Diary Sherry

Diary Sherry
Vermouth_Si pengganggu yang di sayangi


__ADS_3


...(Aku Sherry. Gadis yang mengalami sebuah takdir aneh. Jiwaku tertukar dengan seorang gadis lain. Saat ini jiwaku terperangkap dalam tubuh seorang gadis bernama, Vermouth.)...


"Pengganggu? Bagaimana mungkin gadis ini berkarakter sebagai pengganggu?" tanya Sigi menoleh ke arah Erik heran. Tangannya juga menunjuk ke arah Sherry yang memang masih ada aura cantik di balik ketidakberdayaannya sekarang.


"Gadis itu adalah penggemar abadi Relly."


"Oh, ya? Jadi dia menyukai si dingin itu? Lalu, sisi mana dari dia yang di anggap pengganggu? Karena rasa sukanya ke kak Relly? Sombong banget. Perasaan orang tidak wajib di atur-atur."


"Bukan. Relly kurang suka dengan gadis manja dan tidak berdaya. Apapun yang terjadi dalam hidup seseorang, Relly berpikir seseorang itu harus tetap terlihat kuat. Tidak harus manja dan butuh pertolongan, juga ... perhatian orang lain. Setidaknya tolonglah dirimu sendiri dulu baru meminta tolong pada orang lain. Gadis itu seperti itu. Tidak cocok dengan teori Relly selama ini." Erik menjelaskan teori dalam otak Relly.


Sigi mengangguk paham. "Ya. Dengan menolong diri sendiri, kita jadi tidak mudah di anggap remeh oleh orang lain. Karena kadang orang-orang meminta bantuan orang lain bukan karena tidak bisa, tapi ... karena ingin di perhatikan dan juga ingin bermanja-manja. Intinya mau enaknya sendiri."


"Mungkin seperti itu."


"Terus ... sekarang kenapa kak Relly jadi suka sama dia?"


"Soal perasaan itu aku tidak tahu. Sudah di luar ranahku untuk bertanya. Dan lagi aku punya banyak pekerjaan daripada sekedar bertanya soal perasaan Relly ke seorang gadis."


"Jadi si pengganggu ini, sekarang berubah jadi orang yang di cintai. Ternyata kak Relly manis juga." Sigi tersenyum. "Gadis ini juga hebat sekali bisa membuat kak Relly berubah 180 derajat. Good joob." Sigi memberi jempol pada tubuh itu. "Bukannya pacar kak Relly itu putri dari pemilik perusahaan SMART?"


"Ya. Dia putri Gio Santana."


"Dia?" tanya Sigi heran. Erik mengangguk. "Bukannya pacar kak Relly bernama ...Ve ... Ver ... Vermouth?" tanya Sigi berusaha mengingat. "Tapi yang aku dengar barusan nama gadis ini Sherry. Mana yang benar?"


"Aku tidak tahu siapa nama gadis itu sebenarnya. Yang aku tahu putri tunggal pemilik SMART adalah Vermouth Santana. Dan wajah gadis dengan nama itu adalah dia." Erik menunjuk Sherry.


"Vermouth, Sherry. Mungkinkah itu nama panggilan sayang?" tanya Sigi menerka-nerka. Erik tidak berkomentar. "Ih, tidak mungkin kak Relly yang seperti itu punya panggilan kesayangan. Bukan tipe kak Relly banget harus memanggil nama kesayangan." Erik hanya menggelengkan kepala lihat tingkah gadis ini.


...----------------...



...----------------...


Elda masih gelisah soal tidak pulangnya Sherry ke rumah. Relly pun tidak segera memberi kabar. Semua penghuni rumah saling bertanya kemana nona mereka. Bik Sarah memberi laporan pada nyonya Julia bahwa putrinya tidak kembali dari kemarin.


"Tidak pulang? Vermouth?" tanya ibu tiri ini sambil menyatukan kedua alisnya kurang suka mendengar laporan Bik Sarah.


"Ya, nyonya."


