
...(Aku Sherry. Gadis yang mengalami sebuah takdir aneh. Jiwaku tertukar dengan seorang gadis lain. Saat ini jiwaku terperangkap dalam tubuh seorang gadis bernama, Vermouth.)...
"Sepertinya gadis itu hilang ingatan bos. Dia tidak bisa mengingat sama sekali soal kita di danau. Juga, dia tidak bisa mengingat soal berkas operasi plastik bos yang ada di kantor itu. Gadis itu seperti orang lain saja bos." Anak buah Gio berpendapat. Dia tidak ikut dalam kunjungan rumah sakit itu, tapi mendengar cerita bosnya, dia yakin tentang itu.
Sepulang menjenguk putrinya, mereka mengobrol di ruang kerja milik Gio dirumahnya.
"Begitu ya. Hahahaha ...." Gio tertawa senang. Dia tidak menyangka jalannya kembali mulus. "Daniel sudah mati. Tinggal gadis itu, tapi dia tidak ingat. Ini bagus. Ini sangaaaat ... bagus. Aku akan menunggu saham Welly di berikan padaku, lalu aku akan membunuh gadis itu juga."
"Itu akan mencurigakan bos."
"Tidak. Tidak. Aku akan membuat putra Welly membayarnya. Kita buat skenario yang menunjukkan bahwa bocah itu yang membunuhnya."
"Skenario bagaimana, bos?"
"Jangan di pikirkan sekarang. Yang penting aku harus hati-hati soal pemberian saham ini. Kalau bisa Ve segera bertunangan dengan putra Welly. Secepatnya."
"Itu baru bagus, bos." Mereka tertawa bersama. Di luar pintu, Julia menggigil ketakutan. Dia tidak menyangka bahwa Daniel telah mati. Itu pun suaminya tahu akan kematiannya. Berarti suaminya adalah dalang dari kematian Daniel.
Grep! Sebuah tangan menangkap bahunya. Dengan tubuh gemetar, Julia menolehkan kepala. Ingin tahu siapa orang di belakangnya.
"Kamu mendengar percakapan bos barusan?" Julia menggeleng sambil mata berkaca-kaca. "Ayo masuk." Anak buah Gio yang lain mendapati istri bosnya menguping pembicaraan.
Pintu terbuka. Gio terkejut melihat anak buahnya mencekal bahu istrinya seraya masuk ke ruang kerja.
"Apa yang kau lakukan pada istriku?" desis Gio hendak marah.
"Dia mendengar percakapan barusan dan berusaha kabur saat aku melihatnya."
"Percakapan? Oh, soal Daniel yang mati?" tanya Gio dengan seringaian kejam. Julia menangis mendengar kesaksian Gio akan kematian putranya.
"Kau ... kau benar-benar membunuhnya? Membunuh putraku?!" teriak Julia marah.
"Kalau kau menguping, kau pasti sudah tahu. Tidak perlu lagi aku bicarakan."
"Kau sungguh biadab. Ada apa dengan Gio yang asli? Kemana dia? Kembalikan!"
"Hhh ... apa kau pikir jika Gio masih ada disini, dia tetap diam? Sudah tentu dia juga tidak ada."
"J-jadi, k-kau memang bukan Gio yang asli?" tanya Julia tidak menyangka bahwa di depannya memang laki-laki lain. Tubuhnya mundur karena takut. Gemetaran. "Perbuatanmu tidak akan terampuni. Aku sumpahi kau tidak akan selamat orang asing," desis Julia.
"Julia, Julia ... Kamu tidak sadar diri bagaimana tingkahmu selama ini? Kamu selalu bersikap buruk pada putri Gio. Semua orang di rumah ini menjadi saksi bahwa kau menyiksa Ve sebagai putri tirimu. Kau memperlakukan dia bagai pembantu. Kau pikir itu tidak bisa membuatmu berada dalam penjara?" Gio mendekat dan mendorong tubuh Julia hingga jatuh terduduk di lantai.
