Diary Sherry

Diary Sherry
Vermouth_Damai dan bentrok


__ADS_3


(Aku Sherry. Gadis yang mengalami sebuah takdir aneh. Jiwaku tertukar dengan seorang gadis lain. Saat ini jiwaku terperangkap dalam tubuh seorang gadis bernama, Vermouth.)


Semua melihat dan mendengarkan dengan heran percakapan mereka. Mereka yang di kenal karena tubuh Vermouth seringkali mengikuti langkah Relly, kini membuat orang-orang heran karena Relly yang kini mengikuti tubuh Vermouth.


"Berlagak betul kamu mengumumkan pada semua orang bahwa aku gadismu?" tanya Sherry saat mereka sudah menjauh dari ruang latihan dan berjalan menyusuri koridor


"Memangnya bukan?" Relly balik tanya sambil memiringkan kepala.


"Bukan. Aku hanya terpaksa."


"Kenapa tidak membantah? Untuk kamu yang seperti itu, aku yakin kamu bisa melakukannya dengan mudah. Atau kau bisa menghajarku di sana jika itu membuatmu marah." Relly mengatakannya dengan sangat tenang dan menantang.


"Aku tidak bisa karena kamu mengancamku..."


"Oh ya?"


"Hei, hapus wajah sombongmu. Jelas sekali kau mengancamku di rumah sakit itu sampai aku harus mengatakan ingin menerimamu sebagai kekasih. Ingat?!" tunjuk Sherry ke arah Relly yang berjalan di sebelahnya.


"Aku ingat. Bahwa Sherry menerimaku menjadi kekasihnya."


"Aargghh! Aku tidak percaya kamu bisa memutar-balikkan perkataanku!" pekik Sherry geregetan dan berhenti melangkah.


"Tugasmu banyak, gadis bodoh. Hampir seminggu kamu tidak masuk sekolah. Banyak tugas yang akan kamu kerjakan untuk mengejar semua, paham?" kata Relly sambil menyentil kening Sherry gemas. Sherry menipiskan bibir.


"Itu bisa di maklumi jika aku tidak mengerjakannya, karena aku sakit." Sherry bukan peringkat bawah tapi dia sedikit malas untuk berpikir soal sekolahnya.


"Selain memperkuat tubuhmu, kamu juga harus memperhatikan Vermouth."


"Vermouth? Kenapa jadi membahas dia?" tanya Sherry aneh.


"Jangan hanya mementingkan dirimu sendiri. Vermouth memang perlu sikap berani dan tangguh sepertimu, tapi dia juga butuh belajar. Kamu tahu berapa peringkat Vermouth saat masih ada jiwanya pada tubuh ini?" tanya Relly sambil melihat ke arah Sherry yang bersedia mendengarkan dengan seksama.


"Tidak. Aku tidak peduli," jawab Sherry jujur.


"Singkirkan sifat cuekmu itu. Tempatkan pada situasi yang benar. Jangan lupa kamu memakai tubuh siapa," kata Relly sangat sabar. Ternyata di balik sikapnya yang dingin, Relly sangat hangat. "Vermouth itu anak rajin yang masuk sepuluh besar siswa pintar. Semuanya berantakan dan mengherankan dia berada di golongan siswa tidak berprestasi." Sherry mendengkus. Dia memang bukan siswi berprestasi jadi dia tidak merasa harus menjadi siswi berprestasi.

__ADS_1


"Paham sekali kamu tentang dia. Di dekatinya sekian lama membuatmu mengerti dia bagaimana." Sherry tidak paham ada rasa gusar yang muncul.


"Itu tidak berarti kalau tubuh ini tidak di huni olehmu," ujar Relly sambil mengusap kepala Sherry tiba-tiba. Entah kenapa Sherry tidak menolaknya. Usapan Relly di terimanya tanpa menggerutu. "Aku tidak sadar Vermouth seperti itu kalau tidak membandingkan dengan dirimu yang sekarang. Perbedaan kalian sangat mencolok yang membuatku menyadarinya. Aku sadar Vermouth seperti itu dan Sherry seperti ini..." kali ini Relly menambahkan senyuman di bibirnya. Membuat Sherry mengerjap dan linglung.


"Kamu dengar, sherry?" tanya Relly yang menyadari Sherry seperti memikirkan hal lain. Hingga perlu memiringkan kepala dan mendekatkan wajahnya ke Sherry. Ini membuat Sherry terkejut dan mundur.


"A-apa?" tanya Sherry tergagap.


"Kamu tidak mendengarkanku.."


"Aku dengar. Aku bisa mendengarkanmu dengan sangat jelas."


"Kenapa tidak menjawab?" Sherry hanya mengedikkan bahu. Pikirannya melayang kemana-mana tadi. "Sekarang kita pulang dan mengerjakan tugas."


"Pulang? Pulang kemana?" tanya Sherry waspada.


"Pulang ke rumahmu. Aku akan membantumu mengerjakan tugas di rumahmu. Rumah Vermouth," ujar Relly memperjelas.


***


Di saat Sherry sedang dalam kedamaian karena seorang Relly, di tempat lain pada jam yang sama, Aska sedang bersusah payah melawan anak-anak yang sedang menyerangnya. Sementara Vermouth merapat ke dinding gudang lama yang dulunya di gunakan sebagai pabrik pembuatan es balok besar.


Mungkin dari awal, sejak keluar gerbang mereka sudah mengikuti Aska. Hingga saat sampai di tempat sepi ini, mereka mencegat dari arah depan dengan motor mereka.


