Diary Sherry

Diary Sherry
Vermouth_Menunjukkan diri


__ADS_3


...(Aku Sherry. Gadis yang mengalami sebuah takdir aneh. Jiwaku tertukar dengan seorang gadis lain. Saat ini jiwaku terperangkap dalam tubuh seorang gadis bernama, Vermouth.)...


Suasana semakin tegang karena Gio tidak lagi menyembunyikan diri sebagai seorang penjahat. Dia tidak lagi berpura-pura menjadi Gio asli, karena dua orang yang punya peran utama di dalam rumah ini sudah mengetahui siapa dia sebenarnya.


Elda yang berada di luar kamar juga di cekal oleh anak buah Gio. Melihat Elda tadi berontak dan ingin memaksa masuk ke dalam ruang kerja karena mendengar teriakan Ve, anak buah Gio juga perlu mengamankan perempuan ini.


Pintu ruang kerja terbuka. Muncul Gio bersama anak buahnya.


"Kumpulkan semua orang yang berada di rumah ini di ruang tengah," ujar Gio memberi perintah dengan wajah serius. Percakapannya dengan Ve dan Julia di ruang baca sempat membuat para penghuni rumah ini terkejut. Terutama saat Ve berteriak histeris.


Elda yang berdiri di luar melebarkan mata mendengar perintah Gio. Napasnya masih memburu karena ingin menerobos masuk.


"Kenapa di kumpulkan semuanya bos?" tanya anak buah Gio.


"Aku akan membuat peraturan baru di rumah ini. Mereka semua pasti sudah medengar keributan di ruang baca barusan. Tentu banyak yang berpikir di rumah ini ada suatu perkara besar. Cepatlah, panggil mereka!" Gio tidak sabar.


"Baik boss!"


"Dia mau di apakan bos?" tanya anak buah Gio yang lain sambil mencekal Elda. Kali ini Gio melihat ke arah pengasuh Ve itu. Elda gemetar saat Gio memandangnya sejenak. Sorot mata Gio menusuknya. Hanya sekilas saja mampu membuat Elda terintimidasi. Kepalanya menunduk perlahan.


"Kau Elda bukan?" tanya Gio rupanya mengenali dirinya. Elda menengadah sedikit. "Kau juga pasti sudah tahu siapa aku dari nonamu." Elda menahan mulutnya untuk tidak mengeluarkan cacian. Itu membahayakan. Di depannya ini bukan orang biasa. Dia penjahat. "Jadi kau juga sangat berbahaya bagiku. Seret dua perempuan di dalam ruang kerja. Kumpulkan mereka semua di ruang tengah. Aku akan mengurusi penghuni rumah ini."


Dari dalam ruang kerja, Ve dan Julia di gelandang oleh orang-orang dengan todongan pistol di belakang mereka. Elda terkesiap melihat pistol itu.

__ADS_1


"Nona ..." Elda berusaha menangkap tubuh Ve yang di dorong oleh mereka. Namun anak buah Gio menahannya. Julia kemudian ikut mendekat ke arah Elda.


"Lepaskan saja dia. Kalian bisa menembakkan pistol kalian jika kita melakukan sesuatu tanpa mencekal tangan." Julia meminta orang itu melepaskan tangan Elda. Perkataan Julia benar. Kecepatan pistol yang ada di tangan mereka pasti lebih mampu melumpuhkan perempuan-perempuan ini jika bersikap melawan sekarang. Akhirnya orang itu mau melepaskan pergelangan tangan Elda.


Setelah lepas, Elda mendekat ke Ve. "Nona tidak apa-apa? Aku mendengar teriakan tadi," tanya Elda cemas.


"Aku tidak apa-apa," jawab Ve dengan suara serak. Sejak tadi dia menangis di dalam.


"Dan nyonya bagaimana?" tanya Elda ikut menanyakan keadaan Julia, karena dia tahu perempuan ini mulai sadar. Dia tidak lagi menjadi orang jahat. Mereka sekarang sekutu.


"Aku juga tidak apa-apa," jawab Julia sambil memegangi putrinya.


*


Semua penghuni rumah ini berkumpul di jadikan satu di ruang tengah. Mereka bersikap biasa dengan pengumpulan semua orang di sini. Tidak ada raut wajah heran atau penasaran.


