
(Aku Sherry. Gadis yang mengalami sebuah takdir aneh. Jiwaku tertukar dengan seorang gadis lain. Saat ini jiwaku terperangkap dalam tubuh seorang gadis bernama, Vermouth.)
Vermouth mendongak perlahan.
Retina Hansel melebar. Menatap dengan seksama wajah baru di depannya. Mata, hidung, dan bibir. Hansel berusaha merekam semuanya dengan baik-baik. Dia tidak mau melepaskan momen langka ini. Karena, bisa saja gadis yang masih di panggilnya dengan nama Vermouth itu, akan menghalanginya lagi untuk mencari tahu wajah aslinya.
Jadi dia wajah pemilik tubuh Vermouth yang asli. Jadi ini wajah milikmu, gadis? tanya Hansel dalam hati.
Aska memejam mata sekejap dan menggeleng kepala kasar. Dia paham Hansel mulai tahu siapa Sherry. Rasa bersalah mulai menyelimutinya.
Sherry, aku tidak bisa melindungi wajahmu dari orang-orang yang sangat ingin tahu siapa dirimu. Aku rasa keingintahuan mereka lebih besar, dari kekuatanku untuk melindungimu. Hansel tahu siapa dirimu. Hansel mengenali wajah pada cangkang aslimu.
"Mereka sudah pergi, kamu bisa tenang. Berhenti gemetar dan ketakutan. Aska tidak apa-apa. Dia hanya lelah disana," ujar Hansel menenangkan.
"Han-Hansel?" tanya Vermouth terkejut. Dia baru tersadar siapa pemuda yang berdiri di depannya, juga menyebut namanya dengan benar. Mata Ve membulat. Bagaimana bisa Hansel muncul di depannya dan menyebut namanya, saat dirinya masih memakai cangkang Sherry.
"B-bagaimana kau tahu aku Vermouth?" Tangannya meraih uluran tangan Hansel yang membantunya berdiri.
"Aku tahu," jawab Hansel singkat. Ve menatap pemuda itu heran dan juga penasaran. Walapun dia tahu Hansel muncul di rumah sakit, tapi bagaimana dengan yakin bahwa dirinya adalah Vermouth?
Aska juga mulai berdiri perlahan. Vermouth terkejut melihat Aska lebam di sana-sini.
"Kau tidak apa-apa, Aska?" tanya Vermouth sambil berlari mendekati karena khawatir. Aska mengangguk.
"Siapa mereka?" tanya Hansel.
"Anak sekolah lain. Aku tidak begitu tahu tapi pasti mereka pernah tahu siapa aku." Vermouth yang sudah merasa tenang, meringis melihat pakaian Aska kotor dan ada beberapa luka di wajahnya. "Terima kasih, Han," ucap Aska terdengar lebih akrab.
"Oke. Mau aku temani kalian pulang?" tawar Hansel. Aska menggeleng cepat. Sherry akan marah dan kecewa bila membiarkan cowok itu melangkah jauh sampai sana. Sherry sudah berusaha menyembunyikan diri tapi ternyata dirinya gagal.
"Dia melarangmu?" tanya Hansel. Aska paham maksud Hansel.
"Ya."
"Siapa yang kamu maksud dia?" tanya Vermouth tidak paham.
"Gadis yang ada di dalam tubuhmu sekarang," jelas Hansel.
"Kamu akrab dengannya rupanya." Vermouth terlihat kecewa mendengarnya. Dia menyadari, mereka semua mendekati tubuhnya hanya karena tubuh itu di huni oleh jiwa Sherry. Bahkan itu Relly.
"Jadi ... siapakah kamu sebenarnya Aska?" tanya Hansel. Aska hanya menatap Hansel. Vermouth hanya mengkedip-kedipkan matanya.
***
__ADS_1
Sementara itu di rumah Vermouth, Nyonya Julia yang tahu siapa Relly menyambutnya dengan hangat. Papa Vermouth sudah memberitahu kedekatan mereka berdua. Itu sangat menguntungkan bagi mereka kelak. Jadi Nyonya Julia memperlakukan Relly sangat istimewa. Ini juga berimbas ke Sherry.
Baru kali ini Nyonya Julia sangat baik pada tubuh ini. Mungkin karena ada maunya, yaitu soal kedekatan Sherry dan Relly.
