Diary Sherry

Diary Sherry
Cuci piring


__ADS_3

...(Aku Sherry. Gadis yang jiwanya tertukar dengan orang lain. Saat ini jiwaku sedang berada pada tubuh seorang gadis bernama, Vermouth)...


.......


.......


.......


"Vermouth!!" panggil Ibu tiri dengan keras. Sherry yang sedang asyik menikmati teh di sore hari layaknya seorang puteri di taman terusik. Tapi Sherry tidak menghiraukan, dia hanya menoleh sebentar tapi tetap terus membaca komik yang dipegangnya.


"Ve!!" teriakan itu lagi.


"Apa sih itu ..." Sherry bertingkah seperti mengorek telinganya. Seseorang datang dengan tergopoh-gopoh.


"Nona ... Nyonya Julia mencari anda," Ijah memberitahu dengan panik. Lalu di belakangnya muncul Lola. Kaki tangan si ibu tiri.


"Anda tidak dengar nona? Nyonya besar sedang mencari anda ..." Lola berkata dengan judes sambil melihat ke arah Ijah dengan tatapan menakutkan. Ijah meringis takut.


"Memanggil ya ... Memangnya ada apa Lola?" tanya Sherry santai sambil tetap membaca komik yang ada di pangkuannya. Dia tidak menoleh sekalipun ke arah pelayan kepercayaan Ibu tiri.


"Sebaiknya anda datang sendiri kesana daripada saya harus menjelaskan panjang lebar," kata Lola tidak mau tahu. Ini pembantu berlagak sok kuasa. Sikapnya sudah seperti senior pembully yang sedang menghadapi juniornya di sekolah. Merasa hanya nyonya Julia itulah yang paling berkuasa dirumah ini.


"Memangnya Mama tidak memberitahu? Kok kamu enggak tahu ..." Mata Lola mendelik mendapat pertanyaan seperti itu. Biasanya itu Ve langsung beranjak pergi menghampiri Nyonya Julia dalam keadaan dia sedang apapun itu, tapi kali ini Lola justru mendapat pertanyaan dari nona mudanya yang mudah sakit itu.


"Tahu. Saya tahu kok. Nyonya Julia memberi tahu ku, tapi bukankah harusnya anda segera kesana walaupun saya tidak memberitahu anda?" Lola masih bersikeras menyuruh Sherry menghampiri nyonya besar tanpa memberitahu.


"Kenapa?" kali ini Sherry menatap Lola seraya menutup bukunya.

__ADS_1


"Kenapa aku perlu kesana, kalau tidak tahu harus ngapain. Bukankah aku juga sedang sibuk melakukan sesuatu." Ijah meremas ujung roknya. Takut Lola akan semakin menjadi sangat marah seperti nyonya Julia. "Aku sedang membaca komik. Itu suatu kegiatan bukan?" tanya Sherry ke Lola dan Ijah yang menunduk. Sherry menepuk pundak Ijah pelan.


"Tenang saja. Aku nanti bilang ke mama kalau lagi sibuk. Juga, aku enggak mau kesana karena tidak di beritahu keperluan apa mama memanggilku oleh seorang pelayan yang enggak cakap dalam menerima perintah dan juga menyampaikan perintah." Sherry sengaja berkata begitu ditujukan untuk Lola yang masih tidak percaya kalau mona penakutnya jadi pemberani.


"Dan pelayan yang di beri perintah itu bukan kamu kan Ijah?" Ijah menggeleng kuat. Lola terpojok karena keberanian baru dari nona yang sering di bully itu.


"Nyonya menyuruh anda mencuci piring, nona," ungkap Lola kemudian. Ijah berwajah sedih.


"Saya bisa kok nona mencuci piring," kata Ijah.


"Hei, kamu tidak dengar apa kata Nyonya Julia? Kamu mau di hukum?!" ancam Lola sambil mendelik ke arah Ijah. Sherry paham, nyonya besar itu mungkin sengaja membuat gara-gara. Dia ingin menyiksa Vermouth dengan mengancam Ijah yang juga penakut.


"Cuci piring ya ... Baiklah. Ayo Ijah." ajak Sherry.


"Ijah, tidak di perbolehkan membantu nona. Kamu tidak dengar apa kata nyonya tadi ijah?! Sulit banget sih paham apa yang di omongin." Ijah mundur selangkah. Kalau di perbolehkan, Sherry akan menghajar dia sampai babak belur. Namun itu tidak bagus karena melawan seorang wanita. Sherry harus punya cara untuk bisa mengerjai pelayan kurang ajar ini.


