
...(Aku Sherry. Gadis yang mengalami sebuah takdir aneh. Jiwaku tertukar dengan seorang gadis lain. Saat ini jiwaku terperangkap dalam tubuh seorang gadis bernama, Vermouth.)...
.......
.......
.......
"Kau membawa seorang cewek ke sini, Han? Tumben ...," tanya Eliot heran.
"Bukan. Aku tidak membawanya. Dia datang dengan sendirinya ke sini." Mendengar itu justru membuat mereka berdua semakin takjub. Mereka langsung memperhatikan Sherry. Gadis ini makin bingung dan heran. Nyam...nyamm... mulut Sherry tidak berhenti mengunyah potongan roti sandwich terakhir. Lalu melipat bungkus plastik dan memasukkannya ke saku. Jorok! Bukan, mencoba menjaga kebersihan. Nanti kalau ada tempat sampah bisa membuang plastik kemasan itu. Kalau ingattt, Wkwkw...
"Lihatlah sikapnya. Santai sekali." Dexy merasa takjub.
"Hei, ada perlu apa kau datang kesini?" tanya Eliot.
"Memandang pemandangan ini," kata Sherry sambil menunjuk pemandangan dari atap sekolah dengan polos. Ini bukan kiasan. Sherry naik kesini memang berniat seperti itu. Dexy cekikikan karena merasa geli lihat santainya sikap Sherry. Dan Sherry sering tidak paham sendiri orang-orang selalu merespon dengan aneh setiap jawabannya saat di tanya.
Padahal Sherry menjawabnya dengan jujur. Tidak sedang lagi melucu atau sedang bercanda. Eliot meneliti. Cowok ini lebih diam dari cowok berbadan gede. Hansel juga sedang melihatnya.
"Maaf aku sudah mengganggumu. Aku akan pergi jadi kamu bisa melanjutkan tidur," kata Sherry dengan sedikit membungkuk sopan. Sherry paham jangan bertingkah sembarangan. Lalu melangkah pelan menuju pintu. Lagi-lagi Dexy tertawa terpingkal-pingkal melihat tingkah gadis ini. Air matanya sampai keluar.
"Baru kali ini liat cewek setenang itu di depan Hansel," Dexy mulai mereda dari tawanya berkomentar.
"Biasanya cewek-cewek itu entah heboh karena mukamu ganteng atau diam gemetar karena reputasi mu. Tapi dia ... pfft ... Dia sangat tenang. Sangat santai." Dexy masih tidak bisa berhenti ketawa.
"Kalau gak salah dia anak 2d." Eliot ingat.
"Kau mengenalnya?" tanya Hansel.
"Tidak. Anak cewek di kelas kita sering menjahilinya," ungkap Eliot.
__ADS_1
"Dia?" Dexy paling terkejut dengar itu. "Cewek dengan sikap cuek bebek itu?"
"Aku tidak terlalu jelas mungkin juga salah. Tapi wajah cantik itu enggak asing kok." Eliot gak yakin. Hansel diam berpikir.
Bukankah dia yang melihatku waktu itu. Saat melihatku menghajar seseorang? Aku yakin dia cewek yang waktu itu. Tapi hari ini dia terlihat berbeda. Dia terlihat cuek dan masa bodoh melihatku disini. Tidak seperti waktu itu. Apakah aku salah mengenali?
Sherry sudah sampai di lorong kelas. Ada Relly dan Frans lagi ngobrol di depan kelas.
"Halo, Ve," Frans menyapa. Sherry tersenyum ramah. Teett!! bel berbunyi. Pas sekali saat Sherry sudah datang.
"Ayo masuk, Ve."
Frans ini memang baik atau mengira aku bayi sih. Aku denger kok bel berbunyi. Jadi pasti aku bakal masuk ke kelas. Dan gara-gara sapaanmu aku jadi tahu kedua mata itu melihatku terus.
Relly menatapnya. Lebih tepatnya menatap tubuh Ve. Karena tubuh itu memang fisik Ve. Dari kedatangan Sherry sampai tempat duduknya, Relly terus saja menatapnya.
Kenapa itu cowok selalu melihat ke arahku sih. Mungkin dia sedang berpikir sesuatu tentang Ve. Apakah aku sangat mencolok? Tidak. Aku melakukan semua kegiatan dengan biasa saja. Tidak ada teriakan atau makian. Semua aku lakukan dengan selembut mungkin. Kata Elda, Ve itu sangat baik.
