
...(Aku Sherry. Gadis yang mengalami sebuah takdir aneh. Jiwaku tertukar dengan seorang gadis lain. Saat ini jiwaku terperangkap dalam tubuh seorang gadis bernama, Vermouth.)...
Hhh ... Relly menghela napas sambil melihat keluar jendela. Tidak ada kalimat yang keluar dari bibir cowok ini. Tubuhnya memunggungi Ve dan Erick yang ikut membungkam. Mereka tidak berani mengatakan apa-apa karena Relly diam saja sejak papanya pergi.
Bola mata pemuda ini melihat jalanan dan orang-orang yang nampak sibuk dengan tatapan kosong. Relly juga terlihat begitu banyak berpikir. Ada yang tengah menyerbu hatinya.
Pertunangan? Entah mengapa itu terasa asing. Aku seperti enggan.
Akhirnya Relly membalikkan badan dan tersenyum. Getir. Namun dia berusaha terlihat baik-baik saja. "Kamu sudah merasa lebih baik, Sherry?" tanya Relly kemudian.
"Ya."
"Maafkan atas keributan tadi. Apa papaku menyakitimu?"
"Tidak. Papamu hanya bertanya bagaimana dengan lukaku." Relly mengangguk. "Kamu juga tidak perlu meminta maaf."
"Aku perlu meminta maaf, karena memang tidak memberitahu keluargamu. Aku takut keadaan jadi kacau kedepannya. Karena kamu terlihat sedang terlibat suatu masalah."
"Masalah?" tanya Ve bingung. Bagi Ve, terus saja berada di dekat Relly begitu menyenangkan, tapi dia tidak alasan cowok ini sesungguhnya melakukan itu.
"Ya. Bukankah aku menemukanmu babak belur di kejar orang-orang itu. Lalu, karena aku teledor, aku membiarkanmu tertabrak truk hingga menyebabkanmu koma." Relly masih ingat kejadian itu.
"Kamu tidak teledor. Itu hanya sebuah takdir hingga nona ini bisa tertabrak," ralat Erik. Dia tidak ingin membuat Relly merasa sangat bersalah.
Koma? Aku? Jadi itu sebabnya Relly terlihat begitu merindukanku. Jiwaku dan Sherry kembali karena tabrakan itu.
Lalu, kenapa aku di kejar-kejar orang? Siapa mereka? Ada masalah apa?
Berbagai macam pertanyaan muncul di benak Ve.
"Apa kamu sudah bisa ingat siapa orang-orang yang mengejarmu? Apa mereka juga dari perusahaan papamu? Siapa mereka? Kamu bisa menebaknya?" Relly terdengar menggebu-gebu bertanya. Jelas Ve kebingungan. Dia tidak tahu sama sekali soal itu.
"Maaf. Aku tidak ingat soal itu."
"Tidak ingat? Kamu?" Ve mengangguk. Raut wajah Relly terguncang. Menoleh pada Erick, tapi pria ini tidak paham. "Apa kamu lupa bahwa terakhir kamu berada di perusahaan papamu bersama Daniel?"
"D-daniel? A-aku bersama Daniel? Benarkah?" Ve beringsut mendengar nama itu. Dia memang tidak begitu suka dengan putra tiri papanya. Tubuh Ve sedikit gemetar. Relly melihat gelagat ini.
"Kenapa?" tanya Relly heran. Ini semakin aneh.
"Dia putra tiri papaku. Aku tidak begitu suka." Kedua alis Relly terangkat. Kemudian keningnya berkerut semakin berpikir.
Apa kecelakaan itu begitu berdampak bagi ingatan Sherry? Memang kepalanya terbentur dengan keras di atas aspal. Namun begini seriuskah akibatnya?
"Istirahatlah terlebih dahulu. Aku ingin keluar. Erick tolong jaga Sherry." Tiba-tiba Relly memutuskan ingin pergi.
"Ya." Erik mengantar Relly keluar kamar. "Kamu tidak apa-apa?"
"Aku lelah. Sangat lelah."
"Pipimu masih sakit?" Erick melihat merah bekas tamparan di pipi tuan mudanya.
__ADS_1
"Aku tidak tahu. Aku pergi."
"Pulanglah. Atau kalau tidak, makanlah dulu. Jangan membuat perutmu kelaparan."
"Aku tahu."
...----------------...
...----------------...
Sherry dan Aska baru pulang dari belanja keperluan ibu di warung. Mereka terjebak macet di lampu merah perempatan jalan.
"Bagaimana dia?" tanya Aska yang duduk di depan.
"Siapa?" tanya Sherry sambil membetulkan letak kresek belanjaan di pangkuannya.
"Relly."
"Apanya yang bagaimana?"
"Dia terlihat sering bersamamu daripada dengan yang lain."
"Kebetulan. Aku juga tidak bisa menghindar karena dia pernah menolongku waktu itu."
"Menolong apa?"
"Kenapa di tolong, memangnya kamu enggak bisa menghajar mereka?" Sherry menipiskan bibir. "Kamu sedang berlagak lemah ya?"
"Ah sudahlah... Ngapain bahas itu." Sherry menoleh ke samping. Ada cowok berseragam yang sama dengan milik Vermouth. Pasti salah satu anak sekolah elit itu. Dulu Sherry sempat merasakan memakainya. Ya ... sebulan yang lalu terakhir memakainya.
Cowok itu menoleh. Mata Sherry mengerjap. Tatap mata itu membuat Sherry terpana. Dari helm teropongnya, mata itu memandang Sherry begitu lama.
"Sherry," tegur cowok itu membuat Sherr kaget. Kepalanya langsung menoleh ke arah yang berlawanan untuk menghindari pandangan cowok itu. Menutup kaca helm milik Aska yang duduk di depannya segera.
