Diary Sherry

Diary Sherry
Damaiku


__ADS_3

...(Aku Sherry. Gadis yang mengalami sebuah takdir aneh. Jiwaku tertukar dengan seorang gadis lain. Saat ini jiwaku sedang terperangkap dalam tubuh seorang gadis bernama, Vermouth. )...


.......


.......


.......


Walaupun cantik dan dari keluarga kaya, Ve tidak menginginkan tubuhnya. Hidupnya sangat nyaman di rumah ini. Dia sangat mencintai kehidupan sebagai Sherry Anugerah. 


Dia rela jika harus menukar kehidupannya dengan Sherry. Walaupun di sini banyak sekali kesederhanaan, Ve sangat bahagia berada dalam rumah kecil ini. Dia merasa tidak harus menginginkan jiwanya tertukar lagi. Dia ingin di sini, tinggal di rumah ini dengan tetap menjadi Sherry.


Tidak. Aku tidak ingin kembali. Meskipun ada jalan untuk kembali aku tidak ingin kembali ke sana. Tidak!!


Ve menutup telinga dengan kedua tangannya. Dia tidak ingin lagi mendengar suara-suara samar seperti tadi. Dia tidak mau mendengarkan penuturan suara bahagia, pilu dan resah itu berdengung di telinganya. Mengganggu dan mengusiknya.


Tangannya menekan tombol penambah volume pada speaker aktifnya dan mulai mendengarkan musik lagi seraya bibirnya bersenandung mengikuti lirik lagu. Berulang-ulang dia menyenandungkan lagu-lagu sampai dia merasa lelah dan mengantuk. Lalu terlelap tanpa sadar.



Ve membuka matanya dengan perlahan. Ini masih pagi. Embun masih terasa menusuk lapisan kulit dengan dinginnya. Ve turun dari ranjang dan membuka pintu. Ibu sudah sibuk di dapur menyiapkan makanan untuk semua penghuni rumah. Ve ke kamar mandi untuk mandi.


Setelah selesai dengan rutinitas di kamar mandi dan ganti baju, Ve mendekati ibu. Memeluknya dari belakang dan mengucap selamat pagi. Ibu yang awalnya terhenyak kaget lalu tersenyum melihat putrinya yang sedang memeluknya. Lalu mengusap kepala Ve dengan sayang sambil menyandarkan kepala beliau di atas kepala anak gadisnya.


Aska yang tidur di depan tv ikut terbangun. Sambil mengucek mata, Aska sudah bisa melihat apa yang sedang terjadi di depannya. Dia melihat pemandangan itu lagi. Aska sering melihat gadis itu memeluk Ibu seakan-akan takut beliau pergi.


Sebagai anak kandung, kadang Aska merasa malu dengan sikapnya sendiri. Dia dan Sherry jarang sekali memeluk ibu seperti itu. Mungkin di karenakan terlampau lama sudah hidup bersama Ibu, jadi dia dan kakaknya merasa tidak memerlukan pelukan seperti itu karena dari masing-masing hati paham kalau kita semua mencintai Ibu.


Ibu juga mungkin merasa demikian. Jadi tidak ada pelukan hangat yang nampak di dalam rumah ini kecuali sejak tubuh Sherry berisikan jiwa Ve. Walaupun terasa aneh Ibu menerima setiap gadis ini memeluk beliau.


Aska jadi berpikir apa sebaiknya dia harus melakukan hal serupa kalau ingin menunjukkan kasih sayang terhadap Ibu? Apakah Ibu senang atau justru kaget? Karena Aska laki-laki yang akan terlihat manja kalau harus sesering itu memeluk Ibu.


Ibu pasti tidak menyadari bahwa gadis yang selalu memeluknya itu bukan putrinya. Apa reaksi Ibu saat tahu dia bukan anak sulungnya, ya?


Ve melepas pelukannya dan membantu Ibu dengan mencuci piring. Kalau dulu saat di rumahnya dia melakukan itu dengan sedih dan tertekan, kali ini dia melakukannya dengan senyum gembira. Gadis ini terlihat sangat menyukai dan mensyukuri semua kegiatan bersama Ibu.

__ADS_1


Sangat berbeda jika jiwa Sherry berada di dalam tubuhnya. Bibir Sherry akan meringis kesal dengan mata mengantuk tapi tangannya tetap mencuci piring.


Aska jadi teringat kakaknya. Apa yang di lakukan Sherry, ya. Dia ingat terakhir percakapan dengan Sherry soal dia yang rindu kehidupan di rumah ini. Terutama rindu pada Ibu. Pasti dia masih saja menangis di dalam tidurnya. Dan Orang rumah itu tidak akan tahu kerapuhan Sherry. Pasti saudaranya itu tetap memperlihatkan bahwa dirinya kuat tegar dan tidak peduli.


