Diary Sherry

Diary Sherry
Vermouth_Ketemu


__ADS_3


(Aku Sherry. Gadis yang mengalami sebuah takdir aneh. Jiwaku tertukar dengan seorang gadis lain. Saat ini jiwaku terperangkap dalam tubuh seorang gadis bernama, Vermouth.)


.


.


Ternyata Vermouth masih memandang


cowok itu dengan mata penuh dengan cinta. Karena Vermouth tidak berpaling, Relly memilih tersenyum tipis sambil menganggukkan kepala mengakhiri keduanya saling pandang. Setelah itu baru Vermouth melihat ke arah lain.


"Kenal?" tanya Lido yang juga memperhatikan. Dagu Lido terangkat untuk menunjuk pada gadis itu.


"Tidak."


"Kenapa dia melihatmu begitu?"


"Aku tidak tahu. Sudahlah..." ujar Relly meminta Lido tidak perlu menghiraukan gadis itu.


"Dia mirip dengan pengagum abadimu dulu, Vermouth," ujar Lido.


"Benarkah?"


"Gadis dengan raut wajah malu-malu dan juga mata yang menyiratkan rasa takut, yang selalu melihatmu dengan penuh cinta. Aku masih ingat itu. Sebelum dia menjadi lebih berani dari sekarang."


"Bukankah bagus jika Vermouth menjadi berani. Dia tidak perlu membuat orang lain susah."


"Kamu mengatakan untuk dirimu sendiri. Karena yang paling repot adalah dirimu sendiri." Relly hanya tersenyum tipis. "Buatku Vermouth itu lebih bagus jika seperti dulu."


"Kau tertarik?"


"Entahlah... Buatku Vermouth yang dulu lebih mudah di lindungi. Meskipun mirip kaca yang mudah pecah. Rapuh. Gadis semacam itu membuat kita jadi ksatria sesungguhnya."


"Tunggu. Kamu sedang membicarakan Vermouth itu? Vermouth yang sekarang jadi gadisku?" selidik Relly. Sekedar bercanda. Dia tahu jiwa yang ada pada tubuh Vermouth sekarang bukanlah Vermouth sesungguhnya.


"Hei... jangan salah paham. Aku membicarakan Vermouth yang dulu." Lido jadi salah tingkah. Dia tahu Vermouth sekarang adalah kekasih Relly.


"Apa bedanya? Dulu dan sekarang tubuh itu tetap sama." Relly melirik ke arah Lido.


"Aku tidak mengerti. Hanya saja aku seperti melihat orang lain dalam tubuh itu. Sudahlah. Jangan membahas itu."  Vermouth di mejanya mendengar semuanya. Mendengar pendapat Relly dan Lido. Ternyata masih ada orang yang berpikir tentang dirinya. Masih ada. Meskipun itu hanya satu orang. Vermouth senang.


"Tumben kamu tidak pergi dengan gadismu?" tanya Lido. Minuman dan makanan sudah datang.


"Dia sedang ada perlu."


"Tanpa dirimu?"


"Dia juga punya kehidupan sendiri." Relly membela.


"Aku heran, Vermouth banyak berubah."


"Kenapa?"

__ADS_1


"Jangan berlagak tidak tahu. Gadis itu mana ada kehidupan lain. Kehidupannya hanya satu, yaitu kamu."


"Oh..." Relly tidak terlalu tertarik. Lido melirik. Gadis di dekat mereka selalu saja memperhatikan meja mereka. Karena kali ini matanya bersirobok dengan Lido, gadis itu gugup. Kemudian meminum minumannya yang tinggal sedikit sampai tandas. Lido hanya melirik, tapi tidak bereaksi.


"Aku mau ke toilet dulu." Relly mengangguk.


***



Relly sudah berada di depan toilet. Namun toilet tertutup. Itu menunjukkan masih ada orang di dalamnya. Kedatangan Relly bersamaan dengan ponsel Aska berdering. Lihat Vermouth yang sedang mengirim pesan, Aska segera membukanya. Pintu toilet diketuk oleh Relly.


"Relly sedang menuju toilet." Aska terkejut membaca pesan Vermouth.


Saat itu ada seorang pria datang hendak ke toilet juga. Karena ada Relly yang sudah ada di depan toilet sebelah kiri, pria itu sengaja berdiri di sebelah kanan.


Toilet ini sebenarnya satu untuk pembeli, satu untuk karyawan karena ukurannya yang sangat kecil. Namun jika terpaksa, pembeli bisa juga memakai kedua-duanya. Disini juga tidak ada batasan toilet laki-laki atau perempuan. Kedua toilet di gunakan untuk semua gender.