Julia terkesiap. Dia melupakan itu. Dia juga jahat meskipun tidak membunuh. Itu artinya dia juga sama.
"Jadi, tutup mulut dan bersikap apa adanya seperti biasa. Jangan bertingkah macam-macam. Aku akan menempatkan anak buahku untuk mengawasimu," ancam Gio. "Jika bertingkah macam-macam, aku akan membuatmu menyusul putramu itu. Paham?"
Masih terjatuh di atas lantai, Julia mengangguk ketakutan.
"Bisakah ... bisakah aku melihat dimana Daniel kalian di kuburkan?"
__ADS_1
"Kau pikir aku punya waktu untuk melakukan hal semacam itu?" Gio mengatakannya dengan acuh tak acuh.
"Daniel, putraku..." Julia menangis menjadi-jadi. Suaranya tertahan. Karena mulut di bekap oleh tangannya sendiri
...----------------...
...----------------...
"Tu ... nangan?" tanya Sherry. Mengulang kalimat Sigi barusan. Malam ini mereka berdua sedang jalan-jalan bersama.
"Iya. Kak Relly akan menjalani pesta pertunangan dengan gadis yang dicintainya." Sherry mengerjap. Relly akan bertunangan, dengan siapa? Siapa yang dicintainya?
"Teman sekolahnya?"
"Tepat. Kak Sherry hebat. Kenapa bisa tahu kalau calon tunangan kak Relly teman sekolahnya?"
"Emmm ... biasanya orang kaya di jodohkan dengan orang kaya lainnya. Jadi aku rasa Relly di jodohkan dengan salah satu gadis di sekolah itu."
"Bukan begitu juga. Ada iya-nya, tapi ada enggak-nya juga. Soal kak Relly, itu memang benar. Gadis yang di cintai kak Relly itu teman sekolahnya. Bahkan penggemar abadinya."
Vermouth.
"Aku tidak tahu kenapa kak Relly memanggilnya dengan menyebut nama Sherry. Padahal aku tahu gadis itu bernama Vermouth Santana."
Aku tahu. Karena yang Relly tahu adalah jiwa dalam tubuh itu adalah diriku, Sherry Anugrah.
Sherry menggigit bibirnya. Hatinya sakit. Matanya nanar. Panas dan perih. Sherry ingin menangis. Di genggamnya kuat ujung kaosnya di bawah meja kuat-kuat. Namun, tindakan seperti ini tidak membuat rasa ingin menangisnya reda.
"Kakak, kakak kenapa? Sakit?" Sigi yang berada di depan Sherry panik. Sherry menggeleng. Punggung tangannya mengusap airmata yang mengalir. "Lalu kenapa kak Sherry menangis?" tanya Sigi sambil mencondongkan tubuhnya ke Sherry.
"Aku teringat ibu."
"Ibu kak Sigi masih sakit?" Sherry mengangguk. Bohong banget bilang ibu masih sakit. Namun Sherry tidak bisa memberi alasan yang tepat. Tidak bisa mengaku bahwa mendengar kalau Relly akan menjalani pesta pertunangan dengan Vermouth membuatnya menangis sedih. Itu memalukan.
Airmata Sherry terus saja meleleh. Sigi kebingungan dan memutuskan mengantar Sherry pulang. Berkat arahan Sherry di antara sesenggukannya, mereka bisa sampai di rumah keluarga Sherry.
Di teras, Aska yang sedang bermain game dengan beberapa anak dari daerah situ, terkejut dengan kehadiran Sigi. Apalagi melihat kakaknya yang meneteskan airmata. Aska langsung beranjak dari tempat duduk dan menyambut Sigi dan Sherry.
Mereka membawa Sherry masuk dan mengantarkan gadis itu ke kamar tidurnya.
"Ada apa?" tanya Aska heran.
"Kak Sherry menangis karena teringat ibunya yang masih sakit."
"Ibu?" tanya Aska merasa aneh.
