
...(Aku Sherry. Gadis yang mengalami sebuah takdir aneh. Jiwaku tertukar dengan seorang gadis lain. Saat ini jiwaku terperangkap dalam tubuh seorang gadis bernama, Vermouth.)...
"Kamu jadi ingin dia benar-benar memperhatikanmu saat jiwamu ada pada tubuh aslimu. Buanglah mimpimu. Hadapi kenyataan. Kalian itu hidup dalam alam berbeda. Dia kaya, kamu miskin."
"Kamu juga miskin," balas Sherry sengit.
"Enggak. Aku merasa kaya. Aku tidak masalah tidak di sukai cewek. Aku masih punya teman. Masih punya ibu yang mau merawatku dengan baik."
"Aku enggak di sebut?"
"Enggak. Kamu kurang bersyukur karena merasa dunia runtuh karena tidak di cintai Relly."
Busyet. Aska benar. Dia bisa menemukan apa yang sedang aku rasakan.
"Aku enggak mau punya kakak cemen seperti itu. Kakakku itu enggak terlalu melow dan baperan. Dia kuat. Menghancurkan meja saja kuat, masa' menghancurkan rasa suka yang semu ke Relly enggak bisa." Asli ekspresi wajah Aska nyebelin.
"Banyak ngomong nih, bocah. Mana isinya menghina aku terus. Sialan." Aska memang suka sekali meledek kakaknya. Itu juga sebenarnya untuk menghibur Sherry yang merasa gundah gulana karena Relly.
...-------------...
...----------------...
Relly mengunjungi rumah sakit sepulang sekolah seperti janjinya. Namun saat tiba di sana, dilihatnya banyak pengawal papanya disana. Beliau sudah tiba lebih dulu sebelum Relly.
Sial. Ini gawat. Papa sudah tahu soal tubuh Vermouth yang ada di sini.
Kakinya melangkah cepat dan masuk ke dalam kamar. Saat membuka pintu, dia melihat papa dan beberapa orang kepercayaan papanya berdiri di sekitar ranjang.
Tampak Sherry (Ve yang asli) setengah duduk dengan bola matanya menatap Relly yang datang. Wajahnya penuh dengan kebingungan.
Disana juga ada orang rumah sakit yang menangani Sherry dan Daniel. Mereka juga menunduk ketakutan. Mungkin tadi mereka sedang di sidang papanya karena ikut membantu tindakan dirinya yang sembrono.
Erick melihat Relly yang datang dengan wajah was-was. Dia mencemaskan tuan mudanya.
"Selamat siang, Papa," ujar Relly memberi salam. Papa Relly menoleh kebelakang. Begitu juga bawahan beliau.
"Siang." Kaki papa mendekat perlahan. Plak! Dalam sekejap beliau melayangkan tamparan yang keras di pipi putranya. Suaranya sampai menggema di seluruh kamar ini.
Erik membelalakkan mata. Walaupun tahu bahwa akan ada hal seperti ini jika Relly memaksakan kehendak untuk tetap menyembunyikan gadis itu, dia tetap merasa terkejut.
__ADS_1
Para tim medis tidak mendongak barang sekali. Mereka tidak mau kemarahan pemilik rumah sakit ini semakin menjadi. Ve menutup mulutnya dan gemetar melihat Relly di tampar.
Relly terdiam dengan kepalanya menunduk dan kedua tangannya terjuntai kebawah. Menerima tamparan papanya dengan tenang. Perih terasa di pipi diabaikannya. Dia harus bertahan demi gadis itu.
Lucas, tangan kanan papa Relly membawa semua yang ada disana keluar kamar pasien sejenak. Hanya Erick yang di perbolehkan disana. Lucas juga kembali ke dalam ruangan setelah menyuruh semuanya menunggu di luar.
"Apa semua ini, Rel? Bukankah dia putri Gio Santana dari perusahaan SMART? Apa yang sedang kau kerjakan disini? Menyembunyikannya? Hah?!" Suara marah menggema di dalam ruangan.
"Tidak papa."
"Tidak? Lalu ini apa?! Sekarang para polisi dan orang-orang Gio tengah mencari gadis ini. Tapi ternyata dia ada disini. Di rumah sakitku! Itu juga ulah putraku!!"
"Maaf papa. Aku tengah menyelamatkannya. Dia mendapat kecelakaan di jalan, jadi aku menyelamatkannya dengan membawanya ke sini."
"Aku mengerti jika kamu ingin menyelamatkan gadis ini karena kamu terlihat menyukainya, tapi ini apa? Papa tidak setuju jika kamu terbutakan cinta hingga mengurung dan menculik gadis ini dari keluarganya!"
"Aku tidak bermaksud begitu."
"Lalu apa maksudmu?! Mengapa keberadaan gadis ini tidak di ketahui keluarganya?! Hingga Gio melibatkan polisi untuk mencarinya. Kau tahu apa akibat jika polisi bisa mengendus jejakmu?" desis papa Relly.
"Tahu, Pa."
"Jika kamu sudah tahu, mengapa melakukan ini Relly?! Ini kriminal!"
"Alasan apalagi yang bisa di anggap masuk akal saat bukti mengarah ke dirimu yang bersalah?"
"Aku tidak bisa menjelaskan soal itu."
"Jangan bertindak tidak masuk akal, Relly. Papa tidak mendidikmu untuk bertindak sembrono tanpa otak seperti ini! Berpikirlah tentang semuanya. Tindakanmu pasti berdampak pada banyak hal, Relly!" Tangan tuan besar sudah mencengkeram kerah putranya.
