Diary Sherry

Diary Sherry
Vermouth_Titik terang


__ADS_3

"Dia sedang bersamaku." Suara Relly mengambil alih percakapan Sherry. Sherry gemas sambil mengacungkan sendok ke arah Relly. Pemuda ini tidak peduli.


"Kau siapa?" tanya Daniel merasa tidak kenal dengan suara cowok barusan.


"Relly." Suara Daniel hilang. Dia membisu. [ Episode Sebelumnya ]



(Aku Sherry. Gadis yang mengalami sebuah takdir aneh. Jiwaku tertukar dengan seorang gadis lain. Saat ini jiwaku terperangkap dalam tubuh seorang gadis bernama, Vermouth.)


"Berarti aku tidak bisa mengganggumu." Ada nada sedih di sana. "Baiklah. Bersenang-senanglah."


"Ya." Ponsel mati. "Apa tadi itu Relly?" sembur Sherry.


"Kamu menyukainya?" todong Relly tanpa basa-basi. "Kakak tiri Vermouth itu." Sherry menipiskan bibir. Menyentuh gelas jus dan meminumnya. "Tidak ada jawaban dalam beberapa detik dari mulutmu. Itu mengartikan kamu memang sempat memperhatikannya. Tubuh Vermouth memang ada hubungan sebagai kakak dengannya, tapi kamu, Sherry, jelas tidak merasa punya hubungan apa-apa. Jadi mungkin kamu sedikit tertarik dengannya." Relly menyimpulkan dengan cepat. Sherry menggelengkan kepala sambil mendengkus. Bukan membantah. Hanya merasa Relly mudah sekali menyimpulkan.


"Dia kakak." Penjelasan Sherry hanya itu. Dia memang sempat menaruh sedikit rasa suka pada kakak Vermouth. Ingin di perhatikan. Namun sepertinya itu semua hanya karena dia kesepian dan sendirian dalam tubuh Vermouth. Dia hanya ingin di perhatikan.


Mata Relly memperhatikan. Kegelisahan sesaat pada Sherry, ketika mulutnya menyimpulkan.


"Bagaimana makanannya? Kamu suka?" tanya kakak pekerja cafe tadi menghampiri.


"Dia sangat bersemangat memakannya." Relly menunjuk Sherry. Sementara Sherry hanya manggut-manggut.


"Benarkah? Ini menyenangkan."


"Apakah anda punya kamera cctv?" tanya Relly.


"Kamera cctv?"


***


Ternyata kakak pegawai cafe ini berbaik hati menunjukkan kamera cctv mereka pada Relly, tanpa perlu Relly menunjukkan identitas dirinya. Kamera cctv benar-benar menyorot jalanan di depan mereka. Kejadian itu terekam dengan jelas. Dengan memperbesar rekaman cctv mereka bisa menemukan nomor plat sepeda motor itu.


Berkat bantuan Erik, Relly menemukan alamat pengendara motor itu. Sesungguhnya, Relly bisa saja menyuruh Erik melakukan penelusuran semuanya, tapi Relly hanya ingin bersama gadis ini. Dia bersusah payah melakukan penelusuran untuk terus menemani Sherry.


Status jadian yang di paksakan padanya, memang membuat gadis itu dekat dengan Relly. Namun dia masih merasa kurang. Dia memanfaatkan penelusuran ini untuk bisa lebih lama bersamanya.


***


__ADS_1


Mereka berdua sampai di sebuah rumah yang terletak pada gang kecil. Yang hanya bisa di lewati satu sepeda motor. Melihat wajah Vermouth, pria itu langsung menutup pintu tiba-tiba. Dia mengenali wajah cantik ini. Gadis yang sengaja ia tabrak sampai mengalami perawatan di rumah sakit. Namun tangan Relly langsung mendorong pintu itu. Sherry juga merespon dengan ikut mendorong pintu yang di tahan oleh pria yang sekarang tidak lagi gondrong itu.


