
Revan dan Randi masih berdiri kaku didepan pintu belakang, sementara Eliya sudah berjalan keluar menjauhi kedua berandal itu.
Plakk... Revan memukul lengan Randi membuat Randi mengaduh.
"Bego! harusnya Lo nggak ngomong kayak tadi. kesan nya kita baperan banget!" kesal Revan.
"Ya mana gue tau dia sepinter itu! liat aja mukanya keliatan bego tapi ternyata omongan nya sadis!" balas Randi sambil mengelusi lengan nya.
"Lagian si Ander juga rese banget sih, dia udah ngasih penawaran gitu kenapa nggak bilang ke kita."
Revan dan Randi segera pergi menuju kafe tempat mereka nongkrong karena Ander sudah menunggu mereka.
"Gimana? berhasil nggak?" tanya Ander kala keduanya duduk didepan Ander dengan wajah kesal.
"Berhasil Lo bilang? dia ngasih penawaran ke elo kenapa Lo nggak bilang sama kita? malah nyuruh kita buat nemuin tu ugly!" protes Revan dengan nada kesal.
Ander hanya tertawa membuat Revan dan Randi semakin kesal.
"Lagian siapa suruh kalian bercanda disaat gue serius kayak semalem! gue udah kesel dikerjain tuh cewek ee kalian malah makin bikin gue tambah kesel makanya gue nyuruh kalian nemuin dia biar kalian juga ngerasain gimana ngeselin nya tuh cewek." jelas Ander membuat keduanya hanya mengerutu tak berani protes lagi.
"Trus sekarang gimana?" tanya Randi.
"Kita ikutin aja maunya dia!"
"Jadi berhenti bantuin orang orang?"
Ander mengangguk, "Mau gimana lagi, nggak ada pilihan lain!"
"Bisa aja sih kita lanjut bantuin tapi nggak pake ngusilin orangnya." kata Randi.
"Nggak seru!" celetuk Revan membuat Randi memutar bola matanya jengah.
"Kita berhenti dulu sambil ngeliat tuh cewek bener bener megang omongannya apa nggak!" jelas Ander "Sekali dia ingkar, kita sikat aja!"
"Eh mau diapain tuh anak orang?" tanya Randi.
"Di enak enakin aja." balas Revan yang langsung membuat Ander mengingat semalam, semalam saat melihat Eliya memakai pakaian seksi, ah otaknya mendadak liar, damn it!
"Bego, Lo doyan ama cewek gituan?" tanya Randi sambil memukul kepala Revan agar Revan sadar.
"Ya kagak sih." Revan mengaruk kepalanya yang tak gatal.
Ander tersenyum sinis, pada nggak tau aja gimana penampilannya kalau dirumah, eh kok malah dia jadi mikir ngelantur gini? Ander memukul kepalanya agar Ia sadar apa yang Ia pikirkan.
__ADS_1
"Besok siang kita ke rumah Indra saja dulu, ngasih uangnya dan itu terakhir kita bantuin orang." jelas Ander "Udah kelas 3, gue mau fokus sama ujian dulu, nggak mau dapet masalah apalagi masalahnya sama bokap nyokap!"
"Sadar juga Lo."
Ander hanya tersenyum sinis, Ia lalu bangkit dari duduknya "Gue cabut dulu."
Ander langsung saja pergi tanpa menunggu jawaban Revan dan Randi.
"Gue juga mau pulang lah, ngantuk Gue!"
"Elah, baru juga jam segini." dengus Revan.
"Ya udah Lo disini aja, siapa tau disamperin ciwi ciwi yang ada dibelakang kita. mereka ngeliatin kita terus dari tadi." kekeh Randi yang spontan membuat Revan menengok ke belakang.
Revan pikir ciwi ciwi yang masih muda dan mengemaskan, namun ternyata tante tante girang yang menatap ke arahnya dengan tatapan lapar, astaga!
"Woi tungguin gue!" kesal Revan melihat Randi sudah berjalan mendekati pintu kafe.
Randi baru bangkit hendak menyusul namun tiba tiba seorang pelayan kafe datang menghampirinya,
"Mas tunggu, bayar dulu."
