
...(Aku Sherry. Gadis yang mengalami sebuah takdir aneh. Jiwaku tertukar dengan seorang gadis lain. Saat ini jiwaku terperangkap dalam tubuh seorang gadis bernama, Vermouth.)...
Karena Sherry ternyata mengalami trauma akibat percobaan pembunuhan dirinya dulu, pencarian berkas di hentikan di kantor. Mereka segera membawa Sherry pulang demi keselamatannya.
Ve berniat mencari di kamar papanya.
Dia tidak sendiri, dia di bantu Elda. Setelah Ve mengungkapkan bahwa dirinya adalah yang sebenarnya pada perempuan itu, Elda berniat membantu. Elda yang sudah mengira Ve yang sekarang asli, semakin yakin untuk mengungkap semua kejanggalan.
Sepulang sekolah, Ve berniat masuk ke dalam kamar papanya. Sementara Elda menunggu di luar. Rumah sedang lengang. Satu persatu tempat yang bisa di jadikan tempat persembunyian berkas di coba untuk di jelajahinya. Setelah sekitar setengah jam, Ve merasa putus asa. Dia tidak bisa menemukan.
"Apa-apaan ini?" tanya seseorang di belakang Ve. Tubuh Ve menegang. "Apa yang kamu lakukan disini, Ve?" tanya suara itu. Ve tidak berani membalikkan punggungnya. Tubuhnya gemetar. Mengapa tidak ada kode dari Elda bahwa akan ada orang yang masuk?
"Berbaliklah." Ve menelan ludah. "Aku bilang berbaliklah,Ve!" perintah suara itu tidak sabar. Kaki Ve gemetar. Dengan menunduk dia memutar tubuhnya. Namun dia berusaha terlihat kuat. Seperti Sherry biasa menghadapi seseorang. "Aku tidak tahu apa yang kamu cari, tapi aku yakin itu penting. Sampai kamu harus diam-diam menyelinap ke kamar papamu."
Itu ibu tiri. Julia.
"Katakan. Apa yang kamu cari?"
"M-maaf. Aku ..."
"Kamu terlihat begitu mencurigakan belakangan ini. Apa yang sedang kamu lakukan?"
Ve menggosok jari-jemarinya. Dia terlihat gelisah.
"Jangan membuat aku semakin kesal dengan tingkahmu, bocah. Aku sudah terlalu pusing dengan tingkah papamu yang palsu dan ...," bibir Julia berhenti. Dia tidak jadi meneruskan kalimatnya.
Palsu? Mama tahu bahwa papa itu adalah palsu? Mata Ve membeliak sambil mendongak. Dia awalnya yang gelisah dan takut kini ingin tahu raut wajah apa yang di buat ibu tiri.
Ve tertegun.
"Mama bilang palsu?" ulang Ve ingin sebuah penegasan. Julia mengalihkan pandangan ke arah lain. Dia terlalu emosi hingga akhirnya mulutnya tidak terkontrol. "Ma ..."
"Sudahlah. Cepat keluar dari kamar orang ini jika tidak ingin terluka. Meskipun kamu putrinya kamu juga bisa celaka jika tidak hati-hati."
"Mama pasti tahu sesuatu. Dari tadi mama berkata aneh."
"Tidak. Tidak mungkin aku tahu sesuatu."
"Ma ..." Ve menahan tangan ibu tirinya.
"Kamu ini menyebalkan, bocah. Aku tidak tahu. Kamu ini asli atau palsu juga. Semua di rumah ini membuatku kesal dan marah." Julia mulai naik darah. Dia merasa sangat tertekan dengan kenyataan dia terancam juga. Keberadaannya tidak senyaman dulu.
"Mama tahu, dimana kak Daniel sekarang?" tanya Ve berusaha memancing.
__ADS_1
"Daniel?" Medengar nama ini mata Julia merebak ingin menangis. Dia jadi teringat lagi soal putranya yang sudah di bunuh Gio palsu. "Berhenti bertanya soal Daniel. Kamu tidak tahu apa yang sedang terjadi padanya. Lebih baik kamu diam!"
"Jadi mama tahu sesuatu, bukan?" desak Ve.
"Berhenti mendesakku bocah! Cepat pergi dari sini!" Elda yang berada di luar kamar terkejut mendengar nyonya Julia marah. Dia cemas Ve tidak juga muncul keluar kamar. Dia takut gadis itu di pukul atau di aniaya ibu tirinya.
Namun ternyata tidak terjadi apa-apa. Ve keluar kamar dengan wajah biasa saja. Tidak ada yang terjadi padanya.
"Kamu tidak apa-apa?" tanya Elda memeriksa tubuh nonanya.
Ve menggeleng. "Tidak. Mama hanya marah-marah tapi tidak memukulku."
"Apa yang nona katakan hingga membuat nyonya Julia marah?" Ve memberi kode untuk diam. Karena dia mendengar sebuah tangisan dari dalam kamar. "Kenapa nyonya Julia menangis?" bisik Elda.
