Diary Sherry

Diary Sherry
Vermouth_Kecewa


__ADS_3


...(Aku Sherry. Gadis yang mengalami sebuah takdir aneh. Jiwaku tertukar dengan seorang gadis lain. Saat ini jiwaku terperangkap dalam tubuh seorang gadis bernama, Vermouth.)...


.......


.......


.......


Seperti baru sadar dari tidur panjang, tubuh Sherry melonjak mendengar pertanyaan Aska. Benar. Dia lupa tentang tubuh Ve. Jika dia kembali pada tubuhnya, berarti jiwa Ve juga demikian. Pasti tubuh Ve telah terisi jiwa aslinya.


Sherry teringat terakhir kali berada di padang ilalang. Dimana dia bertemu dengan papa Ve yang palsu. Dimana ada seorang penjahat di rumah mewah itu.


"Aku akan menceritakan semua yang terjadi padaku hingga aku berakhir di rumah sakit. Tubuhku terlibat sebuah masalah serius yang membuatnya hampir mati, Aska. Aku harus memberitahu Relly." Aska bermaksud mencegah tapi tidak bisa.


Tanpa pikir panjang Sherry berlari menuju ke kamar tubuh Ve berada. Aska tentu tidak meninggalkan kakaknya sendirian. Sherry masih ingat jalan menuju ke kamarnya saat menjadi Vermouth.


Sesampai di sana ada kegaduhan di kamar Ve. Kaki Sherry berhenti tepat saat beberapa dokter dan perawat berlarian menuju kamar Ve.


"Cepat! Cepat tangani segera!" teriak Erik di dekat pintu mengomando mereka untuk cepat bertindak. Sherry mengamati dari tempatnya berdiri. Ada apa? tanya Sherry mengerjapkan mata kebingungan. Aska akhirnya menyusul. Dia berhenti tepat di sebelah kakaknya. Cowok ini juga mendengar keributan yang terdengar jelas karena pintu kamar masih belum tertutup rapat.


Ada keributan apa itu. Apa yang terjadi dengan tubuh Ve? Kenapa mereka tampak serius dan panik? Sherry mendekat.


Srekk!! Pintu kamar tertutup rapat dengan segera. Kaki Sherry tetap mendekat dengan lamat-lamat.


"Kamu mau kemana?" tanya seorang penjaga yang melihat Sherry mendekat.


"Aku ..."


"Kamu bukan keluarga tuan muda, bukan? Cepat pergi dari sini. Ini tempat pribadi." Sherry termangu melihat pintu kamar di depannya. Relly ada di dalam dengan tubuh Ve. "Hei ... kenapa kamu tidak mau pergi?"


"Maaf. Aku akan membawa kakakku pergi. Tunggu sebentar. Dia sakit. Dia mungkin tidak sadar ada dimana." Aska segera meraih tubuh Sherry saat penjaga akan mendorongnya. "Ayo, Sherry kita pergi," bisik Aska.


"Di dalam sana ada Ve dan Relly, Aska. Aku harus memberitahu dia."


"Tidak bisa. Kamu tidak bisa kesana," bisik Aska lagi. Dia harus memaksa kakaknya pergi.


"Aku ingin bertemu tuan muda kalian," kata Sherry tiba-tiba. Aska berdecih.


"Tuan muda? Kalian? Memangnya kalian siapa?" tanya penjaga itu curiga.


"Aku..." Pintu kamar terbuka. Aska langsung menarik tubuh Sherry membelakangi pintu.


"Ada apa Ares?" tanya Erick.


"Ada gadis yang ingin bertemu tuan muda."


"Gadis?" Erik menoleh ke arah dua manusia yang sedang membelakangi mereka. Aska memaksa Sherry untuk pergi dari sana.


"Erik, tolong ... Ada apa dengan kalian?" Suara Relly! Aska memegangi tubuh kakaknya erat. Relly keluar dan menghentikan kalimatnya karena melihat Erik dan Ares seperti sedang berunding.

__ADS_1


"Ada seseorang yang ingin bertemu denganmu." Erik memberitahu.


