Diary Sherry

Diary Sherry
Vermouth_Usai


__ADS_3

...(Aku Sherry. Gadis yang mengalami sebuah takdir aneh. Jiwaku tertukar dengan seorang gadis lain. Saat ini jiwaku terperangkap dalam tubuh seorang gadis bernama, Vermouth.)...


.......


"Jadi ... Om adalah papa kandungku?" tanya Ve yang muncul di belakang mereka tiba-tiba. Semua menoleh dengan cepat ke arah gadis itu.


"Ve," ujar Henry yang terkejut.


"Jadi itu benar, Om?" tanya Ve lagi. Julia juga muncul. Karena Ve keluar dari mobil, dia mengikuti gadis ini yang mencari pamannya karena mendengar suara tembakan tadi.


"Ya," sahut Henry. Bola mata Ve berkaca-kaca. Kemudian dia menangis. Julia langsung sigap mendekap tubuh putri tirinya. Dia juga mendengar soal pengakuan Henry. Bahwa dirinya adalah ayah biologis Ve.


"Maafkan aku, Ve." Henry berkata dengan sendu.


"Jangan meminta maaf, Om. Aku harus bahagia masih punya figur seorang ayah pada Om. Aku senang," ujar Ve dengan sesenggukan. Tangannya menyeka air mata yang menetes tadi.


"Benarkah? Syukurlah. Terima kasih." Henry tertunduk lega.


"Aku akan tinggal bersama Om Henry." Julia melirik. Jika begitu, itu berarti dia dan Daniel akan tinggal sendiri tanpa Ve. Mereka akan hidup terpisah. Ada sedih yang Julia rasakan. Namun dia paham. Dirinya yang sempat berlaku buruk pada Ve pasti membuat gadis ini lebih memilih tinggal bersama Henry daripada dirinya.


"Baiklah."


"Namun aku punya syarat, Om," tambah Ve.


"Syarat? Apa itu? Aku akan coba mengabulkannya."


Tangan Ve merengkuh pundak Julia. "Aku mau mamaku ikut bersamaku. Dia harus tinggal denganku juga. Apakah itu bisa?"


Julia menatap Ve terpana. "Ve ...," lirih Julia. Sungguh dia tidak berpikir gadis ini masih mempedulikannya.


"Aku memperbolehkannya. Kamu bisa mengajak Julia tinggal bersamamu."


"Sekali lagi terima kasih Om ...." Ve berucap dengan wajah berseri-seri. Julia mengelus kepala putrinya karena haru. Dia merasa patut bersyukur.


"Kamu gadis yang baik, Ve. Terima kasih." Julia berkaca-kaca.


...----------------...


Henry menyerahkan barang bukti berupa amplop berisi soal operasi plastik milik Gio palsu. Sungguh mengagetkan orang di balik wajah Gio itu adalah mantan pelayan keluarga papa Ve sendiri. Pria yang tidak seberapa tua itu tergiur dengan kekayaan yang di miliki Gio. Hingga saat melihat Gio asli yang tiba-tiba tergeletak di atas lantai karena serangan jantung membuatnya menemukan ide operasi plastik.


Berita soal papa Ve bukan di bunuh saja sudah merupakan berita bahagia bagi Ve. Di tambah dia menemukan kenyataan bahwa dia masih punya seorang papa. Itu sangat membahagiakan gadis ini.


Penjahat itu mengubur papa Ve di dalam sebuah hutan bersama teman-temannya. Jadi mayat Gio tidak terlantar.

__ADS_1


"Gio sudah mendekam dalam penjara. Sudah sepantasnya penjahat tidak bisa bebas lagi," ujar Welly sambil menutup surat kabar di tangannya.


"Syukurlah. Keluarga Ve menjadi aman." Mama Relly menimpali.


"Melegakan sekali mendengarnya." Sigi juga ikut menyuarakan rasa senangnya. Sarapan pagi mereka terisi dengan pembicaraan tentang berita penjahat itu. Ada banyak kelegaan yang terungkap. Relly hanya diam sambil menyuapkan makanan ke dalam mulutnya. Dia sama sekali tidak berkomentar apapun.


"Bagaimana dengan semua teman-temanmu yang ikut dalam penyelamatan, itu? Apa mereka juga selamat?" tanya Welly pada putranya.


"Ya. Mereka selamat. Dan mungkin harus sering ke kantor polisi karena akan di mintai keterangan dan kesaksian soal penjahat itu." Relly menjelaskan.


"Begitu, ya ... Jadi mereka akan sibuk ke kantor polisi. Kapan-kapan, ajak mereka makan-makan di rumah kita, Rel.".


"Mengundang mereka?" tanya Relly seraya mendongak.