"Dia tahu sesuatu." Elda mengikuti langkah nonanya yang menjauh dari sana.
"Tahu soal apa nona?" tanya Elda sambil mensejajari tubuh Ve.
"Soal keanehan di keluargaku. Lebih baik aku berdiskusi dengan mereka bertiga."
**
Relly, Sherry dan Hansel berkumpul di tempat mereka biasa.
"Ibu tirimu tahu sesuatu?" tanya Sherry.
"Tidak semua orang menduga kalau Gio adalah palsu. Jika itu benar, mamamu memang mengetahui sesuatu." Relly mengatakan itu sambil berdidekap.
"Apakah kamu masih aman, Ve?" tanya Hansel yang justru lebih khawatir soal diri gadis ini.
"Ya. Mama tidak melakukan apa-apa padaku. Hanya berteriak marah."
"Kamu tidak apa-apa?" tanya Hansel.
"Aku tidak apa-apa Hansel." Ve tersenyum. Hansel mengangguk paham. "Mama juga menangis saat aku bertanya soal Daniel."
"Nyonya itu pasti rindu pada putranya yang di anggap menghilang." Sherry paham.
"Mama bukan hanya menangis saat aku bertanya soal Daniel, Sherr ... Dia sangat marah dan naik darah. Dia bilang aku tidak tahu apa-apa dengan masalah soal Daniel." Ve masih ingat soal itu.
"Jika mamamu tahu soal Gio palsu, dia mungkin di beritahu sesuatu soal Daniel," kata Relly.
"Bisa jadi, Gio sendiri mengatakan pada mama Ve bahwa dirinya palsu. Soal Daniel ... hal apa yang paling membuat orangtua menangis mengenai putranya?" tanya Hansel mengajak diskusi.
"Mati," lirih Sherry. Ve menoleh pada Sherry. Gadis ini mengatakan itu dengan aura hitamnya. Dia yang pernah hampir di bunuh tentu masih merasakan kengerian saat itu. Relly menggenggam tangan Sherry.
__ADS_1
Hansel mengangguk. "Bisa juga Gio mengatakan Daniel sudah mati pada mamanya hingga membuat nyonya ini marah dan sedih."
"Kenapa mama tidak melaporkan pada polisi?" tanya Ve heran.
"Kemungkinan Gio mengancam dengan sesuatu yang membuat mamamu juga ikut terseret ke penjara," imbuh Relly mulai paham.
"Ya. Kemungkinan seperti itu, Ve." Hansel menyetujui pendapat Relly.
"Itu berarti kita harus mencoba mendekati Ibu tiri untuk mendapat informasi." Sherry memberi ide di ikuti anggukan setuju yang lain.
**
Erick panik saat Relly baru pulang. Pria ini segera menghampiri tuan mudanya yang baru saja masuk dengan motornya. Erick tahu, cowok ini habis pulang dari kencan dengan Sherry.
"Dengarkan aku Relly..."
"Kenapa kamu seperti mendapat kabar buruk."
"Memang ada kabar buruk. Orang ayahmu sepertinya tengah memata-mataimu."
"Informasi apa yang mereka dapat?" tanya Relly was-was.
"Semua. Semua hal tentang kegiatanmu berhasil di rangkum dengan bagus oleh mereka." Bola mata Relly melebar. Ada satu hal penting yang tidak boleh di ketahui papanya, yaitu soal Sherry.
"Apakah, apakah Sherry ..."
"Termasuk soal Sherry," serobot Erick. "Mereka memberitahukan semuanya pada tuan besar soal kamu dan Sherry."
Relly berdecih. Tangannya mengepal dan memukul udara kemudian. Erick memperhatikan tuan mudanya begitu kesal mendengar kabar darinya. Baru kali ini Erick melihat Relly sekesal ini.
"Apakah aku akan di sidang saat ini juga?" tanya Relly ingin tahu. Karena dia harus mempersiapkan diri menghadapi papanya.
"Kemungkinan iya. Tuan besar siap menyidangmu setelah makan malam."
"Apa mama juga ada di sana?" tanya Relly.
"Ya. Nyonya juga berada di sana dengan gelisah. Aku datang menemuimu karena beliau menyuruhku. Nyonya ingin kamu punya jawaban terlebih dahulu sebelum papa mendatangimu."
Rupanya mama masih punya rasa kasihan pada Relly.
"Poin penting apa yang bisa membuatku dalam posisi tidak aman sekarang, Erick?"
"Sherry. Tuan besar merasa seharusnya bukan gadis itu yang selalu bersamamu, tapi nona Ve. Beliau berpikir kamu tidak sungguh-sungguh bertunangan dengan nona Ve. Itu bisa mencoreng muka tuan besar di hadapan calon besan."
Relly mendesah.
__ADS_1
"Jadi cobalah cari alasan untuk membuat Sherry aman. Jika kamu bilang dia kekasihmu padahal beliau sudah mengadakan pertemuan keluarga dengan keluarga nona Ve, tuan akan marah besar."