Diary Sherry

Diary Sherry
Siapa kamu?


__ADS_3

...(Aku Sherry. Gadis yang mengalami sebuah takdir aneh. Jiwaku tertukar dengan seorang gadis lain. Saat ini jiwaku sedang terperangkap dalam tubuh seorang gadis bernama, Vermouth. )...


.......


.......


^^^.^^^


.......


"Lebih baik kau antar dia pulang. Kita bertemu lagi nanti malam. Oke deh, aku mau pulang." Lido menepuk bahu Relly. "Dah... Ve," pamit Lido. Sherry hanya tersenyum tipis. Cowok itu jadi seperti sudah menjadi teman akrab. Padahal baru ketemu aja tadi di ruang latihan karate. Mungkin untuk Lido ini bukan pertama kali dia tahu Ve. Lalu dia menuju tempat parkir dan pergi menyisakan asap motor yang mengepul. Sherry mengibaskan tangannya mengusir asap motor yang melewatinya.


"Siapa kamu?" tanya Relly tiba-tiba. Sherry menatap bola mata hitam itu sambil tertegun. Pertanyaan apa itu? Sherry diam tidak menjawab. "Aku tanya siapa kamu?" Relly mengulang pertanyaan yang sama. Bibir Sherry tak bisa membuka untuk mengucapkan kata-kata. Dia sangat terkejut dengan pertanyaan yang mengintimidasinya. Pertanyaan biasa, tapi mampu membuat Sherry merasakan tekanan yang dalam.


"Kenapa kamu menanyakan itu? Bukankah aku adalah Ve. Aku rasa kamu sangat tahu itu." Meski gugup, Sherry mencoba menguasai keadaan. Walaupun itu aneh, mungkin saja Relly sedang mempertanyakan hal lain, bukan seperti yang dipikirkannya.


"Ve tidak seperti dirimu. Dia tidak akan pernah membuat keributan semacam ini," kata Relly seperti mulai mengerti bahwa dia dan Ve yang dulu sangat berbeda. Deg! Jantung Sherry berdetak kencang.

__ADS_1


"Mungkin saja ... Mungkin saja aku sudah lelah dengan berdiam diri selama ini. Jadi sekarang aku ingin menjadi lebih berani menunjukkan diri," kilah Sherry sebisa mungkin menjawab. Mata Relly semakin menatap tajam ke arah Sherry.


"Ve tidak akan berkilah dengan berani seperti mulut itu," desak Relly. Glek! Sherry menahan kerongkongannya yang terasa sakit saat menelan ludah.


"Tidak mungkin aku bukan Ve. Tubuh dan wajah ini masih sama seperti Ve. Jangan mengatakan hal yang aneh." Nada suara Sherry bergetar. Dia merasa ada di sudut. Kakinya berjalan mundur saat kaki pemuda di depannya mengambil langkah mendekati dirinya.


"Mata itu tidak akan menatap dingin dan enggan melihatku. Tubuh itu juga tidak akan mundur dan menjauh saat aku justru mendekatinya. Bibir itu tidak akan pernah berhenti mengucap rasa cintanya dan berkilah ingin menghindariku seperti dirimu. Ve tidak akan melakukan itu." Mata Relly tetap tajam saat mengatakannya. Dia seakan tertegun sendiri dengan perubahan yang terjadi pada diri gadis ini.


Namun kali ini Sherry tidak bisa mundur atau menghindar. Bukan karena tidak ada jalan lain baginya untuk kabur. Jalanan ini masih luas untuk Sherry berlari. Tubuhnya masih kuat untuk menendang dan kabur. Juga bukan karena Relly mengancam atau sebagainya. Tubuh Sherry berhenti dan terdiam karena melihat sorot mata lelaki muda di depannya merasa putus asa.


"Tidak mungkin kamu adalah Ve yang aku kenal selama ini. Karena aku tidak akan pernah merasa sangat gusar ketika melihatmu dengan cowok lain. Tidak akan pernah merasa secemas ini saat melihatmu berhadapan dengan Edgar di dalam tadi. Karena Ve bukan orang yang patut aku cemaskan untuk hal sepele seperti itu!" Sherry tidak bisa membalas perkataannya. Dia tidak tahu harus berkata apa tentang hal ini. "Jawab aku, siapa dirimu?"