"Ya. Papa ingin lebih mengenal teman-teman pemberanimu itu." Kemudian Relly menyeruput jus di sampingnya. "Aku sudah selesai sarapan. Aku akan berangkat ke sekolah."


"Aku juga. Aku juga sudah selesai. Aku ikut dengan kak Relly." Sigi menyegerakan meminum jusnya dan ikut beranjak dari kursi. Lalu mereka berdua berpamitan.


Selepas kepergian Relly, Welly membahas putranya itu dengan istrinya.


"Relly tampak tidak bahagia. Padahal apa yang di perjuangkannya sudah membuahkan hasil. Penjahat itu terbukti bersalah, dan Ve sekarang. aman." Welly mencemaskan putranya.


"Pasti masih ada yang mengganjal di hatinya." Mama Relly berpendapat. Mungkin seorang ibu lebih tahu tentang hati putranya. "Soal gadis itu."


...----------------...


Masa perwakilan sekolah masih tinggal seminggu lagi. Jadi Sherry masih bisa bertemu dengan Relly di sekolah ini.


"Pangeranmu sedang menunggu," ejek Aska.


"Diamlah." Sherry malu di katakan seperti itu.


"Sudah. Aku berangkat ke sekolah. Jangan minta jemput. Kan sudah ada dia." Dagu Aska menunjuk ke Relly yang mendekat.


"Tenang, dia akan ku antar pulang dalam keadaan baik," Relly yang mendengar itu menyahuti.


"Tentu. Pastikan itu." Aska masih bersikap overprotektif pada kakaknya. Bola mata Sherry mendelik. Aska segera memacu motornya pergi.


"Kenapa meminta Aska yang mengantar? Aku bisa menjemputmu. Lalu kita bisa berangkat sekolah bareng." Relly menegur.


"Aska sedang berbaik hati mengantar. Aku tidak boleh menyia-nyiakannya."


"Lain kali aku saja yang mengantarmu ke sekolah. Bukannya tinggal seminggu lagi kita bersama dalam satu sekolah seperti ini?"

__ADS_1


"Benar," jawab Sherry mendadak jadi sedih.


"Tenang saja, aku akan selalu mengunjungimu." Sherry tergelak mendengar itu. Dia ketahuan bersedih akan berjauhan dengan cowok ini.


Sengaja mereka datang pagi karena ingin segera bertemu. Hingga punya banyak waktu mengobrol hingga bel berdentang.


...----------------...


Saat menjelang petang, mama melihat Relly yang melintas menghela napas terus menerus. Itu bisa di baca oleh mamanya. Sigi yang juga sedang bersantai melihat itu juga.


"Ada apa Relly? Kenapa kamu terlihat gelisah?" tanya beliau.


"Tidak ada, Ma," jawab Relly.


"Benarkah? Jika ada yang ingin kamu bicarakan, silakan." Mama memberi waktu bagi putranya untuk berbicara.


"Kemana papa?" tanya Relly yang tidak bisa menemukan beliau.


"Papamu ada janji temu dengan teman bisnis. Jadi malam ini tidak ada di rumah. Nanti baru pulang," jelas mama. "Lalu apa yang ingin kamu katakan."


"Tidak. Aku ingin berbicara pada papa."


"Hmmm ... begitu. Jadi sekarang mama tidak di butuhkan lagi?"


"Bukan begitu. Apa yang akan aku bicarakan memang ada kaitannya sama papa."


"Bisa bicarakan itu sama Mama?"


"Bisa, tapi aku ingin bicara dengan papa dulu." Relly bersikeras.


"Baiklah, baik. Kenapa kamu jarang bersama Ve sekarang? Bukankah kalian harus sering bersama agar semakin akrab? Kalian kan tunangan," tanya Mama membuat Relly mendesah lagi.


"Mama ingin Relly bertunangan dengan Ve?" Relly justru bertanya soal itu.


"Apa yang kamu tanyakan? Tentu saja iya. Bukannya Ve itu pilihanmu sendiri. Mama ikut bahagia jika kamu bahagia." Kening perempuan ini sempat mengerut heran dengan pertanyaan putranya. Relly diam.


"Memangnya kak Relly enggak bahagia bertunangan dengan kak Ve?" tanya Sigi ikut-ikutan. Dia tahu tentang hubungan Relly dan Sherry. Sepertinya gadis itu sengaja memancing perbincangan soal Sherry.


"Eh, kenapa kamu bertanya seperti itu pada kakakmu. Tentu saja Relly bahagia. Jangan berpikir yang tidak-tidak," ujar mama Relly sambil menghalau kalimat keponakannya dengan tangan beliau.


Tidak aku tidak bahagia. Aku belum mengatakan soal Sherry sepenuhnya pada papa.


__ADS_1


__ADS_2