
Ander terbangun karena merasakan mual yang sangat hebat. Ia akhirnya segera berlari ke kamar mandi dan mulai memuntahkan isi perutnya. Tak berapa lama pintu terbuka dan disana ada Eliya yang terlihat histeris melihatnya muntah diwastafel.
"Mas, kamu kenapa?"
Mas? Ander ingin tertawa kala Eliya memanggilnya Mas untuk pertama kalinya, ah salah kedua kalinya mungkin karena Eliya pernah memanggil panggilan itu saat mereka sedang bersama keluarganya.
Eliya menghampiri Ander dan melihat wajah pucat Ander yang kembali memuntahkan isi perutnya.
"Kenapa bisa gini sih?" Eliya terlihat khawatir.
Ander menggeleng lemah "Nggak tau, tiba tiba mual."
"Mungkin kamu masuk angin apa salah makan kemarin?"
Ander kembali menggeleng, "Kayaknya enggak, aku semalem makan masakan kamu."
"Ya udah, sekarang rebahan lagi biar aku gosokin minyak angin." ajak Eliya segera memapah Ander yang terlihat pucat dan lesu.
Ander berbaring dan Eliya dengan sigap membalurkan minya angin ke perut, dada dan punggung Ander.
"Padahal badan kamu nggak demam mas."
"Tapi pusing sama mual." keluh Ander.
"Ya udah nanti kalau masih belum sembuh kita ke dokter ya." kata Eliya yang hanya di angguki lemah Ander.
Pukul 8 pagi, Ander masih merasakan pusing dan mual, akhirnya mereka pun memutuskan untuk pergi ke dokter dengan diantar Ran.
"1 minggu lagi pesta pernikahan, jangan sakit dong." kata Eliya.
"Memangnya aku mau sakit begini? aku juga nggak mau." entah mengapa ucapan Eliya membuat Ander kesal hingga balasannya terdengar sewot.
"Iya iya maaf."
Dibantu oleh Ran, ketiga orang itu memasuki klinik milik Vano.
Dan sesampainya di ruangan Vano bukannya segera diperiksa malah ditertawakan oleh Vano.
"Apa orang sepertimu bisa sakit?" kata Vano sambil terbahak.
"Nggak lucu om."
"Baiklah, jadi apa keluhan mu?"
"Pusing, mual."
"Tapi kenapa tidak demam?" heran Vano mulai memeriksa Ander dan menggelengkan kepalanya.
__ADS_1
"Sepertinya kamu baik baik saja,"
"Ck dokter macam apa ini, orang lagi sakit dibilang baik baik saja." ketus Ander.
"Hey, jaga ucapanmu! kau tidak demam, tidak flu. hanya muntah dan pusing pasti semalam kau salah makan." Vano melotot tak terima dengan ucapan Ander yang mirip sekali dengan Alex dadnya.
"Tapi aku tidak makan apapun, hanya makan masakan istriku"
"Atau mungkin istrimu berniat meracuni mu dengan makanan nya." kekeh Vano membuat Ander melotot tak terima. untung saja Eliya menunggu diluar jadi tak mendengar ucapan dokter gila macam Vano.
"Tidak mungkin dia seperti itu! dia mencintaiku mana mungkin meracuniku" balas Ander kesal.
"Ya siapa yang tahu, dia melihatmu berkencan dengan wanita lain lalu dendam padamu dan berniat meracunimu." kata Vano lagi sambil terkekeh.
Segera Ander berdiri "Dasar dokter gila, lebih baik tutup saja klinikmu ini." Ander segera meninggalkan Vano yang malah terbahak.
"Hey son, kau belum membayar biaya periksa nya." teriak Vano yang tak digubris Ander, hanya suara pintu dibanting yang terdengar kala Ander keluar.
Vano terdiam dan mengingat sesuatu, "Jangan jangan, itu gejala yang sama seperti gue dulu."
Sementara Eliya dan Ran langsung berdiri dan menghambur ke arah Ander kala melihat Ander keluar.
"Jadi bagaimana?" tanya Eliya tak sabar.
"Kita pulang saja, lama lama di sini aku bisa gila." Ander berjalan ke arah luar di ikuti oleh Eliya dan Ran yang terlihat bingung dengan sikap Ander yang mendadak kesal.
