
...(Aku Sherry. Gadis yang mengalami sebuah takdir aneh. Jiwaku tertukar dengan seorang gadis lain. Saat ini jiwaku terperangkap dalam tubuh seorang gadis bernama, Vermouth.)...
.......
.......
.......
"Tentu saja tidak apa-apa. Dia tampak manis," ujar Relly sambil menatap Sherry. Lagi. Kalimat Relly indah di telinga. Sherry merasa wajahnya memerah. Sigi tersenyum lagi. "Namun bukan soal ganti baju yang aku ributkan, tapi soal kemunculan dia disini. Seharusnya dia enggak ada di sini. Seharusnya kamu tetap di rumahmu Sherr ...," protes Relly.
"Dimana saja sama. Jika takdir berkata baik, maka baiklah nasib kita. Dan sebaliknya." Tangan Sherry terulur menyentuh tangan Relly. "Kamu harus masuk. Apapun itu harus di hadapi."
"Itu akan menyakitkan, Sherr ... Percayalah," mohon Relly agar gadis ini mengerti. Tindakan bodohnya ini demi dirinya.
"Aku selalu percaya sama kamu, Rell ..." ucap Sherry dengan mata tegas.
"Hhh ... Kamu terlalu tenang saat aku sendiri kacau balau membayangkan jika aku akan tetap pada ikatan ini. Aku takut." Bola mata Relly nanar. Dia menderita. Sigi melirik.
"Aku juga takut. Sama. Bukan hanya kamu. Perjuanganku di temukan lagi olehmu begitu panjang. Aku tentu tidak mau di tinggalkan begitu saja, tapi ... "
"Aku sudah bertekad untuk mengubah semuanya jika kamu tetap di rumah Sherr, bukan disini ...," sesal Relly.
"Aku paham. Kita kembali dulu yuk. Orangtuamu pasti khawatir," ajak Sherry. Relly menghela napas. Dengan pasrah dia mengikuti langkah Sherry yang menggandeng tangannya. Dengan susah payah dia berusaha menghindari pesta ini, Sherry justru muncul dan mengajaknya kembali.
...----------------...
Di tengah pesta, Erick datang memberi berita. "Tuan muda kembali, Tuan," ujar Erick pelan.
"Benarkah?" tanya mama Relly yang ikut mendengar berita barusan.
"Kerja bagus, Erick. Bocah itu ternyata benar-benar menurut," ujar Welly senang.
"Sekarang dimana dia?" tanya mama Relly.
"Tuan muda akan tiba di ruang tengah bersama nona Sigi." Welly dan istrinya langsung beranjak dari tempat mereka berdiri. Setelah berpamitan pada tamu yang ada di sana, mereka kembali masuk ke dalam rumah.
__ADS_1
"Sudahi saja sekarang. Mama enggak mau melihat dia menderita lagi," ujar mama saat berjalan dengan setengah memohon.
"Kenapa?"
"Apa papa tidak lihat bagaimana dia begitu frustasi dengan semua ini?" Mendengar pertanyaan istrinya Welly hanya tergelak pelan.
"Aku lihat. Aku tahu. Putramu itu sangat jelas sekali raut wajah sedihnya."
"Kalu begitu segera saja beritahu dia," desak mama.
"Iya. Aku juga sudah memberitahu Henry soal ini. Dia tidak bermasalah asal putrinya juga tidak terluka."
"Hhh ... kenapa perlu waktu lama? Sudah aku katakan bukan ... bahwa gadis itu sudah memberi tanda hijau. Dia membebaskannya. Bahkan sebelum anak itu meminta."
"Iya. Aku tahu istriku."
"Untung saja bocah itu tidak melakukan perbuatan nekat lainnya. Kalau tidak, aku tidak akan memaafkanmu," ancam mama Relly dengan wajah serius.
"Kamu semakin cantik jika marah." Welly justru menggoda istrinya saat perempuan ini menggerutu dan mengancam. Erick yang mendengar hanya tetap berjalan dengan kedua mata memandang lurus. "Sepertinya dia mirip sekali denganmu."
...----------------...
Sementara itu Relly masih dengan hati tidak tenang tetap mengikuti Sherry masuk lagi ke dalam rumah. Setelah beberapa menit, akhirnya Welly dan istrinya sampai di ruang tengah. Relly juga tampak barusan saja tiba.
Bibir Welly menyunggingkan senyum tipis melihat putranya. Sherry segera melepas pegangan tangannya saat melihat orangtua Relly muncul. Sigi tidak ada bersama mereka. Sepertinya gadis itu tidak ikut mereka berdua ke ruang tengah.
