DIJEBAK PERJODOHAN

DIJEBAK PERJODOHAN
94


__ADS_3

Setelah menghabiskan jam makan siang diruangan Revan, Ander memutuskan kembali ke kantor. Ia berjalan keluar dan mendesah kesal kala mobil Ran belum terlihat.


"Kemana anak itu? padahal sudah hampir 2jam." gerutu Ander melirik jam tangan yang melingkar ditangannya.


Ander yang baru saja ingin mendial nomer Ran, namun diurungkan karena mobil dinas Ran sudah terlihat memasuki klinik.


Segera Ander memasuki mobilnya,


"Tuan sudah lama menunggu? maafkan saya Tuan." kata Ran kala Ander baru saja menempelkan bokongnya di kursi bagian belakang.


"Lama sekali, bahkan rasanya aku ingin memecatmu sekarang juga!"


Seketika Ran panik mendengar ucapan Ander "Maafkan saya Tuan, Tolong jangan pecat saya."


"Nanti akan kupikirkan lagi." balas Ander santai. Entah mengapa mengoda Ran sangat menyenangkan untuk Ander. apalagi melihat wajah Ran langsung panik jika Ander mengodanya membuat Ander merasa senang dan terhibur.


Sementara didepan Ran sudah pucat, Ia tak menyangka kesenangan yang baru saja Ia rasakan membuat dirinya mendapatkan ancaman dari bosnya.


Dipecat? tentu akan menjadi mimpir buruk untuk Ran karena Ran sudah terlanjur nyaman bekerja dengan Ander dan dia tidak ingin dipecat.


Salahnya, karena terlalu asyik mengajak makan siang Nana hingga Ia lupa diri dan lupa waktu.


"Apa kau merindukan ku sayang?" tanya Ran pada Nana dengan wajah mengoda.


Wajah Nana berubah merah, semerah tomat, "Ti-tidak, tentu saja tidak." balas Nana dengan cepat dan gugup.


"Benarkah? bagaimana jika kita makan siang bersama?" ajak Ran.


"Tidak, aku harus masuk sekarang." balas Nana.


"Jika seperti itu baiklah, aku tak akan menganggumu lagi." Ran hendak memasuki mobil namun tertahan karena Nana memegang tangannya.


"Baiklah, ayo kita makan siang bersama." kata Nana membuat Ran menyerigai.


Ran mengajak Nana makan siang disebuah resort dan tanpa mereka sadari sudah hampir 2jam lamanya mereka disana karena asyik berbincang, makan sembari melihat pemandangan yang sangat indah.


Mengingat itu membuat Ran tersenyum karena akhirnya Ia berhasil menaklukan Nana. sejenak melupakan ancaman dari Ander meski dirinya juga mengkhawatirkan Nana yang mungkin akan mendapatkan marah seperti dirinya saat ini.


Namun kenyataan nya, semua kekhawatiran Ran tidaklah terjadi karena saat Nana kembali ke toko langsung mendapatkan sorakan dan godaaan dari teman temannya.


"Na, jangan lupa traktir ya?"


"Beneran jadian nih?"


"Yang lagi cintrong sampe lupa waktu."

__ADS_1


"Habis dari hotel Na? kuat berapa Ronde?"


Wajah Nana yang tadinya biasa kini menjadi tak biasa, merah merona karena godaan frontal dari teman temannya.


"Udah sampai mana?" tanya Eliya kala Nana memasuki ruangan Eliya.


"Sampai mana apanya mbak?" Nana terlihat bingung.


"Udah jadian kan?" tanya Eliya lagi dan barulah Nana paham.


Nana tidak menjawab, hanya tersenyum malu malu.


"Langsung ajak nikah aja Na, jangan mau diajak pacaran lama lama." kata Eliya membuat Nana semakin memerah pipinya pasalnya tadi Ran memang sudah membahas tentang pernikahan dengan nya.


....


Pagi setelah bangun tidur, Rania masih merasa pusing dan mual. Karena tak ingin penasaran lagi, akhirnya Rania mengambil bungkusan yang semalam Ia beli di apotik.


Dengan tangan bergetar, Rania mencoba alat tespek. Sejujurnya Rania takut untuk mencobanya namun saat merasakan gejala yang sama seperti orang hamil, membuat Rania memberanikan diri mencoba alat tespek itu.