"Kemana saja dia? Padahal aku sudah berbaik hati karena Daniel memberiku peringatan untuk tidak menghukumnya. Kali ini sungguh keterlaluan anak itu."


"Apa tidak segera lapor polisi, nyonya? Saya takut ada apa-apa dengan nona Ve."

__ADS_1


"Tidak. Aku yakin dia sedang bermain-main dan sengaja membuatku gusar. Biarkan saja, Bi. Dia akan pulang sendiri saat tiba waktunya." Ibu tiri ini tidak terlalu peduli.


"Tapi Nyonya..." Nyonya Julia langsung memandang tajam ke arah pengasuh ini.


"Aku bilang tidak. Jangan memperbesar masalah karena ini. Tidak mungkin gadis penakut itu tidak pulang. Aku yakin dia hanya merajuk. Dia pasti tidur di rumah temannya. Dia ingin memberontak padaku." Julia memang tidak pernah suka dengan gadis itu.


Gio turun dan menuju ruang makan. Julia mendekati dan mempersilakan suaminya sarapan pagi. Mata Gio melihat kursi makan yang kosong.


Anak itu pasti tewas.


"Kenapa suamiku?" tanya Julia yang melihat suaminya melihat kursi makan yang kosong.


"Dimana Ve?" tanyanya bersandiwara.


"Oh, itu. Dia mungkin sudah berangkat sekolah," jawab Julia berbohong. Dua manusia yang serasi. Satu berbohong dan satunya lagi bersandiwara. Gio sedikit terkejut dengan jawaban Julia.


"Berangkat sekolah?" tanyanya heran.


"Seperti itu." Gio melirik Julia. Apakah dia sedang mendengarkan kebohongan? Bukankah aneh jika gadis itu bisa berangkat ke sekolah saat tadi malam tubuhnya telah terpental beberapa meter di atas aspal karena tertabrak truk?


Apa wanita ini sedang mempermainkan aku? Apa dia sedang merencanakan sesuatu? pikir Gio palsu.


"Apa kamu sedang berbohong?" tanya Gio dengan tatap matanya yang berubah tajam.


"T-tidak. Ke-kenapa aku berbohong?" tanya Julia tersendat. Dia tiba-tiba merasa merinding dengan aura suaminya barusan. Ini baru pertama kali suaminya curiga.


"M-maaf." Julia menunduk takut. "P-putrimu belum pulang sejak ... p-pulang sekolah." Julia akhirnya mengatakannya. Tubuhnya membungkuk gemetaran meminta belas kasihan. Dia tahu gadis itu kesayangan suaminya.


Aku akan lenyap hari ini.


"Hahaha ... akhirnya kamu membuka kebohonganmu sendiri, Julia." Julia mengangkat kepalanya dengan terkejut.


Tertawa? Pria ini tertawa mendengar kejujurannya?


Julia sudah berpikir macam-macam saat mengatakan yang sebenarnya. Dia berpikir akan di buang lagi di tempat kumuh itu. Dimana dirinya berasal. Dia akan hidup susah lagi.


"Jangan takut Julia. Aku tidak akan memarahimu. Aku hanya ingin tahu yang sebenarnya, dimana Ve berada." Gio palsu menghentikan tawanya. Tubuh Julia mulai lebih tenang dari gemetaran hebat seperti tadi. Hanya saja, degup jantung yang cepat tetap terasa.


Jadi, gadis itu memang tidak pulang malam ini. Aku yakin dia sudah terkapar sekarang.


"Tetaplah jadi wanita penurut, sayang. Kau harus tetap seperti ini. Apa kau tidak menyukai Ve?" tanya Gio membuat Julia terkejut.


"Ti-tidak mungkin sayang. Ti-tidak mungkin. Aku...."


"Aku tidak peduli, itu terserah padamu. Ayo kita sarapan. Aku tidak mau melewatkan hari menyenangkan ini." Julia tertegun. Gio tidak peduli pada putrinya? Bagaimana mungkin? Ini tidak masuk akal. "Ayo makan. Kau tidak ingin makan?" Kali ini suara Gio terdengar menakutkan lagi. Julia mengangguk dan segera makan.