"Kamu muncul lagi, Relly? Dan ... kamu?" tanya Welly mengalihkan pandangan ke arah Sherry. Kepala Sherry mengangguk menunjukkan kesopanan.
"Jangan menghiraukan dia, Pa," ujar Relly langsung meminta Sherry mundur. Melindungi gadis ini dari papanya. Membuat barikade dengan tangannya. Dia takut Sherry akan di cerca papanya. Karena dialah penyebab dirinya ingin keluar dari pesta meskipun acara belum usai. Juga enggan menemui keluarga Ve sebagai tamu spesial mereka.
"Kenapa?" tanya Welly.
"Dia tidak bersalah. Justru dialah yang membawaku kembali ke pesta yang membuatku ingin pergi."
"Oh, ya?" Bola mata Welly memandang Sherry. "Dia ... Sherry bukan? Gadis itu" Tangan Relly semakin melindungi Sherry dari papanya. Bukan tanpa maksud, dulu saja Welly sudah berhasil mengetahui keluarga dan kehidupan gadis ini. Jadi kemungkinan Welly bisa membuat gadis ini menderita dengan menyuruh bawahannya mengganggu keluarganya.
__ADS_1
"Jangan sakiti dia, Pa," ujar Relly dengan wajah serius.
"Siapa yang mau menyakiti dia, putraku ..." Mama yang berada di belakang geregetan dengan tingkah suaminya. Beliau langsung menengahi perdebatan mereka berdua.
"Itu sudah jelas, Ma. Papa pernah menyuruh orang-orangnya untuk menyelidiki Sherry. Dan itu di gunakan untuk mengancamku agar aku menjauh darinya. Aku tidak mau seperti itu lagi." Sherry hanya diam tidak berkata apa-apa. Sebagai orang luar dia memang pantas diam.
"Ya. Soal itu mama tahu, tapi itu juga karena kita pantas tahu siapa gadis ini."
"Mama juga sependapat dengan papa?" tanya Relly merasa tersakiti.
"Soal ingin tahu siapa Sherry memang mama setuju, tapi soal mengancam kamu ... mama tidak setuju." Ekor mata mama melirik tajam ke arah suaminya. Welly hanya diam sambil mengalihkan pandangan ke arah lain. "Namun, semuanya juga karena kita berdua sebagai orangtua pantas melindungimu dari gugatan Gio yang saat itu akan menuntutmu karena menyembunyikan Ve. Menurut mama tindakan papa memang agak kelewatan, tapi itu tidak bisa di sebut salah."
"Dan sekarang? Bagaimana dengan sekarang? Setelah mama tahu Gio adalah penjahat? Bukankah aku berhak menanyakan janji papa jika aku berhasil mengungkap siapa Gio sebenarnya."
"Yaa itu ..."
"Mereka tidak akan menyakitiku, Rell," ujar Sherry di belakang Relly.
"Tolong biarkan aku selesaikan ini, Sher. Jika kamu ingin aku kembali ke pesta ini, kamu harus membiarkanku bicara pada orangtuaku," kata Relly dengan melirik ke arah Sherry yang berada di belakangnya.
"Iya, aku tahu. Namun aku yakin mereka tidak akan menyakitiku," kata Sherry yakin.
"Kenapa kamu seyakin itu?" tanya Relly heran.
"Karena mereka orangtuamu. Jadi aku juga harus percaya mereka baik seperti kamu." Relly mendengarkan dengan baik. "Lagi pula, gaun ini mama kamulah yang memberikan padaku. Beliau yang menginginkan aku mengganti bajuku," ujar Sherry memberi tahu.
"Gaun?" tanya Relly heran. Tangannya turun dari depan dada Sherry dan memutar tubuhnya ke belakang. "Gaun yang kamu pakai itu?" tanya Relly sambil menunjuk gaun yang di pakai Sherry sekarang dengan bola matanya.
"Ya. Aku kan sudah bilang jika ini adalah permintaan seseorang. Aku mau memakainya karena ini adalah permintaan mama kamu. Orang yang paling kamu sayangi." Sherry mengingatkan lagi soal penjelasan dia saat berhasil mencegah Relly keluar dari rumah.
"Mama?" Bola mata Relly menyipit seraya menoleh pada mamanya. Beliau menatap putranya dengan anggukan dan senyuman menghiasi bibirnya. Mengonfirmasikan bahwa pernyataan Sherry adalah benar.
"Benar. Mama yang meminta."
__ADS_1