Rania membeli 5 tespek dengan merek berbeda, dan saat mencoba yang pertama Rania menutup matanya dan mengintip sedikit, seketika lemas tubuh Rania melihat Tespek itu bergaris dua yang artinya Rania hamil.


Karena tak ingin salah, Rania mencoba satu persatu hingga kelima tespek itu bergariskan dua semua.


Saat pertama kali melakukan dengan Revan, setelahnya Rania meminum pil pencegah kehamilan namun terakhir kemarin Rania bahkan lupa meminumnya karena sepulang dari hotel, Ia dihubungi sang Kakak yang selama ini diluar negeri untuk menjemputnya.


Dan sekarang, hasil dari keteledoran Rania sendiri, positif.


Rania mengacak rambutnya frustasi, tak tahu lagi apa yang harus Ia lakukan sekarang.


Apakah Ia harus mengatakan pada Revan atau tidak karena pada kenyataanya Ia yang sudah membuat Revan meninggalkan nya.


"Apa yang harus ku lakukan sekarang?" gumam Rania lirih.


...


Setelah Riska memasuki ruang inap Revan, Randi pun beranjak pulang karena misinya sudah selesai. Ya misi menjaga Revan semalaman, meski disana Ia lebih banyak tidur dari pada mendengar ocehan nonfaedah dari Revan yang sepertinya kesulitan tidur.


"Mama bawain rolade ayam kesukaan kamu." kata Riska sudah membuka kotak makanan yang Ia bawa "Mama tau kamu pasti nggak bisa makan makanan klinik kan?"


"Makasih Ma," balas Revan dengan suara lesu.


"Kamu ngantuk?"


"Semalem Revan nggak tidur Ma." balas Revan "Nggak bisa tidur.

__ADS_1


"Lagi ada yang kamu pikirin?" Riska menyuapkan seiris rolade ayam ke mulut Revan.


Revan hanya menggeleng pelan karena Ia sibuk mengunyah.


"Ngomong ngomong, siapa wanita yang kemarin datang? apa pacar kamu?" tanya Riska.


Revan menggeleng pelan, "Revan nggak punya pacar Ma."


"Trus siapa? dia keliatan khawatir banget liat kamu. jangan jangan dia orang yang suka sama kamu." tebak Riska membuat Revan tersenyum kecut.


"Bukan Riska yang suka sama Revan tapi Revan Ma." batin Revan.


"Dahlah Ma jangan bahas itu, Revan mau tidur aja."


"Habisin dulu makanan nya baru tidur." kata Riska kembali menyuapkan rolade ayam nya.


Seusai makan, Revan sudah tidur karena tak kuat menahan rasa kantuk akibat semalaman tak tidur. sementara Riska yag tadinya sibuk membereskan sampah sisa semalam kini sudah duduk santai di sofa sambil membaca majalah.


"Duh santai banget istri ku ini?" tiba tiba Vano masuk dan mendekati istrinya.


Hal tak terduga, Vano langsung saja mencium pipi Riska.


"Mas ngapain di sini? bukannya diluar pasien lagi banyak?" heran Riska.


"Lagi nemuin istriku lah, kok kangen banget ya." kata Vano tersenyum tengil membuat Riska memutar bola matanya malas.


"Nggak usah aneh aneh deh mas! anak kita lagi sakit juga." protes Riska kesal.


"Lagian bukan nya semalem juga udah?"


"Kamu tuh pikirannya negatif trus sama suami, aku kesini cuma mau ngecek kondisi Revan." kata Vano bangkit dari duduknya dan berjalan mendekati ranjang Revan.


"Soalnya Risha aku suruh masuk malem jadi ya aku sendiri yang ngecek."


"Alesan aja kamu tuh mas." balas Riska malas membuat Vano terkekeh.


Selesai mengecek keadaan Revan, Vano keluar dan terkejut melihat keberadaan Rania didepan pintu.


"Lho, kamu..." Vano mencoba mengingat Rania adalah salah satu pasien nya yang kemarin datang menjenguk Revan.


"Pagi dok." sapa Rania tersenyum kikkuk.


BERSAMBUNG....


JANGAN LUPA LIKE VOTE DAN KOMEN...

__ADS_1


__ADS_2