Erick panik. Ingin mencegah kemarahan tuan besarnya. Namun beliau langsung melepaskan cengkeraman tangannya dan mendorong tubuh Relly hingga pemuda ini mundur beberapa langkah.
"Beritahu Gio bahwa putrinya ada disini!" perintah tuan besar pada tangan kanannya. Ve tidak bisa berbuat apa-apa. Dia ingin menolong Relly, tapi dia tidak sanggup. Dia sendiri ketakutan melihat amarah papa Relly. Dia tidak cukup berani.
"Jangan papa. Jangan lakukan itu. Ini berbahaya. Jika Sherry ...." Relly menelan ludah karena menyebut nama yang keliru. "Jika Vermouth di kembalikan ke orangtuanya, aku merasa itu menjadi hal buruk baginya." Relly berusaha mencegah.
"Hal buruk kamu bilang? Satu-satunya hal buruk di sini adalah tindakanmu Relly! Ini penculikan namanya. Kamu sudah berniat menculik putri orang! Cepat Alan! Beritahu keluarga gadis ini. Lalu adakan pertemuan dengan Gio. Aku harus meminta maaf dan memberikan penawaran padanya."
"Papa tidak perlu melakukannya."
"Kenapa? Kau bisa mengatasinya? Kau akan meminta maaf dan berlutut sendiri di hadapan Gio?" tanya tuan besar tidak sabar.
"Tidak. Aku akan berlutut pada papa." Relly berlutut di atas lantai. Semua mata melihat Relly dengan terkejut. Vermouth membelalakkan matanya. Dia tidak menduga Relly akan berlutut karena dirinya. Bukan. Ini karena Sherry. Relly masih berpikir dirinya adalah Sherry.
__ADS_1
Ada apa sebenarnya? Apa yang terjadi, sebelum tubuhku terbaring di atas ranjang rumah sakit dengan jahitan di kepala ini?
Vermouth tidak paham. Dia tidak mengerti. Pasti ada suatu kejadian di balik berakhirnya tubuhnya di rumah sakit.
"Aku akan menuruti kemauan papa selanjutnya, asal membiarkan gadis ini di sini sementara waktu. Aku memohon pada papa."
"Begitukah rasa sukamu hingga mau berlutut demi gadis itu? Jika begitu, lebih baik kalian melanjutkan saja hubungan ini ke jenjang yang lebih serius. Hingga aku punya alasan saat menemui Gio. Dia pasti tenang jika perjodohan ini di lakukan."
Mereka di beri restu oleh tuan besar. Erick menoleh pada Relly. Dia merasa lega dan bahagia dengan keputusan tidak terduga dari tuan besar.
Benarkah?
Ve tidak percaya. Dia akan di jodohkan dengan Relly yang selama ini di sukainya? Di cintainya?
Apakah ini mimpi? Ve memandang Relly dengan berharap.
Tidak ada jawaban dari bibir Relly dalam beberapa detik.
"Bukan seperti itu papa." Relly menolak? Erick melihat Relly tidak percaya. Padahal Relly begitu menyukai gadis dengan panggilan Sherry itu. Bukan, tapi Vermouth. Tidak, tidak. Relly selalu menyebutnya Sherry. Hanya hari ini dia terdengar menyebut nama Vermouth.
Ve yang berada di atas ranjang membeku. Melihat cowok itu dengan tertegun. Seonggok hati terluka. Itu hati milik Vermouth.
Tuan besar menoleh pada Relly yang masih berlutut.
"Bukan? Kamu melakukan tindakan sembrono ini bukan karena berharap melakukan ke jenjang lebih serius? Papa tidak tahu jalan pikiranmu." Terlihat sekali beliau sangat kecewa.
Dia menolak? Bukankah Relly memaksakan kehendak dengan menjadikan Sherry kekasihnya secara sepihak karena mencintainya? Kenapa solusi perjodohan ini justru di tolaknya? Ve mengerjapkan mata.
Apa yang sedang di pikirkan olehmu, Relly ...
Ve yang tadinya sempat merasakan lonjakan gembira di hatinya, terpaku. Keheranannya terjawab. Cowok itu tidak lagi menginginkan Sherry di dalam tubuhku ini.
Apa karena dia tahu bahwa aku bukan Sherry? Apa dia tahu bahwa jiwa Sherry telah lenyap dariku? Tidak. Tidak mungkin.
Bibir Relly terdiam.
"Aku akan menyelesaikan masalah disini nanti. Lalu aku akan menyerahkan dia ke keluarganya jika masalah sudah selesai. Aku juga akan meminta maaf pada media. Aku menyerahkan diri."
"Sepertinya tekadmu sudah bulat soal masalah yang kamu sembunyikan itu. Papa tidak tahu apa itu, tapi ... lebih baik kalian berdua segera bertunangan. Papa merasa itu usulan terbaik. Jangan membantah. Gio akan bisa menutup mulutnya sendiri jika tahu papa meresmikan hubungan kalian berdua. Dia pasti melepaskanmu dari tuduhan penculikan," ujar tuan besar sambil melirik ke arah Ve sebentar.
Relly mendongak terkejut. Erick melihat Relly dengan menghela napas. Dia senang tuan besar tidak menghukum Relly dengan hukuman yang mengerikan, justru memberikan jalan mulus bagi hubungan mereka berdua. Namun, yang Erick lihat sekarang, tuan mudanya tidak benar-benar bahagia.
Bagaimanakah ini sebenarnya?
__ADS_1