Padahal sebenarnya Sherry itu rapuh. Sherry itu aneh, tubuhnya kuat tapi dirinya itu cengeng. Walaupun Aska memang jarang sekali menemukan dia menangis. Namun soal Ibu, Aska yakin Sherry pasti menangis setiap harinya.


"Tidak ada pesanan kue atau masakan untuk hari ini, Bu?" tanya Ve.


"Ada. Nanti siang Ibu membuatnya."


"Aku akan pulang cepat untuk bisa membantu nanti," ujar Ve bersemangat.


"Tidak perlu. Belakangan ini kamu jarang sekali keluar rumah karena terus saja membantu Ibu."


"Tidak apa-apa, Bu. Aku senang kok membantu Ibu," Senyum Ibu mengembang dan mengusap kepala gadis ini dengan gemas.


"Tidak perlu di selesaikan, kamu harus segera mandi karena mau berangkat sekolah," Ibu melihat jam dinding menunjukkan pukul 06.03.


"Baik, bu."


Jadi Aska sering bangun duluan, dan merapikan area depan tv dengan cepat. Dia tidak mau keburukannya terlihat di depan orang lain yang bersarang dalam tubuh Sherry.



"Ka, aku turun di sini. Mereka menungguku," ujar Ve. Kalau biasanya Sherry memasuki lorong di sekolah akan di sambut dengan teman cowoknya, kali ini Sherry di temani beberapa teman perempuannya.


Jadi semenjak tubuh Sherry diisi oleh gadis lain, saudarinya itu lebih banyak menghabiskan waktu bersama dengan teman-teman perempuannya daripada ikut Aska yang sering berkelahi di jalanan.


Aska seharusnya merasa tenang kalau Sherry menjauhi arena kekerasan seperti dulu. Namun entah mengapa Aska justru resah. Setelah tahu di dalam tubuh Sherry ada jiwa lemah yang mendiaminya, Aska selalu saja meras was-was. Ada perasaan tidak tenang bila membiarkan kakaknya itu sendirian.


"Ka, ada yang nantangin entar malam," kata Nero yang menyambut kedatangan Aska di tempat parkir sepeda motor.


"Aku lihat dulu keadaan. Bisa atau enggak."


"Semakin sibuk saja, Ka. Kayak pejabat," seru Sabo. Aska hanya menyeringai. Setelah mengunci sepeda motornya dia berjalan menyusuri lorong menuju kelas di dampingi dua ajudannya.

__ADS_1


"Tumben sendirian, Ka?" tanya Nero mencari ujung hidung kakak kesayangan, Sherry. Biasanya kakak itu masih nempel jok belakang Aska. Lalu bertos ria sama Nero dan Sabo.


"Siapa? Sherry?" tanya Aska.


"Iya."


"Dia sudah bareng temennya. Tadi berhenti di gerbang depan."


"Sekarang sepertinya dia banyak teman yah? Jadi merasa enggak kenal. Eggak dekat kayak dulu lagi. Kayak ketemu sama orang baru," kata Sabo. Aska hanya mendehem.


Jelas saja beda, karena dia memang bukan Sherry. Dia adalah orang lain.


"Ka, menghadap Pak Hendri," Mirna muncul langsung kasih perintah.


"Ya." jawab Aska pendek. Sabo usil melempar itu anak dengan upilnya.


"Hei! Menjijikkan tahu!" teriak Mirna sambil melempar Sabo dengan buku yang di bawanya. Sabo menghindar sambil terkekeh.



Daniel sebenarnya enggan bertandang mengunjungi mama karena soal di dapur itu. Dia merasa aneh memperlakukan adik tirinya seperti itu. Namun karena papa yang mengajak, Daniel kudu bersikap sopan dengan tidak menolak.


Daniel berpapasan dengan gadis itu di pintu ruang tengah. Tatapan matanya tidak ceria daripada biasanya. Dia juga terlihat tidak bersemangat dan seperti kelelahan.


Daniel sibuk menerka-nerka sendiri ada apa dengan adik tirinya itu.


"Hai," sapanya dengan wajah lesunya. Daniel tersenyum geli. Tidak menyangka gadis itu masih saja mau menyapanya setelah kejadian di dapur tempo hari. Walaupun hanya sapaan tak bersemangat yang lebih mirip mayat hidup, Daniel gembira. Setelah menyapa dengan cara khas itu, Sherry menuju ke lantai dua.


Daniel menuju ke ruang makan di mana mama dan papa sudah menunggu.


"Ayo makan dulu Daniel," ajak papa.


"Ve, tidak di ajak makan, Pa?"


"Dia sedang tidak enak makan. Entahlah kenapa dia harus begitu. Kalau untuk diet papa rasa tidak perlu tubuh itu justru harus di isi dengan banyak makanan." Daniel mengangguk setuju. Tubuh adiknya itu cukup kurus kalau untuk di ajak diet.

__ADS_1



__ADS_2