"Ya. Ibu sakit lagi, Ka? Boleh aku menjenguknya?" tanya Sigi peduli.
"Tidak bisa. Ibu ... baru saja terlelap. Beliau butuh istirahat." Aska berbohong. Jelas sekali. Karena saat ini ibu sedang bertandang ke rumah tetangga.
__ADS_1
"Begitu, ya ... Ya sudah. Aku pulang ya. Ada persiapan pesta pertunangan di rumah, besok. Aku harus ada di rumah sebentar lagi."
"Tunangan? Kamu? Kamu akan bertunangan?" tanya Aska beruntun. Sigi mengerjapkan mata mendengar Aska yang terdengar sangat tergesa-gesa ingin tahu.
"Bukan. Tidak mungkin. Ini sepupuku, Relly. Siswa pertukaran pelajar itu."
"Oh, sepupu kamu ...," ujar Aska terdengar lega. Sigi melihat kelegaan cowok di depannya dengan heran. "Ha? Sepupu? Relly?" Aska baru sadar. Pikirannya ke soal Sigi tadi. Jadi kurang fokus.
"Iya."
"Jadi Relly akan bertunangan?" tanya Aska menegaskan lagi. Sigi mengangguk.
Jadi itu sebab Sherry menangis ...
"Sudah ya. Aku pulang."
"Ya. Terima kasih sudah antarin kakakku. Lalu ... jangan kasih tahu siapa-siapa soal rumahku juga soal aku adiknya Sherry."
"Kenapa? Bukannya anak sekolah sudah banyak yang tahu." Maksud aku jangan bilang Relly...
"Ya ... itu ..." Aska menggaruk tengkuknya bingung. Hingga terlihat lucu. Dengan tubuh besar dan tinggi, kikuk dan kebingungan seperti itu sungguh lucu.
"Oke. Aku usahakan mulutku enggak ember. Meskipun permintaan kamu aneh. Untuk orang keren sepertimu, permintaan anehpun akan di kabulkan. Aku coba tutup mulut." Sigi selalu menyelipkan kata-kata pujian di setiap kalimatnya. Karena memujinya dengan sangat spontan, Aska kadang tidak paham.
Kepala Aska mengangguk. Setelah Sigi pergi, ibu muncul dari pintu belakang. Sangat dekat dengan waktu gadis itu pergi.
"Kakakmu sudah pulang?" tanya ibu seraya membuka pintu kamar putrinya. Aska mau mencegah tapi.sudah terlanjur. Di dalam kamar, gadis itu masih menangis. Suaranya terdengar pilu
"Ada apa? Kenapa kakakmu?" tanya ibu langsung. "Dia itu sedang menangis kan?"
"Sepertinya." Aska tidak bisa berbohong karena ibu mendengar sendiri.
"Katakan pada ibu. Siapa yang mengganggu kakakmu?" Mengganggu? Sherry? Yang ada malah orang itu di hajar dia. "Kenapa dia sampai menangis seperti itu. Ini pertama kalinya kakakmu menangis, setelah menangis keras di depan ayahmu yang sudah meninggal." Mendengar ini Aska terdiam sejenak.
"Hape Sherry, eh ... kakak hilang."
"Hilang?"
"Iya. Itu kan hape dia satu-satunya dari hasil menabung." Ibu menoleh ke arah pintu.
"Akan ibu belikan." Mata Aska membulat.
"Ibu belikan?" tanya Aska terkejut.
"Iya."
"Tidak, Bu. Biar aku cari kemana-mana sampai ketemu." Aska tidak setuju dan tentu iri hati apabila kakaknya dapat ponsel baru.
"Hape hilang begitu mau kamu cari kemana?"
"Kemana saja."
__ADS_1
"Ada juga nanti hapenya sudah rusak. Hape kakakmu kan sudah butut." Ibu sudah bertekad. Aska menggeram dalam hati. Sebentar lagi Sherry akan punya ponsel baru. Padahal dia masih punya.