Walaupun dia adalah pria dewasa kekuatan mereka berdua tidak bisa di remehkan. Akhirnya pintu itu terbuka dengan tubuh pria kurus itu terpelanting kebelakang.


"Kita tidak akan menuntutmu," kata Relly membuat pria ini sedikit ragu untuk kabur dan meninggalkan mereka berdua. Satu tangan Relly maju ke depan. Menunjukkan bahwa dia boleh tenang dan jangan kabur. Lelaki itu berpikir lain. Tubuhnya bergerak untuk melawan. Satu-satunya jalan kabur adalah lewat pintu yang ada di depannya, yang berarti harus melewati mereka berdua.


Melihat gelagat ini Sherry bersiap juga. Kaki Sherry menendang dan untuk melumpuhkan kaki pria itu. Lebih efektik memakai tendangan dalam jarak ini. Relly bersiap menangkap tubuh itu dan... Bug! Pukulan Relly tepat mengenai pipi pria malang itu. Tubuhnya terjatuh di dekat dinding. Sherry mendekati hendak menambahi pukulan.


"Ampun!" teriaknya memarikade kepalanya . "Jangan memukuli tubuhku lagi." Napas pria ini naik turun. "A-aku tidak tahu kamu adalah gadis yang bi-bisa menggunakan pukulan dan tendangan. Aku tidak menyangka."


Pria itu beringsut mendekati dinding dengan wajah lebam di sana sini.


"Katakan, siapa yang menyuruhmu menabrakku saat itu?" tanya Sherry tidak sabar.


"Seseorang dari perusahaan Smart memberiku perintah." Sherry membelalakkan mata. Dia sangat terkejut. Perusahaan Smart adalah milik keluarga Vermouth. Relly juga terkejut.


"Smart?" tanya Sherry tertegun. "Siapa dia?" Pria itu menatap dengan tatapan mencela kepada Sherry.


"Kenapa aku perlu tahu siapa dia? Mendapat uang yang banyak adalah yang penting. Aku tidak perlu tahu dia siapa." Sherry berdecih kesal.


"Kalau memang begitu, kenapa kau tahu kalau dia adalah orang perusahaan Smart? Bukankah dia tidak memberitahu soal itu?" selidik Relly. Mungkin saja orang ini berbohong dan membelokkan tuduhan kepada perusahaan milik Vermouth.


"Aku tahu dari lambang di ujung seragam yang di kenakannya. Dia datang sendiri kepadaku. Uhuk...." Sherry melayangkan pukulan tepat pada perutnya yang membuat pria itu menekuk tubuhnya dan terbatuk-batuk. Relly terkejut.


Sherry sambil mengedikkan bahu. Merasa tidak bersalah.


"Kita tidak akan membuatmu masuk ke penjara, tapi tutup mulutmu soal kedatangan kita." Ancaman Relly membuat pria itu mengangguk.


"Aku rasa kalian adalah orang kedua yang mendatangiku." Relly dan Sherry menoleh cepat. Tangan Sherry meraih kaos pria itu.


"Siapa? Siapa mendatangimu?"


"Beri aku uangmu. Aku akan memberitahu." Pria itu tersenyum sambil mengangkat bahu saat Sherry menanyakan itu. Bersikap jual mahal. Rupanya dia marah karena Sherry melayangkan tinju pada perutnya dan ia juga tahu sekecil apapun informasi yang dia punya, mereka sangat membutuhkannya.


Mata sherry melebar. Tubuhnya bergerak ingin menghajar pria itu lagi. Relly menahan dengan menarik tubuh itu dari belakang. "Dasar kalian anak muda. Belum bisa mencari uang sendiri sudah bisa mesra-mesra saja," sindir pria ini sambil  mencemooh saat melihat lengan Relly memeluk tubuh Sherry dari belakang. Sherry merah padam karena malu. Relly melepas pelukannya.


