Diary Sherry

Diary Sherry
Ada apa dengan hatiku?


__ADS_3

...(Aku Sherry. Gadis yang mengalami sebuah takdir aneh. Jiwaku tertukar dengan seorang gadis lain. Saat ini jiwaku sedang terperangkap dalam tubuh seorang gadis bernama, Vermouth. )...


.......


.......


.......


Din, Diiiinnnn!


Klakson mobil menyalak keras di gendang telinga. Tangan Relly segera meraih tangan Sherry yang tak sengaja terulur kepadanya. Menarik tubuh itu dengan kuat hingga mampu bertahan di tepi trotoar dengan tepat.


"Kalau mau menyeberang, lihat-lihat dulu! Ngawur, aja!" pekik pengemudi mobil marah dan meneriakinya dengan kasar. Jantung Sherry berdetak kencang karena terkejut dengan sorot lampu yang ada di depan mata.


Napasnya mulai terengah-engah karena keterkejutan yang sangat. Lalu mengambil nafas dalam dan membuangnya perlahan untuk menghilangkan rasa takut yang muncul sesaat tadi. Hampir saja 'besi berjalan' itu menghantam tubuhnya dengan kuat kalau saja lengan kokoh ini terlambat sedikit saja untuk menangkap tubuhnya.


Lengan?


Mata Sherry meneliti dengan cepat ke bagian perutnya. Dimana lengan itu melingkar disana.


Sherry mulai menyadari bahwa sebuah lengan kuat sedang melingkar di perutnya. Menopang tubuhnya dari belakang untuk tegak berdiri meski kaki itu sudah berada di bibir trotoar. Tubuhnya juga memberi perlindungan pada tubuh Sherry yang bisa langsung terjatuh dan tertabrak mobil melintas.


Gemuruh dadanya menderu keras. Detak jantungnya berdetak sangat cepat. Relly sedang memeluk tubuh ini. Tubuh yang dihuni jiwanya yang mengalami takdir aneh. Sherry menatap tangan itu masih memeluknya. Melindunginya agar tidak terjerembab turun dari trotoar.


"Kamu tidak apa-apa?" tanya Relly cemas. Sherry merasakan hembusan nafas itu menerpa telinga, rambut dan lehernya. Hembusan napas yang juga ikut terengah karena rasa cemas dan khawatir. Membuat jantungnya terpompa dengan cepat dan berdetak dengan kebisingan yang meningkat. Tubuhnya menegang lagi merespon tarikan nafas Relly yang terdengar sangat jelas di telinganya. Menghujam dengan lembut di dalam gendang telinganya.


Sherry memejamkan mata dan menarik nafas pelan. Relly menyadari lewat lengannya yang menyentuh tubuh gadis ini. Indera penciuman Relly juga menangkap aroma lain dan asing dari rambut panjang gadis yang masih berada dalam pelukannya. Aroma manis dengan keharuman yang menyegarkan. Relly yang terbiasa menolong gadis yang sering sekali pingsan karena tubuhnya ini paham akan aroma asing ini. Ini bukan aroma yang tercium dari pemuja dirinya itu. Ini aroma baru.


"Tolong lepaskan lenganmu ..." pinta Sherry sambil menunduk menatap ke bawah, ke sepatunya.


"Aku mungkin sudah gila, jika masih saja menganggapmu adalah orang lain, tapi cobalah untuk menerima itu. Aku tidak bisa lagi menganggapmu sama seperti Dia yang aku tahu. Aku mulai menginginkanmu lebih dari aku menginginkan seorang Ve yang mencintaiku," bisik Relly yang terdengar seperti bom atom yang meledak tepat pada sasaran. Memporak porandakan sarang hati yang sekian lama terlindungi dengan rapi tanpa siapapun mampu menghancurkannya.


Sekali lagi Sherry perlu menelan ludah mendengar pernyataan barusan. Lalu lengan itu perlahan melepaskan pelukan dari tubuh Sherry. Menyisakan rasa aneh yang menyerang Sherry.


Tubuh Sherry masih menghadap jalan. Masih tertancap dengan kuat di tempatnya selamat dari kejadian yang menakutkan tadi. Relly juga masih berdiri di belakang Sherry. Menatap tubuh yang seringkali tampak lebih kuat dan sanggup menerjang apapun. Relly tidak lagi menemukan tubuh lemah yang mengemis uluran tangannya untuk di selamatkan.

__ADS_1


Lalu perlahan menjauhi Sherry yang masih diam. Meninggalkan Sherry yang termangu dan menipiskan bibir dengan segala rasa yang menyurutkan niatnya untuk mendorong tubuh cowok ini yang memeluknya.


