
(Aku Sherry. Gadis yang mengalami sebuah takdir aneh. Jiwaku tertukar dengan seorang gadis lain. Saat ini jiwaku terperangkap dalam tubuh seorang gadis bernama, Vermouth.)
Aska menghela napas. Kehadiran cowok itu mulai terbiasa di kesehariannya. Hansel terlihat sering berkeliaran di sekitar Ve. Awalnya Aska sedikit kesal. Karena Sherry sudah berpesan untuk membuat jauh-jauh apa yang berhubungan dengan kehidupan Ve. Bukan maksud membuat Ve tidak bisa berkomunikasi dengan orang-orang terdahulu, tapi Sherry tidak ingin mereka masuk dalam kehidupan seorang Sherry Anugrah. Terutama tiga cowok itu.
Ve yang sudah terbangun terlihat senang dengan kedatangan Aska. Walaupun Sherry menolak kedatangan orang-orang yang berhubungan dengan Ve dalam kehidupan tubuhnya, Aska juga tidak bisa membuat benteng untuk mereka.
Hansel tidak membuat masalah. Meskipun dia tahu dengan pasti siapa Sherry sebenarnya, dia tetap bungkam. Dia tidak membahas soal ini dan itu. Pemuda itu cukup hanya berkunjung dan berkumpul. Apalagi dua sahabat Aska mulai tampak akrab dengan Hansel.
Sakitnya ibu Sherry juga Hansel yang tahu. Karena saat itu Aska tidak sedang bersama Ve di rumah.
"Kamu enggak makan, Ka?" tanya Ve saat melihat Aska tidak bergerak dari tempat duduknya.
"Aku belum lapar," kilah Aska.
"Jangan menolak makanan. Itu enggak baik," nasehat Ve layaknya seorang kakak perempuan. Di banding Sherry, Ve memang lebih tepat untuk menjadi seorang kakak bagi Aska.
"Aku sengaja membeli lebih untukmu." Hansel menambahkan kalimat sebagai paksaan untuk Aska. Bibir Aska menipis lalu akhirnya mendekat. Ikut makan bersama di lantai bawah yang beralaskan tikar.
Nampak Hansel dan Ve berbincang. Kadang Ve sedikit tertawa ringan mendengar apa yang di bicarakan Hansel. Aska hanya cukup mendengarkan tanpa ikut mengobrol. Dia merasa telah mengkhianati Sherry dengan ikut bergabung dalam kelompok ini.
Maaf Sherry. Cowok ini sulit di taklukan untuk tidak dekat dengan kehidupanmu.
"Sampai kapan kamu akan terus di sini?" tanya Aska pada akhirnya. Hansel menoleh.
"Jam besuk sudah habis. Aku mungkin tidak bisa pulang. Pintu gerbang sudah di tutup."
"Jadi?" Kejar Aska seperti takut akan sesuatu.
"Tentu saja aku juga akan menginap." Hansel menjawab dengan tenang. Dugaannya benar. Cowok ini akan menetap disini. Bibir Aska berdecih pelan.
"Kamu akan menginap? Bagaimana dengan sekolahmu?" tanya Ve antara senang dan juga cemas.
"Besok pagi saat gerbang sudah di buka, aku akan pulang terlebih dahulu dan berangkat ke sekolah." Hansel menambahkan senyum tipis tulus agar membuat gadis itu tenang.
"Kau pasti lelah," ujar Ve pelan.
__ADS_1
"Jangan repot-repot membantu." Aska seperti enggan dengan keberadaan cowok itu.
"Aku tidak repot. Juga aku tidak akan kerepotan jika kamu tidak memberitahu dia." Hansel mengatakan soal Sherry. Seperti meminta tidak perlu bercerita soal dirinya pada kakaknya. Aska hanya menghela napas.
...----------------...
Mobil milik keluarga Relly tengah meluncur ke arah gedung perkantoran milik keluarga Ve. Relly yakin gadis itu memutus kontak dari sana. Dia harus bisa melihat keadaan di sana.
"Sebenarnya mengapa kita harus mencari gadis itu?" tanya Erick. Terdengar lebih akrab dan santai karena mereka hanya berdua. Inilah mereka berdua sebenarnya. Meskipun jarak mereka jauh (dimana Erik berumur 25 tahun sementara Relly masih berumur 17 tahun) mereka layaknya om dan keponakannya yang akrab.
"Bukankah sudah jelas karena dia kekasihku?" tanya Relly dingin di samping Erik.
"Mungkin saja dia memang sedang ada keperluan malam ini hingga pulang telat." Erik punya pendapat lain.
"Bukan. Aku sangat yakin dia sedang terlibat sesuatu."
"Kenapa seyakin itu?"
"Karena aku tahu siapa dia Erik. Diantara lainnya, aku yakin akulah yang paling tahu bagaimana dia sebenarnya." Relly menoleh sambil mengatakannya dengan sangat yakin. Erik tidak bisa lagi berdebat soal ini.
Bagaimana mungkin kontak langsung terputus saat gadis itu meminta ijin akan kembali ke kantor. Dugaan pertama adalah kemungkinan Sherry mengalami kecelakaan lalu lintas. Namun saat Erik mencari informasi itu tadi, tidak ada laporan kecelakaan yang masuk dalam kantor polisi. Lalu kemana gadis itu?