Reflek tangan Lola menutup mulutnya sendiri dengan tangannya. Lalu Sherry mengajak Ijah masuk ke dalam dapur. Ijah terkaget-kaget melihat perlawanan puteri majikannya. Dia jadi merasa kasihan dengan Lola yang terguncang sambil melihat kepergian Sherry.


"Nona, tidak apa-apakah kalau begini?" tanya Ijah khawatir.


"Tidak apa-apa. Biarkan saja. Ayo."


Sesampai di dapur, nyonya Julia sudah bersedekap menunggu Sherry datang. Matanya menatap marah ke arah anak tirinya itu. Sherry sudah siap akan itu. Papa Vermouth kerja lembur jadi tidak bisa pulang sore ini. Makanya Nyonya besar ini berulah dengan seenaknya. Ada Elda di sana.


"Kenapa kamu lama sekali?! Aku sudah berteriak sangat lama tadi!" Sherry hanya menoleh tapi tidak membantah ataupun menjawab. Dia langsung menuju bak cuci piring di dekat Elda.


"Saya dan Ijah bisa lakukan ini nona," cegah Elda. Sherry melihat ke samping. Ke arah tubuh Elda berdiri.

__ADS_1


"Tidak apa-apa Elda. Aku bisa melakukannya. Silahkan minggir dulu, nanti kamu terkena cipratannya." Elda menatap Sherry dengan penuh tanya. Sherry kasih kode untuk menyingkir. Akhirnya Elda mundur agak jauh dari tempat cuci piring.


"Mama juga tidak minggir?" tanya Sherry heran Nyonya Julia masih ada di sampingnya.


"Tidak. Aku harus melihat pekerjaanmu dengan mata dan kepalaku sendiri ..." jawab Julia ketus.


"Baiklah. Silahkan mama lihat kerja yang sudah di latih oleh mamaku tercinta, mama Julia." Sherry mengatakan seperti mempersembahkan sebuah pertunjukan dengan gaya bersenang-senang. Elda sedikit khawatir tapi dia coba yakinkan lagi. Dia bukan Ve dia adalah Sherry. Pasti dia tahu apa yang harus di lakukan. Gadis itu tidak tertekan dia sedang bermain-main.


"Aduh!" pekik nenek sihir kaget. Dengan sengaja Sherry mencipratkan sedikit air yang ada di tangannya. Elda dan Ijah kaget.


"Bagaimana bisa kamu melakukan ini hah?! Apa kamu tidak bisa melakukannya dengan baik?!" teriak Ibu tiri murka. Elda dan Ijah tahu Sherry sengaja melakukannya.


"Maafkan saya Ma. Maafkan saya ..." Sherry membuat wajahnya memelas.


"Kamu itu, hanya pekerjaan seperti ini saja tidak bisa mengerjakan dengan baik!" teriak Julia.


"Saya memang tidak bisa mencuci piring, Ma.."  Wajah Sherry semakin melas. Elda tidak jadi sedih karena sudah paham itu hanya akting. Sherry tidak benar-benar sedang bersedih sekarang. Elda melirik ke arah Ijah, tapi ternyata Ijah tidak demikian. Dia terbawa suasana palsu yang di ciptakan oleh Sherry. Ijah jadi ikutan sedih lihat nonanya di marahi oleh Nyonya Julia.


Saat situasi Nyonya Julia memanas, Daniel muncul dari pintu dapur. Semua mata memandang ke arahnya. Begitu juga dengan dia yang masih memakai setelan jas memandang ke arah semua orang yang sedang tegang.


Nyonya Julia kaget melihat kedatangan putranya yang tidak di sangka. Karena suaminya menelepon akan lembur sore ini. Nyonya Julia berpikir bahwa Daniel juga lembur.


"Kau tidak lembur juga Daniel?" tanya Nyonya Julia sedikit gagap seraya mendekati puteranya. Daniel terdiam dengan matanya yang melihat satu persatu tiga orang yang ada di dekat tempat cuci piring.


"Ada apa ini?" tanya lelaki itu ingin tahu. Daniel mengedarkan pandangan ke seluruh dapur. Awalnya dia hanya ingin menyapa Mama, tapi dia menemukan kejadian ini. Semua yang ada di sana terdiam. Bahkan Nyonya Julia juga diam. Sherry masih memegang piring dengan busa sabun yang masih banyak di tangannya. Daniel melihat itu.


__ADS_1


__ADS_2