DIJEBAK PERJODOHAN

DIJEBAK PERJODOHAN
18


__ADS_3

Revan menatap ke arah gadis itu tak percaya, begitu juga Gadis itu yang menatap Revan dari atas hingga bawah sambil menggelengkan kepalanya tak percaya.


"Bener kan dugaan aku, kamu itu bukan anak orang kaya." celetuk gadis itu membuat Revan tak terima sementara Randi dan Ander menatap keduanya bergantian dan terlihat kebingungan.


"Lo salah, Gue di sini karena sedang dapet hukuman aja."


"Nah Lo sendiri ngapain disini?" tanya Revan pada Gadis pelayan kafe yang membuatnya harus mencuci piring malam itu. Gadis yang tak lain adalah Rania.


"Ini kandang milik nenek gue, dan setiap libur sekolah gue pasti kesini." jelas Rania.


"Lah Lo kan pelayan kafe? kok masih sekolah?"


"Gue parttime aja disana."


"Kalian saling kenal?" tanya Ander memotong pembicaraan Revan dan Rania.


Rania memandang ke arah Ander, menatapnya lama dan tersenyum.


"Ini dulu makan dikafe dan nggak mau bayar jadi aku suruh cuci piring. Ngakunya sih orang kaya ee sekarang ketauan kan ngurus sapi di sini."


Seketika tawa Ander dan Randi meledak mendengar penjelasan Rania.


Mata Revan melotot seperti ingin keluar, tak percaya dengan ucapan Rania yang membuat kedua sepupunya terbahak.


"Ee Gue emang beneran anak orang kaya ya!" kesal Revan.


"Masa?" Rania meledek tak percaya.


"Dia emang gitu mbak, suka ngaku ngaku anak orang kaya padahal mah biasa aja tuh!" Ander menambahkan membuat Revan semakin kesal.


"Nah kan bener, jadi mobil Lo waktu itu bukan punya Lo kan? punya majikan Lo kan? udah gue duga." Ucap Rania terdengar mengebu gebu.


"Serah Lo deh! serah!" Revan kesal lalu berjalan memasuki kandang membawa keranjang berisi rumput hasil kerja kerasnya hari ini.


"Wah kalian hebat juga ternyata." ucap Mbah Mirah melihat 7 keranjang sudah penuh berisi rumput.


"Kami mengusahakan yang terbaik mbah." kata Ander dengan bangga nya.


"Bagus, ah iya ini bayaran untuk kalian hari ini. jika besok kalian bisa bekerja lebih baik aku akan menambahkannya." kata Mbah Mirah memberikan 3 lembar uang 20ribuan pada mereka masing masing.


Sementara 3 berandal tampak melonggo menerima selembar uang ditangan mereka, uang receh yang biasanya mereka sia siakan sekarang nampak berharga karena uang itu hasil kerja keras mereka selama seharian.


"Ya sudah kalian pulang, langsung mandi takutnya nanti gatal gatal. jangan lupa besok berangkat lagi." kata mbah Mirah segera pergi meninggalkan 3 berandal yang masih melonggo menatap uang receh ditangan mereka.


"Kalian kenapa?" tanya Rania menatap ketiga berandal dengan penuh keheranan.


"Nggak apa apa, ya udah kita balik duluan." Pamit Ander yang langsung diangguki Rania.


Rania masih menatap punggung ketiga pria yang berjalan menjauh, "Ganteng banget." batin Rania.


"Gila ya, kita kerja seharian sampai tangan kita lecet gini cuma dapet 20ribu." Revan menghempaskan bokongnya di kursi kala ketiganya sampai dirumah.


"Iya bener, nggak cukup nih buat beli makan sehari." keluh Randi masih menatapi uang 20 ribu yang Ia pegang.

__ADS_1


Sekarang mereka sadar betapa berarti nya uang recehan yang dulu selalu mereka sia siakan itu.


"Ya sudahlah, kita beli bahan mentah aja biar uangnya cukup buat beli makan seharian." kata Ander yang kini sudah terlihat segar setelah mandi.


"Heh Bambang, gaya Lo mau beli bahan makanan. Emangnya Lo bisa masak?" ketus Revan.


"Ck, dibelakang ada rice cooker, bisa lah buat masak nasi. Trus nanti kalau mau masak kita suruh ajarin temen Lo tadi, siapa namanya?" Ander mengingat ingat siapa nama gadis di kandang tadi dan Ia sadar jika tadi mereka belum berkenalan.


"Ogah, gue nggak mau ada urusan sama dia lagi!"


"Ya udah biar gue aja yang minta tolong." balas Ander acuh.


