Diary Sherry

Diary Sherry
Vermouth_Kejadian itu


__ADS_3


(Aku Sherry. Gadis yang mengalami sebuah takdir aneh. Jiwaku tertukar dengan seorang gadis lain. Saat ini jiwaku sedang terperangkap dalam tubuh seorang gadis bernama, Vermouth.)


Elda yang di beri tugas untuk menemani Sherry oleh Nyonya Julia, kebingungan. Saat menuju toilet yang di tuju, Sherry tidak ada di sana. Lalu dia pergi mencari ke sekitar toilet. Berkeliling kesana kesini mencari Sherry.


Daniel yang telah menyelesaikan sambutannya kembali ke toilet lagi. Namun dia tidak bisa menemukan tanda-tanda Sherry berada di sana. Daniel hendak menyerbu masuk ke dalam toilet wanita untuk memeriksa, tapi di dalam masih ada beberapa wanita.


Mereka yang sedang melintas, membungkuk dan memberi sapaan kepada Daniel yang merupakan atasan mereka. Juga tidak berhenti menatap aneh, karena Daniel berdiri di depan toilet wanita dengan gelisah. Elda yang datang kemudian bingung mendapati Daniel yang juga muncul di sana tanpa Sherry.


"Tolong cepat masuk ke dalam toilet dan ajak Sherry keluar dari sana," pinta Daniel tidak sabar.


"Saya sudah datang ke sini tadi, Tuan. Namun dia sudah tidak ada disini. Handphone-nya juga tidak bisa di hubungi," kata Elda dengan wajah cemas.


Dimana Sherry? Rasa panik langsung menyerangnya. Daniel juga merasa bersalah sudah meninggalkan Sherry yang kesakitan tadi.


.


.


Berbeda situasi di toilet gedung perusahaan keluarga Vermouth, yang kebingungan akan menghilangnya Sherry dari sana, dengan rumah sakit dimana Sherry sekarang berada.


Dia sedang berbahagia saat ini, karena Relly sengaja memberikan apa saja yang di inginkan Sherry, meskipun itu hanya iseng belaka. Relly mampu mengerahkan anak buah Erick untuk mencarikan makanan yang di inginkan Sherry. Relly ingin agar tubuh gadis ini kembali sehat.


"Aku harus memanggilmu apa?" tanya Relly yang masih duduk di tepi ranjang. Menemani Sherry yang makan dengan lahap. Gadis ini tidak mencoba tampil manis seperti Ve, biasanya. Relly memperhatikan bagaimana mulut Sherry penuh makanan dan mendongak ke arahnya.


Tangan Relly mengambilkan segelas air dan menyodorkan ke Sherry. Menyuruhnya minum karena dengan mulut penuh, bisa membuatnya sulit menelan. Sherry menggeleng menolak anjuran Relly. Matanya terbuka, seraya bibirnya menggeram karena Sherry tidak menurutinya.


"Minum. Aku tidak mau melihatmu tersedak," paksa Relly seraya tetap mendesakkan gelas ke tangan Sherry. Akhirnya Sherry menerima gelas itu dan meminumnya. Setelah meminumnya, gadis ini memberikan ke Relly.


"Kenapa bertanya seperti itu?" tanya Sherry.


"Aku sudah bilang, aku tahu dirimu. Kalau tubuh yang di rumah sakit itu kamu, berarti kamu punya nama sendiri bukan?" Sherry menatap roti berlapis keju parut dan keju leleh. Juga ada sosis di dalamnya. Sherry tahu roti ini di dapat dari toko dengan brand yang sudah tidak di ragukan lagi kelezatannya. Dia mendengarkan pertanyaan Relly, tapi juga sedikit mengabaikan.


"Panggil saja seperti biasanya. Toh tubuh ini sama, tidak ada yang berubah." Sherry membiarkan Relly tidak mendapatkan jawaban. Makanan Sherry hampir tuntas saat ini.

__ADS_1


"Kau jelas-jelas bukan Vermouth. Kenapa aku harus memanggilmu dengan nama itu?" tanya Relly tidak peduli raut wajah Sherry kesal dapat pertanyaan itu.


"Karena tubuh dan wajahku milik Vermouth," ujar Sherry memaksa kepalanya mendongak. Melebarkan mata dengan kedua tangannya yang melebar. Merasa itu sudah semestinya. Relly tidak peduli dengan ekspresi itu. Dia memutar otak, mencari nama panggilan untuk Sherry.


"Sayang?" tanya Relly menemukan ide untuk memanggil Sherry.


"Hah?" Sherry terkejut.


"Apa aku harus memanggilmu dengan itu?" Mata Sherry membulat tidak setuju. Lalu bergidik ngeri mendengar ide Relly.


"Berhenti berpikir akan memanggilku dengan panggilan itu. Panggilan itu membuatku tidak nyaman.." Mohon Sherry. Relly melirik dan tak bereaksi saat Sherry masih bergidik ngeri.


"Padahal panggilan itu sangat wajar bagi sepasang kekasih."


"Benar, tapi bukan kita."


"Aku merasa senang saat kau menyebut kita." Sherry gusar karena Relly ternyata lumayan bebal.