Revan langsung saja menatap ke arah pelayan yang menuduhnya hendak kabur itu, lalu matanya menatap meja ada beberapa gelas dan piring kotor bekas makanan Ander.
"Gimana mas? nggak mau bayar nih?" tanya pelayan itu tidak sabar melihat Revan hanya diam saja.
"Ck, tenang dong mbak, pasti saya bayar. ampun deh cuma makanan segitu kecil. nggak tau aja mbak nya, bokap saya itu pemili-" Revan menghentikan ucapannya kala Ia menyentuh celana belakangnya dan tak menemukan dompetnya disana.
My God, dompetnya ketinggalan.
"Gimana mas?" tanya pelayan itu lagi melihat Revan langsung diam.
Revan langsung saja merogoh ponselnya hendak menghubungi Randi dan Ander namun sayangnya nomer keduanya tidak aktif. Tak menyerah Ia mencoba menghubungi Papa nya juga sama tidak ada jawaban.
Sial, benar benar sial.
Pelayan itu menatap Revan semakin curiga,
"Jangan kabur ya mas, nanti saya teriak lho."
"Gini mbak, temen saya yang tadi makan disitu nggak jawab telepon saya trus dompet saya ketinggalan, gimana dong?" tanya Revan dengan wajah menatap iba ke arah pelayan itu. berharap pelayan itu mau memberikan gratis makanan itu.
Pelayan itu tersenyum "Udah biasa mas, orang pasti bilang nya gitu kalau nggak bayar makanan."
__ADS_1
Revan tentu saja tak terima dengan ucapan pelayan tadi, jiwa sombongnya meronta ronta. dirinya anak pemilik klinik terkenal dikota ini mana mungkin tak bisa membayar makanan yang hanya sebanyak uang sakunya itu.
"Astaga mbak, nggak tau siapa saya? nggak tau siapa Papa saya? kalau mbak tau pasti mbak bakal pingsan."
"Saya nggak mau tau mas, yang saya tau hanya ingin makanan nya dibayar. udah itu aja."
Revan kembali berdecak, "Iya mbak saya bayar, tapi saya pulang dulu ambil uangnya nanti saya balik lagi."
"Mau kabur huh!" Pelayan itu menatap curiga.
Revan mengacak rambutnya frustasi, sial sekali dirinya malam ini.
"Mau eneng bayarin bang? tapi nggak gratis Lho, temenin semalam nggak apa apa." suara centil terdengar dari arah tante tante girang yang menatap ke arah dirinya lapar.
Seketika Revan bergindik membayangkan sesuatu yang tidak tidak.
"Biasanya kalau nggak bayar di apain mbak?" tanya Revan yang langsung membuat pelayan itu menghembuskan nafas kesal.
"Ikut saya, bilang kek dari tadi kalau nggak mau bayar. ribet amat!" omel pelayan itu.
"Ya ampun mbak, saya itu mau bayar tapi mbak nya nggak sabaran sih. mau pulang ambil uang aja nggak bo-"
"Pulang apa kabur!" ketus pelayan itu memotong ucapan Revan yang belum selesai.
"Serah deh mbak, udah lah saya mau disuruh ngapain aja juga mau dari pada dituduh terus dari tadi."
Pelayan itu memutar bola matanya jengah, berjalan ke belakang diikuti oleh Revan.
"Nggak mau nih bang?" teriak tante tante girang itu pada Revan membuat Revan semakin takut.
"Sialan tuh tante girang, udah mau masuk kuburan juga masih godain anak muda super tampan kayak gue!" gerutu Revan selama perjalanan menuju dapur kafe. sementara pelayan tadi sempat berhenti berjalan dan menatap ke arah Revan sengit.
"Cakep juga nih cewek." batin Revan melihat Pelayan itu dari belakang.
Pelayan itu berhenti disebuah wastafel tempat mencuci piring dimana ada banyak piring kotor disana membuat perasaan Revan tak enak, jangan jangan dia disuruh,
"Cuci semua piring yang ada disini sampai kafe tutup!"
Haaa? Revan melonggo tak percaya.
BERSAMBUNG....
JANGAN LUPA LIKE VOTE DAN KOMEN...
__ADS_1