
Eliya buru buru mengajak Ander memasuki mobil sebelum semua orang kembali salah paham dan mengira mereka berbuat mesum.
"Ck, orang orang itu menganggu saja." gerutu Ander sesampainya didalam mobil membuat Eliya tersenyum geli.
"Lagipula memang kita yang salah, berpelukan ditempat umum, tentu akan membuat semua orang salah paham."
Ander hanya mengangguk, apapun itu tidak penting yang penting sekarang Ia dan Eliya sudah menyelesaikan kesalahpahaman diantara mereka.
"Bagaimana kalau kita makan siang dulu, aku sama sekali belum makan sejak tadi pagi." Sebelumnya Ander tak merasakan lapar namun sekarang Ia merasa sangat lapar.
Eliya menatap Ander cemberut, mendadak Ia mengingat rujak nya yang belum sempat Ia makan.
"Kenapa menatapku seperti itu?"
"Gara gara kamu, aku jadi meninggalkan rujak ku di meja tadi."
"Rujak? jadi istriku ini ingin makan rujak? baiklah ayo kita beli rujak segerobak gerobaknya." kata Ander membuat Eliya terkekeh.
"Berlebihan." kata Eliya.
"Apapun untuk istriku, tidak akan berlebihan."
"Dasar gombal."
Ander tersenyum lalu mengelus rambut istrinya, rasanya sudah lama sekali tidak seperti ini.
....
Ran keluar dari taksi dengan malas, Ia lalu berjalan pelan memasuki toko bunga milik Eliya.
"Kau datang lagi? sudah ku bilang Nona Eliya sedang pergi!" ketus Nana melihat Ran kembali ke toko.
"Bukan urusanmu. sekarang katakan padaku, apa ada yang bisa ku bantu?" tanya Ran yang sebenarnya malas berurusan dengan gadis tengil yang selalu sewot padanya saat Ia datang.
"Kau? ingin membantu? apa aku tidak salah dengar?" Nana terkekeh mengejek Ran membuat Ran bertambah kesal.
"Dimana ruangan istirahat di toko ini?" tanya Ran.
"Dibelakang, untuk apa kau menanyakan nya?" heran Nana.
"Jika tidak ada yang bisa ku bantu, aku lebih baik tidur disana." kata Ran tersenyum lalu berjalan melewati Nana.
"Tu-tunggu."
"Kau di sini karena disuruh oleh Tuan mu kan? mengantikan Mbak Eliya?" Nana menebak dan sialnya tebakan Nana benar.
__ADS_1
"Jika seperti itu, ada banyak pekerjaan di sini. ayo aku tunjukan." ajak Nana.
"Kau bilang tidak ada yang bisa ku bantu." protes Ran.
"Tadinya ku pikir kau hanya ingin bermain main, tapi jika ini perintah dari Tuanmu maka dengan senang hati aku akan memberikan pekerjaan yang cocok untukmu." kata Nana membuat Ran memutar bola matanya malas.
Ran mengikuti Nana ke belakang toko, Nana mengambil gunting lalu memberikan pada Ran.
"Ambilah bunga yang sudah mekar dan berwarna merah lalu potong seperti ini dan di tata di sini." Nana memberikan arahan pada Ran.
"Disini panas sekali."
"Jangan mengeluh, kau ini pria hanya kepanasan saja tidak akan membuat ketampanan mu luntur." ketus Nana.
"Jadi apa aku tampan?" goda Ran sambil tersenyum tengil ke menatap Nana.
"Ti-tidak, kau tidak tampan sama sekali." ketus Nana sedikit gugup "Sudah kerjakan saja." Nana segera beranjak dari taman belakang dan pergi memasuki toko.
Ran hanya terkekeh melihat tingkah Nana "Dasar gadis aneh."
Ran mulai mengerjakan apa yang sudah dicontohkan Nana tadi, satu batang, dua batang terasa biasa namun lama kelamaan Ran merasakan jarinya sedikit perih karena terkena duri bunga mawar.
"Astaga, tanganmu berdarah." suara histeris dari belakang Ran membuat Ran terkejut.
Nana yang melihat jari Ran berdarah langsung membawa Ran ke ruang istirahat.
