
Ander memasuki mobilnya dan membanting pintu mobilnya. Ia merasa kesal pada Ayah mertuanya yang telah mengusirnya.
"Benar benar menyebalkan." gerutu Ander langsung melajukan mobilnya meninggalkan rumah Eliya.
Sementara masih di taman belakang, Sandi tertawa mengingat ekspresi kesal dari Ander. sekarang Ia bisa membuat bocah itu takluk padanya hanya karena dirinya menjadi Ayah mertuanya. mengingat bagaimana pembangkangnya Ander dulu berbeda jauh dengan Ander yang sekarang.
"Kamu kenapa sih mas?" tanya Nisa heran saat melihat suaminya senyum sendiri ditaman belakang.
"Nggak apa apa,"
Nisa meletakan ponsel di meja, "Dari tadi bunyi trus, coba di cek mas kali aja penting."
Sandi segera menyambar ponselnya, ada 5 notifikasi panggilan tak terjawab dan 2 pesan dari Alex.
***Sepertinya ada masalah dengan anak kita.
kita harus bertemu besok***.
Yah kita memang harus bertemu segera Tuan, sudah sangat lama kita tidak melakukan tugas bersama gumam Sandi.
Setelah Ander mengantikan posisi Dad nya, Alex memang sudah pensiun begitu juga dengan Sandi apalagi mereka sekarang sudah besanan jadi sudah bukan majikan dan sopir lagi.
...
Tengah malam, Eliya hanya berbolak balik di ranjang dan belum bisa memejamkan mata. Entah apa yang membuatnya seperti ini dirinya merasa seperti ada yang kurang.
"Apa kamu meridukan dad mu sayang?" gumam Eliya sambil mengelus perutnya.
"Bahkan Dad mu tidak datang untuk menjemput kita? jadi untuk apa kita harus memikirkan nya?"
Mengingat itu mendadak Eliya menjadi kesal sendiri. Eliya bangun dan hendak turun ke bawah untuk mengambil air minum.
"Sayang, belum tidur?" Bunda terlihat membawa segelas air dari dapur.
Eliya menggeleng pelan "Belum bisa tidur Bund."
Nisa tersenyum "Pasti kangen nih sama Papa nya." Nisa mengelusi perut Eliya.
"Eng-enggak!"
"Masa? berarti cuma papa nya doang nih yang kangen."
Eliya mengerutkan keningnya heran,
"Tadi Ander kesini."
Mata Eliya langsung membulat, "Ke-kenapa Eliya nggak tau? sekarang dimana?"
"Disuruh pulang sama Ayah kamu,"
__ADS_1
"Kenapa disuruh pulang?" entah mengapa Eliya terlihat kesal.
"Ayah pikir kamu nggak mau ketemu jadi ya di suruh pulang, kenapa? kamu kecewa?"
"Eng-enggak. lebih bagus disuruh pulang saja!" kata Eliya kesal lalu berjalan meninggalkan Bundanya yang terkekeh.
"Kenapa Ayah menyuruhnya pulang sih!" gerutu Eliya kesal.
Sementara diapartemen, tak hanya Eliya yang tidak bisa tidur, Ander pun juga merasakan yang sama.
Berkali kali Ia mencoba memejamkan mata namun masih juga belum terpejam.
Dan yang lebih parahnya lagi, Sekarang Ander merasakan perutnya keroncongan. Ia sangat lapar dan ingin makan nasi goreng tengah malam begini padahal tadi Ia sudah makan dirumah mertuanya.
Ander mencoba membuka ponselnya, Ia menscroll aplikasi online food namun tak ada satupun yang bisa membuatnya tertarik.
Ander bangkit lalu berjalan ke dapur, "Susah juga ditinggal istri." keluh Ander mengingat selama ini Ia bahkan tak perlu memikirkan masalah makan sudah ada yang menyiapkan untuknya kapanpun Ander mau.
Ander kembali membuka ponselnya dan mengetikan sesuatu disana, cara membuat nasi goreng.
Meskipun dulu sewaktu di luar negeri Ia sering memasak sendiri namun setelah pulang Ia benar benar lupa bagaimana caranya, apalagi sekarang sudah ada yang menyiapkan nya setiap hari.
Ander kemudian menyiapkan semua bahan yang tertulis di ponselnya dan mulai membuat hingga jadilah nasi goreng ala ala Ander.