Vermouth tadi segera berinisiatif lari ke pinggir jalan. Bibirnya bergetar dan tangannya memeluk tubuhnya sendiri karena ketakutan. Wajahnya semakin tenggelam dalam tudung jumper milik Aska.


Mata Aska terlihat serius saat kedua cowok yang mencegat mereka turun dari sepeda motor.


"Dia anaknya?" tanya salah satu dari mereka. Cowok yang di tanya mengangguk yakin. Aska tidak jelas siapa mereka. Namun dia yakin mereka pasti salah satu musuh-musuhnya. Tubuh Aska sudah siap, apalagi saat lawannya tanpa sebuah ancang-ancang langsung melayangkan pukulan. Tubuh Aska berhasil mengelak.


Melihat Aska mampu berkelit dengan mudah oleh gerakan tiba-tiba yang mereka lancarkan, mereka memakai taktik dari dua arah. Tanpa pikir panjang mereka menyerang Aska bersamaan.


Di depan mata kepalanya sendiri, Vermouth menyaksikan perkelahian mereka.Tubuh Aska masih mampu mengimbangi, tapi tanpa di sangka ada empat orang tambahan yang datang membantu mereka.


Aska harus melawan mereka enam orang sekaligus. Ini sangat berat, tapi Aska harus bisa melawannya.


Aska memang kuat, tapi fokusnya pecah saat salah satu dari mereka mulai tertarik pada Vermouth yang masih gemetaran merapat ke dinding. Seringkali Aska lengah karena melihat seorang cowok mendekati Vermouth. Hingga membuatnya tidak bisa mengelak dari pukulan mereka. Aska mulai babak belur.

__ADS_1


Aska sendirian mungkin lebih baik, tapi kali ini dia harus melawan dan melindungi tubuh di belakangnya yang gemetaran. Aska tidak bisa bebas bergerak. Dengan segala kekuatan yang ada pada tubuhnya dia mencoba melawan mereka sekaligus.


"Hai, cewek. Sepertinya aku pernah melihatmu," sapa salah satu dari mereka yang berhasil mendekati Vermouth. Sepertinya dia mengenal gadis ini di suatu tempat. Mungkin itu Sherry yang dulu.


"Si-siapa kamu? Pergi!" teriak Vermouth sangat ketakutan. Kalau saja itu jiwa Sherry, pasti dia akan membantu Aska yang sedang bersusah payah melawan ketiga orang itu. Tidak mungkin ada cowok yang bisa lolos seperti yang satu ini. Juga tidak akan ada teriakan manja dan ketakutan.


Tiba-tiba dua orang di belakang, ambruk dan terhuyung ke tanah. Aska berusaha melihat sekilas saat semua orang di depannya juga melihat, siapa yang membuat kawan mereka tersungkur. Aska menyipitkan mata berusaha mengumpulkan semua daya lihatnya yang terasa susah karena dia lelah sudah mengahbiskan seluruh tenaganya.


Postur tubuh yang sedikit asing. Namun seragam unik milik sekolah itu membuat Aska sedikit tahu darimana dia. Apalagi saat pemuda itu mendongak dan melihat ke arah Aska.


Dia Hansel.


Saat ini Aska merasa lega juga cemas.


Lega, karena dia mendapat bala bantuan untuk melawan mereka berempat. Namun kecemasan merebak ke seluruh permukaan wajahnya jika mengingat ada tubuh Sherry di belakangnya.


Melihat dua kawannya tersungkur, cowok yang berdiri paling depan terkejut.


"Hei! Menyingkir darinya!" hardik Hansel dengan telunjuk menunjuk ke arah cowok yang mendekati Vermouth. Cowok itu menoleh ke arah Hansel.


"K-kau... Hansel?" tanya cowok di depan tubuh Hansel mengenalinya. Dia terkejut. Semuanya menoleh ke arah Hansel serempak. Mereka mendelik dan tubuhnya gemetar. Satu persatu dari mereka melihat pemuda itu dengan nanar.


"Hansel? Kenapa Hansel membantu dia?" tanya pemuda di depan Aska tidak percaya.


"Ayo mundur!!" teriak salah satu diantara mereka memberi komando. Serentak mereka mundur. Membantu teman mereka dan pergi.


Cowok di depan Vermouth panik semua temannya pergi meninggalkannya.


"K-kau! Sial!" Akhirnya dia juga kabur menyusul kawan-kawannya. Hansel berjalan menghampiri Aska. Tubuh Aska yang sudah kelelahan berusaha mengatur napas.


"Terima ..."


Hansel hanya menepuk bahu Aska dan tetap berjalan lurus. Aska terkesiap. Tujuan Hansel bukan dirinya, melainkan Vermouth. Dia ingin menghampiri tubuh Sherry. Aska hendak berlari tapi tak bisa. Dia terlalu lelah jika harus mengejar langkah Hansel. Aska limbung dan terjatuh.


Dengan tenang, Hansel mendekati Sherry. Tubuh gadis itu masih menggigil ketakutan. Tubuhnya semakin menekuk saat Hansel mendekatinya.


"Semua sudah selesai," ujar Hansel lembut. Kepala Ve masih menunduk. Hansel belum bisa melihat dengan jelas wajah di balik topi jaket itu. "Berdirilah, aku akan membantumu," ujar Hansel seraya menjulurkan tangan agar Ve bisa bertumpu pada tangannya.

__ADS_1


"Ve... Semua sudah pergi. Kamu bisa  tenang sekarang." Hansel tetap berusaha menyadarkan tubuh itu dari ketakutan dengan sabar. "Vermouth...," tegur Hansel lebih tegas. Seperti baru bangun dari mimpi, Vermouth mendongak. Panggilan namanya membangunkannya dan menyadarkannya.



__ADS_2