"Sudahlah. Oh, ya.. Kenapa kau memakai setelah jas resmi seperti ini?" tanya Sherry akhirnya mengganti topik. Sebenarnya matanya sudah silau sejak tadi, saat melihat pemuda ini memakai setelan jas yang sangat pas dan membuatnya menawan.


"Dan kenapa bisa muncul di perusahaan milik papa Vermouth?"


"Begitulahh.." jawab Relly ngambang.


"Jugaa... siapa mereka? Orang-orang berpakaian hitam-hitam itu," ujar Sherry menunjuk ke arah luar pintu dengan dagunya. Relly hanya menoleh ke arah pintu lalu melihat ke arah Sherry lagi. Relly hanya tersenyum tipis. Lagi-lagi tidak menjawab.


"Siapa orang itu?" tanya Relly justru memberi pertanyaan padahal pertanyaan Sherry saja belum terjawab.


"Orang yang mana?" Sherry tahu Relly tidak menjawab pertanyaanya, tapi dia abaikan. Dia tidak merasa harus memaksa Relly menjawabnya. Jadi Sherry coba merespon pertanyaan Relly yang di ajukan padanya.


"Orang yang membawamu dan mendorongmu di tangga darurat?" selidik Relly. Masih ingat dengan jelas kejadian tadi. Sherry mulai serius.


"Aku tidak tahu. Aku juga tidak bisa melihat dengan jelas wajah itu," jawab Sherry seraya ikut berpikir juga.


"Sungguh aneh ada yang berani melukaimu dalam pesta perusahaanmu sendiri. Apakah ada orang yang kau curigai ingin mencelakaimu?"

__ADS_1


"Aku tidak yakin. Seperti yang kau tahu, aku bukan Vermouth, jadi aku tidak paham siapa yang ingin melukainya. Saat ini yang paling menonjol tidak menyukai Ve dan suka melakukan hal buruk pada Ve adalah mama Ve, Nyonya Julia. Ibu tiri berwajah cantik tetapi berhati jahat," terang Sherry.


"Ibu tiri? Oh... jadi berita papa Ve yang menikah lagi itu benar?"


"Kau mendengarnya Rel?" Relly mengangguk.


"Selain itu siapa lagi yang bisa kau curigai?" Sherry menggeleng.


"Namun semua orang bisa di anggap mencurigakan karena, takdir aneh milikku, yang membuat jiwa kita tertukar adalah kecelakaan itu. Kecelakaan yang di anggap...," Seperti tersadar oleh sesuatu, Sherry mendongak melihat Relly.


"Ada apa?" tanya Relly heran.


"Kenapa aku harus menceritakan semuanya padamu?" Sherry menautkan alisnya.


"Karena aku adalah kekasihmu," jawab Relly dengan santainya. Sherry memutar bola matanya dengan malas. Relly terkekeh pelan, "Siapapun aku, aku akan membantumu. Jadi tetaplah bercerita hingga aku bisa mengerti soal takdir anehmu juga soal Vermouth," lanjut Relly. Sherry berpikir. Apakah perlu menceritakan semua atau tidak.


"Aku hanya ingin membantu kekasihku, tak lebih...," ulang Relly. Rupanya Relly sangat menyukai kata kekasih yang di sematkan dengan pemaksaan olehnya, "Juga, ini bukan hal yang bisa di anggap remeh. Kalau ada seseorang yang sengaja ingin mencelakaimu, berarti ini masalah serius." Relly juga berwajah serius.


"Benar."


"Aku sudah berjanji tidak akan mengorek soal dirimu yang asli. Aku janji... Aku tidak mau membuatmu tidak nyaman." Relly berusaha meyakinkan. Sherry mengambil napas sejenak.


"Baiklah.. Ada yang ingin sengaja mengaburkan berita kecelakaan yang membuat jiwaku tertukar dengan Ve sebagai bunuh diri..." Akhirnya Sherry memaparkan kisah sebenarnya. Relly mendengarkan dengan seksama. Bola matanya sempat melebar sekejap saat mendengar penuturan Sherry barusan.


"Bagaimana kau tahu itu bukan bunuh diri?"


"Aku ada disana. Di tempat terjadinya kecelakaan itu. Aku yang menolong Ve untuk menghindarinya dari sepeda motor yang ingin menabraknya. Aku sangat yakin itu kesengajaan, bukan kecelakaan biasa."


"Sangat yakin?" Relly menyipitkan matanya.


"Aku memperhatikan lelaki yang awalnya hanya duduk di atas motornya tanpa melakukan apa-apa. Seperti mengawasi seseorang. Aku tidak berpikir yang lain. Saat Ve yang ada di sebelahku ingin menyeberang, laki-laki itu segera menyalakan motornya dan melaju keras ke arah Ve dan aku. Bukankah itu jelas percobaan pembunuhan?"


"Hmm... jagoan yang sangat waspada, ya," celetuk Relly tanpa menoleh. Sherry menoleh mendengar celetukan itu.


"Apa yang kau katakan, barusan?" tanya Sherry tidak setuju. Relly seperti sedang memikirkan hal lain. Dia tidak mendengarkan apa yang di jabarkan Sherry barusan dengan serius. Sherry merasa kesal.

__ADS_1



__ADS_2