Diary Sherry

Diary Sherry
Aska


__ADS_3

...(Aku Sherry. Gadis yang mengalami sebuah takdir aneh. Jiwaku tertukar dengan seorang gadis lain. Saat ini jiwaku sedang terperangkap dalam tubuh seorang gadis bernama, Vermouth. )...


.......


.......


.......



Pulang sekolah kali ini Sherry dapat pencerahan dari Elda. Kabar baik menghampiri. Ibu suri memberi ijin untuk membeli handphone baru untuk Ve. Banyak sekali julukan untuk Nyonya Julia, si ibu tiri. Elda sempat bercerita dengan semangat kala itu. Saat dia mencoba berbicara perihal handphone baru.


"Ponsel baru?" respon Nenek sihir sudah begitu saat Elda membahas ponsel baru buat Ve.


"Pemborosan sekali harus beli ponsel baru. Memangnya kemana hapenya yang dulu?"


"Bukankah hilang saat insiden itu, Nyonya," kata Elda sebenarnya geram. Bagaimana bisa lupa tentang hal itu.


"Oh, saat dia bikin kehebohan itu? Baiklah ... Jangan yang terlalu mahal. Tidak boleh boros," ujar Julia memberi ijin.


Kata-kata boros itu seharusnya di layangkan untuk anda Nyonya... dengus Elda dalam hati


"Baik Nyonya."


Dengan begitu Sherry bisa jalan-jalan sore ini barengĀ  Elda.


"Baru pertama kali sejak jadi Ve aku bisa keluar jalan-jalan," kata Sherry senang.


"Jangan lupakan perjuanganku," kata Elda mengedipkan mata.


"Kau memang hebatttt!" Sherry mengacungkan jempol. Elda tersenyum bangga.


"Kamu memang lebih ceria di banding Ve."


"Aku ceria karena tidak tahu sebenarnya bagaimana perasaan Ver saat dia ada di dalam rumah itu. Walaupun sedikit demi sedikit aku mulai paham, tapi mustahil aku benar-benar bisa merasakan perasaan Ve sebenarnya. Lagi pula aku ceria juga terpaksa." Ve tersenyum muram. Elda yang menyetir di sampingnya melihat ekspresi sedih barusan.


"Tidak ada pilihan lagi selain tersenyum dan bersenang-senang, iya kan?" kata Sherry mengubah sendiri suasana menjadi ceria lagi.


"Iya, kamu harus begitu." Elda kasih semangat. Mungkin sebenarnya dia tersiksa berada di tubuh Ve. Siapa pun pasti tidak suka menjadi orang lain.


"Eh?" tiba-tiba Sherry melihat seseorang di pinggir jalan.


"Ada apa, Sher?" tanya Elda. Sherry mengerutkan kening berpikir.


"Tidak ada. Hanya salah lihat," kata Sherry segera.


Sepertinya aku melihat Aska barusan. Apa hanya halusinasi saja karena lagi kangen adik laki-laki ku.


__ADS_1


"Kita ke cafe itu dulu yok," ajak Sherry saat mereka selesai membeli ponsel. Elda setuju. Elda memesan dua minuman dan roti.


"Ngomong-ngomong kamu belum punya pacar ya?" tanya Sherry ke Elda.


"Hahaha ... aku sibuk mengurusimu jadi tidak sempat cari pacar."


"Ve seperti bayi yah? Bukankah kamu sudah usia menikah?"


"Aku tidak terlalu memikirkan itu. Suatu hari juga akan menikah," jawab Elda. Tipe orang yang enjoy nih. Lagi-lagi Sherry melihat Aska melintas.


"Aku keluar dulu ada perlu. Kamu disini saja jangan mengikuti aku."


"Hal penting?"


"Iya. Aku perlu kesana."


"Jangan terlalu jauh. Kalau kamu ketemu orang yang mengenal Ve, bisa bahaya." Sherry mengangguk. Lalu keluar dan segera mengikuti cowok yang memakai jaket warna biru itu. Dari belakang Sherry bisa melihat dengan jelas bentuk tubuh laki-laki muda di depannya. Gayanya saat berjalan dan juga earphone berwarna merah yang sedang di pasang telinga. Sherry hapal dengan itu.


Dia sedang membawa dua bungkusan besar di tangannya. Merasa di ikuti, cowok itu memutar tubuhnya.


"Aska ..." ucap Sherry pelan. Matanya berkaca-kaca. Sherry ingin menghampiri dan mengacak-ngacak rambut itu.


"Ada perlu denganku?"tanya cowok di depannya.


"Kamu tidak mengenalku?"


"Tidak." jawabnya tegas.


"Aku..."


"Aska! Tolong bantu kakak membawa ini, ya!" teriak seorang cewek yang baru keluar dari salah satu toko bahan-bahan kue.


"Iya, sebentar. Maaf aku harus membantu kakakku. Permisi," pamit cowok itu sopan.


Kakak? Bukankah aku adalah kakaknya. Siapa yang di maksud Aska kakak?


