
(Aku Sherry. Gadis yang mengalami sebuah takdir aneh. Jiwaku tertukar dengan seorang gadis lain. Saat ini jiwaku sedang terperangkap dalam tubuh seorang gadis bernama, Vermouth.)
Sherry masih merasa tegemap mendengar penuturan dokter di atas ranjang.
Setelah berpikir panjang, akhirnya Daniel memutuskan tanpa memberitahu keluarga. Daniel memberi kesempatan Sherry menerima perawatan khusus dari dokter tulang rumah sakit. Selain karena rumah sakit ini memang rumah sakit besar yang sudah di jamin kualitas medisnya, juga karena status kekasih yang baru di dengarnya barusan.
Melihat Sherry yang tidak membantah pengklaiman barusan, berarti mereka memang ada hubungan. Itu menunjukkan Sherry juga sudah setuju untuk tinggal. Mata Daniel terus saja melihat ke arah bocah kaya yang terlihat dewasa dan berwibawa dengan setelan jasnya warna abu-abu muda.
Sherry dengannya? Aku baru tahu dan dengar. Apakah aku terlalu lambat hingga harus di dahului oleh dia?
Relly sengaja tidak memberitahu tentang kejadian soal orang asing yang mendorong Sherry. Dia hanya bercerita tentang jatuhnya Sherry dari tangga darurat. Daniel juga tidak terlalu memperhatikan kalimat Relly. Melihat Sherry tidak apa-apa sudah membuatnya senang dan lega.
Relly harus berhati-hati pada siapa saja. Mungkin saja di sekitar Sherry banyak orang yang mau mencelakai gadisnya.
Akhirnya Daniel undur diri.
"Aku titip Vermouth. Aku mewakili keluarga Vermouth mengucapkan banyak terima kasih. Tolong jaga dia baik-baik. Terima kasih sudah bersedia menampungnya di rumah sakitmu ini," kata Daniel memberi pesan sebelum dia pergi seraya mengancingkan kancing jasnya.
"Tidak masalah. Dia selalu di terima baik karena dia adalah orang penting bagiku. Terima kasih sudah bersedia menitipkan dia di sini," balas Relly menganggukkan kepala memberi hormat sewajarnya. Daniel hanya menipiskan bibir.
Sementara itu Elda menyempatkan diri mendekati Sherry. Setelah sejak tadi tidak bisa mendekati Sherry karena ada Daniel, setelah Sherry benar-benar sendiri -tanpa Relly juga tentunya- Elda bisa berbincang sebentar.
"Kamu tidak apa-apa?" tanya Elda khawatir.
"Ya. Aku tidak apa-apa." Elda memeluk Sherry dulu sebelum pulang dengan raut wajah sedih. Sebenarnya dia ingin tinggal, tapi pihak rumah sakit meminta pihak keluarga untuk pulang dahulu dan baru besok bisa membesuknya.
__ADS_1
Bisa saja Daniel memberitahu papa Ve dan mengusulkan untuk membawa Sherry pindah rumah sakit lain, tapi saat penting seperti ini mungkin beliau juga setuju bila ada yang mau menampung dan merawat putrinya yang lemah.
"Dia pemuda yang melihatmu dari balik helmnya itu ya? Keren," bisik Elda dengan tersenyum. Apakah Elda lupa bahwa dia adalah orang yang di suka oleh Vermouth? "Aku pergi," pamit Elda. Sherry mengangguk.
Ve? Kamu pasti sudah dengar sendiri bahwa Relly akan menjadi kekasih tubuhmu yang berisi jiwaku. Tangismu itu pasti karena hal ini. Sungguh miris, dia menginginkanmu saat aku yang berada di tubuhmu.
Aku merasa bersalah, tapi ini demi tubuhku. Sepertinya kamu masih menyukai berada di tubuhku tanpa mempedulikan takdir aneh ini. Tidak peduli akan apa yang bisa saja terjadi. Seperti hari ini. Tubuhmu sedang di incar oleh seseorang atau bahkan banyak orang.
Aku yang harusnya hanya perlu mengurusi tubuhku dan hidupku, kini harus mengurusi dua tubuh dan dua kehidupan. Tubuhmu dan tubuhku. Aku harus berjuang dengan keras lagi agar aku dan tubuhku aman.
Sampai kapan kamu harus seperti itu, Vermouth? Sampai kapan kau ingin menjadi Sherry?
Selepas mereka pergi, Sherry termangu. Ada rasa bersalah. Saat ini dia sedang bersama Relly yang sangat di puja Vermouth. Bukankah dia sedang menempati tempat yang salah. Namun dari semua itu ada hal yang lebih penting.