Pria itu mengetuk. Aska dan Sherry tersentak kaget dengan suara ketukan pintu yang baru lagi. Ketukan pintu kembali terdengar, mereka berdua harus keluar. Setelah menghela napas, Sherry membuka pintu. Pria itu masuk ke dalam toilet.


"Sherry?" tegur Relly di pintu toilet samping. Sherry tersentak kaget mendengar namanya di sebut. Dia tahu siapa yang sedang memanggilnya. Makanya dia tidak segera berbalik. Relly segera mendekati gadisnya. Sherry menggeram, berdecih mengungkapkan kekesalan. "Kenapa ada di sini?" tanya cowok itu heran.


"Aku ada urusan di toilet." Sherry menjawabnya dengan asal. Sherry melihat ada pesan masuk di ponselnya yang terlambat diketahuinya.


"Kemungkinan Relly ada di depan toilet." Ternyata itu pesan dari Aska. Terlambat. Mereka sudah bertemu.


"Bukan soal toilet. Aku ingin tahu kenapa kamu ada di cafe ini?" selidik Relly. Tangan Sherry menggosok-gosok daun telinganya.


"Ada perlu."


"Makhluk hidup."


"Hei..." Relly menarik tangan Sherry dan menatap gadis di depannya lurus. Ingin jawaban yang pasti.


"Aku bilang aku tidak harus memberitahumu. Dan lagi kenapa mengikutiku? Bukankah sudah janji tidak akan mengikutiku," gerutu Sherry akhirnya.


"Aku tidak mengikutimu. Aku bersama Lido kesini." Ternyata cowok ini tidak sendirian. Itu malah merepotkan. Toilet di samping yang masih saja belum terbuka. "Kenapa toilet itu terus saja menutup?" Kepala Sherry juga ikut menoleh ke arah pintu toilet dimana Aska bersembunyi. Beruntungnya, ternyata pintu toilet di depan mereka segera terbuka.


"Kenapa bergerombol di depan toilet," gumam pria itu tidak nyaman saat melihat Relly dan Sherry di depan pintu. Mereka berdua menggeser tubuh mereka memberi jalan pada pria itu.


"Jangan pergi. Tunggu aku," pinta Relly dan masuk ke toilet. Sherry sedikit menjauh. Tidak nyaman juga berdiri tepat di depan pintu toilet.


"Jangan keluar. Relly sedang bersamaku." Sherry mengirim pesan untuk adiknya. Terpaksa dia menunggu Relly. Semakin aneh kalau dia sengaja kabur.


****



Lido terkejut melihat Relly muncul dari toilet bersama dengan gadis yang sedang di bicarakannya tadi. Di mejanya, Vermouth juga membelalakkan mata. Sherry melirik ke arah Vermouth sebentar.


Dia ketahuan.


"Aku tidak menyangka kamu akan menemukan gadis ini di belakang sana," kata Lido sambil terus saja memperhatikan Sherry yang melangkah dengan tangan mereka yang berpegangan. Bukan, tetapi Relly yang terus saja memegang tangan Sherry karena takut gadis itu akan kabur. Jika seperti ini mereka berdua terlihat seperti pasangan yang baru saja jadian.

__ADS_1


"Aku juga tidak menduga menemukannya, disaat aku sudah berpikir dia sedang menyelesaikan urusannya di suatu tempat." Sherry mengikuti Relly dengan duduk di sampingnya. "Mau makan apa? Kamu belum makan siang bukan?" Selalu saja Relly menanyakan soal makanan pada Sherry. Itu tentu saja membuatnya melunak. Sherry luluh jika di perhatikan soal makanannya.


"Sudah."


"Rupanya sudah sejak tadi kamu sudah berada di sini. Berarti orang yang sedang bersamamu masih ada disini?" tanya Relly mencoba melihat sekitar. Vermouth yang mendengarnya kembali menegang.


Sherry ingin kehidupan aslinya tetap tersembunyi. Jika orang-orang yang ada dengan hubunganmu mengetahui keberadaan tubuh aslinya, itu sangat mengganggu kehidupan Sherry sebenarnya. Karena Sherry ingin, jika jiwa kalian sudah kembali pada tubuh masing-masing, dia tidak lagi mengenal orang-orang yang berkaitan dengan nama Vermouth.


Vermouth ingat penuturan Aska soal Sherry setelah pertemuan dengan Hansel di depan sekolah itu. Sherry tidak menginginkan kehidupannya sebagai Vermouth walaupun dia berhasil melaluinya. Bahkan dengan di sukai Relly dan Hansel. Gadis itu tetap ingin menjadi dirinya sendiri.


