
"Di dalam suatu klub, anak baru itu harus mau melakukan apa yang di suruh sama seniornya pada hari pertama mereka sebagai anggota." Edgar menjabarkan dengan lagak seniornya tapi dengan suara pelan. Lido, Nero dan Neymar menyimak tapi dengan setengah hati. Jadi antara dengar dan tidak.
"Edgar! Jangan mengacau lagi!" teriak Devon memperingatkan.
"Tidak! Aku sedang memberi salam kepadanya sebagai seorang senior!" teriak Edgar asal.
"Melakukan apa?" tanya Sherry yang paham cowok di depannya pasti akan menyuruhnya yang tidak-tidak.
"Kamu harus membelikan kita makanan dan minuman untuk menunjukkan bahwa kita adalah satu tim. Kita ini adalah satu keluarga," kata Edgar meyakinkan.
"Memangnya seperti itu?" tanya Sherry ke trio yang nyamperin dia duluan tadi. Mereka hendak menggeleng tapi tak jadi karena Edgar menatap mereka tajam. Namun Sherry paham hal semacam ini tidak ada. Ini hanya akal-akalan Edgar saja.
"Baik."
"Gitu dong, jadi junior yang baik. Kalau begini kita kan bisa jadi kakak adik yang akrab." Edgar tersenyum remeh dan merasa menang. Dua temannya tersenyum juga.
"Teman-teman! Kita bakal di traktir sama teman baru kita, Ve!" teriak Edgar memberi pengumuman kepada seluruh anggota. Semua berteriak senang. Mata Sherry mendelik. Semua? Bisa-bisa debat seharian sama Ibu tiri nih kalau menghabiskan banyak uang.
"Kalau kalian ada waktu, pulang latihan kita akan makan di...," Edgar menyebut tempat nongkrong populer bagi siswa-siswi sekolah ini.
Sialan cowok ini. Dia masih saja ingin mempermainkanku.
"Edgar, jangan bercanda! Buat apa dia harus membayar semua makanan kita? Tidak ada acara makan-makan gratis. Kalau kalian ingin makan, harus bayar sendiri!" kata Devon memperingatkan. Semua tidak jadi bersorak lagi saat mendengar Devon berkata seperti itu.
"Tidak apa-apa, kak! Biar kita tambah akrab," seru Sherry dengan senyum yang di buat sangat ramah, membuat semua menoleh serentak ke gadis itu. Devon menatap adik kelasnya itu heran. Dia memberi peringatan tadi untuk membantunya lepas dari Edgar, sekarang dia justru menggali lubang untuk dirinya sendiri.
__ADS_1
Edgar tersenyum senang. Lido mengerjapkan matanya. Nano dan Neymar geleng-geleng kepala.
Tidak semua anak klub karate yang ikut untuk acara makan-makan ini. Walaupun Sherry mengiyakan tapi rata-rata mereka enggak ikut karena merasa tidak perlu mendatangi acara yang di buat Edgar. Tadi juga Devon sudah menjelaskan bahwa mereka tidak harus mengikuti perkataan Edgar.
Mungkin hanya sekitar sepuluh anak yang benar-benar datang.
"Kenapa kamu ikut? Ingin makan gratis juga?" tanya Neymar ke Nano.
"Aku ikut Lido," jelas Nano sambil nunjuk Lido di sampingnya.
"Aku bukan ikut karena ingin makan gratis, tapi aku mengkhawatirkannya," ujar Lido yang kurang lebih tahu, bagaimana dulunya seorang Ve karena kelas mereka bersebelahan. Lido tadi tidak menduga, gadis itu mengiyakan usulan Edgar untuk mentraktirnya hanya karena Vermouth anak baru di klub karate.
Semua orang pasti paham tidak ada hal semacam keharusan untuk mentraktir senior. Namun gadis itu dengan mudah menyanggupinya. Apakah dia polos atau bodoh?!
"Uang sakumu banyak, ya ... Sampai mau mentraktir kita-kita," tegur Lido. Sherry meminum jus di depannya. Lalu menjawab Lido.
"Tidak juga," jawabnya santai.
