
"Apa! kamu membeli kafe ini?" Rania terkejut kala mendengar penjelasan Revan yang membeli kafe ini dari sang Mama.
"Aku tahu perjuangan kamu merintis kafe ini, dan aku nggak mau kamu menyerahkan kafe ini secara cuma cuma hanya karena aku." jelas Revan.
"Jadi, apa kamu sudah tahu semuanya?" tanya Rania menatap Revan yang langsung mengangguk.
"Kenapa nggak cerita?"
Rania menggeleng pelan "Aku malu."
"Jangan pernah sembunyikan apapun lagi dari ku. oke." ucap Revan sambil mengenggam tangan Rania.
Rania kembali mengangguk, "Terimakasih."
"Sebentar lagi kita menikah, jadi hal sulit apapun kita lalu berdua, termasuk Mama kamu." jelas Revan yang langsung membuat Rania menghela nafas.
"Aku cuma nggak mau Mama minta uang sama kamu hanya karena kamu anak mantu nya, makanya aku kasih semua apa yang aku punya biar Mama nggak ganggu kita lagi." jelas Rania.
"Nggak masalah jika memang dia mau minta, tapi aku nggak akan sebodoh itu untuk ngasih uang meskipun dia Mama mertua aku." kata Revan "Jadi kamu nggak perlu khawatir dengan hal seperti ini."
Rania mengangguk lega,
"Kenapa juga Mama kamu bisa setega itu sama kamu?" heran Revan.
"Karena dia bukan Mama aku." Rania menunduk kala melihat wajah terkejut Revan.
"Mama kandung aku menjadi selingkuhan Papa yang waktu itu masih suaminya mama nya bang Ricky. Mama sama Papa meninggal karena kecelakaan dan aku dititipin sama Mama nya bang Ricky."
"Jadi aku ngerti kenapa Mama bisa sebenci ini sama aku. aku cuma anak dari pelakor." jelas Rania dengan mata memerah.
"Hsst, sudah jangan berbicara seperti itu." Revan mengenggam lebih erat tangan Rania.
"Lebih baik kita pulang saja, kasihan dede bayinya kalau tau mamanya nangis terus dari tadi." kata Revan membuat Rania memukul dada Revan.
"Kamu tuh yang bikin nangis terus." ucap Rania membuat Revan terkekeh.
Revan merangkul Rania, membawa Rania memasuki mobil. Revan segera melajukan mobilnya.
"Kok kesini?" tanya Rania heran saat mobil Revan berhenti tepat didepan rumah Rania.
"La memang rumah kamu di sini kan?" kata Revan santai.
"Ta-tapi rumahnya... apa rumah ini juga kamu beli?" tanya Rania curiga.
Revan hanya tersenyum, lalu keluar dari mobil diikuti Rania.
"Apa ini nggak berlebihan?" tanya Rania saat keduanya memasuki rumah.
"Nggak ada yang berlebihan buat kamu." ucap Revan membuat pipi Rania merona.
__ADS_1
"Kapan kamu ketemu sama Mama?" tanya Rania.
Revan hanya tersenyum, mengingat sepulang dari apartemen Ricky kemarin, ia langsung menghubungi Ricky dan mengajak bertemu.
"Sebenarnya apa yang terjadi?" tanya Revan pada Ricky.
Dan Ricky mulai menjelaskan jika harta Rania sudah diserahkan oleh Mama karena Rania tak ingin Mama menganggu Revan setelah menikah dengan Rania nantinya.
Tentu saja Revan terkejut dengan penjelasan Ricky, mengingat Revan tahu bagaimana perjuangan Rania membuat kafe hingga bisa membeli rumah dan mobil yang sekarang juga sudah diserahkan oleh Mama Rania.
Benar benar Mama yang kejam pikir Revan waktu itu.
"Bagaimana jika aku yang akan membeli semuanya?" tanya Revan membuat Ricky terkejut.
"Apa kau yakin? Mama ku pasti tidak akan melepaskan dengan harga murah."
"Tidak masalah, kafe itu hidup Rania dan aku tak akan membiarkan Rania memberikan kafe itu hanya karena aku." jelas Revan.
Ricky tersenyum, Dari sini Ia bisa melihat keseriusan dari Revan pada Rania.
