Diary Sherry

Diary Sherry
Relly


__ADS_3

...(Aku Sherry. Gadis yang mengalami sebuah takdir aneh. Jiwaku tertukar dengan seorang gadis lain. Saat ini jiwaku terperangkap dalam tubuh seorang gadis bernama, Vermouth.)...


.......


.......


.......


"


"Makanmu belum habis, Jen!" kata Daniel meledek.


"Aku tidak berselera makan karena ada ulat pengganggu." Maksud Jenny menghina Sherry. Tapi cewek itu enggak peduli. Dia meneruskan makannya.


"Aku balik ke kelas saja, Rell," kata Jenny bermaksud minta ijin ke Relly.


"Terserah," jawab Relly dingin. Tidak peduli Jenny mau pergi atau enggak. Jadi itu membuat Jenny makin memerah karena malu. Segera Jenny pergi setelah menghentakkan kaki dengan kesal. Di ikuti Bella di belakangnya Cowok-cowok yang ada di meja itu ketawa liat adegan barusan. Sebenarnya Frans mau menghentikan Jenny dengan paksa karena, kasihan melihat Sherry diam. Namun mendengar kalimat itu, mengurungkan niatnya untuk menghentikan Jenny.


Sherry meminum jus dengan santai. Membiarkan semuanya yang sedang melihatnya heran. Terus menikmati makanannya tanpa henti. Frans lihat Ve di sebelahnya. Mencoba memastikan yang di lihatnya benar.


"Ve?" Dengar nama Ver di panggil, Sherry mendongak dan lihat samping. Dia mulai terbiasa mendengar dirinya di panggil dengan nama orang lain.


"Ada apa?" tanya gadis ini. Frans tersenyum.


"Enggak ada. Makanlah..."


Gak perlu di suruh juga aku sudah makan dari tadi. Aneh dia.


Rupanya ada lagi selain Frans yang melihatnya terus menerus. Melihat Ver dengan tatapan heran. Merasa di perhatikan, gadis ini melihat ke depan sambil menyeruput es jusnya.


Relly!


Cowok itu menatap Sherry. Walaupun tidak memperhatikan, sebenarnya dia masih bisa mendengar semuanya. Mendengar semua ocehan Jenny dan juga jawaban gadis ini. Terutama saat gadis ini mengiyakan kalau dia sedang mendekatinya.


Tangannya sempat berhenti menyuap sebentar saat mendengarnya. Sebenarnya sudah jadi berita basi bagi Relly kalau Ve menyukainya. Namun kali ini telinganya mendengar nada bicara yang aneh dari bibir gadis itu. Karena yang berbicara sesungguhnya adalah Sherry. Makanya terdengar berbeda.


Cowok ini kekeuh juga. Walaupun sudah ketahuan Sherry kalau sedang memperhatikannya, dia masih saja menatapnya. Mengabaikan mata Sherry yang melihatnya.


Hh...sudahlah. Yang penting aku harus menghabiskan makanan ini.

__ADS_1



Istirahat kedua


Sherry Mencoba mengetahui tempat-tempat di sekolah. Karena entah sampai kapan jiwanya terus berada dalam tubuh Ve. Siang ini tidak perlu ke kantin. Istirahat pertama kan sudah makan nasi. Jadi siang ini makan roti saja dan beli air mineral di koperasi sekolah. Sangat tidak mungkin dia membiarkan tubuh lemah ini tidak makan. Bisa-bisa tubuhnya pingsan di tengah jalan.


Aku harus bisa bertahan dalam tubuh ini. Dengan begitu aku bisa mencari cara untuk kembali menjadi Sherry.


Gedung sekolah ini terdiri dari tiga lantai. Namun sangat luas. Berarti ada ruang di atap atau semacamnya. Jiwa dramanya bergetar hebat karena senang. Sherry mencoba mencari jalan untuk menuju ke atap. Melihat gedung sekolah dengan tiga lantai ini mengingatkan Sherry drama kesukaannya.  Dia melihat ada dua cowok turun dari tangga atas. Berarti jalan ke atas lewat sini. Dengan bersemangat Sherry melangkahkan kaki.


Sampai di anak tangga terakhir. Sherry membuka pintu menuju ke luar. Sinar matahari yang terang menerobos masuk. Menerangi seluruh anak tangga.


Waaaa....ternyata beneran ada atap seperti dalam drama.


Sherry merasakan dirinya gemetar karena senang. Lalu dia mengeluarkan roti dari dalam saku. Membuka pembungkusnya setengah. Sandwich cokelat dari mini market yang menjamur ini adalah favoritnya.


"Hei! karena kau sudah datang belikan aku sesuatu di kantin karena perutku lapar." Tiba-tiba muncul suara cowok dari belakang Sherry. Tubuh Sherry berputar melihat ke arah suara itu berasal. Ternyata dia tiduran sambil menutup matanya dengan lengan di dekat dinding di belakang Sherry. Jelas tidak kelihatan. Sherry lebih fokus lihat ke depan.