"Mereka?" tanya Relly menunjuk Aska dan Sherry yang memunggungi mereka. Erik mengangguk. Relly melihat pakaian rumah sakit yang di kenakan gadis itu. Matanya menyipit. Mencoba menyelidiki siapa mereka berdua.


Relly aku ingin bicara. Aska membungkam mulut kakaknya. Juga berusaha keras agar Sherry tidak menghampiri mereka.


"Maaf. Aku tidak mengenal mereka." Deg! Jantung Sherry seperti di pukul palu godam sekuat-kuatnya. Tiba-tiba wajah Sherry panas. Matanya nanar. Ada sakit yang menggores seonggok hatinya. Bukan sakit biasa, tapi rasa sakit yang membuat sekujur tubuhnya lunglai.


Aska yang menahan tubuh Sherry merasakan tubuh kakaknya yang tiba-tiba saja melemas. Tangannya tidak lagi membekap mulut kakaknya. Aska menuntun kakaknya pergi meski lambat.


"Sherry butuh perawatan lebih. Dia mungkin sudah dalam keadaan normal dan tenang, tapi aku yakin dia ...."


Sherry? Relly menyebut nama Sherry?


Sherry tidak bisa lagi mendengar perbincangan Relly, walaupun cowok itu masih membicarakan soal tubuh gadis yang ada di dalam dengan rasa cemas yang kentara. Sherry tertegun. Rasa getir berkecamuk di hatinya.


"Lepaskan aku," ujar Sherry pelan dan serak. Aska melepaskan pegangannya. Kakinya melangkah agak cepat daripada tadi. Hingga Aska tidak perlu memaksanya pergi dari sana. "Tinggalkan aku sendiri. Aku sedang tidak ingin di temani," ujar Sherry saat sudah jauh dari lorong kamar tempat Relly berada.


"Oke. Jangan bertindak gegabah. Aku tidak ingin kejadian tadi terulang."


"Tidak akan. Aku tahu Aska. Aku mengerti," sahut Sherry lirih. Aska membiarkan Sherry pergi.


Kakinya melangkah membawanya ke sudut rumah sakit yang menghadap ke luar. Entah itu pada lantai berapa. Sherry terpekur sendiri dan menangis. Sekali lagi menangis. Setelah di hapus dan kering, air matanya berlinang lagi.


Sakit karena mendengar kata Relly mengatakan tidak mengenalnya masih terasa. Itu sangat menusuk di hatinya. Tidak mengenal? Relly tidak mengenal dirinya? Ya. Dia bukan pemilik tubuh itu. Tubuh hampir sempurna itu milik Ve bukan miliknya. Kenyataan yang sebenarnya terlintas saat menjadi Ve, kini seperti mimpi. Sherry seakan tidak percaya.


...----------------...



...----------------...


"Kamu...," ujar Aska sedikit terkejut. Sepertinya dia semakin sering melihat gadis ini. "Terima kasih sudah ijinin aku enggak masuk sekolah kemarin."


"Tidak masalah."


"Ada saudaramu yang sakit?" tanya Aska seraya melihat sekeranjang buah.


"Bisa di bilang seperti itu, tapi kali ini aku ingin menjenguk ibu kamu."


"Menjenguk ibu?"


"Iya. Terlihat aneh ya? Karena kita tidak begitu kenal di sekolah tiba-tiba saja aku datang menjenguk?"


"Tidak masalah juga. Menjenguk juga hal baik. Silakan." Aska membuka pintu kamar dan mempersilakan gadis itu masuk. Sherry dan ibu yang sedang berbincang di dalam menoleh.


"Halo tante ...," ujar Sigi membungkuk memberi salam.


"Ya ... Temannya Aska ya?" tanya ibu sambil tersenyum.


"Iya," sahut Sigi. Sherry menoleh ke Aska dan mengangkat dagu bermkasud untuk bertanya. Melihat seragam yang di pakai, dia juga satu sekolah dengannya, tapi Sherry tidak mengenal gadis ini. Aska hanya mengangkat bahu dengan cuek. Sherry menipiskan bibir mendapat jawaban tidak jelas.

