
...(Aku Sherry. Gadis yang mengalami sebuah takdir aneh. Jiwaku tertukar dengan seorang gadis lain. Saat ini jiwaku terperangkap dalam tubuh seorang gadis bernama, Vermouth.)...
.......
.......
.......
Beberapa waktu sebelum Relly menemukan Sherry.
Aska!
Relly tidak menyia-nyiakan kesempatan langka ini. Kakinya setengah berlari mendatangi cowok itu. Aska sedang mengobrol dengan Aldo dan Sabo. Senyum Aska menghilang tatkala melihat tubuh Relly yang sudah dekat dari tempatnya berdiri.
Sial. Aku ketahuan!!
"Aska."
Tangan Relly langsung mencengkeram lengan Aska. Dia tidak ingin cowok ini kabur. Namun memang sudah tidak memungkinkan bagi Aska untuk pergi.
"Sudah lama tidak ketemu. Aku masih mengingatmu. Kurasa kamu juga masih mengingatku." Aska hanya menyeringai mendengar Relly berbicara.
Tentu saja dia masih mengenal cowok ini. Itu bekal buat dia kabur saat menemukan Relly berjarak dekat dengannya.
"Ya. Ada apa?" tanya Aska.
"Berarti yang selama ini aku lihat itu benar, kamu. Kamu sengaja menghindariku." Aska masih berlagak cool saat dirinya sudah tertangkap basah. Aldo dan Sabo saling berpandangan. Mereka heran belakangan ini Aska seringkali terlihat aneh.
"Kita cabut dulu atau gimana?" tanya Sabo. Mereka masih perlu melihat, Aska butuh bantuan atau tidak. Namun melihat Aska yang tenang, mereka yakin Aska baik-baik saja. Sekarang, situasinya tidak memungkinkan untuk mereka ikut ke dalamnya.
"Aku tidak apa-apa. Kalian bisa pergi dulu." Aska membiarkan teman-temannya pergi. Relly memperhatikan mereka pergi dengan tangan masih memegang lengan Aska. Setelah mereka pergi, Relly kembali fokus pada tangkapannya.
"Jadi tubuh asli Sherry adalah Sherry yang aku kenal sekarang?" tanya Relly menggebu.
"Lepaskan dulu lenganku." Bola mata Sherry melirik ke arah lengan Relly. Tangan Relly melepaskan segera.
"Jawab pertanyaanku." Relly merapikan lengan kemejanya yang kusut karena cengkraman tangan Relly.
__ADS_1
"Kenapa kamu bisa menyimpulkan itu? Ada banyak kemungkinan."
"Kamu adik Sherry. Itu yang aku tahu. Dan Sherry yang satu kelas denganku adalah kakakmu. Jadi bisa di pastikan tubuh itu milik Sherry."
"Hanya itu?" tanya Aska tenang.
Relly diam. "Tidak. Perasaanku yang mengatakan dia adalah Sherry yang asli. Bukan tubuhnya, tapi jiwanya. Dia Sherry yang selama ini aku kenal."
"Oh, ya? Lalu, kenapa kamu tidak bisa segera menemukannya? Kenapa kamu tidak bisa tahu bahwa dia adalah Sherry yang selama ini kamu temani?"
"Soal itu ..."
"Bahkan kamu bertunangan dengan tubuh Ve." Relly terperangah. Aska juga tahu soal pertunangannya? Itu berarti Sherry juga sudah tahu.
"Jadi yang di rumah sakit adalah jiwa gadis itu? Ve?"
"Kamu sendiri yang mengerti perbedaan Sherry dan Ve." Relly diam.
Ya. Aku merasakan perbedaan itu. Namun aku takut salah. Jika salah, Sherry yang aku tahu sedang mengalami peristiwa berbahaya karena kejadian di tanah kosong itu, bisa semakin membahayakan dirinya. Aku takut Sherry dalam posisi tidak aman.
"Sebenarnya Sherry tidak mau kamu tahu soal dirinya yang sudah kembali pada tubuhnya. Menurutku juga tidak perlu. Mereka berdua punya kehidupan sendiri-sendiri. Dunia sosial yang berbeda juga. Namun, keberadaanmu menjadi penghalang ketenangan hidup Sherry." Aska tidak perlu lagi menahan kata-kata.
Relly tidak bisa mengatakan apa-apa. Walaupun dia sendiri punya alasan yang bukan karena dia egois, dia perlu mendengarkan kata-kata Aska. Mungkin saja dari sana dia bisa mengerti apa yang sekarang di rasakan Sherry.
