat menyebalkan bagi orang lain. Kamu tetap bisa diam tanpa memakai bibirmu untuk memaki atau mengeluarkan kata-kata buruk. Kau juga tidak melontarkan kata-kata dingin seperti yang kau ucapkan pada Jenny di kantin itu," Mata Sherry melebar gemas mengingat pertemuan dengan gadis bernama Jenny saat pertama kali menjadi Vermouth.
"Aku begitu, pada Vermouth?" tanya Relly seperti tidak tahu kalau dia seperti itu pada Vermouth selama ini.
"Aku yakin kau adalah orang baik," pungkas Sherry soal pendapatnya tidak mencurigai Relly.
"Ini pendapatmu atau tubuh Vermouth?" tanya Relly mengintimidasi dengan matanya. Sherry mendehem. Menggaruk pelipisnya.
"Em... mungkin pendapatku," jawab Sherry jadi ragu. Relly tersenyum puas. "Jelas saja ini pendapatku, karena saat ini aku yang sedang berhadapan denganmu," gerutu Sherry karena seperti terjebak. Relly mengangguk mengerti dengan seringaian yang tidak biasa.
__ADS_1
"Lanjutkan," Relly masih sanggup mendengarkan gadis ini bercerita. Sebanyak apapun Sherry bercerita, Relly tidak akan pernah puas.
"Dengan bertingkah tidak ada apa-apa aku harap membuat lengah orang yang ingin mencelakaiku hingga aku bisa menemukan bukti bahwa memang ada yang sedang mengincar Ve," jelas Sherry menjelaskan rencananya.
"Kau sudah menemukan bukti apa?" tanya Relly yang membuat Sherry menggaruk keningnya. "Jangan bilang kau tidak menemukan apa-apa?" tebak Relly benar. Sherry meringis mendapat pertanyaan itu. "Sebenarnya apa yang kau kerjakan, sih?"
"Aku terlalu sibuk menghindar dari kejaran pertanyaan yang sama dari kalian bertiga, tahu?" Sherry jadi gusar dan kesal. Relly mengatakannya seperti seorang bos yang memarahi bawahannya yang tidak becus.
"Kalian bertiga?" Relly menemukan kata-kata yang mengusiknya. Sherry membeliakkan mata baru sadar. Mulutnya sangat tidak terkontrol lagi.
Apakah makanan dan minuman tadi berisi obat yang membuatku bisa membuka mulut dan menceritakan semua hal pada dia?
"Berarti selain aku, ada juga orang yang tahu kalau kau bukan Vermouth?" Relly sangat cerdas dalam menyimpulkan. Sherry tidak menjawab. "Karena tidak banyak orang yang tahu soal ini, berarti orang-orang itu juga tidak memberitahu orang lain tentang dirimu. Berarti dia...." Juga sama menganggapmu berharga bagi dirinya, seperti aku. Siapa mereka?
Sherry membiarkan Relly berdiskusi dengan dirinya sendiri. Sherry tidak mau mengusiknya.
"Ada yang lupa," pekik Sherry. Relly melihat Sherry.
"Ada apa? Kau mau memberitaku siapa saja yang sudah tahu kau bukan Vermouth?" tanya Relly seperti berharap seperti itu.
"Bukan. Aku lupa bilang, terima kasih sudah melindungiku. Terima kasih sudah menyelamatkan aku. Meskipun aku sudah berusaha melatih tubuh ini agar kuat, untuk terjatuh seperti itu tanpa perlindunganmu, mungkin aku mengalami luka serius," ujar Sherry tersenyum dan menatap Relly dengan hangat.
Ini muncul dengan sendirinya karena dia bersyukur bisa selamat berkat pertolongan Relly. Itu perasaan syukur sesungguhnya. Miliknya, bukan Vermouth.
Bibir Relly diam. Namun jantungnya berdegup kencang. Dadanya Relly berdesir menerima tatapan hangat itu. Senyuman itu sepertinya jujur.
Itu milikmu? Aku yakin itu bukan senyum Vermouth. Itu pasti dirimu...
"Simpan senyummu terus seperti itu sampai tiba saatnya kau memakai tubuh aslimu kembali. Jadi kau bisa memberikan senyummu padaku dengan bibirmu sendiri. Aku sangat menantikan bertemu denganmu nanti," ujar Relly dengan sungguh-sungguh.
"Kau sangat yakin aku bisa kembali. Apakah kau tidak berpikir takdir ini sangat memusingkan?" Sherry mendengkus.
