
Setelah pulang dengan menaiki taksi, Revan hanya mandi lalu bergegas pergi lagi.
"Memangnya sudah mau ke bengkel?" tanya Riska menatap putranya sudah rapi.
"Nggak Mah, cuma mau ketemu sama orang." kata Revan mencium punggung tangan Riska.
Riska yang nampaknya sudah paham dengan siapa yang akan ditemuin Revan hanya diam saja tidak komentar apapun.
"Berangkat dulu ya Ma." Revan segera keluar setelah Riska membalasnya dengan anggukan.
Revan segera melajukan mobilnya, tentu saja sekarang Ia lebih berhati hati karena tak ingin sesuatu terjadi padanya.
Sebelum sampai ke tempat tujuan, tak lupa Revan mampir ke toko bunga Eliya untuk membeli bucket bunga yang akan Ia berikan pada seseorang yang ingin Ia temui.
"Udah sembuh total?" Eliya yang saat itu sedang berada diluar ruangan membantu para karyawan melayani pembeli terlihat senang melihat Revan sudah keluar dari klinik milik Papanya.
Revan mengangguk, "Hanya beberapa kali lagi kontrol untuk memastikan semua sudah baik baik saja."
"Syukurlah, aku senang mendengarnya, apa bunga nya untuk orang spesial?" tanya Eliya ingin tahu.
Revan mengangguk, "Tolong buatkan seindah mungkin."
Eliya tertawa renyah, "Tentu saja Tuan, serahkan semuanya padaku."
Revan tersenyum, sedari tadi sebenarnya Revan melihat perut buncit Eliya.
"Berapa usia kandungan mu?"
"Sedang berjalan 5 bulan."
Revan menatap Eliya tak percaya, "Apa Ander sudah bangkrut sekarang " tanya Revan membuat Eliya menatap Heran.
Bangkrut? mana mungkin, bahkan harta warisan dari Daddy Alex saja sebenarnya cukup untuk hidup mewah 7 turunan batin Eliya.
"Tentu saja tidak," balas Eliya.
"Jika tidak, kenapa masih membiarkan mu bekerja?" tanya Revan langsung saja membuat Eliya terkekeh.
"Ini mau ku sendiri. jangan salah paham. bahkan sebenarnya Ander melarangku untuk bekerja."
"Lagi pula, baby didalam perut tidak ingin aku hanya bermalas malasan dirumah." jelas Eliya lagi.
"Apa kalian bahagia sebentar lagi memiliki baby?" tanya Revan.
"Tentu kami bahagia. semua orang juga akan bahagia."
"Anak itu pelengkap kebahagiaan." jelas Eliya.
"Kau benar, karena anak pula kita bisa menyatu dengan orang yang kita cintai." kata Revan tanpa Ia sadari.
__ADS_1
"Apa maksudmu?" tanya Eliya yang sudah menyelesaikan bucket bunga nya.
"Tidak ada." Revan yang merasa keceplosan segera menghindar dari pertanyaan Eliya. Ia mengambil bucket yang sudah selesai dari tangan Eliya.
"Hasil bucketmu sangat luar biasa cantik. terima kasih kakak ipar." kata Revan.
"Jangan lupa membayar dikasir depan." goda Eliya yang langsung saja membuat keduanya tertawa.
"Sebenarnya apa maksud ucapan nya tadi?" batin Eliya saat Revan sudah pergi.
....
Revan menghentikan mobilnya disebuah kafe yang terlihat sangat ramai pengunjung.
Dengan sebucket bunga yang Ia bawa, segera Revan memasuki kafe dan wajahnya terpancar kebahagiaan.
"Rania ada?" tanya Revan pada salah satu pelayan kafe.
"Ada mas, diruangan nya." jawab pelayan kafe yang langsung saja diangguki Revan.
Segera Revan memasuki ruangan Rania untuk memberikan surprise pada Rania yang tak tahu jika dirinya pulang hari ini.
"Mau kemana?" tanya Revan saat memasuki ruangan Rania dan melihat Rania bersiap ingin pergi.
"Kamu sudah pulang?" Rania menatap Revan penuh keheranan. "Aku baru ingin ke klinik." kata Rania.
"Ck, perhatian banget sih calon istri aku." kata Revan memberikan sebucket bunga pada Rania membuat Rania tersipu malu.
"Kenapa tak mengabari jika sudah pulang?" tanya Rania.
