
...(Aku Sherry. Gadis yang mengalami sebuah takdir aneh. Jiwaku tertukar dengan seorang gadis lain. Saat ini jiwaku terperangkap dalam tubuh seorang gadis bernama, Vermouth.)...
.......
.......
.......
Lagi-lagi Sherry harus tersenyum. Sherry ke bangku belakang dekat jendela. Karena itu satu-satunya yang kosong. Saat itu datang seorang cowok.
"Hei, baru datang kamu?" tanya Frans yang ternyata adalah ketua kelas. Cowok itu tersenyum.
Serius nih Ve duduk di belakang? Bukannya cewek seperti Ve biasanya duduk di depan atau paling gak, di bangku tengah.
Lalu Sherry meletakkan ranselnya di meja. Semua mata menatap heran. Cowok yang baru datang tadi duduk di bangku tengah. Semua mata masih menatap heran, tapi sekarang bergantian lihat ke Sherry dan cowok di sebelah. Kalau Sherry boleh melakukannya dia pasti langsung bertanya, "Ada apa kalian menatapku seperti itu, hah?' Hanya saja, Sherry bisa diam mematung. Sherry tidak bertindak sembarangan. Saat ini tubuhnya adalah tubuh orang lain.
"Ve, tempat dudukmu di tengah. Itu tempatnya Relly," kata Frans ketua kelas memberi tahu. Semua mengangguk mengiyakan. Dan melihat Sherry yang juga sedang melihat mereka.
"Karena lama gak masuk sekolah jadi kamu lupa ya kalau sudah ada perputaran tempat duduk?" seorang cewek bernama Amora di name tagnya bertanya.
"Iya, bener."
Sekali lagi aku menempati tempat duduk orang lain. Payah...
"Bisa kita bertukar tempat? Karena sepertinya aku keliru tempat duduk," kata Sherry berusaha bersikap biasa sambil membereskan buku yang tadi sudah terlanjur di keluarkan. Tapi respon semuanya enggak biasa. Semua melihat ke arah Sherry. Yang tadinya enggak peduli sekarang malah ikutan melihat.
Ada apa ini...Bukannya aku bersikap biasa saja.
"Tidak perlu," jawab cowok bernama Relly singkat. "Frans, hari ini aku pindah. Disini." imbuhnya.
"Kau ini seenaknya saja. Ya sudah. Besok aku ganti denah tempat duduknya." Frans langsung setuju. Begitupun dengan yang lain. Mereka tidak protes.
"Ve, tetap di situ ya... Jangan salah tempat lagi," ujar Frans sambil senyum ramah. Sherry tersenyum juga.
"Selamat pagi anak-anak," sapa Pak Aldo yang sudah memasuki kelas.
__ADS_1
Mata Sherry beredar mengelilingi ruang kelas. Kelasnya besar juga. Memperhatikan semua hal yang ada di dalam kelas. Semua hal di lihatnya layaknya orang baru. Dan matanya sedang tertuju pada cowok sebelah. Sherry melihat name tag di dadanya. Firelly. Siapa cowok ini hingga bisa membuat semua siswa di kelas ini seperti patuh terhadapnya?
Luar biasa cowok ini. Padahal tadi katanya ini peraturan dari wali kelas, kenapa bisa dia seenaknya seperti itu. Dan ketua kelas langsung menyetujui? Sangat mengesankan.
"Ve! Ada apa?" Pak Aldo mendadak menegur Sherry. Semua mata auto menatap Sherry yang sedang menatap ke samping. Dengan cepat Sherry melihat ke depan.
"Tidak Pak! Tidak ada apa-apa..," sahut Sherry cepat. Busyet! Dia di lihat oleh anak-anak sekelas. Relly yang duduk di bangku sebelah noleh dengan raut wajah datar ke cewek yang sedang nyengir malu itu.
Semua tersenyum. Senyuman geli karena menurut mereka gadis itu sedang melihat ke arah Relly. Sudah jadi rahasia umum kalau Ve sangat menyukai cowok itu, tapi Sherry enggak paham soal itu. Jadi dia gak ngeh maksud senyuman anak-anak.
Istirahat pertama
Sherry merasa sangat lapar. Padahal tadi pagi sudah sarapan dengan menu berat. Mungkin karena ini hari pertama sekolah, Sherry seperti menggunakan seluruh tenaganya untuk berfikir dan bertindak.
Menjadi orang lain ternyata sangat melelahkan. Mencoba bertindak lemah lembut layaknya putri, tapi itu membuat tubuh Sherry serasa kaku.
Sherry tidak kesulitan mencari kantin. Mungkin karena insting laparnya. Kantinnya lumayan besar. Mirip tempat makanan cepat saji. Pertama Sherry masuk antrian sambil memperhatikan siswa yang membeli. Ternyata sistemnya juga seperti makan di resto cepat saji.
Akhirnya giliran Sherry mendekat ke meja kasir. Bermacam macam menu lauk dan sayur khas ada di sini. Dia menunjuk beberapa menu lalu membayar. Disini kantinnya bayar dulu makan kemudian.