Kemudian mendekat ke arah bi Sarah dan Ijah yang berdiri berdekatan. Dia kebingungan dengan berkumpulnya semua.


"Mulai hari ini aku larang kalian menerima tamu kecuali atas perintahku. Tidak boleh ada yang keluar dari rumah ini sebentar saja, kecuali aku dan orang-orangku yang memberi perintah."


"Itu tidak mungkin, Tuan. Bukankah ada nyonya Julia dan Ve disini. Mereka pasti akan kedatangan tamu. Teman atau ..."


Brak! Gio memukul keras meja di depannya. Memotong kalimat Bi Sarah seketika.


"Tidak ada kata tidak setuju. Aku memberi kalian pekerjaan baru sekarang. Tutup mulut kalian jika ingin selamat. Anak buahku akan mengawasi kalian semua satu persatu," desis Gio dengan wajah kejamnya. Anak buah Gio yang berada di sekeliling ruangan memasang wajah bengis. Lola dan Ijah sontak memegang lengan Bi Sarah.

__ADS_1


Entah sejak kapan anak buah Gio berada dalam rumah ini. Mereka ternyata menyaru menjadi pekerja di rumah ini. Sopir dan tukang kebun adalah anak buah Gio. Bukan. Sepertinya hampir semuanya adalah anak buah Gio.


Melihat wajah mereka datar saat mendengar perintah dari Gio, itu menunjukkan mereka tidak terkejut. Hanya bi Sandra, Ijah dan Lola yang benar-benar tidak paham situasi di dalam rumah ini. Saat ini mereka memperlihatkaj ketakutan mereka.


Julia memandang sinis ke arah Gio yang duduk di kursi dengan pongah. Bu Sarah juga berdiri dengan tenang. Beliau tidak takut. Meskipun tadi sempat terkejut dengan semua keanehan ini. Ijah memegang erat lengan bu Sarah. Gadis ini ketakutan. Begitu pula Lola. Jika biasanya dia bersikap arogan terhadap beliau, sekarang tubuhnya ingin mendekat ke tubuh beliau.


"Lakukan pekerjaan dengan normal. Gerakan mencurigakan akan di ketahui orang-orangku. Kalian tahu akibatnya jika melanggar apa yang aku perintahkan. Jadi berhati-hatilah ..."


Gio membubarkan orang-orang dengan menyisakan rasa takut. Kemudian Gio memerintahkan anak buahnya mengurung mereka Julia, Ve dan Elda. Namun tidak dalam satu ruangan. Mereka di pisah.


"Kalian tinggal saja dulu di sana sebelum aku membereskan kalian. Besok kita bisa melakukan eksekusi," ujar Gio tersenyum bengis.


***


Air mata Elda menetes. Inikah akhir dari hidupnya. Sungguh tragis. Sebentar lagi Gio akan membereskan mereka bertiga terlebih dahulu. Itu berarti tidak ada kata lolos dari maut ini.


Dia terduduk di lantai sebuah ruangan yang ada di bawah tanah. Entah sejak kapan ada ruangan seperti ini di dalam rumah. Tiba-tiba sesuatu bergetar dari dalam sakunya. Elda terkejut. Tangannya yang terbebas segera merogoh ke dalam saku celananya. Agak dalam. Ternyata sebuah ponsel!


Karena merasa dia hanya seorang pelayan, keteledoran tidak memeriksa tawanan di lakukan anak buah Gio.


Seperti mendapat anugerah, Elda segera mencari nomor Sherry untuk meminta bantuan. Berkali-kali di telepon, tidak ada yang menjawab. Elda hampir putus asa. Air matanya menetes lagi. Jika kali ini dia yang sudah di beri kesempatan mencari bantuan gagal, dia dan seluruh pelayan rumah ini akan binasa. Terutama Ve, Julia dan dirinya terlebih dahulu.


Ayolah, Sherry ... Angkat teleponku. Aku sangat membutuhkanmu. Elda merapal doa. Walaupun dia sendiri tidak tahu bantuan apa yang bisa Sherry lakukan untuknya, tapi dia sangat berharap ke ajaiban datang.


Bukankah Sherry mendapat keajaiban karena hatinya tulus membantu?

__ADS_1


"Ya, Elda ada apa?" tanya Sherry setelah sekian lama tidak mengangkat teleponnya. Akhirnyaaaa ....



__ADS_2