"Gawat. Relly di samping kita," bisik Sherry. Aska yang tadinya ingin mengomel karena kakaknya menutup kaca helm berwarna pelangi itu tanpa permisi.
"Benarkah? Bagaimana ini? Dia mengenaliku?" tanya Aska berbisik.
"Jelas tidak. Aku menyelamatkanmu." Siapa yang menyelamatkan siapa nih. Relly masih memperhatikan Sherry dengan seseorang di atas motor.
Lampu merahhh ... cepatlah hijau. Jangan bikin geregetan.
Aska sudah siap-siap meluncur cepat saat lampu merah akan berganti hijau. Layaknya pembalap yang menunggu aba-aba di mulainya lomba. Akhirnya lampaunya hijau. Grenngggg! Aska menjalankan motornya lebih cepat.
Di belakang, Relly kelihatannya juga gigih mengejar mereka. What?!
Tangan Sherry sibuk pegangan pada pinggang adiknya dan juga memegangi kresek belanjaan di tangannya. Aska berjuang menjalankan motor agar bisa kabur, sementara Sherry berjuang agar barang belanjaan ibu tidak jatuh dari pangkuannya. Mereka sama-sama berjuang.
Sampailah mereka di daerah rumah mereka sendiri. Aska yang merasa yakin sudah aman, menjalankan motornya pelan.
"Aduh, gawat!!" pekik Sherry.
__ADS_1
"Apa?" tanya Aska.
"Relly sudah tahu aku tinggal di sini."
"Bodoh. Kenapa justru memberitahu alamat rumah kalau kamu ingin menghindar?"
Plak! Sherry menjitak kepala adiknya.
"Aku tidak bodoh, bodoh! Dia sendiri menemukanku disini dan mengikutiku." Aska meringis mendapat jitakan dari kakaknya. Sherry menggerutu jengkel.
"Ah, tidak mungkin dia mengikutimu sampai sini. Ge-er banget jika kamu berpikir dia mengejarmu sebegitunya," ledek Aska sambil terkekeh. Dugaan Sherry tidak salah, cowok itu muncul di belokan.
"Ka, itu motor Relly." Sherry panik.
"Busyet nih cowok. Aku pulang. Mana belanjaanya. Kamu hadang dia." Aska meminta tas kresek dari kakaknya dan pergi. Meninggalkan Sherry sendirian. Relly benar-benar muncul di depan gang.
Relly membuka helmnya dan membetulkan rambutnya. Menyisir memakai tangan agar rambutnya rapi.
Jadi kamu kesini mau pamer pesonamu yang ganteng, Rel? Sudah cukup. Aku sudah terpesona sama kamu.
Sherry menunduk sambil garuk-garuk tengkuknya. Dia gugup sendiri melihat cowok itu.
Benar-benar tidak baik untuk jantungku!
"Jadi yang tadi aku lihat, benar. Itu kamu Sher," ujar Relly seperti ingin menunjukkan bukti bahwa dia tadi tidak salah menerka. Relly masih bisa melihat baju gadis ini sama dengan cewek yang ada di atas motor di lampu merah tadi. Celana pendek di bawah lutut dan kaos berwarna putih.
"Baru kali ini lihat kamu tidak memakai seragam." Mata cowok ini justru menjelajahi tampilan Sherry. "Lebih kelihatan bisa di jangkau."
"Apa?"
"Tidak. Aku hanya ingin mengobrol." Ya. Relly memang berniat mencari gadis ini karena tadi merasa lelah dengan kemarahan papa. Juga, merasa lelah berada di sana. Lagi-lagi ada rasa hampa. Meskipun sudah bisa berbicara lagi dengan Sherry di rumah sakit, dia justru ingin bertemu gadis ini.
...----------------...
Karena tidak ingin membawa Relly ke rumahnya, Sherry mengiyakan saat Relly memintanya menemaninya berbincang. Selain karena ada Aska, dia tetap tidak ingin cowok ini tahu kehidupannya.
"Aku lapar. Kamu bisa memilih menu yang kamu suka jika lapar." Ternyata cowok ini kelaparan. Itu bukti bahwa kali ini cowok ini makan dengan lahap.
"Sudah berapa hari tidak makan?" sindir Sherry.
Bibir Relly tersenyum menyadari dirinya sangat lahap. "Tidak. Aku hanya melewatkan makan siang dan sore."
"Kenapa?" tanya Sherry entah kenapa malah penasaran. Setahu dia, cowok ini tidak pernah terlihat kelaparan seperti ini. Beda dengan dirinya yang selalu lahap saat makan. Karena makanan bisa membuatnya bahagia.
"Kamu benar-benar ingin tahu?" tanya Relly seraya mendongak menatap Sherry. Gadis ini sampai perlu meneguk minumannya terlebih dahulu.
"Sudahlah. Aku tidak berhak mengurusimu. Makanlah. Habiskan semua biar kenyang." Sherry menunjuk ke arah makanan di depan Relly.
"Aku tidak ingin makan apa-apa tadi. Selera makanku hilang. Mungkin aku juga tidak akan makan sampai istirahat besok di sekolah, jika malam ini tidak bertemu denganmu." Relly mengatakannya dengan wajah, nada dan sikap biasa, tapi tidak bagi Sherry.
Dada Sherry bergemuruh. Sherry segera meneguk jusnya lagi. Kenapa dengan hanya begitu membuatku berdebar? Ah, Relly. Sesaat tadi ada sesuatu yang menggelitik hatinya. Sesuatu yang menyenangkan, juga membuatnya mendesah lelah.
__ADS_1