
...(Aku Sherry. Gadis yang mengalami sebuah takdir aneh. Jiwaku tertukar dengan seorang gadis lain. Saat ini jiwaku sedang terperangkap dalam tubuh seorang gadis bernama, Vermouth. )...
.......
.......
.......
"Dia menyukai Relly, teman satu kelas," ungkap Sherry kemudian. Dia ingin berbagi kisah Ve dengan Elda sebagai orang paling dekat dengan gadis itu. Dan mungkin juga kedepannya bisa menjadi tempat curhat bagi Ve yang pemurung.
Tapi kapan? Kapan takdir aneh antara aku dan Ve akan kembali?
"Benarkah? Bagaimanakah dia? Apakah dia tampan atau tidak?" Elda senang mendengar cerita berbau cinta-cintaan seperti ini. Mata Elda berbinar. Apakah dia senang karena dia sendiri belum mengalami rasa suka sepeti ini.
"Ya ... lumayan." Sherry agak ragu menyebut Relly adalah cowok tampan. Karena Relly tidak terlihat kuat. Sherry tidak tertarik dengan cowok lemah.
"Apakah mereka sering berkencan?" Elda antusias.
"Kencan?" Sherry tertawa geli. Elda mengerutkan kening heran.
"Ve menyukainya, tapi Relly tidak. Cintanya bertepuk sebelah tangan." Sherry mengucapkannya sambil tersenyum lagi.
"Bukankah nona Ve itu cantik dan pintar. Mengapa dia tidak suka?" Elda jadi emosi.
"Aku juga tidak tahu, tapi seperti itu kenyataannya. Semua orang di sekolah paham cerita Ve yang sangat menyukai Relly. Namun cowok itu tidak pernah membalasnya. Kalau penasaran, lebih baik kamu tanyakan sendiri ke orangnya."
"Itu tidak mungkin," tolak Elda.
__ADS_1
Sherry juga tidak paham kenapa banyak cowok yang memandangnya sebelah mata. Bukankah Ve itu seorang putri yang cantik dan anggun? Bukankah gadis seperti itu menarik? Atau karena dia seperti putri banyak cowok yang enggan mendekatinya karena takut kecewa.
Karena sebagai gadis yang cantik pasti punya kriteria cowok yang lebih tinggi, tapi dia sangat menyukai Relly. Bukankah Relly biasa saja?
Namun ini di lihat dari kacamata seorang Sherry yang tidak terlalu memikirkan cowok dan romantismenya. Dia lebih senang makan dan berkelahi.
"Kasihan sekali Ve." Elda menjadi sedih lagi memikirkan kehidupan nona mudanya di sekolah yang ternyata tidak di ketahuinya.
"Jangan bersedih seperti itu. Ve bisa saja ganti menyukai orang lain. Hanya saja dia masih belum paham. Bahwa bukan hanya Relly cowok yang bisa di cintainya, tapi banyak. Banyak cowok di sekolah elit itu. Tidak perlu terpaku hanya pada satu cowok." Sherry ada benarnya juga.
"Mungkin jika itu Sherry dia akan berpikir seperti itu, tapi itu Ve. Sepertinya dia tidak akan bisa bertindak seperti mu." Elda mulai paham perbedaan di antara dua nama itu.
"Yah ... kanu bisa menasehatinya kalau dia kembali." Suara Sherry menjadi rendah dan terdengar sedih saat mengucapkannya. Elda jadi ikut merasakan apa yang sedang di rasakan jiwa yang sedang bersarang dalam tubuh nona mudanya. "Cepat atau lambat dia pasti akan kembali. Harus!" Sherry bangkit dari rebahannya dan duduk lagi. Dia memotivasi dirinya sendiri.
Aska...
Padahal sudah sedekat itu, tapi tidak bisa meyakinkan anak itu. Apa aku harus menyerah dalam mencari cara agar aku bisa kembali lagi sebagai Sherry? Bukankah konyol jika aku harus terus menjadi Ve. Aku tentu tidak bisa lagi bertemu teman-teman di sekolah. Tidak bisa bolos dan berkelahi bareng Aska. Juga ... tidak bisa melihat Ibu yang mengomeli setiap hari.
Jadi kangen omelan ibu...