"Pasti ada hal baik di balik rencana takdir ini. Baik untuk kau dan Vermouth. Apakah kau tidak ingin kembali pada tubuhmu?" Sherry melihat Relly lagi.
"Disini, aku yang paling ingin kembali pada tubuhku sendiri," tegas Sherry.
"Bagus. Walaupun kau tidak kembali sekalipun, tidak masalah bagiku. Justru aku semakin senang bisa terus bersamamu..." ujar Relly sambil tersenyum. Sherry mendengkus lagi. "Aku tetap jadi orang pertama yang mendukungmu untuk kembali pada tubuhmu, walau bagaimanapun nantinya buat aku.." Sherry tahu ada nada sedih disana.
__ADS_1
"Rel, tas pestaku ada di kamar mandi. Handphone-ku juga ada di sana, aku tidak bisa menghubungi seseorang untuk menjemputku," kata Sherry saat Relly sudah menyelesaikan perbincangannya.
"Tas pestamu ada pada orang-orang di luar. Mungkin di dalam mobil. Ini handphone-mu. Aku sudah meyimpan nomorku di dalam kontakmu," kata Relly mengejutkan seraya menunjukkan benda itu ke arah Sherry. Mata Sherry mendongak dan menatap resah. Tangannya segera menyambar handphone itu, tapi Relly menjauhkannya.
"Aku belum memberikan padamu."
"Kau memeriksa isi handphone ku?" selidik Sherry.
"Apa yang perlu kau takutkan? Tidak ada apa-apa disana," ujar Relly seraya mengangkat bahu. Merasa Sherry melakukan kecemasan yang sia-sia. Sherry mencoba mengingat lagi isi handphone-nya.
Daftar kontak juga minim penghuni. Hanya ada nama Elda, Papa Ve, Daniel dan nomor Relly yang baru saja di masukkan orangnya sendiri dalam daftar kontak barusan. Juga Aska adiknya tentunya.
"Untuk manusia yang punya takdir aneh sepertiku, tidak perlu banyak orang yang perlu di hubungi. Itu sia-sia." Ada nada sedih yang meremehkan saat Sherry mengucapkannya. Dia sedang meremehkan dirinya sendiri.
Pesan-pesan juga sudah terhapus setiap kali selesai membacanya. Galeri juga hanya penuh dengan gambar-gambar anime yang menurutnya keren. Itu iseng. Tidak ada foto Ve disana apalagi foto dirinya.
Benar. Tidak ada yang perlu di khawatirkan.
"Benda ini sungguh bersih seperti belum terpakai sama sekali," Sherry hanya mendengkus merespon perkataan Rellt. "Sungguh aneh apabila justru Ve, tidak ada sama sekali di sana,"
Sherry mendongak.
"Bukankah aku bukan Ve? Seperti yang kamu tahu," Relly mengangguk. Dia memang sudah berpikir demikian.
"Aku jadi ingin tahu kenapa hanya ada satu folder tanpa isi yang ada di sana," kata Relly mulai duduk di tepi ranjang lagi.
Dada Sherry berdegup. Dia lupa. Ada folder yang masih ada di dalam sana. Itu yang di takutkannya.
"Aku awalnya tidak berpikir apa-apa soal folder itu. Aku menganggap itu hanya karena keisenganmu. Namun karena aku rasa Ve yang baru memang akan melakukan hal iseng seperti itu, aku ingin membukanya. Folder itu berisi...."
Gambar abstrak. Lukisan di kamar Vermouth. Aku tidak perlu mengisi geleri dengan banyak foto. Ini bukan aku. Aku tidak perlu melakukan selfie dan semacamnya. Sherry melakukan monolog, tidak mendengarkan lagi penuturan Relly.
"Seharusnya kau tidak melakukan itu," ujar Sherry pelan. Tangan Relly tiba-tiba mengusap rambut Sherry. Mata Sherry membeliak. "Sedang apa?" tanya Sherry yang membuat Relly terkekeh pelan.
"Hentikan semua kekhawatiranmu. Tidak masalah jiwamu bukan yang sebenarnya. Kamu saat ini adalah kekasihku, itu yang terpenting," ucap Relly yang lagi-lagi membuat Sherry merasa aneh. "Tidak peduli kamu kembali pada tubuhmu atau tidak. Sebaiknya kamu menikmati saja menjadi kekasihku," ujar Relly dengan tangannya tetap mengusap rambut Sherry.
__ADS_1