
Ander dan Eliya kini sudah berada didalam mobil, Ander mulai menyalakan mobil dan melajukan nya sementara Eliya menatapnya bingung.
"Aku tau, aku sangat tampan." celetuk Ander membuat Eliya berhenti menatap Ander.
"Kau berubah baik, itu sedikit mencurigakan!"
Ander hanya tersenyum, "Entahlah, tiba tiba aku ingin berubah baik padamu!"
"Apa ini karena kau ingin balas dendam?" tebak Eliya menatap ke arah Ander intens mencari kejujuran disana namun yang Ia dapat wajah santai Ander sambil melajukan mobilnya.
"Apa kau selalu seperti ini? berprasangka buruk. lagi pula aku balas dendam masalah apa?"
"Ck, bukankah aku yang pernah membuatmu dihukum? aku tau pasti kau merencanakan sesuatu!"
"Sial, dia pintar sekali!" batin Ander berusaha menetralkan kegugupan nya.
"Jika memang kau merencanakan sesuatu, membuatku luluh lalu mencampakan ku! jangan pernah bermimpi kau bisa melakukan itu, aku bukanlah wanita yang mudah luluh!" ketus Eliya.
"Benarkah? jika seperti itu kenapa sedari tadi kau tersipu malu?"
"Ak-aku ya tentu saja karena aku gugup berada di dekat Tuan Alex dan Nyonya Ella."
Ander hanya diam sambil terus fokus menjalankan mobilnya, Ander merasa Eliya bukanlah wanita yang mudah di taklukan jadi dirinya harus bekerja extra keras.
Ander mematikan mesin mobilnya kala mereka sudah sampai,
"Kau mau kemana?" tanya Eliya melihat Ander membuka sabuk pengaman nya.
"Tentu saja turun, aku ingin membuktikan ucapan Mom jika kau memang berhasil memajukan toko bunga ini." jawab Ander langsung keluar begitu saja tanpa menunggu Eliya.
"Apa dia meremehkan ku sekarang?" kesal Eliya mengikuti Ander keluar dari mobil.
Ander memasuki mobil dan cukup kagum dengan interior maupun eksterior toko bunga yang sudah berubah total.
Sekarang toko bunga milik Mom dan para saudaranya ini terlihat jauh lebih baik.
Benar ucapan Mom jika Eliya memang bisa diandalkan.
Ah sepertinya aku terlalu memuji, ingatlah alasanmu datang Ander batin Ander.
Eliya duduk disebuah sofa ruangan kaca milik Eliya, disana Ander bisa memperhatikan kesibukan Eliya. mulai dari membaca pesanan online para pembeli sampai Eliya turun tangan membuat bucket bunga para pembeli nya sendiri.
"Cantik..." gumam Ander namun seketika Ia memukul kepala nya sendiri.
Ander bangkit dan mendekati Eliya yang masih sibuk membuat bucket bunga, Ia lalu menyodorkan kunci mobil milik Eliya.
"Aku pulang."
Eliya hanya mengangguk dan menerima kunci mobil yang diberikan Ander.
__ADS_1
"Kau naik taksi?" entah kenapa Eliya harus menanyakan itu pada Ander yang sudah berbalik akan meninggalkannya.
"Ya tentu saja, aku mungkin tidak kembali kesini karena aku lelah ingin tidur jadi jangan menunggu ku." kata Ander sambil mengedipkan sebelah matanya membuat Eliya melonggo.
"Dasar pria aneh!" kesal Eliya.
"Pacar nya ya mbak?" tanya seorang pembeli yang menunggu bucket pesanannya sedang Ia buat.
"Eh, bukan kok tapi dia anak pemilik toko ini." balas Eliya santai.
"Kirain mbak nya pemilik toko ini."
"Bukan Bu, saya di sini hanya melanjutkan usaha para orangtua saja."
"Wah jangan jangan mau dijadikan mantu tuh mbak."
Uhuk... uhukk... seketika Eliya terbatuk mendengar ucapan pembeli itu.
"Ng-nggak mungkin lah Bu,?"
"Nggak mungkin gimana? mas nya tadi ganteng trus mbak nya cantik kan cocok tuh!"
Uhuk uhuk... lagi lagi Eliya kembali terbatuk.
"Sudah jadi Bu, silahkan dibawa ke kasir. terimakasih sudah membeli bunga di toko kami." kata Eliya ramah.