"Rel, aku mau tanya. Apakah aku akan lumpuh dan semacamnya? Karena aku tidak merasakan sakit atau hal-hal semacam itu pada kaki, tangan atau tubuhku yang lain. Tapi dokter mengatakan hal aneh. Apakah aku tidak merasakan sakit karena obat, atau aku sudah tidak bisa merasakan sakit karena tubuhku sudah tidak normal atau..." Relly tersenyum meremehkan sambil menutup mulutnya. Indra penglihatan Sherry melirik tajam ke arah bibir Relly yang masih terlihat dari balik jari-jari kuatnya yang tidak menutup sempurna.
"Ternyata jagoan sepertimu bisa tertipu juga dengan mudahnya," Relly melepaskan tangannya. Sherry mengerjapkan mata. Berulang-ulang. Lalu memiringkan kepala seraya menautkan kedua alisnya.
"Apa maksudmu?"
"Tubuhmu tentu saja tidak apa-apa. Kau tidak mengalami luka serius. Hanya banyak memar. Itu saja. Apa yang kau ributkan?"
"Jadi.... Kau menipu Daniel dan Elda?!" tanya Sherry terkejut hingga nada suaranya meninggi.
"Aku tidak melakukan apa-apa. Bukankah dokter itu yang mengatakannya?" jawab Relly tanpa merasa telah melakukan kesalahan.
"Aku yakin itu di lakukan atas perintahmu. Mereka tidak akan berani melakukannya atas keinginan mereka sendiri," tuduh Sherry dengan galak.
__ADS_1
"Tidak ada yang perlu di besar-besarkan. Kau bisa beristirahat dengan tenang di sini." Relly melihat ke arloji.di tangannya, "Aku tidak lagi punya waktu untuk kembali pada pesta perusahaan itu, jadi aku bisa menemanimu disini tanpa ada lagi yang mengganggu," Relly menutup kalimatnya dengan senyuman.
Sherry menghela napas.
"Kau ingin makan lagi?"
"Tidak mungkin. Aku sudah makan banyak tadi. Tidak mungkin aku masih mau makan lagi," Sherry tidak terima.
"Jika masih ingin makan, katakan padaku. Aku bisa menyuruh mereka mencarikan makanan untukmu," Sherry menggeleng-gelengkan kepala kesal. Dia bingung harus apa malam ini. Kalau harus menginap di sini apa yang akan di lakukan jika tidak bisa tidur?
"...rry.." Samar-samar Sherry mendengar suara yang tidak asing. "Sherry," tegur seseorang membuat lamunan Sherry buyar.
"Ya?" jawab Sherry karena merasa namanya sedang di sebut. Saat dia menolehkan kepala ke asal suara, Matanya mrmbulat. Dirinya menanap tidak percaya. Relly dengan senyum sangat lega tengah menatap dirinya.
Relly? Jadi yang sedang memanggilku Relly?
"Jadi itu dirimu? Jadi benar, itu adalah namamu?" tanya Relly seraya membuang napas lega. Merasakan akhirnya bisa menemukan dan mengumpulkan satu persatu puzzle untuk membentuk visual seorang gadis di depannya. Relly yang berada di depan pintu mendekat. "Akhirnya aku menemukanmu, Sherry..." Telunjuk Relly menyentuh kening Sherry. Tepat di tengah-tengah pusat dahi. Sherry menepisnya. Relly duduk di pinggir ranjang.
"Daniel adalah salah satu orang yang tahu takdir anehmu, bukan?" tanya Relly. Sherry tidak menjawab. Hanya melihat dan mendengarkan. "Tidak perlu kau jawab aku yakin. Satu-satunya orang yang menyebutmu dengan nama orang lain adalah dia. Sherry juga ada di dalam folder di handphone-mu yang berisikan foto abstrak. Itu berarti berkaitan denganmu," tebak Relly.
Kamu pasti sangat menantikan dirimu kembali pada tubuhmu yang asli.
"Elda juga sepertinya tahu, soal ini. Jadi tiga orang itu adalah aku dan mereka," Sherry masih diam membiarkan Relly menyimpulkan.
"Pulihkan tubuhmu disini. Lalu kembalilah mencari semua hal yang bisa mengembalikan jiwamu kembali. Aku akan berada di belakangmu, menjadi pelindungmu," ucap Relly yang entah kenapa membuat Sherry merasa dadanya sesak.
Matanya jadi berkaca-kaca. Ada yang melewati hatinya sekilas. Namun sepertinya bukan hanya lewat, tapi mencoba hinggap dan menetap.
__ADS_1