Karena aku ... bukan Ve.


"Aku tidak tahu," jawab Sherry membuang muka. Bagaimana Sherry bisa menjawab itu. Kalau seandainya Sherry menjawab kalau dia sekarang bukan Ve, apakah itu mungkin di percaya?


Relly masih saja memandang gadis yang membuatnya belakangan ini sangat gusar, gelisah dan hilang akal dalam menempatkan perasaan dengan benar. Dia memandangnya masih dalam diam dan kesunyian setelah menumpahkan banyak perasaan aneh yang menyelinap di dalam hatinya.

__ADS_1


Sekali lagi Relly menemukan gadis ini enggan menatapnya. Membuang muka ke arah lain hanya untuk menghindari matanya. Bukan membenci hanya enggan dan tidak mau. Relly mulai terusik lagi dengan polah dan semua gambaran gadis ini saat bersikap acuh tak acuh padanya. Itu sangat mengganggunya. Entah kenapa itu membuatnya marah. Bagaimana mungkin perasaannya berubah secepat ini, pada seorang makhluk yang seringkali melintas, tapi tak pernah menancap dengan jelas di dalam hatinya.


"Kamu tidak tahu?" tanya Relly lagi sambil memiringkan kepalanya. Sherry bungkam tanpa melihat. Dia tidak ingin terjebak dengan pertanyaan Relly.


"Jawabanmu adalah masih tidak tahu tentang siapa kamu dan kenapa aku seperti ini, begitu?" tanya Relly yang sebenarnya juga tidak paham sedang menanyakan tentang apa. Perasaan anehnya atau lenyapnya Ve yang menatapnya hangat.


Dia merasa bingung dan terkecoh saat seringkali menganggap gadis yang berdiri di hadapannya ini adalah orang lain. Pertanyaan tentang siapa gadis ini selalu terlintas dalam benaknya. Mengapa berbeda dengan dia yang selama ini selalu dihindarinya dengan diam.


Mata Sherry masih saja memperhatikan hal lain. Menjelajahi jalanan yang mulai terang dengan cahaya dari lampu-lampu pertokoan dan lampu jalan dengan dua bola matanya. Setelah menjawab tidak tahu dengan lirih, tidak ada lagi kata yang meluncur dari bibirnya.


Gadis ini mengerti bahwa bibirnya telah salah berucap. Bukan jawaban tidak tahu yang seharusnya terlontar saat pertanyaan Relly menghujam. Namun pernyataan pasti dan yakin bahwa dirinya adalah Ve dan tetap menjadi Ve.


Sayup-sayup bibir lelaki muda ini menggumamkan sesuatu. Sherry yakin gendang telinganya menangkap sebuah suara yang membentuk kalimat. Namun tidak jelas terdengar, entah karena apa. Rasa ingin tahu memaksa dirinya untuk berani menatap mata hitam itu lagi. Mata yang putus asa dengan pikiran gilanya sendiri.


"Ve mencintaiku. Siapapun tahu tentang perasaan yang tulus itu. Bukankah seharusnya orang yang bersangkutan paham akan hal ini?" Pertanyaan menusuk yang langsung di pertanyakan dengan tenang oleh Relly. Sherry memang tampak tidak peduli pada tubuh yang selalu memuja lelaki muda ini. Sepertinya dia masih punya banyak kalimat untuk menyudutkan Sherry. Semua itu membuat Sherry tidak tenang.


"Kalau kamu memang Ve, ucapkan kamu mencintaiku, karena Ve selalu begitu," tantang Relly membuat retina Sherry melebar mendengar permintaan barusan. Terdengar kekanak-kanakkan dan kehilangan akal. Kali ini seringaian dingin juga nampak dari bibirnya.

__ADS_1


"Aku tidak perlu melakukannya," bantah Sherry yang mulai mengumpulkan keberanian membuang rasa iba terhadap sorot mata putus asa milik Relly. Kaki Relly melangkah maju satu langkah lagi mendekatinya. Langkah ini memaksa Sherry untuk memilih mundur dan membuat Sherry yang sudah kehabisan pijakan goyah dan terjatuh di luar badan trotoar .



__ADS_2