
(Aku Sherry. Gadis yang mengalami sebuah takdir aneh. Jiwaku tertukar dengan seorang gadis lain. Saat ini jiwaku sedang terperangkap dalam tubuh seorang gadis bernama, Vermouth.)
.
.
"Aku tidak bisa bertemu dengan Vermouth sendiri, Sher. Aku tunggu kamu di depan rumah sakit," kata Elda dengan suara bergetar saat menelepon Sherry. Padahal Sherry sudah berhenti tak jauh dari rumah besar milik Vermouth. Dia meminta di turunkan di sini sambil menunggu kedatangan Elda yang sudah bertemu Vermouth.
Ternyata bayangannya tidak tercipta seperti yang di pikirkannya, karena Elda merasa tidak yakin untuk menemui nona mudanya. Sherry yang sudah duduk di tempat duduk yang terbuat dari beton beranjak berdiri. Memaksakan tubuhnya yang sudah lelah untuk kembali lagi ke rumah sakit. Ini bukan soal Vermouth atau Elda. Disana ada adiknya yang sedang menemani tubuhnya. Dia harus segera kesana.
Berkali-kali Aska menelepon. Sherry tahu itu. Sherry mengatakan akan datang sebentar lagi. Berharap Aska sabar menunggu.
"Ayo naik. Aku antar," ajak Hansel yang rupanya mengikuti Sherry di belakang. Setelah menurunkan gadis ini di ujung jalan, dia tidak segera pergi. Sungguh aneh melihat Sherry yang tidak ingin di antar pukang tepat di depan rumahnya. Dugaannya benar, Sherry hendak melakukan sesuatu.
"Jangan berpikir lama, ayo. Aska menunggu bukan?" Sherry mengangguk dan duduk di jok belakang. Mereka bersama lagi. Masih memakai seragam. Sherry dan Hansel jadi seperti sepasang kekasih yang sedang tidak ingin pulang ke rumah.
Elda di pintu depan menunggu Sherry dengan cemas. Setelah berbincang, mereka masuk rumah sakit. Dengan jantung berdebar Elda memeluk lengan Sherry. Ini pertemuan pertama mereka berdua. Tentu saja Elda sangat emosional.
Hansel mengikuti mereka dari belakang tanpa di minta. Aska muncul sendirian. Mata Hansel memperhatikan dan mendengar. Dia tidak bisa mendengar dengan pasti apa yang mereka bicarakan. Memang sempat terdengar bincangan yang terputus-putus. Lalu geraman tertahan dari Aska yang menyebut, Sherry.. berulang-ulang.
Itu sebuah nama, tapi nama siapa?
Elda dan Aska berjalan menghampiri seseorang yang sedang duduk di kursi stainless di ujung ruangan. Tempat duduk yang menghadap ke jendela. Gadis itu membelakangi mereka bertiga. Tanpa sadar, Hansel mengikuti mereka. Berjalan perlahan.
Seperti bangun dari mimpi, Sherry terkesiap dan memutar tubuhnya. Sekarang tubuh Sherry sudah menghadap Hansel. Dengan mata melebar yang nanar dia menatap Hansel.
__ADS_1
Ada apa dengan gadis ini? Kenapa melihatku seperti itu?
Kakinya berjalan menghampiri Hansel. Tiba-tiba tangan Sherry berada tepat lurus dengan mata Hansel.
"Ada apa, Ve?" tanya Hansel heran dan terkejut.
"Tutup matamu sebentar, kumohon.." ujar Sherry seperti putus asa. Hansel menuruti kemauan Sherry tanpa berpikir panjang. Saat Hansel menutup mata, tangan Sherry memutar tubuh Hansel. Saat putaran ini selesai Hansel membuka mata tanpa di minta.
"Ada apa, Ve?" tanya Hansel meminta penjelasan.
"Tidak ada," jawab Sherry tanpa melihat ke wajah Hansel. Matanya hanya melihat ke arah Aska, Elda dan tubuhnya__Vermouth.
"Kenapa aku harus menutup mata?" tanya Hansel akhirnya. Karena dia merasa sudah mengikuti kemauan Sherry, sekarang gilirannya bertanya tentang alasannya.
"Tidak ada," jawab Sherry masih dengan jawaban yang sama. Nada bicara juga sama. Tidak tenang dan takut. Juga dengan tatapan yang tidak terarah ke Hansel. Matanya masih menatap Aska, Elda dan Vermouth. Tanpa bertanya lagi, Hansel menoleh ke belakang.