Baru sesuap Ander memasukan nasi goreng ke mulutnya, Ia merasakan mual yang sangat hebat lalu memuntahkan diwastafel.
Ander geram dengan dirinya sendiri, Ia merasa tidak ingin makan nasi goreng buatan nya, Ia ingin makan nasi goreng buatan Eliya.
Ander meneguk segelas penuh air putih, Ia lantas kembali ke kamarnya. Ander kembali menyambar ponselnya hendak menelepon Eliya namun Ander terkejut karena nomornya diblokir oleh Eliya membuatnya tidak bisa menghubungi Eliya.
"Sial." desis Ander lalu menjambak rambutnya frustasi.
Baru satu jam Ander memejamkan mata, alarm jam wekeer dinakas berbunyi membuat Ander mau tak mau bangun.
Sebenarnya Ia sedang tak ingin kekantor, namun pekerjaan yang menumpuk sudah menantinya. Apalagi kemarin Ia bahkan meninggalkan pekerjaan nya setengah hari sudah pasti hari ini akan menjadi hari yang sibuk untuknya.
"Ada apa dengan tatapan mu itu?" sentak Ander terlihat tak suka dengan tatapan Ran yang sedikit melotot padanya.
"Ti-tidak Tuan." Ran hanya terkejut melihat penampilan Ander yang sangat berantakan. Mata panda yang melingkar dikedua matanya, kumis dan janggutnya yang belum dicukur serta baju yang sedikit acak acakan.
"Sampai dikantor carikan aku sarapan." perintah Ander.
"Tuan baik baik saja?"
"Kenapa jika aku sedang tak baik baik saja? kau ingin mengejek ku?"
Oh shit, seharusnya Ia tak menanyakan itu batin Ran menyesal.
"Maaf Tuan, saya hanya bertanya."
__ADS_1
Ran segera melajukan mobilnya menuju kantor sebelum Ander kembali mengamuk.
...
Sementara siang ini Sandi sudah bersiap ingin menemui Alex.
"Ketemu dimana mas?" tanya Nisa saat Sandi akan berangkat.
"Aku jemput dulu di mansion, paling nanti jalan jalan keluar. mau ikut?"
Nisa menggeleng "Urusan para pria."
Sandi tersenyum lalu mengecup kening istrinya sebelum berjalan keluar rumah.
Sesampainya di mansion ternyata Alex sudah menunggu Sandi, kali ini bukan Sandi yang menunggu Alex seperti saat Sandi masih bekerja pada Alex dulu.
"Tuan... kenapa duduk didepan?" tanya Sandi heran melihat Alex duduk disamping dirinya padahal tadi Sandi sudah membuka kan pintu belakang.
"Kenapa memanggilku Tuan? kita sudah besanan jadi jangan memanggilku seperti itu. dan aku juga bukan majikan mu lagi. kita ini partner jadi aku duduk disebelahmu."
"Tapi Tuan..."
"Tidak ada bantahan, ayo kita berangkat sekarang."
Sandi pun menuruti keinginan Alex meskipun dirinya sedikit tak nyaman.
Mereka berhenti disebuah taman dan mencari tempat di bawah pohon yang rindang. Duduk disana berdua sambil menyeruput kopi hangat serta pisang goreng. meski cuaca panas nyatanya tak membuat mereka kepanasan karena tempatnya sangat teduh.
"Aku sangat senang sekali saat mendengar Eliya hamil, cucu yang kita tunggu akhirnya akan segera datang menemani masa tua kita." kata Alex memulai pembicaraan.
"Benar, saya juga berpikir begitu."
"Sebenarnya ada masalah apa dengan anak anak? Ran bilang Eliya pulang ke rumah."
Sandi menghela nafas berat,
"Sebenarnya hanya karena kesalahpahaman masa lalu Tuan."
"Apa maksudnya?"
Sandi mengeluarkan alat perekam yang menjadi permasalahan rumah tangga Ander dan Eliya lalu memberikan pada Alex.
"Apa ini?"
"Saya mendapatkan ini dan mungkin inilah penyebab mereka bertengkar."
Segera Alex mendengarkan isi dari rekaman itu dan betapa terkejutnya Alex mendengar isi dari rekaman yang ternyata itu suara Ander dan dua saudaranya.
Next...
__ADS_1
Jangan lupa like vote dan komen...