Meskipun tadi dia sedang bersama Daniel, bukankah justru mencurigakan saat ini gadis itu memutus komunikasi, Relly berpikir keras. Dia menyandarkan punggung sambil memejamkan mata. Erik yang duduk di belakang kemudi melihat ke samping. Relly nampak sangat frustasi.
"Bukannya kamu tidak suka dengan gadis lemah itu?" tanya Erik. Relly membuka mata.
"Gadis lemah?"
"Vermouth. Putri pemilik perusahaan SMART. Bukankah dia gadis yang kamu bilang sangat menganggu itu..."
"Oh, itu. Ya. Dulu." Relly memang tidak menyukai Vermouth. Yang dia sukai adalah hati itu. Hati gadis yang kadang keras kepala dan kuat, Sherry. "Aku ingin segera menemukannya." Rasa ingin bertemu dengan Sherry semakin kuat.
Relly mencoba lagi untuk menghubungi ponsel gadis itu. Namun ponsel Sherry tidak aktif.
Sherry, kamu sedang berada di mana? Apakah kamu aman atau tidak? Relly menerawang jauh ke arah jalanan.
...----------------...
__ADS_1
Sherry masih di dalam mobil. Mobil yang di tumpanginya memang sudah bergerak. Namun Sherry tidak tahu dia akan di bawa kemana. Kaca mobil yang gelap, memungkinkan orang di luar tidak dapat melihat apa yang ada di dalam mobil. Hingga tidak ada yang tahu ada gadis berpakaian sekolah di sekap dalam mobil.
Kepalanya masih terasa pusing akibat pukulan seseorang. Namun Sherry mencoba kuat.
Mau di bawa kemana aku? Kepala Sherry melihat ke kanan dan kekiri seperti kebingungan. Dua laki-laki di bangku depan hanya tersenyum sinis.
"Puas-puaskanlah kamu melihat -lihat. Mungkin saja di sana tidak ada lagi pemandangan seperti ini, gadis yang ingin tahu segalanya." Pria brewok yang memegang kemudi berucap. Sherry bisa mendengar. Hanya saja dia tidak mempedulikan. Dia masih mencoba memperhatikan jalanan. Dengan mata tidak tertutup, Sherry bisa melihat orang-orang yang sedang menahannya ini.
"Hei, kenapa matamu melotot begitu gadis kecil?" tanya pria yang lain sambil melihat ke belakang. Menyeringai dengan tenang. Sherry yakin dia pria yang menyerangnya di jalan. Bukankah aneh membiarkan tawanan tahu wajah mereka. Bukankah seharusnya mereka menutup mata Sherry, agar identitas mereka tidak di ketahui?
Dengan mulut di tutup lakban, tentu saja Sherry tidak bisa menjawab. Perasaan Sherry tidak tenang. Jika mereka berani sengaja memperlihatkan diri bukankah itu berarti mereka yakin bahwa Sherry tidak akan bisa melaporkan kejadian ini kepada siapapun?
Tubuh Sherry merinding. Rasa takut mulai merayapi dirinya. Apa yang akan terjadi padaku? Kepalanya menoleh keluar jendela. Dia tahu jalan ini. Jalan yang tak jauh dari gedung perusahaan milik keluarga Ve. Mobil ini ternyata belum berjalan jauh dari daerah perusahaan SMART.
Relly. Aku semakin ingin bertemu denganmu, batin Sherry. Menatap jalanan dengan mata sayu dan sedih. Rasa ingin bertemu cowok itu semakin menggunung. Padahal saat cowok itu selalu berada di sekitarnya, dia bersikap biasa saja. Bahkan dingin.
Laki-laki di bangku depan terkejut saat mobil mereka hampir bersinggungan dengan mobil lain.
"Hei, jalankan mobil kalian dengan benar. Walaupun malam ini mulai sepi, kalian tidak harus lewat jalur yang salah!" teriak pria yang memegang kemudi sambil menjulurkan kepala.
Pria brewok tadi hendak marah dan memaki karena di bentak. "Kau ..."
"Jangan," cegah pria yang lain menarik bahu temannya dengan pelan. Mencoba menahan temannya untuk tidak menarik perhatian dengan marah-marah. Karena saat ini saja mereka sudah sengaja salah jalur. Temannya yang akan memaki tadi menoleh ke arah pria brewok itu.
"Kenapa? Mereka sudah berteriak pada kita. Hei ... kau kenapa?" Pria brewok yang awalnya naik darah karena di teriaki orang lain menjadi heran, saat melihat temannya tegang.
"Jangan berurusan dengan mereka. Cepat pergi. Mereka teman gadis di belakang," bisik pria itu sambil menjaga tubuh agar tetap lurus dengan temannya. Sehingga memungkinkan pemuda di dalam mobil di samping mereka tidak bisa melihat.
"Benarkah?" Pria brewok terkejut.
"Iya. Ayo cepat pergi."
Bola mata Sherry membulat melihat cowok itu di dalam mobil di samping mobil yang di tumpanginya.
Relly. Itu Relly. Sherry berusaha bergerak untuk memberi kode pada cowok itu. Menendang-nendang badan mobil agar tercipta gaduh dan menarik perhatian.
__ADS_1