Sambil membawa piring nasi, Sherry mencari tempat duduk. Mencari tempat duduk yang tidak terlalu mencolok. Tidak ada yang di pojokan. Semua terisi. Gak bisa pilih-pilih tempat duduk. Tinggal 2 kursi kosong di sebelah gerombolan cowok cewek.
Sherry segera melangkahkan kaki kesana.
Trek! Dia meletakkan piring tanpa lihat kanan dan kiri.
Ahhh...aku akan makan dengan bahagia.
"Hei, sedang apa kamu disini?!" tanya seorang cewek dengan nada judes secara mendadak.
Hei, sedang apa kamu disini?!" tanya seorang cewek dengan nada judes secara mendadak. Sherry tidak jadi memasukkan sesendok nasi ke mulut dan noleh. Karena suara Jenny, -begitu nama yang tertulis di emblem di dadanya- begitu membahana. Semua yang ada di meja itu jadi menatap ke arah Sherry.
Ternyata ada Frans ketua kelas dan beberapa anak yang satu kelas dengan Ve. Dan juga ada ... cowok bernama Relly. Duduk di samping Jenny.
"Makan," jawab Sherry santai. Semua tersenyum, mengerjap mendengar jawaban santai dari mulut seorang gadis ini.
__ADS_1
"Aku tahu kamu sedang makan, tapi kenapa di meja ini?" tanya cewek bernama Jenny.
Apa-apaan sih cewek ini?
"Sudahlah Jen," kata Frans menghentikan Jenny. Karena gadis ini terlihat diam saja. Ada rasa iba menyerbunya. Cewek itu tidak memperdulikan Frans. Masih menatap tidak suka ke arah Sherry.
"Makan aja dengan santai, Ve." Frans mempersilahkan Sherry dengan ramah. Layaknya tuan rumah yang mempersilahkan tamunya.
Cowok ini memang sangat baik ke Ve. Dari awal kemunculan ku sebagai Ve di kelas, sampai sekarang dia selalu baik.
Namun cewek itu tetap bersikap arogan. Tidak mau menggubris omongan Frans. Sementara itu Relly tidak ambil pusing dengan tingkah Jenny. Dia tetap meneruskan makan. Tidak peduli dengan keributan yang dibuat oleh Jenny.
"Karena hanya kursi ini yang kosong," jawab Sherry polos. Sebenarnya bukan akting polos tapi itu memang kenyataannya. Frans tersenyum geli. Semuanya juga tersenyum mendengar jawaban Sherry. Jawaban sederhana dan memang begitu adanya. Namun, terasa meremehkan di telinga Jenny. Wajah Jenny menjadi merah karena malu.
Sherry mengunyah makanan pelan-pelan. Mencoba menikmati setiap bagian sayur dan lauk. Berada pada tubuh orang lain tidak harus mengurangi selera makannya. Justru dia menargetkan makan yang banyak. Tubuh ini lemah dan punya maag. Jadi Sherry menargetkan tubuh padat berisi dan juga sehat.
Ahhh...sedap sekali.
"Kamu cuma nyari alasan untuk bisa deket sama Relly, kan?" Jenny tetap bersikeras membuat Sherry tidak nyaman. Meskipun namanya di sebut, Relly tidak peduli. Dia masih bisa memakan makanannya dengan santai dan enjoy.
Relly? Kenapa menyebut nama cowok itu. Apa hubungannya dengan Ve, pikir Sherry.
"Bukannya selama ini kamu selalu berusaha mendekatinya. Melihatnya diam-diam dengan mata terpesonamu itu." Gadis bernama Jenny itu mengatakannya dengan nada mengejek. Seperti Ve tidak pantas mengemis cinta pada Relly.
Oh jadi begitu. Ve menyukai cowok disana itu. Ternyata memang ada hal yang enggak di tulis dengan jelas di buku diary. Mungkin sangat menakutkan menulis nama orang yang sangat di cintai tapi enggak pernah terbalas. Namun ebih menakutkan kalau kalah dalam bertarung..
"Benar kan, kamu cuma pengen lihat Relly dengan puas?" Wajahnya puas merasa bisa memojokkan Sherry karena diam tak menjawab.
Mungkin kalau di dalam tubuh ini adalah jiwa Ve yang asli, dia akan terpojok dan tertekan akan cemoohan Jenny. Gaya dan cara bicara Jenny memang sangat meyakinkan. Kepercayaan dirinya sangat baik. Hingga bisa mengintimidasi lawan bicaranya. Tapi sekarang yang berhadapan dengan Jenny adalah Sherry. Kalau hanya hal begini tidak akan membuatnya keok.
Nih cewek memang gak bisa membiarkan aku makan dengan tenang. Mulutnya nyerocos terus. Maunya apa sih!
Sherry meletakkan sendok dan menatap Jenny dengan memakai karakternya sendiri. Karakter Sherry. Dengan sikap tenang, tapi matanya tajam. Tak lupa ujung bibir ke angkat karena mendengus sebal.
"Iya. Aku memang ingin melihat Relly dengan puas. Kenapa?" jawaban yang membuat semua melirik ke arahnya. Juga pertanyaan buat Jenny yang membuat wajahnya menjadi keruh.
__ADS_1
"Kamu ini!" Jenny geram. Lalu dia berdiri. Bella yang menemani Jenny ikutan berdiri setelah meminum jusnya.