__ADS_1


Elda dan Bik Sarah yang berada di pintu belakang mendengar percakapan barusan. Mereka tertegun. Ada apa dengan tuan Gio yang baik hati? Kenapa cara bicaranya berubah drastis.


...----------------...



...----------------...


Aska tetap duduk di depan pintu kamar Ve. Dia kebingungan sendiri. Memikirkan Ve dan juga ibu.


Sherry ... kamu tetap baik-baik saja kan? Sekarang Ve dan ibu sakit. Aku sendirian. Apa aku perlu meneleponmu? Jika aku bercerita, kamu juga semakin kesusahan. Kamu sudah kesulitan dengan menjadi orang lain. Apalagi hidupmu yang sekarang bukan kehidupan indah seperti sampulnya.


Hhh ... Aska menghela napas.


"Kamu keluarga pasien Sherry?" Aska mendongak. "Bisa ikut saya sebentar?" tanya perawat itu. Aska mengangguk. Pemuda ini berdiri dan mengikuti perawat itu.


Ketika itu Relly yang sedang menyusuri lorong melihat cowok di depannya dengan seksama. Cowok itu sedang berjalan sambil menunduk di samping seorang perawat.


Cowok itu terasa tidak asing? Apa aku mengenalnya? tanya Relly menyipitkan mata. Kemudian menggeleng. Tidak perlu berpikir hal lain. Sekarang Sherry adalah prioritas.


Relly tidak salah. Dia memang mengenal pemuda di depannya. Dia Aska. Hanya saja Relly terlalu lelah untuk mengingat.


...----------------...


Setelah menandatangani beberapa berkas untuk pasien baru, Aska kembali ke kamar Ve. Menurut dokter tidak ada gejala penyakit apapun yang menyerang kakaknya. Namun dokter tetap melaksanakan prosedur pemeriksaan. Ve dianggap hanya kelelahan. Di sarankan gadis itu beristirahat lama. Lelah dan stress memicu sakit kepala yang tidak tertahankan.


Aska memandangi wajah Sherry yang menutup mata. Ya, itu wajah Sherry, tapi jiwanya milik orang lain. Perlahan ada pergerakan. Mata itu bergerak-gerak perlahan. Gadis ini akan terbangun. Aska menunggu dengan tidak sabar sambil mencondongkan tubuhnya. Dia ingin segera tahu bagaimana kondisi Ve.


Denga lambat mata terbuka sempurna. Aska menghela napas lega.


Mata Ve mengerjap. Menatap langit-langit kamar sedikt lebih lama. Entah apa yang sedang di pikirkannya. Mata itu menatap tertegun. Setelah menatap langit-langit kamar, kepala Ve menoleh ke sekeliling pelan-pelan.


Aska memperhatikan Ve dengan tatapan heran. Ada apa dengan Ve? Akhirnya kepala itu menoleh pada Aska. Bola matanya seperti terkejut melihat Aska duduk disana.


"Aska." Sebut Ve singkat.


"Hhh ... Akhirnya kamu bangun juga," ujar Aska menghela napas lega sekali lagi. Akhirnya dia bisa menyandarkan punggungnya di kursi. Lebih santai di bandingkan tadi. "Ada apa dengan kepalamu? Kenapa kamu kesakitan sekali tadi malam?"


"Kepalaku?" tanya Ve lambat.


"Iya. Kamu merintih kesakitan. Bahkan menangis tadi malam di dekat Hansel."


"Hansel?" tanya Ve lagi. Nada bicaranya hampir sama seperti tadi. Singkat. Hanya saja kali ini lebih tinggi. Kemungkinan dia terkejut.


"Hei, ada apa denganmu?" tanya Aska khawatir. Ve seperti orang yang linglung. Apa ... Ve hilang ingatan?

__ADS_1



__ADS_2