"Jangan!" pekik Sherry seraya menahan wajah Hansel dengan meletakkan tangannya pada kedua pipi Hansel. Sherry menahan sebisa mungkin agar Hansel tidak menoleh ke belakang. Mata Hansel melebar dan melirik ke arah dua tangan Sherry yang menyentuh wajahnya. Tubuh Hansel menegang akibat interaksi ini. "Tolong, jangan memutar tubuhmu..," ujar Sherry yang sekarang bisa menatap ke arah Hansel yang berjarak dekat dengannya berdiri.
"Aku tahu, tapi kumohon... Jangan menoleh ke belakang," ujar Sherry pelan. Masih dengan kedua tangannya menyentuh pipi Hansel. Hansel menatap mata itu dengan desiran di dalam hatinya. Sherry menggigit bibir bawahnya dengan cemas. Tangan Hansel terulur untuk menyentuh tangan Sherry. Lalu menyatukan kedua tangan Sherry. Mata Sherry semakin melebar saat Hansel mengenggamnya dan meletakkan tangan di dadanya.
Apa yang sedang di lakukannya?
Tanpa sadar Sherry salah tingkah juga. Gugup saat Hansel melakukan itu.
"Hh... Karena dekat seperti ini, dadaku berdetak kencang, nih.." ujar Hansel membuat Sherry menipiskan bibir. Tidak menyangka cowok ini berkata seperti itu.
"Apaan..." Sherry mencoba melepaskan tangannya, tapi Hansel menahannya.
__ADS_1
"Ini menyangkut perpindahan jiwamu, itu?" pertanyaannya langsung pada intinya. Sherry diam. Membiarkan tangannya tetap di genggam Hansel juga membiarkan pertanyaan itu tanpa jawaban. "Jadi ini perasaan Relly saat di dalam kamar itu?" Hansel menemukan sendiri jawabannya.
"Relly sudah menemukan jawaban lebih dulu ya... " Hansel tersenyum, "Makanya dia bersikeras ingin tahu gadis itu. Karena dia adalah tubuh aslimu..." Sherry masih bungkam. Kali ini matanya melihat ke arah lain.
Satu persatu rahasia soal takdir aneh ini terkuak. Relly dan Hansel mulai paham hubungan Sherry dengan gadis yang berambut di bawah bahu itu. Mereka berdua mengerti, gadis bernama Vermouth telah di huni jiwa seorang gadis lain. Gadis yang punya sifat yang sangat bertolak belakang dengan Vermouth yang asli.
"Karena itu, kamu ingin melindungi gadis yang bersama Aska karena dia adalah kamu. Tentu saja kamu mencegah sebisa mungkin aku dan Relly mengetahui itu. Sherry?" tebak Hansel kemudian setelah memahami jalan ceritanya. Sherry menoleh dengan membeliakkan mata, "Berulang kali Aska menyebut nama itu. Apakah itu namamu?" Sherry tidak menjawab.
Aska yang sudah berbincang dengan Elda dan Vermouth melihat ke arah Sherry. Melihat mereka berdua, Aska menyadari bahwa Hansel juga memahami cerita ini dan tahu bahwa gadis yang bersamanya adalah tubuh Sherry yang asli.
Mata Aska terus menatap kakaknya sambil berjalan menjauh dengan diam-diam dari ujung lorong ini. Menghindar dari Hansel.
"Mereka sudah pergi?" tanya Hansel mengejutkan. "Aku sengaja membiarkan mereka pergi. Aku lebih memilih disini daripada harus mengejar mereka dan melepaskan genggaman tangan ini..."
"Leluconmu lucu juga," Sherry menanggapi dengan memutar matanya malas. Sherry menarik tangannya. "Sudah lama kamu memegang tangan ini. Sekarang lepaskan," Hansel menuruti permintaan Sherry.
"Apa yang akan kamu lakukan?" tanya Hansel.
"Tidak tahu," jawab Sherry asal sambil merapikan rambut.
"Takdir kamu rumit. Kenapa kamu justru menambahi kerumitan itu,"
"Apa maksudmu?"
"Kamu tidak perlu menyembunyikan wajah aslimu dari siapapun. Mereka tidak akan tahu dan paham akan cerita ini."
"Yang kamu maksud mereka itu siapa? Kalau kamu berkata mereka itu adalah orang lain aku tidak peduli." Hansel menatap Sherry, "Bukankah aku hanya ingin menyembunyikan dari kalian, kamu dan Relly..." Juga Daniel... ucap Sherry dalam hati.
__ADS_1
Aku ingin kalian tidak tahu siapa aku... Karena itu akan menyusahkan. Lihatlah sekarang...