
...(Aku Sherry. Gadis yang mengalami sebuah takdir aneh. Jiwaku tertukar dengan seorang gadis lain. Saat ini jiwaku terperangkap dalam tubuh seorang gadis bernama, Vermouth.)...
.......
.......
.......
Sherry menyipitkan mata karena saat mendongak, sinar matahari memaksa menerobos masuk ke dalam sela-sela dedaunan yang rimbun. Kemudian memejamkan mata sejenak karena sinar matahari tiba-tiba menyorotinya dengan ganas. Silau.
Saat membuka mata, Sherry terkejut melihat seseorang di depan matanya. Sherry terlonjak kaget dan segera memposisikan duduknya dengan benar. Kemudian menoleh ke belakang. Dimana dia menemukan seseorang saat mendongak tadi.
Relly. Cowok itu tengah memandanginya. Lama. Sherry hanya bisa mengerjapkan mata.
Bagaimana bisa cowok ini menemukannya?
"Akhirnya aku bisa menemukanmu...," ucapnya dengan wajah sangat lega. Bibirnya juga tersenyum hangat. Sherry langsung memutar tubuhnya kembali. Menolak melihat cowok itu. Memilih melihat lurus ke depan dimana tidak ada siapa-siapa, kecuali jalanan yang sepi.
Melihat cowok itu, membuat perasaannya tidak karuan. Jantungnya berdetak lebih cepat. Napasnya memburu karena berdebar-debar. Hh ... padahal dia masih ingat bahwa cowok ini sudah punya tunangan.
Langkah kaki Relly perlahan mendekat dari arah depannya. Lalu duduk di samping, menemani duduk Sherry yang sendirian sejak tadi.
Relly menyodorkan air minum di tangannya. Sherry menerima sodoran itu tanpa berkata apa-apa. Dia cukup haus dan kepanasan. Minuman di tangan Relly sungguh menyegarkan yang tidak mungkin di tolak.
Setelah beberapa teguk, Sherry kembali melihat ke depan. Masih sunyi. Sepi. Tetap tidak ada obrolanpun dari keduanya. Hanya terdengar helaan napas berat dari sebelah Sherry. Relly seperti sedang menata hati, lidah dan deru napas untuk memulai bicara.
"Kenapa bisa sampai disini?" tanya Sherry memulai. Karena jika tidak, cowok ini terus saja diam membisu sambil terus menemaninya. Sesekali menoleh padanya dan melihat ke depan lagi. Hanya itu.
"Sherry." Deg! Debaran di dada Sherry tiba-tiba melonjak hebat. Terasa berbeda saat cowok ini menyebut namanya. Dia terkejut. Padahal itu hanya sebuah sebutan nama dengan nada ringan. Akan tetapi yang Sherry rasa saat menyebut namanya, Relly seakan menumpahkan seluruh perasaannya disana. Hingga menyebut nama itu saja terasa berat baginya.
Setelah menyebut nama itu, Relly diam. Ini membuat Sherry tidak sabar.
"Apa? Kenapa memanggil namaku lalu diam? Itu sangat tidak sopan," gerutu Sherry kesal. Dia bisa bicara dengan lancar karena ingin menuntaskan ketegangan yang tidak jelas ini.
"Aku baru tahu adik kamu itu bernama Aska." Napas Sherry berhenti sejenak. Pertanyaannya tadi bukan melegakan, justru membuat atmosfir sekitar mereka berdua berat dan tegang.
"Sengaja aku menemuinya dan menemukan ... ternyata dia Aska yang aku kenal." Sherry menelan ludah. Wajah dan mata itu tetap lurus memandang ke depan saat mengatakannya. Menambah ketegangan di diri Sherry.
__ADS_1
Tangan Sherry meremas botol minuman di tangannya. Tidak terlalu keras hingga suara berisik tidak muncul.
"Apa Sherry yang ada di hadapanku ini juga Sherry yang aku kenal?" tanya Aska menoleh ke samping, membuat Sherry tak bisa berkutik. Sherry mendekatkan botol minuman ke mulutnya. Meneguk minuman hingga kerongkongannya menjadi basah.
"Sherry siapa? Yang mana?" tanya Sherry masih tidak percaya dia tahu soal dirinya yang asli.
"Jangan menghindar, jika itu kamu Sherry. Gadis yang menjadi kekasihku karena aku mengancamnya. Gadis yang tetap punya pendirian meskipun keadaan tidak memungkinkan. Gadis kuat dan selalu ingin menyelesaikan masalahnya sendiri. Itu kamu kan, Sherry ..."
Sherry menyentuh telinganya. Mengusap berkali-kali. Relly sudah tahu dia Sherry yang asli. Kepalanya menunduk. Sherry ingin menangis. Dia lega hingga rasanya membahagiakan.
"Jangan menangis. Aku datang bukan untuk membuatmu menangis. Aku datang untuk membuatmu bahagia. Walaupun itu terlambat," ujar Relly melihat Sherry menunduk. "Angkat kepalamu."
Sialan!
"Bagaimana bisa, bodoh!" teriak Sherry dengan airmata menetes di pipinya. Akhirnya dia mengangkat wajahnya. "Tidak mungkin aku tidak menangis dengan sikapmu yang biasa saja seperti itu!" Relly tertegun. Sherry menangis, juga marah. Punggung tangannya sibuk menyeka air mata.
