
...(Aku Sherry. Gadis yang mengalami sebuah takdir aneh. Jiwaku tertukar dengan seorang gadis lain. Saat ini jiwaku terperangkap dalam tubuh seorang gadis bernama, Vermouth.)...
Melihat Sherry berlari dengan sekuat tenaga untuk menghindari dua laki-laki di belakangnya, Relly menjalankan mobilnya untuk segera mensejajarkan dengan Sherry. Dia ingin segera menolong gadis itu.
Saat sudah ada di seberang gadis itu, Relly berteriak, "Sherry!" panggil Relly dengan suara di antara bahagia dan rindu. Sherry dan juga dua laki-laki yang mengejarnya menoleh. Bukan karena mereka tahu nama itu adalah nama gadis yang sedang di kejar mereka, tapi ... karena sangat jarang ada suara teriakan orang disini pada malam hari, spontan mereka juga menoleh ke seberang jalan saat ada suara orang lain.
Relly... Mata Sherry melebar. Kemudian nanar. Tidak menduga orang yang ingin di temuinya muncul di hadapannya. Sherry terpaku sambil menggigit bibirnya. Ia bahagia bisa bertemu dengan cowok itu. Jantungnya berdegup kencang. Rasa bahagia dan rindu memenuhi dadanya.
Aku rindu... ujar Sherry dalam hati. Airmatanya jatuh tanpa permisi. Sherry menangis.
Erik dan Relly keluar dari mobil. Dua laki-laki tadi menghentikan pengejaran karena ada orang lain disana.
"Dia teman gadis itu. Kita harus waspada."
Relly... Tanpa pikir panjang, Sherry segera menyeberang untuk menghampiri Relly. Kakinya berlari dengan lincah dan ringan. Seakan-akan rasa sakit yang di rasakannya tadi sungguh hilang. Relly juga ikut menyebrang untuk menyambut gadis itu. Sebentar lagi Relly bisa membawa Sherry untuk segera pergi dari tempat ini.
"Dia mau kabur. Jangan biarkan gadis itu lolos!!" Teriak salah satu dari mereka. Dua laki-laki ini segera ikut berlari untuk mencegah Sherry bisa sampai di seberang. Erick juga bergerak hendak menghalangi mereka. Sesaat sebuah lampu redup melesat dengan cepat.
BRAK!! Sebuah benturan terdengar sangat keras dari arah di tengah jalan. Erik terkejut. Begitu juga dengan dua laki-laki yang langsung menghentikan kaki mereka di seberang. Relly membelalakkan bola matanya. Di depan mereka tampak sebuah tubuh terpelanting dengan keras ke arah aspal. Sedikit jauh dari jarak awal berdiri.
"Sherry!!" teriak Relly histeris. Sherry tertabrak sebuah truk yang tidak menduga akan ada orang yang melintas di lokasi ini pada malam hari. Truk itu sempat berhenti, tapi saat melihat ada orang yang terluka parah, mereka ketakutan dan memilih segera pergi untuk kabur.
Relly berlari menuju tubuh Sherry yang terpelanting keras dan jauh beberapa meter dari tempatnya tadi. Erik berlari mengikuti Relly.
"Sherry... Sherry!!!" teriak Relly yang sudah ada di dekat gadis itu masih dengan kehisterisan yang sama.
Dari arah ilalang, Gio berdiri kaku disana menyaksikan tertabraknya putri Gio yang asli. Sebenarnya dia berniat mengejar Sherry juga, tapi saat melihat Relly putra pemilik rumah sakit besar itu, kakinya berhenti. Dia tidak harus menunjukkan jati diri di depan putra orang penting itu. Sangat tidak aman baginya jika menampakkan diri.
"Gadis itu tertabrak," ujar dua anak buah Gio panik. "Kita harus memberitahu bos. Cepat telepon dia. Dia akan tahu apa yang harus kita lakukan." Temannya menurut. Lalu menekan tombol panggil ke bos mereka.
Di antara kencangnya angin malam dan kesunyian tempat ini, dering ponsel dalam suara pelanpun akan sangat terdengar dengan jelas. Namun karena fokus pada tubuh yang tergeletak tak berdaya di atas aspal, Relly dan Erick tidak memperhatikan.
"Bodoh! Kenapa mereka meneleponku..." maki Gio pelan dengan panik. Lalu segera menerima telepon dari anak buahnya.
__ADS_1
"Bos, gadis itu..."
"Diam bodoh! Aku sudah tahu," desis Gio marah dengan suara tertahan. Dua orang ini bingung mendengar kata Gio, kalau dia sudah tahu.
"Bos, gadis itu ...," ujar laki-laki ini mengulang perkataannya. Dia tidak yakin bahwa bosnya sudah tahu apa yang terjadi.
"Aku bilang diam bodoh. Aku tahu gadis itu tertabrak truk. Aku tahu karena aku ada di sekitar kalian," desis Gio geram. Dua laki-laki ini menoleh ke kanan kiri mencari bos mereka. "Sebaiknya kalian segera pergi dari sana, sebelum pemuda itu tahu kalau kalian suruhanku. Cepat."
"B-baik, bos!! Tapi, gadis itu...."
"Dengan tertabraknya tubuh itu hingga terpelanting dengan keras dan jauh, bisa di pastikan dia tidak akan selamat. Aku harus berpura-pura sedang mencari putri dan putra tiriku. Aku harus berada di rumah."
"Oke bos. Siap."
...----------------...
...----------------...