"Ck, jangan sombong. jika sampai infeksi dan terjadi sesuatu pasti aku yang akan disalahkan karena aku yang menyuruhmu melakukan itu."
Nana mulai membersihkan luka Ran, lalu memberi obat merah membuat Ran sedikit meringgis.
"Hanya begini saja membuatmu meringgis kesakitan?" ejek Nana.
"Hey, aku tidak kesakitan, hanya perih saja." balas Ran dan entah mengapa ucapan Ran membuat Nana tersenyum.
Ran menatap ke arah Nana yang tersenyum,
Ternyata cantik juga kalau senyum batin Ran menatapi Nana yang begitu telaten merawat luka dijari Ran.
"Sudah selesai." kata Nana mendongak dan tak sengaja menatap Ran yang juga menatapnya.
Keduanya bertatapan cukup lama hingga Nana yang memutuskan tatapan lebih dulu.
"Ak-aku harus kembali ke luar." kata Nana gugup.
Baru ingin beranjak, tangan Nana ditahan oleh Ran "Siapa namamu?"
__ADS_1
"Na-nana. sudah ya aku kembali bekerja dulu. kau di sini saja tidak apa apa." kata Nana gugup, Nana melepaskan paksa tangan Ran lalu segera keluar dari sana.
Degup jantung Nana terasa berlompatan didalam, "Sadar Na, sadar... jangan jatuh cinta pada pria sombong seperti dia." batin Nana.
Ran yang bosan berada didalam ruangan akhirnya memutuskan untuk keluar. Ia melihat semua karyawan sibuk dengan pekerjaan mereka karena toko ini terlihat sangat ramai pembeli. Hingga mata Ran tertuju pada Nana yang sedang sibuk membucket bunga dan didepan nya terlihat ada seorang pembeli pria sedang menunggu bucket bunga buatan Nana.
"Gadis secantik dirimu tidak memiliki kekasih? sayang sekali. bagaimana jika menjadi kekasihku saja." suara pria itu terdengar di telinga Ran.
Nana hanya diam saja, meski pria didepan nya terus saja mengajaknya bicara.
"Jadi kau di sini sayang." Ran melingkarkan tangan nya di lengan Nana membuat Nana dan pria yang ada didepan nya terkejut.
Nana menatap heran ke arah Ran, sementara Ran hanya tersenyum tengil.
"Sebentar lagi waktunya makan siang, aku sudah membelikan makan siang untukmu. jadi segera ke belakang jika sudah selesai." kata Ran.
"Kau siapa?" tanya Pria tadi dengan tatapan tak suka.
"Aku kekasihnya, kenapa? mau mengoda kekasihku?" tanya Ran dengan tatapan garang membuat Pria tadi bergindik ngeri dan hanya diam saja sementara Nana melotot ke arah Ran.
Ran hanya mengedipkan sebelah matanya ke arah Nana lalu pergi dari sana. setelah Pria tadi mendapatkan bucket bunganya, Ia juga pergi dari sana tanpa mengatakan apapun lagi.
Semua teman Nana yang mendengar ucapan Ran langsung saja mendekat ke arah Nana,
"Ya ampun Na, yakin pacaran sama asisten si bos?"
"Idih Nana jadian nggak bilang bilang!"
"Nggak mau tau, pokoknya wajib traktir kita kita ya."
Kepala Nana yang serasa ingin pecah tak menjawab ucapan teman temannya, Ia lebih memilih pergi untuk menemui Ran si biang kerok.
"Maksud Lo apa sih ngomong gitu?" kata Nana dengan nada tak suka pada Ran.
Ran hanya tersenyum "Harusnya Lo makasih sama Gue, ee malah marah marah."
"Makasih apaaan? Lo udah bikin orang orang salah paham." sebal Nana
"Kalau gue tadi nggak bilang gitu, mau Lo digodain sama Om om tadi?"
Nana hanya diam, sebenarnya ada benarnya juga ucapan Ran namun tetap saja Ran sudah membuat teman teman nya salah paham.
"Apa Lo sebenarnya mau beneran jadi pacar gue biar temen temen Lo nggak salah paham lagi?"
Bersambung....
__ADS_1
Jangan lupa like vote dan komen