
(Aku Sherry. Gadis yang mengalami sebuah takdir aneh. Jiwaku tertukar dengan seorang gadis lain. Saat ini jiwaku sedang terperangkap dalam tubuh seorang gadis bernama, Vermouth.)
Ini tidak benar, ini tidak benar. Kenapa perlu berdesir seperti itu? Tidak masuk akal. Tubuh ini mungkin masih menyimpan sedikit rasa yang di tanamkan oleh jiwa Ve, hingga bisa membuat aku seperti ini. Benar! Itu benar. Hatiku masih lemah. Aku akan banyak latihan agar jiwa dan raga tubuh ini kuat.
Relly mengambil buah jeruk di atas nakas. Mengupas dengan tangannya perlahan.
"Kau menyukai jeruk?" tanya Sherry karena tiba-tiba saja Relly mengupasnya. Mata Sherry menatap tangan Relly yang terampil dalam mengupas.
"Tidak terlalu, tapi aku mengupaskan untukmu. Ini.." ujar Relly menyodorkan jeruk yang sudah di kupas bersih. Sherry mengerjap. Dia terpana.
"Aku seperti pasien," kata Sherry tanpa segera mengambil buah jeruk yang sudah di kupas itu. Masih dengan wajah terpukau.
"Kau mau aku menyuapkannya untuk mu juga?" Relly bertanya sembari mengangkat jeruk dan mendekatkan buah itu ke arah mulut Sherry.
"Bukaannn..." Sherry segera menyambar jeruk yang sudah di depan matanya. Lalu memasukkan ke dalam mulutnya. Relly masih saja terus mengupas jeruk. Sherry tidak peduli lagi. Entah Relly mau mengupas sampai kapan.
"Aku lupa. Tadi ada seseorang bernama Elda, mencarimu. Juga... seorang lelaki bernama Daniel. Mereka akan segera menuju kemari meskipun sudah aku katakan bahwa kau tidak apa-apa. Padahal tadi sengaja aku mematikan ponselmu agar tidak ada yang tahu dimana kamu berada."
"Kau akan menculikku? Lucu," Sherry tergelak.
"Apakah aku bisa, kapan-kapan melakukannya?"
"Kalau kau benar melakukannya, itu tidak lucu lagi. Itu mengerikan." Relly hanya mengangkat bahunya.
"Siapa mereka? Elda dan Daniel."
"Itu pengasuhku dan kakak Ve," jawab Sherry.
"Pengasuh? Gadis kuat yang bisa membuat Edgar marah, perlu pengasuh?" tanya Relly dengan mengejek. Mata Sherry memutar kesal.
"Vermouth. Dia pengasuh Vermouth, pemujamu. Bukan aku," bantah Sherry dengan menipiskan bibir mendengar ejekan Relly. "Aku tidak punya istilah lain untuk orang itu selain pengasuh. Dia orang paling dekat dengan Ve..."
__ADS_1
"Perempuan yang bersamamu dalam mobil?" Relly masih ingat soal Elda. Sherry mengangguk. "Vermouth memang selalu menjadi pemujaku. Lalu, bagaimana dengan dirimu terhadapku?" tanya Relly. Di luar dugaan Sherry tidak bisa menjawab.
Bukankah perasaanku tidak di perlukan disini?
Karena ucapan Relly barusan, Sherry jadi bungkam dan Relly juga terdiam melihat Sherry yang menundukkan pandangan. Dering handphone membuyarkan kesenyapan barusan. Handphone milik Relly berbunyi.
Relly menyodorkan jeruk yang sudah di kupasnya ke Sherry. Kemudian meletakkan jeruk yang masih belum di kupas di atas nampan. Mengambil handphone dari saku jasnya, kemudian menerima panggilan itu. Berbicara sambil berdiri.
Seseorang mengetuk pintu. Pandangan Relly teralihkan kesana. Erick muncul. Relly memberitahu untuk menunggu dengan tangannya. Setelah beberapa menit, akhirnya Relly selesai menelepon. Erick mendekat dan membisikkan sesuatu di telinga Relly. Dari atas ranjangnya, Sherry memperhatikan lelaki yang juga memakai jas dan mendekati Relly.
Siapa Relly? Mengapa laki-laki yang berumur lebih tua itu harus membungkuk saat berbicara dengan dia?
Sherry tidak berhenti memindai lelaki itu. Mencoba mencari bayangan yang tepat mengenai sosok Relly. Setelah bebincang dengannya, kemudian Relly melihat ke arah Sherry.
"Sebentar lagi akan ada orang yang mendatangimu," ujar Relly penuh dengan rahasia.
"Siapa?" tanya Sherry. Namun Relly hanya tersenyum tipis. Dari arah luar kamar pasien terdengar suara derap langkah kaki yang terburu-buru. Semakin lama semakin jelas dan keras. Erik membukakan pintu.
"Sherry!" ujar Daniel dan Elda hampir bersamaan di ambang pintu. Lalu masuk dan menyerbu Sherry yang duduk di atas ranjang rumah sakit. Daniel berjalan lebih cepat dan akhirnya bisa memeluk erat tubuh itu.