"Sherry tetaplah sadar. Tetaplah bersamaku untuk sadar." Relly berusaha menstabilkan kesadaran gadis ini. Masih dengan darah mengalir dari kepala karena terkena benturan yang keras, Relly mendekap erat tubuh itu. Sherry bisa mendengar tapi matanya tidak sanggup terbuka.
Relly, aku rindu kamu. Aku ingin kamu mengajakku pergi seperti yang kamu lakukan biasanya. Aku tidak akan marah jika kamu memaksakan kehendak untuk tetap di sampingku sebagai pacarku. Aku terima.
Airmata menetes dari mata Sherry yang tertutup.
Aku ingin melewati hari-hari bersamamu lagi. Kamu bisa tetap mempedulikanku seperti biasanya. Aku suka. Aku suka di perhatikan seperti itu. Aku baru menyadari barusan. Sepertinya aku juga menyukaimu...
Erik sudah dengan sigap menelepon anak buahnya dan juga orang rumah sakit untuk menyelamatkan gadis tuan mudanya.
Napas Sherry terlihat mulai teratur. Gadis itu seperti akan tertidur dengan lelap.
"Tidak, Sherry. Tidak. Jangan tidur dengan lelap. Bangun. Bangun Sherry!!" Relly sungguh putus asa. Namun Sherry semakin tenang dalam tidurnya. "Erik! Dimana orang rumah sakit?! Apa mereka tuli?! Membangkang?! Apa yang sedang mereka lakukan?! Kenapa sampai sekarang mereka tidak datang ke tempat ini?!" Relly begitu marah hingga dia berteriak ke Erik yang sangat jarang ia lakukan.
Erik memahami situasi. Dia hanya diam. Pria yang seumuran dengan Daniel ini tahu keadaan tuan mudanya tengah panik dan ketakutan. Hingga emosinya memuncak.
__ADS_1
Tak lama mobil ambulan rumah sakit datang setelah datang mobil para anak buahnya terlebih dahulu.
"Cari sekitar lokasi ini dan padang ilalang. Temukan apapun yang mencurigakan di sana. Cepat!" perintah Erik.
"Baik!" Semua pengawal itu berpencar. Namun fokus mereka pada padang ilalang di sana. Karena lokasi awal yang di tunjukkan pria yang menelepon tuan mudanya adalah padang ilalang itu.
Sherry segera di bawa ke rumah sakit untuk segera di tangani. Kondisi gadis ini sangat mengkhawatirkan.
...----------------...
Di rumah sakit, dimana ibu Sherry di rawat. Tiba-tiba Ve merasakan sakit di kepalanya. Rasa sakit yang luar biasa hingga membuat gadis itu berteriak sambil memegangi kepalanya.
"Sakit! Kepalaku sakit sekali!" teriak Ve membuat Aska dan Hansel terkejut dan panik. Tubuh Ve yang sejak tadi duduk beralaskan tikar di atas lantai mengejang. Hansel memegangi tubuh itu. Sementara Aska memanggil perawat.
"Ve, tahanlah. Tahan. Aska sudah memanggil orang rumah sakit."
"Sakit, Hansel. Sakit ... Kepalaku sakit sekali. Aku tidak tahan dengan rasa sakitnya." Vermouth tak kuasa menahan rasa sakitnya hingga ia menangis.
"Aku tahu. Aku tahu. Bertahanlah..." Masih dalam isak tangis yang memilukan, Hansel memeluk tubuh Ve. Hansel berharap ibu Aska yang terlelap tidak terbangun saat ini juga. Itu akan membuat repot Aska. Hansel berulang kali melihat ke arah ranjang dimana ibu Aska terbaring. Untung saja dua ranjang di sebelah tidak ada pasien lain. Jadi ketegangan karena sakitnya Ve tidak mengganggu mereka.
Srekkk... pintu kamar terdorong menandakan bahwa ada yang masuk. Rupanya itu Aska dan seorang perawat. Di belakang mereka ada juga beberapa perawat laki-laki dan perempuan yang membawa ranjang beroda. Hansel segera mengangkat tubuh Ve dalam gendongannya, lalu memindah gadis itu ke atas ranjang.
Ve masih merintih kesakitan. Tangannya berulang kali mencengkeram rambutnya.
"Aku akan menemani Ve. Sebaiknya kamu tetap disini menjaga ibumu," ujar Hansel. Tidak ada pilihan. Aska akhirnya menurut. Dia membiarkan Hansel menemani Ve. Karena jika ibu terbangun, tidak mungkin Hansel harus menghadapi beliau.
Setelah teriakan Ve yang terakhir begitu keras, gadis itu pingsan.
"Ve, sadarlah. Ve..." ujar Hansel berusaha berkomunikasi. Namun tidak ada jawaban sama sekali. Ve pingsan. Rasa sakit di kepalanya itu membuat Ve pingsan. "Dia pingsan. Perawat, dia pingsan." Hansel panik melihat Vermouth yang memucat.
Aska yang tetap tinggal di dalam kamar pasien tidak tahu apa yang sedang terjadi pada Ve. Cowok ini termenung sendiri sambil duduk di dekat ranjang. Tiba-tiba Aska teringat pada kakaknya.
Sherry, ada apa? Kamu tidak apa-apa, bukan? Kamu tetap dalam keadaan baik bukan? tanya Aska dalam hati dengan rasa gelisah yang tiba-tiba muncul. Aska menghela napas panjang. Menatap keluar dimana Ve di bawa, lalu menatap ibunya.
Semuanya semoga baik-baik saja. Ibu, Ve dan ... Sherry.
__ADS_1