"Surprise, seneng nggak?"
Rania mengangguk pelan, entah mengapa perasaan nya merasa aneh jika berada didekat Revan. Jantungnya sering berdegup dan merasa sangat gugup.
"Dan bentar lagi kita nikah." Revan membawa Rania ke dalam pelukan nya membuat Rania tersenyum bahagia.
Tak menyangka Revan kekeh ingin bertanggung jawab setelah apa yang sudah Ia lakukan pada Revan.
"Nanti pulang dari sini aku mau minta restu dari Papa dan Mama. Doian aku ya." kata Revan yang hanya diangguki Rania.
"Setelah itu aku bakal minta Restu Mama dan kakak kamu." kata Revan lagi.
"Nggak perlu minta restu mama, cukup kak Ricky aja." kata Rania membuat Revan langsung menatapnya.
"Mama kamu masih belum merestui kita?" tanya Revan mengingat Mama Rania memamg tak menyukai dirinya yang dipikir tak ber uang.
Mama Rania hanya belum tahu saja siapa dirinya dan siapa Vano Papanya.
Jika saja Mama Rania tau kalau dirinya pemilik bengkel mobil terbesar dan satu satunya dikota mereka, apa Mama Rania masih tak merestui mereka?
__ADS_1
"Aku akan tetap akan menemui Mama kamu dan meminta restu beliau." kata Revan mantap.
"Baiklah, terserah kamu saja." balas Rania "Dan juga Kak Ricky bilang ingin kamu menemuinya."
"Kapan? apa sekarang saja?"
Dan tak butuh waktu lama, Rania langsung saja menelepon sang Kakak agar datang ke kafe.
Dan disinilah Revan berada, duduk didepan Kakak Rania yang menatapnya tajam tanpa ada Rania.
Kali pertama Revan berhadapan dengan saudara kekasihnya karena sebelumnya Revan belum pernah memiliki kekasih jadi rasanya sangat gugup.
"Berani sekali kau.menghamili adik ku!" kata Ricky masih menatap Revan tajam.
"Maafkan atas kekhilafan saya." jawab Revan dengan wajah pucat "Saya pasti akan bertanggung jawab karena saya sangat mencintai Rania."
"Semudah itukah? bahkan rasanya tanganku ini gatal ingin memukul mu lebih dulu." kata Ricky sambil memperlihatkan kepalan tangannya membuat Revan semakin pucat seketika.
Baru saja Ia sembuh, bisa bisa harus rawat inap lagi batin Revan menelan ludahnya.
"Sa-saya benar benar minta maaf." kata Revan dengan suara berbata membuat Ricky langsung saja tertawa.
"Aku akan melakukan nya jika aku melihatmu menyakiti Rania." kata Ricky membuat Revan bernafas lega, ternyata Ricky hanya mengoda Revan.
"Apa yang sedang kalian bicarakan?" tanya Rania yang kini duduk disamping sang kakak.
"Hanya obrolan tentang dua pria dewasa." balas Ricky sambil tersenyum ke arah Revan yang masih terlihat pucat.
"Aku pergi dulu, masih banyak urusan. dan kalian berdua, segera persiapkan pernikahan sebelum perut Rania membesar." pinta Ricky sebelum pergi.
"Kamu terlihat pucat, apa kamu takut dengan kakak ku?" tanya Rania saat Ricky sudah pergi.
"Ta-takut? tentu saja tidak. apa kamu meremehkan ku?" tanya Revan sewot membuat Rania terkekeh.
"Aku hanya bercanda, kenapa serius sekali." balas Rania sambil masih tertawa.
Mereka berdua pun menghabiskan waktu dengan berjalan jalan keluar, sekaligus kencan pertama mereka berdua.
"Besok kita pergi ke dokter untuk memeriksa dia." kata Revan sambil mengelusi perut Rania saat keduanya sudah berada didalam mobil hendak pulang.
Rania mengangguk setuju, karena sejak awal dirinya juga belum pergi ke dokter.
"Jangan rewel diperut Mama ya sayang, kasian Mama." kata Revan mencium perut Rania sebelum Rania turun dari mobil.
Setelah Rania turun, Revan kembali melajukan mobilnya untuk pulang.
Dan malam ini, Ia akan meminta restu dari kedua orangtunya untuk menikahi Rania.
BERSAMBUNG...
__ADS_1
JANGAN LUPA LIKE VOTE DAN KOMEN....