__ADS_1


"Berarti adik kelasnya Sherry juga." Ibu menunjuk Sherry. Sigi menoleh.


"Kakak juga sekolah di sana? Aku baru tahu." Sigi merasa surprise. Sherry mengangguk.


"Aska tidak pernah cerita?" tanya ibu lagi.


"Ah, saya dan Aska tidak begitu kenal untuk bisa berbagi banyak cerita. Bisa di bilang baru mengenal."


"Begitu ya... Aska memang enggak pernah punya teman perempuan. Dia anak yang pendiam dan pemalu. Dia juga mungkin seperti anak laki-laki penakut," ujar ibu yang segera di respon Sherry dengan tatapan terkejut.


Penakut? Pemalu? Pendiam? Sherry memandang adiknya dengan tatapan protes. Sigi juga melihat ke arah Aska dengan heran. Namun dia segera tersenyum.


"Jadi terima kasih sudah mau jadi teman anak ibu itu." Kedua gadis itu menoleh Aska lagi.


"Kenapa melihatku seperti itu? Kak, tolong ambil oleh-oleh yang dibawa dia dengan susah payah dong," tegur Aska. Sherry melihat ke arah buah tangan yang di bawa Sigi.


"Eh, itu buat kita?" tanya Sherry sambil berdiri.


"Bukann... Itu buat ibu. Karena dia berniat menjenguk ibu bukan kamu."


"Maaf. Aku tidak tahu kalau kakak Aska juga sakit."


"Tidak ... Aku tidak sakit." Sherry menerima sodoran sekeranjang buah dari Sigi dengan tawa kecil. "Terima kasih atas pemberiannya. Ini sangat berharga." Mata Sherry melebar.


"Jangan bilang begitu. Ini hanya sekeranjang kecil buah-buahan, kak." Sigi malu pemberiannya di anggap permata bagi merkea. Mungkin hanya sebuah keranjang kecil bagi Sigi, tapi bagi keluarga Aska ini pemberian yang mewah dan berharga. Tidak setiap hari mereka mendapat buah-buahan berlimpah. Bahkan bukan tidak setiap hari. Tidak mungkin sebulan sekali mereka membeli buah.


"Duduklah." Sherry mempersilakan tamunya duduk sambil tersenyum.


"Terima kasih, Kak."


Perbincangan ketiga perempuan itu mengalir dengan seru. Napas ibu juga mulai terdengar normal. Tidak terdengar tersengal-sengal saat bicara. Itu pertanda baik.


Keesokan harinya, masalah lain menyerang Aska lagi. Keuangan tidak memenuhi biaya pengobatan rumah sakit. Mungkin untuk ibu, tabungan beliau cukup walau kedepannya harus bekerja keras. Namun karena ada dua pasien, biaya pengobatan membengkak.


"Aku bisa membantu," kata Sigi menawarkan bantuan. Gadis ini bertanya soal jadwal kepulangan keluarga Aska dari petugas. Tentu dengan bantuan Erick. Makanya dia bisa muncul di sini hari ini.


"Jangan. Aku tidak mau punya hutang," tolak Aska wajar.


"Tidak. Aku tidak butuh uangmu. Aku akan menagih dengan suatu permintaan jika tiba saatnya nanti."


"Itu lebih menyulitkan. Maaf." Aska berpendapat. Dia tetap ingin menolak. Tidak tepat jika dia harus punya hutang uang atau hutang budi pada dia yang baru saja di kenalnya. Aska menghindari itu.


Sabo dan Aldo akhirnya datang sambil membawa uang tabungan mereka dan juga dari hasil meminta-minta pada orangtua mereka.


"Kalian memberikannya padaku?" tanya Aska tidak percaya.


"Bukann ... kita akan menagih kelak," ujar Sabo menoleh pada Aldo.


"Ya. Tidak mungkin memberikan cuma-cuma padamu, sobat," timpal Aldo. Mereka merangkul berandal pintar ini. Aska tersenyum mendengar mereka. Sigi mengangkat bahu. Dia tidak marah Aska menolaknya, malah menerima bantuan Sabo dan Aldo.


__ADS_1


__ADS_2