
(Aku Sherry. Gadis yang mengalami sebuah takdir aneh. Jiwaku tertukar dengan seorang gadis lain. Saat ini jiwaku terperangkap dalam tubuh seorang gadis bernama, Vermouth.)
.
.
Sherry ingin melatih pukulan dan tendangannya lebih intens. Dalam tubuh Sherry yang asli, dia memang lebih pandai dalam serangan memakai kaki. Front kick, back kick bahkan side kick sangat di kuasainya dengan baik oleh Sherry.
Bukan berarti pukulannya tidak berarti. Pukulannya tetap menjadi pertahanan kuat bagi Sherry. Hanya saja setelah masuk ke dalam tubuh Vermouth, keduanya terlihat melemah dan payah. Baik tangan maupun kaki tidak bisa menciptakan serangan yang sangat kuat. Itu melukai harga diri Sherry yang sudah latihan bertahun-tahun kini justru lenyap dan kembali lagi ke awal.
"Lebih keras!" teriak Edgar. Ini bukan keegoisan seorang Edgar yang tidak terima di cemooh oleh seorang gadis, tapi karena keinginan Sherry sendiri.
Tadi, secara terbuka Sherry meminta Edgar untuk bisa membantunya berlatih.Saat itu, semua mata sangat terkejut mendengar permintaan aneh Sherry.
Bagaimana bisa, dia yang baru saja punya riwayat cerita buruk dengan Edgar malah ingin meminta dilatih olehnya. Lido tidak percaya gadis itu sangat antusias ingin berlatih dengan Edgar. Dia adalah salah satu saksi saat di cafe itu.
"Kau sudah gila?!" tanya Edgar tidak percaya. "...atau kau terlalu percaya diri bisa mengalahkanku jadi berusaha menjadikanku lawan tanding?!" geram Edgar kasar.
"Tidak. Aku tidak sedang menyombongkan diri dengan memintamu menjadi lawan tanding. Aku hanya ingin di latih olehmu, itu saja," jelas Sherry dengan wajah datar dan sedikit menekuk tubuh.
"Lalu apa alasanmu?!" tanya Edgar tetap kasar dan tidak sabar.
"Karena aku tahu kamu adalah salah satu orang terkuat yang aku yakin bisa melatihku dengan baik."
"Aku tahu kau sangat licik. Mulutmu pasti juga pandai bermain kata-kata," makian secara terbuka di lontarkan. Hhh... Sherry menghela napas.
"Aku tidak tahu kenapa kamu seperti itu padahal aku sudah meminta dengan baik-baik." Sherry juga akhirnya lelah bersikap baik. Dia jadi ingin mempermainkan Edgar lagi.
Semua menatap ke arah Sherry dan Edgar. Melihat keberanian Sherry yang sepertinya tanpa batas membuat mereka takjub juga takut. Semua berdebar dan merasa tegang. Apalagi sensasi yang akan mereka buat setelah ulah di cafe itu?
Sherry agak dongkol dengan sikap.sok jual mahal juga kehati-hatian cowok itu. Itu juga bukan salah Edgar, Sherry sendiri sudah mampu membenamkan pikiran semacam itu di dalam tempurung otak milik Edgar.
Edgar perlu merasa berhati hati dalam mengambil langkah jika menyangkut gadis yang dianggapnya gila ini. Edgar harus waspada. Namun demi tujuannya Sherry menekan rasa marahnya kepada Edgar karena mulutnya meracau. "Aku bersungguh-sungguh..." ucap Sherry.
Mendapat latihan dari orang tidak sabar seperti Edgar adalah tantangan. Dia akan terus mendesak kita untuk belajar dengan lebih keras. Bukan karena mereka baik tetapi karena mereka ingin sedikit mengerjai.
Sherry paham itu. Semuanya akan menjadi cambuk bagi dirinya sendiri untuk belajar dengan sangat keras. Dia tipe orang yamg akan terus bangkit saat di tekan. Sherry paham sisi dirinya yang seperti itu.
Semua menanti jawaban Edgar. Melihat sikap sopan milik Sherry, mereka semua paham bahwa gadis itu bersungguh-sungguh. Devon tidak bisa menghentikan niatan anak baru itu karena itu bukan suatu masalah. Hanya saja meminta Edgar si temperamen menjadi pelatih sangat berani dan nekat.
Anak baru saja enggan bila di dekati Edgar. Selain takut karena kuatnya cowok itu, juga takut karena mulutnya yang kasar.