"Berhentilah membahas soal Sherry jika hanya menyukai keunikan kakakku yang ada dalam tubuh Ve. Sherry yang sesungguhnya adalah Sherry yang kamu tahu sebagai Sherry Anugrah, teman sekelasmu saat ini. Jangan membuatnya bimbang. Dia sudah bertekad menghilangkanmu dari hidupnya. Apalagi ... kamu juga sudah berstatus tunangan Vermouth. Lepaskan saja dia."
Melepaskan Sherry? Itu tidak mungkin.
Relly sudah terlibat banyak perasaan ke gadis itu. Sangat tidak mungkin dia menyerah. Soal statusnya yang sudah punya tunangan itu urusan belakang. Sekarang yang terpenting adalah memberi Sherry penjelasan dan ... meminta maaf.
...----------------...
...----------------...
"Ternyata memang butuh aku menjauhimu dulu baru kamu tahu kalau perasaanmu sama denganku," ujar Relly sambil melihat Sherry makan dengan lahap. Dari balik piringnya, Sherry menatap tajam.
"Senang ya, sudah buat aku menangis tadi. Kamu itu sudah bikin aku menangis berkali-kali," semprot Sherry.
__ADS_1
"Berkali-kali? Benarkah? Seingatku, kamu tidak peduli padaku saat kamu masih berada dalam tubuh Ve." Sherry melirik ke arah lain. Dia keceplosan mengatakan itu. Relly memperhatikan. "Jadi kamu menangisiku saat aku tidak ingat padamu? Saat aku menganggap Ve adalah kamu."
Sherry menunduk dan meneruskan makannya. Tidak mau membahas soal itu. "Kamu begitu kecewa, aku tidak bisa mengingatmu ...." Sherry tidak mendengarkan.
Tangan Relly terulur mengusap kepala Sherry.
"Kamu tahu, meskipun aku menganggap Ve adalah Sherry, hatiku justru lebih nyaman dan damai saat bersamamu. Saat aku merasa bimbang dan lelah jika memikirkan Sherry yang terbaring di rumah sakit menjadi aneh, aku datang padamu. Saat aku penat dan sakit karena papa menamparku, aku juga datang padamu. Aku sengaja mencarimu. Karena bersamamu aku lebih tenang," ujar Relly lembut.
Sherry mendongak dan mengusap mulutnya dengan tisu. Lalu menatap Relly sedih. Relly melepaskan usapannya.
"Jadi benar ya ... jejak merah itu bekas tamparan papamu?"
"Kamu tahu itu?"
"Tidak ada yang berani begitu padamu. Aku yakin itu pasti papamu. Ada apa?" Relly tersenyum.
"Itu karena aku menyembunyikan tubuh Ve yang aku pikir adalah kamu. Papa marah dan ingin memberitahu ke papa Ve bahwa putrinya ada disana."
"Lalu? Papa Ve tahu bahwa putrinya di sana?" tanya Sherry merasa bulu kuduknya tiba-tiba berdiri. Tubuhnya gemetar. Dia ingat lagi soal kejadian di danau. Saat dirinya yakin itu akan jadi hari terakhirnya.
"Sherry ... kamu enggak apa-apa? Tubuhmu gemetaran." Relly pindah tempat duduk dan menghampiri Sherry. Memegang tubuh gadis ini dan memeluknya. Berusaha menenangkannya dengan mengusap lengan dan punggung Sherry.
Ingatan tentang dia yang di hajar orang-orang papa Gio kembali lewat. Sherry masih ingat dengan ketakutannya akan akhir hidupnya. Juga kesedihan tidak bisa lagi bertemu dengan Relly.
"Aku ... aku takut," rintih Sherry sambil memejamkan mata.
"Sherry ... Aku ada disini. Coba tenanglah." Mendengar suara Relly, Sherry seperti tersadar. Bangun dari mimpi buruk yang membayangi.
"Relly ..." Sherry mengerjapkan mata.
"Kamu harus minum dulu. Mbak, bisa minta tolong air mineral satu!" teriak Relly meminta tolong. Salah satu pelayan mengambilkan botol air mineral kemasan dan memberikan ke Relly. "Ini minumlah." Relly menyodorkan minuman itu. Sherry meminumnya perlahan.
Sambil menunggu Sherry tenang, Relly tetap duduk di samping dan mengusap keringat di kening gadis itu. Sherry menjauh, sebelum Relly menyentuhnya.
"Jangan. Keringat itu bau," cegah Sherry kembali normal. Relly tersenyum.
"Hh ... baiklah. Aku tidak akan menyentuh keringatmu. Coba kamu seka, sebelum aku melakukannya." Sherry menyeka keringat dengan tisu makan. Karena ada Relly, akan terlihat jorok jika dia menyeka keringat dengan tangan kosong. Sherry rupanya punya rasa jaga image juga saat sudah mengaku bahwa dia menyukai Relly.
__ADS_1