Jantung Sherry berdetak hebat. Sherry paham wajah itu. Wajah gadis yang memanggil Aska barusan. Itu tubuhku! Sherry Anugerah. Sherry langsung berbalik membelakanginya. Memasang topi hoodie agar tersamarkan. Berjalan perlahan.


"Kamu ngobrol sama siapa?" tanya gadis yang di kenal Sherry sebagai tubuhnya.


"Bukan siapa-siapa hanya salah orang saja." gadis itu melihat tubuh belakang Sherry. Memperhatikan siluet tubuh yang berjalan menjauh. Dia tidak mengenali tubuhnya sendiri karena gaya berpakaian yang sangat jauh dari kebiasaan.


"Oh ... ayo pulang. Ibu pasti menunggu bahan-bahan ini untuk membuat kue," ajaknya sambil tersenyum ceria.


Tanpa terasa Sherry meneteskan air mata.


Kenapa ini sakit. Padahal aku disini, tapi Aska tidak mengenaliku. Dia bilang gadis itu kakaknya. Jadi kau bahagia dengan tubuhku, Ve?!


Sherry menghapus air matanya segera. Lalu melangkah kembali menuju cafe. Elda menunggu cemas.

__ADS_1


"Ada apa?" tanya Elda setelah Sherry kembali.


"Tidak ada." Sherry memaksa wajah ceria.


"Bukankah kamu bilang hal penting?"


"Iya, tapi sepertinya bukan. Aku salah, hehehe."


"Kamu seperti tidak sehat. Ayo kita pulang."


"Aku habiskan dulu camilan ini lalu pulang," kata Sherry yang melihat masih ada makanan di atas meja. Elda menurut. Setelah selesai, mereka pulang ke rumah.


Di rumah Ibu tiri menyambut dengan wajah di tekuk.


"Besok di rumah ada perjamuan makan. Jangan telat pulang sekolah," ujar beliau ketus.


"Ya." Sherry malas membalas omongan Ibu suri karena malam ini dia ingin segera ke kamar.


"Elda tolong bawa makanan ku ke kamar ya,"


"Baik Nona."


Sherry menaiki tangga dan segera masuk kamar. Setelah melempar waist bag ke lantai, Sherry tertelungkup di kasur.


Jelas tadi itu adalah Aska, adikku. Dan dia ... tubuhku itu. Aku yakin ada jiwa Ve di dalamnya. Bagaimana bisa dia bersikap normal menghadapi takdir aneh ini?


Dia mungkin merasa bahagia dengan keluargaku. Karena di banding di sini yang penuh harta tetapi minim kasih sayang, jelas dia lebih bahagia bila harus menjalani hidup sebagai Sherry Anugerah.


Ibu ...Aku rindu kalian. Aska sadarlah...dia bukan kakakmu.


Sherry mendatangi sekolah Aska yang tak lain adalah sekolahnya sendiri. Namun Sherry tidak begitu saja kesana dengan memakai seragamnya. Dia kesana dengan ganti pakaian yang sengaja di bawanya dari rumah. Juga memakai jumper untuk menutupi kepala. Dan juga masker untuk menutupi wajahnya.


Dia tidak mau kedatangannya membuat jiwa Ver yang berada dalam tubuh Sherry asli akan kaget kalau seandainya mereka bertemu. Dan bisa saja melakukan tindakan yang aneh pada tubuhnya. Setelah menunggu beberapa menit, Aska muncul bersama dua temannya, Sabo dan Aldo. Sherry sangat hapal dengan dua sahabat adiknya itu. Mereka sering takjub melihat kehebatan Sherry bertarung. Lalu secara heboh memuji Sherry secara berlebihan.


"Permisi ...," ujar Sherry seraya mendekati adiknya itu. Melihat ada orang yang sepertinya mengajaknya bicara, Aska berhenti. Meneliti cewek yang membungkus tubuhnya dengan rapi seperti idol yang takut ketahuan penggemarnya. Sabo dan Aldo menoleh dengan kaget. Ikut meneliti juga.


"Aku ada perlu dengannya, bisa kan?" tunjuk Sherry ke arah Aska.


"Siapa, Ka?" tanya Aldo. Aska mengedikkan bahunya.


"Siapa kamu?" tanya Aska menyelidiki sosok di depannya.


"Aku ingin membicarakan sesuatu, tapi jangan disini." Sherry melihat ke kanan dan ke kiri. Begitu mencurigakan.


"Kenapa? Kalau ada perlu silahkan bicarakan di sini saja," ujar Aska tidak suka.


"Tidak bisa. Ini pembicaraan hanya denganmu, Aska." Terpaksa Sherry menyebut nama adiknya itu. Karena Aska memaksa bicara di sini, dan itu tidak mungkin. Mendengar namanya di sebut oleh orang asing, Aska sedikit tertarik.


"Siapa kamu, kenapa bisa tahu namaku?"

__ADS_1



__ADS_2