"Maaf. Maaf, jika kamu kecewa karena aku bersikap biasa. Karena aku tidak memperlakukanmu dengan istimewa. Maaf, aku tidak bersikap sebagai seorang Relly yang menyayangi Sherry." Sherry terus saja berusaha menghentikan airmata, tapi tidak bisa. Relly menarik tubuh itu dan memeluknya. Sherry mulai menangis dalam pelukan Relly.
...----------------...
...----------------...
"Lepaskan aku," pinta Sherry setelah reda dari tangisnya. Relly menuruti. Sherry meneguk air yang hanya sisa sedikit.
"Aku belikan air, ya?" tawar Relly. Sherry menggeleng. Dia mengambil botol airnya sendiri dan meneguknya. Relly menyelipkan anak rambut yang menutupi wajah Sherry. Kemudian merapikan rambut gadis itu. Gadis ini membiarkan Relly melakukannya sambil diam. Matanya sembab dan sedikit bengkak.
"Selamat atas pertunanganmu, Relly," ucap Sherry sambil menatap lurus ke jalanan. Mendengar ini Relly menghentikan tangannya dan menoleh dengan cepat. Menatap gadis ini dengan pandangan sedih, tapi juga marah.
"Jangan berkata seperti itu, Sherry. Jangan." Relly begitu tidak suka mendengar ucapan itu. Apalagi itu dari bibir Sherry yang asli. Itu seperti kalimat menohok yang mencemoohnya.
"Itu kenyataan," ujar Sherry datar. Kepalanya menoleh pada Relly dengan raut wajah tidak mengatakan hal yang keliru.
"Tidak. Itu kesalahan. Kesalahan yang jelas bisa mengecohku," bantah Relly keras. Ketenangan tadi mulai terusik. Walaupun menjadikan Sherry orang yang akan menemaninya nanti, adalah tujuannya ... Jika dia tahu bahwa gadis yang ada di rumah sakit adalah palsu, tentu Relly tidak akan setuju.
Ya. Bukan salah Relly jika dia mengambil langkah yang salah. Semuanya masih membingungkan. Kakinya naik dan bersila. Kemudian menatap Relly yang masih resah, dirinya tidak di maafkan.
"Walaupun begitu ... Aku paham. Tidak semua orang bisa dengan mudah menebak takdirku dan Ve. Aku tahu kamu tidak sengaja melakukannya," ujar Sherry lembut sambil memainkan rambut Relly. Dia merasa kasihan melihat Relly merasa bersalah.
__ADS_1
"Benarkah?" Sherry mengangguk. "Aku berjanji akan memperbaikinya."
"Jangan melakukan hal yang tidak mungkin. Jalani saja semua takdirmu dengan baik. Kita bisa bertemu sebagai teman, aku ..."
Relly menangkap tangan Sherry. "Tidak. Aku tidak mau berteman denganmu. Bukan sebagai Sherry dengan tubuh Ve, tapi ini karena dirimu. Kamu, Sherry. Aku mau kamu. Bukan Sherry palsu."
"Kamu tidak bisa melakukan apa-apa Rel. Berhenti saja. Kita memang tidak ...." Cup. Relly mengecup bibir Sherry pelan. Mata gadis itu mengerjap. Tidak menduga ini terjadi padanya. Ini ciuman pertama.
"Diam dan dengarkan. Aku bisa membatalkan pertunanganku dengan Ve." Sherry masih dalam kebengongan yang belum tuntas. Dia dalam suatu dunia antah berantah. Indah. "Sherr ...," tegur Relly.
"Ah, ya ..." Sherry kembali ke bumi.
"Aku bisa membatalkan pertunanganku dengan Ve."
"Jangan. Ve akan menderita."
"Aku tidak peduli. Dia harus lebih berusaha menjadikan dirinya berharga. Bukan mengambil kebahagiaan orang lain."
"Memangnya aku bahagia, kalau kamu menyukaiku? Aku belum mengatakan bahwa perasaan kita sama."
"Jangan berbelit-belit, Sherry. Kita harus menghadapi banyak musuh. Menguak misteri dan menyelamatkan orang. Menyukaimu itu sulit. Jangan mencelaku atau mempermainkan hatiku. Cukup terima aku dengan segenap hatimu." Tatapan Relly tajam. Sherry menipiskan bibirnya.
"Aku tahu kamu tidak akan menolakku, karena kecupan singkatku tadi tidak membuatmu marah."
Wajah Sherry memerah. Bodoh! Ini memalukan! Relly tersenyum penuh kemenangan sambil menatap gadis ini.
"Ki-kita berdua akan sangat jarang bertemu. Kamu akan kembali ke sekolahmu." Sherry menemukan topik pembicaraan yang bisa menetralkan rasa malunya.
"Tidak masalah. Aku akan sering-sering mengunjungimu."
"Tidak bisa. Kamu itu sudah punya tunangan. Ve akan selalu memperhatikanmu karena dia akan sembuh dan berangkat sekolah."
"Cukup memikirkan orang lain. Perhatikan saja kebahagiaan dirimu. Juga, cari cara agar kita berdua bahagia. Aku dan kamu."
"I-ini seperti kita akan menikah saja." Sherry jadi malu sendiri.
"Kenapa? Kamu tidak mau jika aku menikahimu?"
"Cukup. Cukup sekian dan terima kasih. Hentikan obrolan soal itu." Sherry menutup kedua telinganya. Ya. Ini membahagiakan tapi juga membuat telinga merah karena malu.
__ADS_1
"Aku tahu kamu senang aku membicarakan ini. Hanya saja masih malu."