"Kita akan mengerjakan tugas di sini, Tante," ijin Relly.
"Aduh... kenapa memanggil Tante? Panggil saja Mama, biar terdengar akrab," kata Nyonya Julia dengan memberikan senyuman paling ramah yang beliau lakukan. Relly tersenyum tipis paham. Dia paham soal ibu tiri yang selalu jahat pada Vermouth.
"Ma ... ma?" sebut Relly dengan terputus-putus. Dia sengaja mengatakannya dengan cara begitu untuk mempermainkan Nyonya Julia. Sherry hanya melirik. Dia tahu Relly sengaja bermain-main karena sikap Nyonya Julia yang tidak baik kepadanya.
"Benar. Benar begitu," kata Nyonya Julia senang. "Silahkan kalau mau belajar bersama. Belajar di kamar Vermouth saja. Disana lebih nyaman."
"Benarkah? Apakah boleh, Ma?" tanya Relly senang. Sherry tidak percaya ini. Kepalanya langsung menoleh cepat ke arah Relly yang tersenyum dan matanya berkilat penuh arti.
"Iya, kan Vermouth?" tanya Nyonya Julia memaksa.
"Terserah," jawab Sherry kesal. Lalu dia berjalan naik ke tangga.
"Silahkan Relly. Ikuti Vermouth. Dia akan mengajakmu ke kamarnya," suruh Nyonya Julia dengan sedikit mendorong tubuh Relly pelan agar segera mengikuti tubuh Ve dari belakang.
"Terima kasih, Ma..."
"Iya, iya," jawab Nyonya Julia gembira. Relly jadi ingin mempermainkan Nyonya itu lagi, tapi dia harus segera msngikuti tubuh Sherry yang sudah sampai di lantai dua. Relly segera menyusulnya.
"Kamu lumayan menyebalkan, bisa mempermainkan orang yang sudah tua saat aku tahu kamu cowok yang cool dan tidak punya kasus siswa nakal di sekolah," sindir Sherry.
"Berarti aku tidak harus mengenalmu lebih dalam," kata Sherry sambil membuka pintu kamar.
"Kenapa?"
"Aku akan tahu semua sifat burukmu." Relly terkekeh. Kamar mulai terlihat penampakannya. Relly melongok ke dalam kamar. "Dengan berat hati aku katakan, masuklah tamu yang tak di undang...." Relly terkekeh lagi mendengar kata sambutan tidak ikhlas dari Sherry. "Duduklah dimana saja yang kamu suka." Relly melangkahkan kaki memasuki ruang pribadi Vermouth juga Sherry. Ini pertama kali baginya.
"Semua ini...," tunjuk Relly ke arah pajangan di dalam kamar.
"Aku menata ulang. Semua barang Vermouth aku simpan. Aku tidak ingin menjadi tertekan dengan semua yang ada hubungan dengan Ve. Cukup tubuh ini membuatku tertekan." Relly memandang Sherry yang melemparkan tas sekolah di atas tempat tidur. Dia memahami gadis itu sedang tidak dalam keadaan baik-baik saja menempati tubuh Vermouth.
Relly bisa merasakan tertekannya diri Sherry. Menjadi orang lain dan tidak ada satupun yang dikenalnya. Berusaha kuat dan tidak mengeluh. Relly ingat setelah sakit -saat itu tubuh Vermouth sudah di isi oleh jiwa Sherry-, gadis dengan tubuh Vermouth ini jarang menunjukkan wajah sedih atau tertekan. Raut wajahnya hampir-hampir datar dan tidak bisa di baca.
Saat sendirian dia juga hanya memainkan handphone-nya. Tidak berusaha mengenal siapa-siapa. Hanya mencoba sibuk dengan dirinya sendiri. Dia sendiri mulai penasaran dan tertarik dengan kengganannya yang muncul. Apalagi rasa enggannya untuk mendekati dirinya.
Selama ini dia tahu Vermouth orang yang ingin bisa berkumpul dengan lainnya, tapi mereka menolak karena merasa Vermouth gadis manja, juga penuh kebohongan. Relly sering mendengar dari gadis-gadis lainnya bahwa sikap polos Ve adalah pura-pura, maka dari itu mereka enggan berteman dengan Ve.
