
...(Aku Sherry. Gadis yang mengalami sebuah takdir aneh. Jiwaku tertukar dengan seorang gadis lain. Saat ini jiwaku sedang terperangkap dalam tubuh seorang gadis bernama, Vermouth. )...
.......
.......
.......
"Siapa yang bernama Edgar?" tanya pegawai itu dengan ramah. Sherry menunjuk ke arah pemuda di depannya. Edgar menatap tidak suka. Dia merasa ada yang salah.
"Ini bonnya untuk semua makanan dan minuman yang telah di pesan," ujar kakak itu menyerahkan bon penagihan makanan yang belum di bayarkan. Semua mata dan telinga anak klub karate menegang. Edgar meradang. Dia marah.
"Dasar sialan!!" teriak Edgar membuat pegawai itu mengurungkan niat untuk memberikan bon penagihan. Sherry yang sudah bersiap kabur segera berlari. Tapi teman-teman Edgar yang ada di dekat pintu menghadang. Suasana cafe jadi tegang. Pegawai ketakutan.
"Telepon polisi, cepat!" teriak pegawai yang hendak menyerahkan bon tadi. Cafe yang sore ini hanya berisikan mereka jadi seperti ruang latihan karate tadi siang.
Edgar mendekati Sherry dengan marah yang membumbung tinggi. Tangannya mencengkeram kerah seragam Sherry.
"Edgar! Tolong hentikan! Biar kami yang akan membayar," cegah Lido mencoba menghentikan. Tangan Lido menepuk pundak Nero dan Neymar dan menjulurkan tangannya ke arah mereka meminta sesuatu. Mereka mengangkat dagu untuk bertanya apa maksud Lido.
"Keluarkan uang kalian semua untuk membantu membayar makan-makan ini," gerutu Lido geram. Nero dan Neymar mendelik.
"Kenapa kau melakukan itu? Bukankah dia yang mengadakan acara ini?" tanya Sherry menyebalkan. Edgar tidak tahan melihat gadis sialan di depannya.
"Tunggu!!" Lido berusaha membuat Edgar tenang sambil memainkan jari-jarinya dengan cepat, untuk meminta sumbangan uang segera terkumpul agar di bayarkan ke kasir.
Cringg, cring!
Lonceng yang di letakkan di pintu masuk berbunyi. Ini menunjukkan ada seseorang yang sedang membuka pintu cafe.
__ADS_1
"Lepaskan dia, Edgar!" teriak sebuah suara yang berasal dari pintu depan cafe. Edgar menoleh ke samping. Muncul Relly di depan pintu.
Semua melihat ke cowok itu. Sherry menipiskan bibir sambil menengok ke arah pintu masuk cafe.
"Kenapa kau ikut campur, Relly?" tanya Edgar.
"Karena aku memang sengaja datang untuk menjemput dia. Jadi lepaskan tanganmu." Relly mengatakannya dengan tatapan mata sangat dingin, yang tidak pernah Sherry ketahui selama dia ada dalam tubuh Ve.
Edgar tak begitu saja melepaskan cengkeraman tangannya. Dia masih melihat Sherry dan Relly bergantian. Entah dia sedang memastikan apa. Kepala Sherry masih menatap ke samping ke arah munculnya pemuda itu. Matanya menatap lurus. Dia tidak lagi bisa merasakan Edgar yang semakin erat mencengkeram kerah seragamnya karena kesal. Otak Sherry berpikir tentang kemunculan dia yang mampu membuat mereka waspada. Padahal dia hanya datang sendirian.
Teman Edgar yang ada di dekat pintu terkejut dan berjalan menjauh dari Edgar dan Sherry. Mereka mundur sambil berlagak tidak sedang mengepung Sherry. Mata Sherry menangkap kepatuhan mereka semua, saat Relly bergiliran melihat satu persatu anggota yang ada di cafe dengan ujung matanya.
Mereka tunduk!
"Sepertinya keadaan sudah mereda. Lebih baik urungkan menghubungi polisi," ujar pegawai cafe yang menyuruh menelpon tadi. Pegawai lainnya mematikan ponselnya tidak jadi menelpon.
"Kau tidak mau melepaskan?" tanya Relly tajam dengan langkah kakinya yang mulai mendekat ke arah mereka.
"Selesaikan urusanmu dengan membayar semuanya. Awas kau, ya ...," ancam Edgar yang kemudian kembali ke tempat duduknya sambil menggerutu dan mengumpat berkali-kali.