"Lalu?" tanya Lido penasaran.
"Lebih baik kamu tidak berada di sini daripada kamu akan mendapatkan masalah nanti," ucap Sherry mengingatkan.
Lido mengernyitkan dahi tidak mengerti arti dari kalimat yang di ucapkan Sherry. Masalah apa yang akan di hadapinya nanti, bila dia masih tetap berada di acara makan-makan yang aneh ini? Lido paham kalau nada bicara gadis yang berada di sampingnya itu sungguh-sungguh.
__ADS_1
Namanya lelaki, ada hal seperti ini bukan malah takut, tapi penasaran. Hal apa yang akan membuat masalah? Mungkinkah Edgar?
"Kalau begitu, kenapa kamu justru masih disini? Lebih baik kamu juga pergi." Pertanyaan dan nasehat Lido benar adanya. Kalau Lido saja sebagai seorang laki-laki harus berhati-hati, kenapa dia yang hakikatnya adalah perempuan tidak berhati-hati juga. Seharusnya dia lebih berhati-hati dengan menyingkir dari acara ini.
"Karena aku yang akan membuat masalah itu terjadi," jawab Sherry membuat Lido menjauhkan kepalanya dan menggaruk keningnya. Jawaban itu sungguh tidak ada dalam daftar pilihan jawaban, yang di kira otak Lido, akan meluncur dari bibir gadis ini. Dia mulai berpikir otak gadis di sebelahnya ada yang salah. Mungkinkah dia ketakutan karena Edgar, sampai dia menjawab dengan janggal pertanyaan Lido?
Melihat sikap dan gerak-gerik gadis ini, dia nampak tenang-tenang saja. Gadis yang di ketahui Lido adalah gadis yang selalu memaksa nempel ke Relly seperti benalu itu, bukan gadis yang tenang seperti ini. Lido tahu karena sempat berujar ke Relly kala itu,
"Kenapa tidak kau bilang saja kalau kau membencinya, jadi dia tidak harus selalu mengikutimu seperti paparazzi.."
"Lihatlah wajah polosnya ... Apakah kau sanggup berkata seperti itu?"
Ve memang punya wajah polos tanpa dosa. Dia terlihat rapuh, manja dan lemah. Itu bukan buatan, tapi Ve memang seperti itu. Para siswi sering berkata lain. Mereka menganggap, Ve hanya pura-pura polos untuk menarik perhatian siswa laki-laki.
Semua sudah hampir menyelesaikan makanannya, Sherry mulai berdiri.
"Aku sudah memperingatimu untuk pergi sebelum masalah terjadi, tapi ternyata kamu masih saja di sini. Jadi apapun yang terjadi jangan menyalahkan aku." Setelah mengucapkan itu, Sherry mengambil tasnya. Melihat ini Lido merasakan perasaan tidak tenang.
"Hei! Kau sudah menyelesaikan pembayarannya kan?" tanya Edgar melihat Sherry berdiri membawa tas. Kakinya melangkah menuju tempat Sherry berdiri.
"Hei, aku bertanya padamu?" hadang Edgar mencegah langkah Sherry yang tidak menjawab pertanyaannya. Kepala Lido mencuat di antara kepala lainnya yang sedang duduk makan, untuk melihat Edgar dan Sherry.
"Kenapa, nih?" tanya Neymar dan Nano hampir bersamaan. Lido membulatkan netranya dan melihat kanan-kekiri. Kemudian menghela napas memahami apa yang akan terjadi.
"Gila!" umpat Lido. " Sebaiknya kalian keluarkan uang kalian untuk membayar makanan masing-masing. Juga siapkan tenaga kalian," Lido memperingatkan dengan wajah tegang dan berdiri. Nano dan Neymar segera menyuapkan makanan terakhir dan segera minum. Lalu ikut berdiri juga sambil melihat ke arah yang di lihat Lido. Edgar dan Sherry
__ADS_1
"Sebaiknya kakak bertanya kepada kasir di sebelah sana," tunjuk Sherry dengan senyum ceria. Edgar memiringkan kepala sambil menekuk wajahnya. Seorang pegawai cafe mendekat.