Ve, kamu bisa merasakannya? Kamu bisa merasakan tubuhmu ini di sentuh olehnya? Tubuhmu telah di peluk oleh lengan itu. Lengan yang selalu di rindukan tubuhmu. Bukankah selama ini kau menginginkannya?


Ya benar, itu Dia.


Dia yang telah lama kamu puja. Dia yang membuatmu selalu terus mengikutinya. Dia yang telah memeluk tubuh ini dengan erat tadi. Apakah kamu bahagia?


Dada Sherry berdesir. Manik matanya mengerjap bingung. Ada apa dengan dirinya? Ada suatu rasa asing yang sedang menyerangnya.


Sebenarnya apa rasa aneh ini? Perasaanmu yang tersisa di tubuhmu? ataukah perasaan yang ada di jiwaku? Sekali lagi aku tidak tahu.



Di rumah keluarga Sherry,


Vermouth ...


Ve yang sedang berdiam diri sambil membaca novel dan mendengarkan musik di dalam kamar, mendongak. Ada yang sedang memanggilnya. Lalu dia turun dari ranjang dan membuka pintu kamar.


"Tidak. Ibu sedang nonton tv sama mbak Marni. Kenapa?" tanya Ibu yang tiduran beralaskan tangan di karpet depan tv.


"Aku mendengar seperti ada yang sedang memanggilku."


"Sinetron di tv sepertinya, Sher. Mungkin seperti lagi manggil kamu," kata Mbak Marni. Ve mengangguk lalu menutup pintu kamar lagi dan masuk. Mendengarkan lagi suara musik dari speaker activ kecil yang ada di atas meja yang seringkali di jadikan meja belajar di dekat lemari baju.


Sherry bertelungkup di atas tempat tidur sambil membaca novel.


Kamu bisa merasakannya?


.


.


Sayup-sayup gendang telinga Ve mendengarkan sekali lagi ada yang sedang memanggilnya dari kejauhan. Menyebut namanya dengan pelan. Gadis ini memaksa tubuhnya keluar dari kamarnya lagi.

__ADS_1


"Mungkin Aska, Sher ...," kata Mbak Marni menunjuk Aska yang sedang ada di luar sama temannya. Ve melangkahkan kaki menuju teras depan.


"Ka, kamu barusan memanggil kakak?" tanya Ve menanyai Aska yang sedang bermain game dalam ponselnya. Kedua temannya juga asyik di dekatnya.


"Enggak."


"Beneran? Kok kayak suara kamu barusan manggil kakak." Ve masih tidak percaya.


"Mulut kita kali, kak. Meracau karena main game jadi seperti lagi memanggil Kak Sherry." terang Sabo tanpa menengok ke Ve. Gadis ini mengerucutkan bibirnya tidak yakin dengan penjelasan mereka. Namun karena tidak ada yang merasa memanggilnya, Ve kembali ke kamarnya.


Sherry merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur. Dia tidak lagi ingin melanjutkan kegiatan membaca. Novelnya hanya tergeletak tak di anggap di sebelahnya. Dia sangat terusik dengan suara-suara samar tadi.


Kamu bisa merasakan tubuhmu ini di sentuh olehnya?


.


.


Suara itu lagi. Ve masih mendengarnya. Suara seorang gadis.


Sepertinya ada seseorang yang sedang berbisik lirih sambil mengucapkan sesuatu. Untaian kata yang di rangkai menjadi sebuah kalimat dibisikkan seperti terasa dekat, tapi terdengar samar. Dengan suara lembut dan pilu mengharapkan sesuatu.


Tubuh Ve menegang. Dia yakin suara itu sedang berbicara dengannya. Kalimat-kalimat lirih itu seperti di tujukan untuknya.


Siapa itu? Siapa yang berbicara denganku. Siapa yang menyebut namaku? Elda? Bi Sarah atau papa? Siapa dia?


Suara itu terdengar bahagia, tapi juga resah.


Sherry memejamkan mata.


Mungkinkah seseorang juga terjebak dalam tubuhku seperti aku? Ini sangat aneh. Kalau memang ada seseorang lagi yang mengalami takdir aneh sepertiku, itu pasti pemilik tubuh ini, Sherry. Itu tubuhku!!


Ve menatap ke luar jendela.


Apakah dia tahu kalau aku berada dalam tubuhnya? Tidak. Aku tidak mau jika harus kembali dalam tubuh itu. Aku tidak ingin kembali dalam tubuh itu.

__ADS_1



__ADS_2