Itu tidak seperti dirinya yang menginginkan kehidupan Sherry. Ada rasa bersalah pada hatinya. Rupanya dirinya termasuk orang lemah yang egois. Makanya dia ikut tidak tenang saat mendengar Relly mencari tahu orang yang tadi datang bersama Sherry.


"Aku akan makan. Tidak perlu menyelidiki seperti itu." Sherry mengalah. Mencoba mengalihkan perhatian. Dia menghentikan Relly yang mencoba mencari tahu.


Relly tidak tahu gadis yang duduk di meja sebelah adalah cangkang asli milik Sherry. Dia tidak tahu bahwa dia sangat dekat dengan kehidupan Sherry sebenarnya. Dia tidak tahu.


Lido memperhatikan. Sepertinya Relly benar-benar menyukai gadis yang sudah lama menjadi penggemar abadinya. Sambil meminum jusnya, Lido melihat Relly dengan riang memesankan makanan untuk gadis di sebelahnya. Karena sering menyuruhnya makan, Relly semakin tahu apa yang di suka atau tidak di suka oleh Sherry. Walaupun sebenarnya Sherry menyukai segalanya. Dia memakan segalanya yang membuat kenyang.


Saat itu seorang pria yang menabrak Vermouth ada di luar cafe. Dia sedang berbicara dengan seseorang yang duduk di dalam mobil. Sherry yang duduk di dekat dinding kaca melihat dengan mata melebar. Tanpa di komando, kaki Relly dan Sherry segera keluar dari cafe. Mengejar laki-laki itu.


"Hei, kalian mau kemana?" tanya Lido heran.


Dengan cepat, tangan Sherry menarik kemeja kusam yang dipakai orang itu dari belakang. Tentu saja membuat laki-laki itu terkejut dan marah. Namun saat di lihat ternyata gadis ini dan pemuda di belakangnya, orang itu terkejut.


"Kenapa kalian selalu saja bisa menemukanku?" sungutnya kesal sambil berusaha melepaskan tangan Sherry dari kemejanya.


"Siapa yang sedang kau temui?" tanya Sherry menggebu ingin tahu. Dia merasa pernah melihat mobil itu.


"Kenapa ingin tahu?" Laki-laki yang berumur sekitar tiga puluhan itu bersikap acuh tak acuh. Sherry kesal. Relly memberi kode untuk tenang.


"Dia orang dari perusahaan Smart?" tanya Relly. Laki-laki ini tersenyum mengangkat alisnya. Memberikan sinyal dan kode.


"Kau tahu rumusnya dalam bertransaksi seperti ini anak muda. Ayolah...," ujar laki-laki itu menggesek-gesekkan jari-jarinya. Sherry dan Relly tahu maksudnya. Laki-laki ini meminta uang. Karena mulai paham kalau anak muda ini berduit, dia mulai membuat semuanya sulit kecuali Relly mengeluarkan uang untuknya. Sherry mendelik.


"Hei, kau sangat keterlaluan!" teriak Sherry marah.


"Jika begitu, aku tidak butuh informasimu. Aku hanya perlu menjebloskanmu ke penjara karena berniat melakukan pembunuhan berencana terhadap gadis ini, karena aku punya bukti." Relly mengatakannya dengan nada mengancam.


"Oh, ya? Kalian?" Laki-laki ini tersenyum menyepelekan. Tanpa di sangka, d3ngan cepat Relly meraih kemeja laki-laki itu dengan kasar. Menariknya kuat hingga membuat tubuh itu mendekat. Sherry memperhatikan.


"Kau hanya perlu memberitahuku semua. Jangan berulah ataupun bertingkah seakan-akan kau sudah bisa mengendalikanku dengan terus memberimu uang. Saat ini juga aku bisa langsung membuatmu mendekam tanpa bisa bebas dengan jaminan apapun. Bukan hanya mendekam di dalam penjara, tetapi juga tidak akan aman dan tenang berada di sana. Teror akan selalu mengikutimu. Aku akan membuatmu sengsara ," ancam Relly bersungguh-sungguh.


"T-tidak perlu seperti itu. Kita bisa membicarakannya dengan tenang." Pria itu ternyata tidak punya banyak nyali. Relly beranggapan, laki-laki ini sudah tidak punya lagi pendukung untuk memastikan dirinya aman. Itu berarti dia sedang tidak bersekutu dengan siapapun. "B-baiklah. A-aku akan memberi tahu semua yang aku lakukan tadi. Aku t-tidak akan bertingkah."


"Bagus." Relly melepas cengkeraman tangannya lalu menepuk dada laki-laki itu.



Jika berkenan, silakan kunjungi cerita Lady Vermouth yang lain. Terima kasih.



__ADS_1



__ADS_2