..
Ander menerima secangkir jahe hangat lalu meminumnya. "Terimakasih." ucap Ander memberikan gelas kosong pada Eliya.
"Tidurlah dulu, aku buatkan bubur." kata Eliya yang hanya di angguki Ander.
"Kamu tidak pergi ke toko?" tanya Ander sebelum Eliya keluar.
"Aku libur hari ini, lagipula kamu sedang sakit. mana mungkin aku meninggalkan mu sendirian di sini." kata Eliya sambil tersenyum lalu keluar dari kamar.
Ander hanya termenung mendengar ucapan Eliya, seandainya wanita itu tau apa yang akan Ander lakukan padanya mungkinkah Eliya masih bisa sebaik ini padanya? Ah tentu saja tidak dan Ander juga tak peduli mau bagaimana sikap Eliya nanti yang pasti balas dendamnya harus berhasil.
Eliya memasuki kamar dengan membawa semangkuk bubur yang masih mengepul, Segera Ia duduk di samping Ander agar bisa menyuapi Ander.
Namun baru satu suapan yang masuk ke mulut, Ander malah berlari ke kamar mandi untuk memuntahkan nya.
Eliya segera menghampiri sang suami dan menepuk nepuk punggung Ander.
"Sakit apa sih, kok bisa kayak gini?" guman Eliya dengan raut wajah sedih.
"Apa kita ke rumah sakit aja? aku takut kamu kenapa napa." kata Eliya.
__ADS_1
"Tunggu dulu sampai besok pagi, kalau masih kayak gini baru kerumah sakit."
Eliya mengangguk paham lalu kembali memapah Ander kembali ke ranjang.
Eliya ingin menyuapi Ander lagi namun ditolak oleh Ander karena takut muntah lagi, alhasil Eliya langsung menyelimuti Ander.
"Bisakah kamu memijat kepalaku? rasanya pusing sekali." keluh Ander.
Walapun sebenarnya ragu, Eliya pun menuruti perintah Ander dan memijat kepala Ander.
"Sentuhanmu membuat sakit kepalaku sedikit reda, pijat terus sampai aku tertidur."
Eliya hanya mengangguk dan menuruti keinginan Ander.
Sore harinya setelah mandi, Ander menghampiri Eliya yang sibuk memasak makan malam.
"Aku ingin bubur kacang hijau."
"Haa? kenapa harus bubur kacang hijau? aku sedang membuatkan sup untukmu."
Ander merenggut "Pokoknya aku mau bubur kacang hijau!"
"Iya iya, aku belikan dibawah." Eliya mengalah meskipun merasakan sikap Ander yang super aneh hari ini.
"Aku ingin bubur kacang hijau buatanmu! bukan malah beli."
Eliya melonggo, "tapi kita tak punya bahan nya."
"Nggak mau tau, pokoknya aku mau bubur kacang hijau!"
"Iya iya, aku carikan bahan nya dulu." Eliya bergegas mencuci tangannya dan masuk ke kamar mengambil dompet untuk Ia belanja keluar.
"Aneh sekali, tidak biasanya Ia meminta sampai seperti ini." gerutu Eliya.
Hampir satu jam Eliya mencari bahan dan akhirnya Ia sudah mendapatkan semua yang dibutuhkan untuk membuat bubur kacang hijau.
"Lama sekali, aku sudah lapar!" Suara Ander terdengar kala Eliya baru memasuki apartemen.
Eliya menatap ke arah Ander yang sedang berbaring di sofa sambil menonton televisi. Eliya tak membalas ucapan Ander, melewati Ander begitu saja karena malas berdebat dengan Ander.
Satu mangkuk bubur kacang hijau sudah matang, Eliya segera membawa kepada Ander.
Meski Eliya harus kesana kemari demi membuatkan bubur kacang hijau namun cukup melegakan karena Ander menyantap bubur kacang hijau buatan Eliya dengan lahap dan habis tak tersisa.
"Bagaimana? tidak mual kan?" Eliya mengamati gerak gerik Ander dan tak ada tanda tanda akan mual lagi.
Syukurlah...
__ADS_1
BERSAMBUNG...
JANGAN LUPA LIKE VOTE DAN KOMEN..