"Baiklah... sepertinya kau sangat terobsesi denganku."
__ADS_1
"Bukan. Aku hanya terobsesi dengan kekuatanmu," bantah Sherry yang membuat Edgar terkejut, gadis ini sanggup membantahnya. Alis Edgar bertaut. Sherry tidak peduli. Semua pun diam tidak ada yang sengaja memprovokasi. Jadi Edgar juga menjadi lebih tenang.
Sherry mulai melakukan tehnik pukulan terlebih dahulu menggunakan samsak tangan. "Lebih keras, Bodoh! Kau anggap itu pukulan, hah?! Memangnya kau sedang memukul apa?!" Itulah rentetan kalimat-kalimat yang di sertakan Edgar untuk melatih junior. Makanya junior selalu ketakutan jika mendapat jatah latihan dari senior Edgar.
Devon tidak suka. Namun melihat Sherry seperti menutup telinga akan ucapan kasar dari mulut Edgar, Devon hanya diam sambil memperhatikan.
Semua melihat ke arah anak hilang ini. Anggota baru yang telah menorehkan rekor membuat masalah dengan Edgar, sekarang menambah daftar rekor lagi, yaitu meminta dilatih senior temperamen macam Edgar.
Telinga mereka awalnya juga risih dan lelah mendengar rentetan kata-kata kasar itu. Semaki lama juga terbiasa. Sebenarnya mereka memang sering mendengar kata-kata kasar Edgar saat melatih di ruangan ini. Karena sekarang kata-kata kasar itu dia lontarkan untuk Vermouth yang awalnya di kenal pendiam, semuanya merasa tidak tepat. Juga kalimat itu tidak pantas jika ditujukan untuk wajah Vermouth yang cantik.
"Kenapa kalian semua melihatku, hah?!" teriak Edgar melihat semua orang yang latihan sedang melihatnya. Semua tersentak kaget.
"Kalian juga ingin dilatih sama Edgar?" tanya Sherry yang membuat semua kalang kabut dan kembali latihan.
"Ayo, kalau kalian ingin aku latih! Siapa saja yang tidak suka dengan pasangan latihannya, bisa latihan denganku!" Mendengar pembicaraan ini semua langsung semangat berlatih karena takut mendapat pasangan latihan dengan Edgar.
Devon tersenyum. Kombinasi mereka berdua membuat atmosfer baru dalam latihan hari ini. Mereka semua sangat bersemangat meskipun dalam artian lain.
Istilah pukulan yang digunakan Sherry ini adalah teknik pukulan yang lurus ke depan. Bila lawan berada langsung di depan, lengan disodok lurus ke depan dan sasaran dipukul dengan buku jari-jari dari kepalan depan. Pada waktu melepaskan pukulan, lengan yang memukul diputar ke arah dalam.
Sherry memperkuat pukulan dengan melakukan tiga cara yaitu pukulan lurus ke atas, pukulan lurus ke tengah, dan pukulan lurus ke bawah. "Lebih keras lagi! Memangnya kau sedang memukul agar-agar?! Kau sedang memukul orang!"
Kadang Sherry sedikit mendesis menahan tubuhnya yang masih menyisakan ngilu. Devon melirik sekilas.
Tidak! Ini hanya sebuah latihan.
Namun tubuhnya yang masih dalam proses pemulihan rupanya tidak sanggup menerima gerakan yang berlebihan. Sherry menghembuskan napas dengan kuat setelah mengambil napas panjang.
"Kau bisa latihan lebih ringan kalau ini dirasa tidak bisa." usul Devon. Edgar mulai melihat desis kesakitan saat meneliti raut wajah Sherry lagi.
Sebenarnya begini juga latihan ringan, tapi karena tubuh Sherry masih dalam masa penyembuhan saat menggerakkan tubuh lebih keras nyeri pada tubuhnya akan sangat terasa. Ngilu dan nyeri akan menyengat tubuh secara keseluruhan.
"Sebentar, aku duduk dulu."
"Ih, payah," gerutu Edgar.
Ada suara riuh di depan pintu.
"Hei, Rel!" seru Lido yang melihat Relly muncul di depan pintu ruang latihan. Semua menoleh ke arah pintu. Sherry yang tengah merasakan nyeri tidak mendengar kalau cowok itu muncul disana. Lido mendekat. "Tumben muncul di sini?"
"Aku ada perlu," jawab Relly tanpa memindahkan mata untuk melihat Lido. Dia masih tetap melihat ke arah sudut ruangan. Dimana Sherry duduk sambil merasakan kengiluan tulang-tulangnya.