"Gak jadi, pahlawan sudah datang," ujar Lido sambil menepuk bahu Nano dan Neymar bergantian. Mereka yang masih merogoh saku celana ikut merasa lega. Semua kembali tenang.
"Hhhahhh ..." Semua yang ada disana menghela napas lega.
"Rel!" panggil Lido. Relly melihat Lido sebentar lalu melihat Sherry lagi yang masih berdiri di tempat dia dihadang Edgar. Mata Sherry masih memandang pemuda di depannya dengan penuh pertanyaan.
Siapa dia? Kenapa mereka tunduk padanya? Bahkan Edgar yang membuat lainnya diam, bisa mematuhi perkataannya.
"Jadi ... siapa yang mau bayar semua pesanan ini?" tanya pegawai cafe dengan lambat dan masih sedikit takut.
__ADS_1
"Berikan padaku," pinta Sherry. Namun Relly sudah menyerahkan kartu kredit dari dompetnya.
"Pakai itu untuk membayar semua pesanan," pesan Relly yang langsung di sambut dengan anggukan bahagia pegawai cafe.
"Jangan, biar aku ..." Sherry tidak meneruskan kalimatnya saat Relly memutar kepalanya dan menatapnya tajam. Entah kenapa Sherry merasa harus diam dan tidak bisa membalas. Dia membiarkan laki-laki di depannya menuntaskan semua pembayaran pesanan. Sherry hanya diam di belakang Relly. Diam dan tidak melakukan apa-apa. Bibirnya juga tidak bisa mengeluarkan kata-kata mengungkapkan kekesalannya.
Edgar di mejanya juga segera menyelesaikan makan dan beranjak pergi keluar cafe dengan beberapa anggota yang lain. Edgar masih melihat Sherry dengan kesal saat melewati gadis itu untuk menuju pintu. Dia tidak menyangka gadis itu hendak menjebaknya. Bukan hanya dia, seisi ruangan sangat terkejut menerima kenyataan bahwa anak baru di klub itu sangat berani berbuat seperti itu ke Edgar yang di takuti anak-anak di klub.
"Memangnya, dia pacarnya Relly?" tanya Nano ke Lido. Mata Lido yang masih memperhatikan Sherry dan Relly menggeleng.
"Lalu, kenapa Relly sengaja datang menjemputnya di sini?" tanya Neymar.
"Relly berencana menemuiku, bukan dia. Namun sepertinya dia juga punya urusan dengan gadis itu." Lido tersenyum lalu berdiri menghampiri Relly di depan meja kasir. Tentu saja masih dengan Sherry yang entah kenapa jadi mengekor di belakangnya, tapi kemudian keluar cafe.
Di depan cafe, Sherry melakukan peregangan. Setelah kejadian tadi, tubuhnya terasa kaku. Mana Edgar mencengkeram kerahnya dengan keras hingga membuat kulitnya juga kena gesekan seragamnya. Sepertinya ada yang mengelupas karena terasa perih sedikit.
Relly yang sudah membereskan semua kekacauan yang di timbulkan Sherry hendak keluar bareng Lido. Semua sudah pulang. Begitupun Nero dan Neymar yang pulang duluan. Melihat Sherry yang melakukan peregangan di depan cafe, Lido tergelak,
"Tuh anak benar-benar aneh dan ajaib. Bagaimana bisa dia bermain-main dengan Edgar yang seperti itu. Dia mungkin memang tidak tahu watak si Edgar, tapi untuk ukuran orang baru dia sangat nekat." cerita Lido bersemangat sambil membuka pintu cafe.
"Dia seperti bukan Ve yang aku tahu. Gadis penakut, pemalu dan selalu menatapmu penuh cinta. Dia seperti berubah menjadi orang lain. Karena perubahannya sangat mencolok," Lido mengatakan pendapatnya.
Relly hanya menatap ke arah depan. Dimana dia berdiri masih melakukan peregangan.
"Memangnya habis latihan berat, Ve? Bukannya tadi hanya makan dan mau kabur?" ledek Lido.
"Justru karena hanya seperti itu, badan jadi pegal semua." Entah Sherry serius atau tidak, tapi mampu membuat Lido tertawa terpingkal-pingkal. Relly tidak merespon hanya diam. Ini juga mampu membuat Sherry perlahan berhenti melakukan peregangan dan melihat kekanan kiri salah tingkah.
__ADS_1