"Kakimu patah ya? Kenapa tidak berangkat sendiri?" Karena mendapat jawaban kasar dia membuka mata. Lalu bangun dan duduk sambil bersandar. Dia juga terkejut karena jawaban kasar itu muncul dari seorang cewek. Rupanya dia mengira yang datang adalah temannya.


"Siapa kau?" tanya cowok itu merasa terusik.


"Kau tidak tahu siapa aku?" tanya cowok itu tidak marah justru heran.


"Tidak," jawab Sherry. Jelas tidak. Sherry baru hari ini datang ke sekolah ini. Cowok itu diam sambil melihat Sherry. Mungkin tubuhnya memang lama sekolah di sini. Namun karena sekarang jiwanya adalah orang lain, maka ini adalah hal baru baginya.


"Kenapa kau bisa ada disini?" tanya cowok itu dengan sorot matanya yang tajam.


"Anggap aja aku lagi kesasar," jawab Sherry seenaknya. Lalu mengunyah roti yang di pegang tangan kanannya.


Siapa dia?


Cowok itu tak berhenti menatap ke tubuh gadis yang berdiri di depannya.


"Waaa ... ternyata melihat pemandangan dari sini sangat bagus!" Mata Sherry teralihkan dengan pemandangan mencolok sekolah ini dari atas atap. Lalu dia menepi ke pagar dinding di sebelah kanannya. Matanya memandang sekeliling takjub. Sekolah ini terlihat menakjubkan dari atas. Tak lupa sesekali tangannya menyuapkan roti ke mulutnya.


"Seperti ada dalam drama," gumamnya pelan. Matanya berbinar bahagia. Kemudian memejamkan mata sebentar. Menghirup udara yang berasal dari sekolah mewah dan elit ini. Seperti tersihir oleh pemandangan yang bagus, Sherry lupa kalau cowok itu masih melihatnya.


"Hei." Tegur cowok itu membuyarkan bayangan indah Sherry akan drama bertema sekolah favoritnya.

__ADS_1


Aduh lupa cowok itu kan masih ada di sini.


Sherry meringis malu karena lupa daratan. Perlahan Sherry memutar tubuhnya. Menghadap ke arah cowok itu lagi.


Pintu terbuka lagi. Tiga cowok muncul. Yang satu sepertinya datang bukan karena keinginannya sendiri. Karena cowok berbadan agak besar itu menggelandangnya dengan menarik lengannya. Wajahnya pucat karena ketakutan. Meskipun begitu dia tidak bisa melawan karena kuatnya tubuh cowok besar itu.


Sherry bisa melihat kekuatan mereka karena terbiasa melihat musuh adik laki-lakinya. Apalagi cowok yang tadi tiduran. Tubuhnya tidak besar tetapi tegap. Dan Sherry paham tubuh itu lebih kuat. Dia mungkin jagoan di sekolah mewah ini.


"Han, aku menemukannya. Ini anak yang sedang kau cari," kata cowok berbadan besar membawa seseorang cowok kuyu dengan setengah memaksa.


"Rupanya kau...," Cowok itu bersimpuh.


Wow ... dia seperti bos mafia. Jiwa petarung Sherry bergejolak melihat orang yang tangguh.


"Karena aku sedang dalam suasana hati baik, aku bebaskan kamu. Tapi hati-hati dengan lain hari. Kalau memang kau tidak ingin selamat silahkan kau ulangi perbuatanmu," ujar cowok itu dengan aura mengancam yang kuat. Sherry menarik ujung bibirnya. Tersenyum senang lihat orang kuat. Anak itu menggigil ketakutan.


"I-iya. Aku tidak akan melakukannya lagi. Maaf, maafkan aku Hansel ...." Anak itu hormat berkali kali.


Sherry jadi tahu nama cowok itu Hansel.


"Hei, sebaiknya kau berterima kasih karena Hansel tidak membuatmu babak belur." Cowok dengan tubuh lebih kecil memberi tekanan.


"I-iya. Terima kasih tidak menghajar ku Hansel."


"Pergilah!"


"Ba-baik. Aku pergi." Lalu dia kabur dengan cepat.


"Serius kau melepaskan dia?" tanya cowok bertubuh besar heran.


"Tidak apa-apa. Habisi saja kalau dia mencoba melakukannya lagi. Jangan segan," kata Hansel.


Wow ...kalian sangat cocok jadi anggota mafia di sekolahkuuuu...


Sherry melihat adegan barusan seperti potongan dari drama action. Seperti baru tersadar, mereka berdua kaget melihat ada seorang cewek di dekat pagar.


"Dia siapa, Han?" tanya cowok dengan badan gede sambil senyum senang melihat ada cewek cantik di situ. Paras Ve memang cantik


__ADS_1


__ADS_2