Daniel melepaskan pelukannya. Sherry mendorong tubuh Daniel perlahan sambil tersenyum tipis. Daniel memeluknya! Ini membuat canggung. Sherry merasa tidak nyaman. Apalagi sejak tadi mata Relly tak berhenti menatap tajam interaksi mereka. Apakah Relly tahu Vermouth dan Daniel adalah saudara tiri?
"Kau tidak apa-apa, Sherry?" tanya Elda di belakang Daniel. Sherry mengangguk. Elda juga ingin memeluk Sherry, tapi tidak bisa melakukan karena Daniel selalu berada di dekat Sherry. Mereka lupa ada Relly yang masih terus menatap mereka tajam di sisi lain ranjang. Karena rasa senang yang meluap, mereka tidak menyadari keberadaan pemuda ini.
Relly yang hendak memotong acara temu mereka, mengurungkan niatnya. Gendang telinganya menemukan sesuatu penting. Relly sedang coba membaca lagi keadaan di antara mereka.
"Maaf, tuan Daniel... Di dekat anda ada Tuan Relly," ujar Erik yang masuk mengikuti mereka di belakang. Daniel dan Elda mendongak. Mereka akhirnya bisa sadar ada pemuda di sebelah mereka.
Tuan? Tuan Relly? Sherry juga melihat ke Relly yang sudah melepaskan jasnya.
"Selamat malam," sapa Daniel dengan sikap sopan dan tertata dengan baik tanpa meninggalkan kesan dia berada sangat rendah di depannya. Elda terkejut mendapati teman sekolah Relly yang membuat Daniel membungkuk sopan. Dengan sikap sopan yang canggung, Elda juga ikut membungkuk.
Jadi Relly berada di atas Daniel?
__ADS_1
Relly menundukkan kepala menyambut sapaan mereka. Kepala Sherry masih mendongak, menatap dari bawah rahang tegas itu. Tanpa sadar bibir mengkerucut kemudian membuat kerutan samar pada dahinya. Relly melihat gadis yang berada di ranjangnya sedang memandangainya.
Ekor mata Relly melirik melihat Sherry yang masih terus saja memandanginya dengan banyak pertanyaan. Beberapa detik Relly terus saja menatap mata polos Sherry yang seakan mendapatkan kejutan dengan semua yang di dengarnya tentang Relly saat ini.
"Terima kasih sudah menyelamatkan dia," ucap Daniel. Relly mengangguk.
"Bukan masalah karena selain dia adalah temanku sekolah, dia juga kekasihku.." ungkap Relly membuat Daniel berwajah serius. Senyum sopan yang tadi selalu terlukis di bibirnya kini perlahan lenyap. Namun Daniel bisa menata keterkejutannya dan kembali bersikap seperti tadi. Dia tidak ingin Relly menemukan jejak kekecewaannya. Elda melihat Relly kemudian Sherry secara bergantian. Elda teperangah. Sherry menipiskan bibir.
Relly menangkap hawa dingin yang sempat muncul ke permukaan, kemudian lenyap barusan. Dia yakin itu berasal dari laki-laki di depannya. Daniel.
"Aku Daniel, kakak Vermouth," setelah mendengar pengumuman Relly barusan, Daniel langsung mengambil sikap dengan memperkenalkan diri sebagai kakak Vermouth.
"Aku tahu dengan nama itu," Relly tersenyum paham. Dia sudah tahu nama itu dari Sherry tadi.
"Kalau begitu, apa aku boleh membawa pulang adikku?" tanya Daniel yang sekarang menatap mata Relly sedikit lebih dingin. Ada hawa pesaingan di sana.
"Aku tidak berhak mengatakan apa yang tidak aku ketahui, lebih baik panggil dulu dokter yang menanganinya. Erik.." Relly memberi perintah agar lelaki itu memanggil dokter yang berwenang memeriksa Sherry tadi.
"Silakan duduk dulu, tuan Daniel dan nona..." Erik tidak tahu nama Elda.
"Elda. Saya Elda. Tidak perlu menyebut nona. Saya hanya pengasuh, nona Vermouth," ujar Elda memberi tahu. Sebutan nona tidak nyaman buatnya.
"Silahkan duduk dulu Elda," Erik mempersilakan mereka duduk di sofa yang berada di sebelah ranjang. Relly tidak mengikuti mereka. Pemuda ini tetap berada di sebelah Sherry layaknya seorang kekasih sesungguhnya.
"Kenapa kau tidak duduk bersama tamumu di sana?" tanya Sherry pelan.
"Tidak. Aku kekasih yang baik, aku harus menjagamu tetap nyaman. Aku juga tidak perlu bersikap canggung kepada kekasihku hanya karena ada keluarganya berada disini bukan?" tanya Relly dengan nada suara biasa yang tidak di tahan hingga satu ruangan mendengar apa yang di katakannya. Daniel di sofa menggeram dalam hati
Bocah itu sengaja melakukannya, sialan!
Tak lama kemudian dokter datang. Dokter menjelaskan bahwa Sherry belum boleh pulang. Ada beberapa retak pada pada tulang kakinya jadi dia harus di beri pemeriksaan khusus dokter tulang. Sherry yang mendengarkan membuat matanya membeliak tidak percaya.
Tulang ini retak? Patah? Tubuh ini akan lumpuh?
__ADS_1