"Maaf, aku berniat mencegahmu karena ingin menghajar dia lagi." Relly memberikan alasannya. Sherry hanya meringis. Tersenyum yang bercampur dengan rasa malu. "Aku bisa memberimu uang. Berikan saja informasi yang kau punya soal kecelakaan itu."


"Uang yang aku ingin itu tidak sedikit, kalian anak sekolah mana bisa ...." Saat Relly mengeluarkan beberapa lembar uang yang jika di total adalah nominal yang banyak, mata pria ini melotot. Pandangan meremehkan tadi lenyap berganti dengan kekaguman akan pemuda yang ternyata mempunyai banyak uang di dalam dompetnya. "A-aku akan memberikan informasi itu pada kalian." Laki-laki ini langsung tunduk dengan penuh kepatuhan.


__ADS_1


Perusahaan Smart? Kenapa kecelakaan ini berhubungan dengan perusahaan milik papa Vermouth? Berarti apakah orang yang ingin mencelakai Vermouth adalah orang dalam? Dan juga yang mengherankan adalah ... ada lelaki paruh baya juga sedang melakukan penelusuran tentang dirinya. Siapakah dia?


Hari sudah gelap lagi. Setelah mengorek banyak informasi dari pria penabrak itu, Sherry duduk di taman melepas lelah. Mulutnya bergerak-gerak me


"Sherry, kemana saja kamu? Ibu tiri sibuk menanyakanmu." Elda menelepon karena cemas.


"Iya. Aku sedang bersama Relly." Relly menoleh saat namanya di sebut dalam pembicaraan Sherry.


"Nama itu jadi sering muncul dari bibirmu sekarang," kata Elda di seberang. Seperti menggoda. Sherry mendengkus.


"Aku membutuhkannya untuk penelusuran ini."


"Apakah ini berguna untukmu?"


"Aku tidak tahu. Aku hanya ingin kembali. Tapi aku tidak tahu jalan untuk kembali. Jadi aku coba melakukan apa saja yang bisa bermanfaat. Entah itu bagiku atau oranglain. Setidaknya yang aku lakukan adalah hal baik."


"Terima kasih, Sherry."


"Hei ... kenapa kamu yang berterima kasih, Elda? Aku melakukan ini bukan untukmu. Aku mungkin hanya bersenang-senang." Sherry tergelak.


"Aku tahu. Aku hanya ingin berterima kasih padamu, karena tidak mudah menjadi orang lain." Tawa kecil keluar dari bibir Sherry. Relly yang sejak tadi memperhatikan Sherry menghela napas. Tawa Sherry hanya topeng. Dia tidak sedang ingin tertawa.


"Sudah. Aku akan pulang."


"Bagaimana aku memberitahu Ibu tiri  tentangmu? Dia sudah marah-marah sejak tadi."


"Ibu tiri memarahimu?"


"Iya," jawab Elda ketus. Bukan marah pada Sherry, tapi hanya menunjukkan kalau Ibu tiri memang mengomel tentang Sherry yang tidak segera muncul.


"Iya, iya. Aku akan pulang. Relly juga ..." Sherry tersentak kaget saat Relly muncul dekat dengannya.


"Bilang saja pada Nyonya Julia, kamu bersamaku. Dia pasti akan tenang," usul Relly kepada Sherry. Ide cowok ini benar. Ibu tiri sangat antusias soal kedekatan mereka berdua.


"Benar juga."


"Benarkah?" Elda yang mendengar percakapan Relly dan Sherry bertanya-tanya.


"Iya. Bilang saja pada Ibu tiri aku sedang bersama Relly. Dia akan berhenti mengomel. Relly yakin."


"Wahhh ... Relly benar-benar jadi pelindungmu, yah?" goda Elda lagi.

__ADS_1


"Dih ... Aku tutup." Sherry mencibir seraya melihat layar ponsel, bermaksud mencibir perkataan Elda.



__ADS_2