Ia benar benar sudah tak ingin membalas Ander dan lagi tentang apa yang dikatakan pembeli tadi jika Nyonya Ella ingin menjadikan dirinya mantu, hah mana mungkin. Dia dan Ander saja bagaikan langit dan bumi karena kasta mereka berbeda. bagaikan minyak dan air yang tak pernah bisa menyatu.
"Sadar El, sadar..."
...
Ander turun dari taksi online pesanannya, Ia langsung saja menuju kamarnya setelah memasuki mansion.
Ander sadar jika sejak semalam Ia sama sekali belum tidur dan sekarang Ia malah melakukan kebodohan, membuang buang waktu dengan mengantar Eliya dan tanpa dia sadari menganggumi kecantikan Eliya, damn it.
"Tenang Ander, ini hanya bagian dari rencana saja." begitulah yang sedari tadi Ander gumamkan kala Ia menyesal sudah mengantar Ander.
"Mau tidur?" tanya Ella yang entah sejak kapan memasuki kamarnya.
"Hmm, ngantuk Mom." keluh Ander mulai memejamkam mata.
Ella tersenyum lalu duduk di pinggir ranjang milik Ander, Ella menaikan selimut Ander membuat Ander membuka matanya dan tersenyum ke arah Ella.
"Kamu terlihat dekat dengan Eliya sekarang?" tanya Ella membuat Ander sedikit gugup. pasalnya Ella selalu bisa melihat jika Ia telah berbohong ataupun sebagainya.
"Hmm, bukanlah kita memang dekat sejak kecil Mom?" bantah Ander.
"Sepertinya tidak, karena kamu suka membuatnya menangis saat kecil."
__ADS_1
Deg,.. jantung Ander berdegup. jangan... jangan sampai Mom nya tau, bisa gagal rencana nya.
"Apapun itu, Mom seneng kalau kalian ini dekat. kau tau Ander? Eliya anak yang sangat baik. Mom nggak mau kamu menyakitinya karena masa lalu yang mungkin kamu merasa kesal dengan nya."
"Kesal karena apa Mom?" Ander pura pura tak mengerti.
"Kesal karena Eliya pernah membuatmu dihukum waktu itu. Mom percaya kamu anak yang baik, Mom percaya Ander bukanlah pria pendendam. jadi jangan lakukan apapun untuk menyakitinya ya?" kata Ella sambil mengelus rambut putranya itu.
Mendengar ucapan Mom nya membuat Ander sedikit menciut. Namun Ia tetap kekeuh karena ambisi balas dendamnya sudah berada di puncak ubun ubun.
"Ander ngantuk Mom." keluh Ander mengusir Ella secara halus.
"Oke oke, tidurlah yang nyenyak anak Mom yang tampan." kata Ella lalu mengecup kening Ander dan meninggalkan Ander.
Meski Mom nya sudah keluar namun Ander masih belum bisa memejamkan matanya, ucapan Mom nya benar benar meracuninya sekarang.
Eliya anak yang baik, jangan kamu sakiti.
Arghh sialan. apa dia batalkan saja rencana nya batin Ander.
"Tidak... ingatlah Ander bagaimana dulu dia membuatmu tidak dipercaya oleh keluargamu sendiri." gumam Ander penuh keyakinan ingin melanjutkan misi balas dendam nya.
...
Malam harinya, Ander melajukan mobilnya menuju kafe tempat Ia biasa nongkrong bersama dua saudara nya.
Ya sudah lama sekali Ia tak bertemu dan rasanya sangat merindukan mereka karena sejak kecil mereka selalu bersama kemanapun mereka pergi.
Selesai memarkirkan mobil mewahnya, Ander berjalan memasuki kafe.
Didepan pintu, Ia bisa melihat lambaian tangan dari Revan, saudara tengilnya.
Ia pun segera melangkahkan kaki nya mendekati kedua saudara nya yang sudah menunggu.
"Sorry telat."
"Udah biasa." balas Randi acuh.
"Nggak ada gue, kenapa kalian tambah dekil sih?" ejek Ander.
"Sialan Lo, nggak ada Lo hidup kita tenang." Revan terlihat tak terima.
"Ye kan Ran?" tanya Revan mencari pembelaan.
"Nggak tuh." balas Randi yang sontak membuat Ander terbahak.
"Sialan Lo! harusnya Lo belain gue!" protes Revan.
"Eh kalian udah datang?" suara lembut seorang wanita mengejutkan ketiganya.
__ADS_1
Bersambung....
Jangan lupa like vote dan komen yaaa