Dari itu Relly mulai tertarik untuk memperhatikan Vermouth yang baru.
"Aku lupa," pekik Sherry tiba-tiba.
__ADS_1
"Ada apa?"
"Tolong keluar dulu karena aku akan ganti baju."
"Ganti saja di sana. Aku akan membalikkan tubuhku saat kau mulai ganti baju." Relly mengatakannya dengan santai. Mata Sherry membelalak.
"Keluar atau aku hajar di sini. Aku tidak perlu sungkan melakukannya," desak Sherry geram. Relly terkekeh dan keluar kamar. Tak lama muncul Nyonya Julia membawa makanan dan minuman di nampan.
"Kenapa ada di luar Relly?"
"Sherry menyuruhku keluar."
"Hah? Anak itu bagaimana sih?" Nyonya Julia mulai ingin memarahinya.
"Dia sedang ganti baju, Ma."
"Oh..."
"Saya bisa bawakan, bila anda masih ada pekerjaan lain," tawar Relly.
"Oh, terima kasih.. Bersenang-senanglah. Lama juga tidak apa-apa. Keluarga kami menerima Relly dengan baik kok," ujar Nyonya Julia sangat ceria dan bahagia.
"Terima kasih, Mama..." Nyonya julia tersenyum dan pergi meninggalkan Relly dengan nampan di atas tangannya. Pintu kamar terbuka. Sherry muncul dengan kaos oblong dan celana pendek.
"Apa itu?"
"Oleh-oleh," jawab Relly seraya mengangkat nampan dengan gembira. Dia tahu gadis di depannya sangat senang dengan makanan.
"Wow, beruntung sekali kamu bisa mendapatkannya. Aku saja yang sudah memakai tubuh ini jarang sekali mendapat jatah makanan tambahan."
"Ini buatmu saja," ujar Relly akhirnya setelah masuk ke dalam kamar.
"Jangan. Aku juga harus menjamu tamu yang berkunjung." Mereka berdua duduk di lantai. Menggelar semua buku pelajaran Sherry. Relly berperan sebagai guru les. Sherry harus mengerjakan tugas yang tertinggal.
Saat duduk disini Relly menemukan secarik kertas di lantai. Sepertinya terjatuh dari tempat yang tinggi. Relly melihat dari laci ada secarik kertas lagi yang menyembul. Mungkin kertas ini terjatuh dari sana. Sherry masih fokus mengerjakan tugas dengan bimbingan Relly.
Tangan Relly membalik kertas berwarna green mint itu. Ada tulisan yang membuatnya penasaran. Apalagi ada namanya tertulis di sana.
"Ini cara mengerjakannya gimana, Rel?" tanya Sherry seraya menggaruk kepala pusing. Dia bukan tipe gadis yang rajin mengerjakan tugas. Dia sangat jarang belajar. Karena tidak ada jawaban, Sherry mendongak. "Rel?" sebut Sherry yang melihat Relly menunduk dengan sebuah kertas di tangannya.
Mata Sherry membeliak. Dia sangat paham secarik kertas berwarna green mint itu. Kepala Relly mendongak dan bertepatan dengan Sherry yang menerjangnya ingin merebut kertas itu dari tangan Relly. Tanpa bisa menduga Sherry akan berhambur ke arahnya, Relly pun terhuyung ke belakang dan bergerak merapat ke rak buku.
"Apa yang kau baca?" tanya Sherry dengan mata nanar seraya menundukkan pandangan melihat Relly. Tubuh Sherry masih setengah berdiri dengan tangan berusaha meraih kertas di tangan Relly. Sementara tubuh Relly masih duduk bersandar pada rak buku yang berada di belakang punggungnya. "Aku tanya, apa yang kau baca?" ulang Sherry karena Relly tidak menjawab.
Tiba-tiba Relly melepas kertas itu dan menangkap tangan Sherry. Meletakkan tangan itu di dadanya sendiri. Mata Sherry tidak bisa mengerti maksud Relly.
__ADS_1
"Aku mencoba membaca dari wajahmu. Apa yang kamu rasa saat merasakan detak jantungku menjadi cepat ketika kamu berada di dekatku?" ujar Relly dengan tatapan mata sama seperti saat itu. Saat pertama Relly menemukan bahwa ada jiwa lain pada tubuh Vermouth.