Sherry menjerit kegirangan dalam hati saat jam olahraga dimulai. Jam olahraga adalah favorit Sherry. Apalagi saat lari mengitari lapangan. Sherry gemetar-gemetar kesenangan membayangkan. Apalagi Sherry tidak perlu harus ke alun-alun kota seperti saat di sekolahnya dulu.
Sekolah ini sudah punya lapangan sendiri untuk jam olahraga ini. Lapangan rumput luas yang biasanya untuk latihan sepak bola. Dulu dia selalu bersaing ketat dengan cowok-cowok di kelasnya. Kegiatan ini sangat menyenangkan bagi Sherry, tapi kali ini dia harus merelakan kegiatan menyenangkan itu karena dia sedang ada dalam tubuh Ve.
Pupus sudah harapan Sherry menikmati senangnya berlari mengitari lapangan milik sekolah sendiri. Karena, mau tidak mau dia harus menjadi Ve si lemah. Menurut yang lain tubuh ini gampang pingsan. Sepuluh menit terpapar matahari terus dia akan merasa pusing. Dan kalau itu terus di lakukan dia akan pingsan.
__ADS_1
O-M-G! Sebegitu lemahkah tubuhmu wahai Ve? geram Sherry dalam hati.
Aku bukan orang yang tahan untuk berada di pinggir lapangan saat semuanya bersenang-senang berlari mengitari lapangan. Aku ingin juga berlari saling mendahului mereka yang sedang ada di baris depan merasa sudah menang. Sial! Sherry berdecih kesal. Merutuki tubuh itu dengan umpatan.
Buat apa pakai seragam olahraga kalau akhirnya tidak melakukan apa-apa. Hanya bisa berdiri di pinggir lapangan dengan wajah ingin sekali mengikuti penilaian olah raga lari ini.
Sherry menyepak daun-daun berjatuhan yang berasal dari pohon besar di sebelah kanannya. Jiwa atletik dan persaingan Sherry tidak bisa di bendung lagi saat lihat Relly berhasil berlari dengan menit paling cepat.
Cowok itu ternyata lumayan juga larinya.
Bukan karena itu Relly gadis ini tertarik. Namun itu murni karena dia Sherry. Gadis ini memang ingin lari dan mengalahkan cowok-cowok itu. Akhirnya Sherry mencoba melangkah mendekati anak-anak yang sedang berkerumun di sekitar Mr. Ryan. Mereka menunggu giliran lari.
"Siapa lagi ini yang mau lari?" tanya Mr. Ryan mengabsen.
"Saya, Pak!" Sherry angkat tangan. Dan ada lagi satu cowok yang memakai kacamata tebal. Semua menatap heran. Bisik-bisik. Frans yang berada di depan mendekati Sherry.
"Bukankah, tubuhmu tidak tahan untuk terus di bawah sinar matahari?" tegur Frans heran.
"Begitu ya..," kata Sherry meringis. Lalu nyengir kuda, hehehe. Sungguh tidak mungkin tiba-tiba tubuh ini menjadi kuat bukan. Namun Sherry tidak mau harus terus berpura-pura berlagak seperti Ve. Mengingat Ve sepertinya sangat menikmati menjadi dirinya, Sherry terbakar amarah. Sherry sebal harus berjuang, tapi tidak bisa bersenang-senang.
"Pak, saya mau mengikuti penilaian lari." Sherry memaksa mengajukan diri. Semua menatap kaget mendengarkan gadis lemah ini mengajukan diri. Semua kasak kusuk. Karena ini pertama kalinya seorang Ve mau mengajukan diri sendiri. Apalagi dalam olahraga. Bukan tidak mau, tapi tubuh cantik itu memang tidak kuat.
"Saya bisa kok pak. Saya yakin tidak akan pingsan hari ini. Saya sudah makan yang banyak supaya tidak pingsan," ucap Sherry terlihat polos. Langsung terdengar gelak tawa mengejek dari teman-teman satu kelas. Mereka menertawakan gadis cantik ini. Sherry tidak peduli.
Relly memandang gadis yang sedang berdiri di sebelah Mr. Ryan. Tubuh itu terlihat memang lebih kuat dari biasanya. Namun apakah mungkin?
__ADS_1