"Baiklah, kita temui Mama sekarang."
Sesampainya dirumah sang Mama,
"Aku ingin 2 milyar untuk semua harta Rania."
"Mama jangan gila!" geram Ricky mendengar ucapan Mama nya.
"Baiklah, Saya akan menberikan 2milyar nanti sore dan setelah itu Anda bisa memberikan semuanya kembali pada Rania."
"Jangan gila Van, jangan turuti Mama ku." kata Ricky tak setuju.
"Tidak masalah, semua demi kebahagiaan Rania." kata Revan mantap.
Mama tersenyum senang, "Bagus, memang itu yang aku inginkan."
"Kau ini ternyata memang sangat kaya ya, seharusnya aku menyetujui dengan Rania sejak dulu." ucap Mama sambil terkekeh membuat Revan muak.
"Ku tanya kamu kapan ketemu sama Mama?" Rania kembali memukul dada bidang Revan membuat Revan membuyarkan lamunan nya.
"Dia minta uang sama kamu berapa sampai mau menyerahkan semua begini?" tanya Rania terlihat cemas.
Revan menarik pinggang Rania hingga Rania jatuh ke dalam pangkuan nya,
"Nggak perlu pikirin apapun, cukup pikirkan diri kamu dan kandungan kamu. aku nggak mau anak kita kenapa napa hanya karena kamu terlalu memikirkan ini semua." jelas Revan lalu mencium kening Rania.
"Ma-makasih." ucap Rania dengan raut wajah bahagia.
Mereka saling memandang satu sama lain, cukup larut dari pandangan masing masing hingga semakin lama semakin dekat. Bibir keduanya menempel dan mulai *******.
__ADS_1
Awalnya ciuman mereka terasa biasa namun semakin lama semakin mengebu, tangan Revan pun tak hanya diam namun sudah memasuki baju Rania.
Hingga Revan sadar dan melepaskan ciumannya,
"Sabar, 2minggu lagi."
.....
Semua orang sudah riweuh dengan persiapan pernikahan Revan dan Rania. Tak terkecuali dengan Riska dan Vano yang ikut andil dalam persiapan ini.
Namun Vano hanya mengambil tugas yang mudah saja, menyebarkan undangan khusus untuk sanak terdekat.
Dan saat ini Vano sedang berada didepan mansion Alex untuk memberikan undangan secara khusus.
"Udah lama banget ya nggak kesini." kata Ella sambil membawa coklat hangat dan sepiring kue untuk Vano.
"Ya mau gimana lagi, gue kan sibuk kerja, emang laki Lo pengangguran." balas Vano saat Alex baru saja duduk membuat Ella terkekeh sementara Alex hanya mengerutu.
"Dateng dateng ngajakin berantem nih bocah." omel Alex membuat Vano terkekeh.
"Ngapain kesini? sorry ya lagi nggak nerima sumbangan apapun." kata Alex.
"Gue tau, Lo udah miskin jadi nggak bakal minta sumbangan kesini." ejek Vano sambil tertawa membuat raut wajah Alex berubah kesal.
"Udah udah, ngapain sih malah pada berantem." tegur Ella yang sedari tadi juga berada disana.
Vano mengeluarkan undangan dari jaketnya lalu meletakan dimeja.
"Mau nikah lagi Lo?" tanya Alex langsung memyambar undangan dan membacanya.
"Si Revan udah mau yang enak enak ternyata." Alex tersenyum melihat nama calon pengantin yang tak lain adalah Revan dan Rania.
"Tau deh pusing pala gue." celetuk Vano terlihat frustasi.
"Anak mau nikah tuh harusnya seneng, kan bentar lagi bisa punya cucu kayak kita ya mas." sambar Ella membuat Vano memaksakan senyumnya.
"Seneng sih seneng tapi kalau ngehamilin anak orang mana bisa seneng." batin Vano.
....
"Mas kenapa sih kok senyum terus dr tadi?" tanya Ella saat Vano sudah pulang.
"Kayaknya aku sama Sandi harus buka biro jodoh."
"Haaa? maksudnya apa mas?"
Ella terkejut namun Alex malah terkekeh.
BERSAMBUNG...
__ADS_1
Jangan lupa like vote dan komen...