Eh, enggak juga sih. Tadi sempat bicara agak kasar ke cowok di atap tadi. Hansel. Tapi kan itu cowok tadi bukan dia. Dan lagi tadi aku sudah membungkuk sopan karena mengganggu tidurnya. Berarti aku kan sudah bersikap baik seperti Ve. Hh....sabar, sabar.
Kenapa dia terasa asing sekali. Aku seperti melihat orang lain, pikir Relly.
"Ve, kamu mau ikutan ekskul apa?" tanya Frans menghampiri Sherry. Ekskul? Sherry tidak paham soal itu. Pulang sekolah dia langsung keluyuran nongkrong bareng teman cowoknya. Atau kalau enggak, mengikuti Aska dan teman-temannya.
Jadi ingat saat mengikuti Aska diam-diam. Hampir saja Aska melayangkan tinjunya lantaran mengira itu adalah musuhnya. Aska langsung marah melihat Sherry nyengir tanpa dosa. Walaupun sebenarnya Sherry bisa menghindar, kalau seandainya Aska tadi tidak sempat menghentikan tinjunya. Aska tetap marah. Sherry tersenyum sendiri. Frans menatap aneh.
"Harus ya ikut ekskul?" tanya gadis ini.
"Iya. Itu masuk dalam raport lho. Kalau biasanya kamu gak ikut apa-apa, tapi aku saranin ikut ekskul satu saja. Buat tambah nilai ... Ya, meskipun nilai kamu sudah yakin bagus."
Di sekolahku dulu gadis ini enggak terlalu memperhatikan nilai. Meskipun begitu dia juga bukan peringkat terakhir. Kalau dulu ikutan karate.
__ADS_1
"Ekskul ... bela diri, karate?" tanya Sherry ragu. Mendengar ini, bukan hanya Frans yang heran, Relly yang ada di bangku sebelah sekilas menoleh.
Hei ... kamu mendengar obrolan aku dan Frans yah ...hohoho.
"Wah ... kemajuan nih kalau Ve bisa ikut ekskul itu." Frans ini cowok sangat baik. Sebenarnya dia sangat terkejut tadi, tapi sekarang mencoba memberi komentar positif. Pasti sangat mencolok. Ve yang penyakitan, penakut, dan pemalu mana mau ikut kegiatan seperti itu.
"Tapi tidak masalah dengan tubuhmu?" tanya dia khawatir. Sherry langsung tahu diri.
"Iya, ya ... hahaha bercanda kok. Gak mungkin ya aku ikut ekskul itu. Aku ikut ekskul yang lain deh." Sherry tertawa garing sambil mengibas tangannya di depan Frans. Seperti ketahuan lagi bikin salah.
Jangan ikut kegiatan ekstreem seperti itu. Lihat tadi ekspresi mereka berdua. Hah, berdua? Sherry melihat ke samping. Cowok itu memang sedang melihatnya. Bukannya aku ngomong sama Frans aja bukannya sama dia, si Relly. Bahaya nih ... pelan-pelan aja dulu. Jangan langsung berubah.
"Gimana kalau semacam PMR?"
Aduh. Kok kegiatan itu ... Memang sih itu layak untuk tuan putri ini. Seperti melakukan kegiatan amal, tapi ... Sherry meringis dalam hati membayangkan harus melakukan kegiatan itu. Okelah sangat cocok dengan Ve.
"Oke. Nanti aku bantu bilang ke ketuanya ya." Frans antusias.
Terserah deh.
"Terima kasih," jawab gadis ini. Frans mengangguk sambil tersenyum. Frans itu bagai malaikat pencerah.
"Kamu mau nambah ekskul gak?" tanya Frans ke Relly.
"Tidak perlu," sahut Relly datar.
"Iya ya basket itu hidupmu." Frans mengucapkannya dengan sedikit mengejek. Relly tidak peduli. lalu dia pergi ke anak lain. Padahal masih banyak yang di tanyain, tapi Frans sengaja ke meja Sherry dulu.
Basket. Kamu suka basket ya ... kayak adikku. hh...apa-apa inget sama keluarga. Sherry mengedip-ngedipkan matanya. Sok-sok kelilipan. Karena tiba-tiba berkaca-kaca.
__ADS_1