"Kau datang, karena dia?" tanya Lido baru menyadari.
"Ya." Semua mata menatap Relly yang bukan anggota masuk kedalam ruang latihan. Edgar juga mengawasi, tapi mulutnya diam tidak berkomentar. Devon memutar tubuhnya dan melihat Relly.
__ADS_1
"Aku tidak sangka kau datang lagi setelah sekian lama berhenti menjadi anggota, Relly...," sapa Devon. Saat Devon yang berdiri dekat dengannya menyapa, Sherry baru sadar bahwa pemuda itu sudah ada di sana. Matanya melihat bingung. Kenapa cowok ini ada di sini, sih?
"Maaf mengganggu latihanmu, Devon. Aku ada perlu sedikit dengannya. Ijinkan aku menemui dia," pinta Relly sopan. Devon melihat ke arah Sherry. Dia tahu tubuh itu adalah penggemar abadi Relly, tapi dia baru tahu kalau Relly juga punya keperluan dengannya. Gadis yang dia tahu tidak istimewa di depan Relly. Walaupun cantik, Devon tahu Relly tidak pernah menganggapnya.
"Dia? Ve?" tanya Devon heran.
"Ya."
"Aku baru tahu kalau kamu juga sibuk mencarinya, itu sangat terbalik," tukas Devon dengan maksud yang Relly sangat pahami. Bibir Relly hanya menyunggingkan senyum tipis. Masih dengan wajah meringis menahan ngilu, Sherry memperhatikan Relly yang mulai menghampirinya.
Relly mendesah lelah melihat kekasih paksanya yang mulai berusaha duduk dengan sempurna, dengan maksud menyembunyikan rasa sakitnya.
"Kenapa kesini? Kamu ikut latihan?"
"Bukan. Aku menjemputmu."
"latihan belum selesai," ujar Sherry tidak suka.
"Sebenarnya apa yang kamu pikirkan? Tubuhmu masih dalam pemulihan. Jangan latihan semacam ini. Kerjakan saja tugas sekolah di rumah." Sherry mengkerucutkan bibir mendengar harus mengerjakan tugas sekolah.
"Itu tidak menyenangkan."
"Tidak semua yang harus kamu lakukan adalah hal yang menyenangkan. Jadi jangan membantah dan pulang. Saat ini kamu masih belum bisa latihan." hardik Relky tegas. Walaupun tidak dengan berteriak, Relly mengatakannya dengan serius dan tegas.
Sherry berdecak kesal.
"Devon, tubuhnya masih belum bisa di gunakan untuk latihan. Dia baru saja terjatuh hingga menyebabkan tubuhnya belum sembuh benar. Maaf, aku harus memaksanya pulang."
"Dia sakit?" tanya Devon dengan melihat Sherry tidak percaya. Bagaimana bisa seorang yang tubuhnya baru saja mendapatkan kecelakaan mendatangi ruang latihan ini. Juga meminta Edgar menjadi orang yang mengawasinya latihan.
"Sudah sembuh. Hanya saja belum bisa jika harus latihan fisik semacam ini. Maaf."
"Kenapa kau yang meminta maaf, Rel?" tanya Edgar yang juga mendengar pembicaraan mereka. Lebih tepatnya menguping. Setelah kejadian di cafe itu, Edgar heran Relly bersikeras menolong gadis itu. Dia juga mendengar bahwa gadis itu selalu beredar di sekeliling Relly, tapi dia tahu hubungan mereka tidak begitu dekat hingga Relly perlu maju dan akan menghadapi dia dan teman-temannya demi gadis ini.
"Dia gadisku," ucap Relly tanpa malu. Sherry menggeram di tempat duduknya. Dia malu. Relly dengar tapi tidak peduli. Pemuda itu sengaja membuat pengumuman untuk semua manusia di sekolah ini. Padahal hubungan ini terjadi karena ancamannya. Ini semua hanya terjadi karena Sherry tengah di ancam.
Tanpa malu dan rasa bersalah, Relly justru mengumumkan pada semuanya. Sherry mendengkus saat tubuhnya di giring untuk keluar ruangan oleh Relly. Semua mata memandangnya.
"Apa yang sedang di pikirkan Relly, Do?" tanya Nero.
"Bukannya dia enggak pernah menyukai gadis itu?" tanya Neymar juga.
"Aku tidak tahu," jawab Lido yang benar-benar tidak tahu.
__ADS_1