"Udahlah, nggak usah deket deket sama tuh cewek lagi! males gue!" Kata Revan nyolot.


"Bisa nggak sih kalian itu nggak usah ribut, heran gue. Udah capek gini masih sempat aja debat!" kesal Randi lalu meninggalkan keduanya memasuki kamar mandi.


"Nape tuh orang!" heran Revan.


"Tau, pms mungkin."


....


Ander baru saja berbelanja diwarung yang ada didekat rumah yang di tinggali. Ia membeli satu kilo beras, telur dan mie instan untuk makan malam mereka karena seharian mereka belum makan sama sekali.


Dan beruntung Ander malam ini karena ditengah jalan Ia berpapasan dengan Rania.


"Eh Lo, habis dari mana?" tanya Ander basa basi.


Entah mengapa Rania malah tersipu malu saat Ander menayakan hal seperti itu.


"Sibuk nggak?" tanya Ander.


"Eng-enggak, kenapa?"


"Nggak usah takut sama gue, santai aja. gue orangnya baik kok." kekeh Ander melihat tingkah Rania yang terlihat gugup.


"Gue nggak takut tapi grogi." batin Rania.


"Gue mau minta tolong sama Elo." kata Ander yang langsung membuat Rania mengerutkan keningnya.


"Gue mau minta tolong bantuin gue masak ini, bisa kan?" tanya Ander memperlihatkan kantong plastik berisi bahan mentah yang baru Ia beli.


"Ohh itu sih gampang, ya udah ayo." kata Rania dengan semangat.


Mereka pun berjalan menuju rumah yang ditinggali Ander.


"Oh ya Nama Lo siapa? kita belum kenalan kan?" tanya Ander membuat Rania kembali gugup.


"Aku, eh Rania. Kamu?"


"Gue Ander, sepupunya Revan kenalan Lo tadi." jelas Ander.


"Oh, cowok sok kaya itu?"

__ADS_1


Ander tertawa geli menanggapi ucapan Rania.


"Kalian bukan asli sini kan? soalnya belum pernah lihat kalian."


"Emang bukan asli sini kok, kita kesini lagi belajar aja."


"Belajar apa?"


"Belajar hidup susah." balas Ander lalu tertawa.


Rania hanya mengelengkan kepalanya binggung "Aneh." ucap Rania yang membuat Ander kembali terkekeh.


Ander membuka pintu kala mereka sudah sampai.


"Lama banget sih! kita udah laper!" teriak Revan saat mendengar pintu terbuka sementara mata Revan masih menatap layar ponselnya.


Ander hanya menggelengkan kepalanya sementara Rania menatap kesal ke arah Revan.


"Dasar cowok nggak tau malu." kesal Rania yang langsung didengar oleh Revan.


Revan mendongak dan melotot ke arah Rania, "Ngapain Lo di sini?"


"Gue yang minta, biar bisa ngajarin kita masak." kata Ander yang langsung membuat Revan berdecak kesal.


"Dimana dapurnya?" tanya Rania tak mengubris Revan.


"Yokk, dibelakang."


Rania mengikuti Ander ke arah dapur,


Dengan cekatan, Rania langsung saja mencuci beras lalu memasukan ke rice cooker sementara Ander masih setia mengamati segala gerak gerik Rania disampingnya membuat Rania semakin grogi namun Ia tahan dan berusaha bersikap normal.


"Kamu bisa pasang tabung gas?" tanya Rania melihat kompor dan tabung gas yang masih baru belum terpasang.


Ander mengaruk kepalanya yang tak gatal, "gue nggak bisa." Ander tersenyum malu karena dirinya memang tidak bisa memasang tabung gas, jangankan memasang tabung gas, pergi ke dapur saja Ia tak pernah.


Rania mengerutkan keningnya heran lalu tersenyum, "Ya udah gue yang pasang."


Rania segera memasang tabung gas dan kembali di amati oleh Ander.


"Gampang ya ternyata." celetuk Ander.


"Mau nyobain?"


Ander mengangguk,


Rania segera melepaskan tabung gas dan Ander mencoba memasang tabung gasnya.


Cukup membuat bangga dan senang Ander langsung berhasil memasang tabung gas nya.


"Sekarang kita masak mie nya dan goreng telur."


Rania mengambil panci kecil dan mengisinya dengan air, Rania terlihat senang sebelum pria menyebalkan datang dan membuat mood nya buruk.

__ADS_1


"Bisa masak beneran nggak? ntar gosong lagi." celetuk Revan yang baru saja memasuki dapur.


BERSAMBUNG...


__ADS_2