
Makan malam kali ini terlihat sangat berbeda, tidak seperti biasanya. Itulah yang Ander dan Ella rasakan.
Jika biasanya Ander bercerita banyak hal dan selalu ditanggapi oleh Daddy nya namun tidak untuk malam ini.
Alex malah terlihat buru buru menghabiskan makanannya dan langsung pamit ke kamarnya membuat Ander dan Ella sedikit heran.
"Daddy kenapa sih Mom?"
Ella menggeleng kepala nya pelan, "Mommy juga nggak tau, dari tadi kayak gitu. mungkin lagi banyak masalah dikantor." jelas Ella yang membuat Ander mengangguk paham.
"Ya udah, Mommy buruan samperin Daddy." pinta Ander.
"Iya, kamu habisin makanannya trus langsung tidur. jangan ngegame sampai tengah malem lagi." ucap Ella mengingatkan.
"Siap Mom.."
Ella segera berajak menuju kamarnya, dimana Alex sudah berbaring dan terlihat melamun.
"Mas kamu kenapa?" tanya Ella namun tak ada respon dari Alex.
"Mas..." Ella mengenggam tangan Alex membuat Alex terkejut.
"Ada masalah apa mas? nggak mau cerita sama aku?"
Alex menggeleng pelan, "Aku hanya belum siap cerita sayang."
"Aku hanya takut kamu kecewa sama seperti aku." batin Alex.
"Ya sudah kalau memang belum mau cerita. tapi mas tidur ya, jangan melamun lagi."
Alex mengangguk lalu berbaring dan Ella segera menyelimuti suaminya.
"Apa kita terlalu memanjakan Ander?" tanya Alex.
"Apa kita kurang memperhatikan Ander?" tanya Alex lagi membuat Ella heran.
"Sepertinya kita sudah mendidik Ander dengan sangat baik mas, ada apa mas?"
"Apa kamu merasa begitu?" tanya Alex terlihat ragu.
"Tentu saja mas, apa Mas tidak melihat semua prestasi yang didapatkan Ander selama ini?"
"Tapi jika kenyataan nya berbanding balik, apa kau akan kecewa sayang?"
Ella mengerutkan keningnya heran "Apa maksudnya mas?"
Alex menghela nafas berat, mungkin memang Ella juga harus mengetahui kenyataannya.
__ADS_1
Alex mengambil ponselnya, lalu memperlihatkan video yang Ia minta dari Sandi.
Melihat video dimana ada Ander, Revan dan Randi, seketika Ella membegap mulutnya tak percaya dengan apa yang dilakukan oleh putranya bahkan Ella sampai meneteskan air matanya.
"Sayang..." Alex langsung merengkuh tubuh Ella memberi kekuatan pada Ella.
"Tidak, Ander anak yang baik. pasti video ini salah." ucap Ella yang membuat hati Alex berdenyut nyeri.
Sejujurnya, Alex juga tak percaya putranya seperti itu, maka dari itu Ia meminta Sandi menyelidiki kebenarannya.
"Sayang, tenang. aku sudah meminta Sandi menyelidiki semuanya, kita berdoa semoga Ander tidak seburuk itu. putra kita anak yang baik mana mungkin seperti itu."
Ucapan Alex sedikit membuat hati Ella tenang,
"Ta-tapi bagaimana jika video itu benar mas?"
Alex terdiam cukup lama, "Tentu saja kita akan memberikan Ander hukuman sayang, apapun akan aku lakukan agar Ander menjadi anak yang baik jadi jangan sedih lagi ya." Kata Alex yang langsung diangguki Ella.
...
Pagi ini setelah Sandi mengantar Alex, Ia bergegas menuju sekolahan untuk menyelidiki kebenaran video yang diberikan oleh Eliya putrinya. Karena sore harinya nanti Sandi harus memberikan laporan pada Alex yang kini sudah menunggu informasi dari nya.
Siang harinya Sandi datang ke kantor membawa Rio dan Indra, menurut informasi yang didapatkan Sandi dari para siswa disekolah, Rio dan Indra lah yang terakhir di bully oleh Ander and the gengs.
"Jadi mereka? dan kau yang ada di video itu?" tanya Alex sambil menunjuk ke arah Indra.
"Tuan Alex adalah Papa dari Ander, teman kalian disekolah."
"Ander adalah kakak kelas kami." Jelas Rio.
"Apapun itu, tapi kalian pernah disakiti oleh mereka, saya sebagai orangtua Ander ingin meminta maaf pada kalian." ucap Alex.
"Ta-tapi sebenarnya mereka orang yang baik." akui Rio yang sudah mengetahui jika Ander and the gengslah yang sudah membayarkan biaya rumah sakit Ibunya.
"Ya, dia memang dulu tidak seperti itu, entah apa yang merubahnya." kata Alex lagi yang membuat Rio dan Indra binggung bagaimana harus menjelaskan pada Alex.
"Dan ini sebagai tanda permintaan maaf dari saya, semoga kalian suka." Alex memberikan dua papper bag berisi tas sekolah dan sepatu.
"Te-terimkasih banyak Tuan, terimakasih." Indra dan Rio tampak senang sekali dengan pemberian Alex.
"Jangan memanggilku Tuan, aku ini orangtua temanmu. panggil aku om."
"Baik Om."
Selesai berbincang, Rio dan Indra pun keluar dari ruangan Alex diantar oleh Sandi.
Setelah mengantar, Sandi kembali ke ruangan Alex yang sudah menunggunya.
__ADS_1
"Jadi apa yang kau dapatkan?" tanya Alex terdengar tak sabar.
"Memang benar Tuan jika mereka disekolah terkenal sebagai pembully dan bahkan mereka ditakuti para siswa satu sekolah." jelas Sandi yang seketika membuat Alex lemas.
Tadinya Alex berharap semua itu tidak benar, namun nyatanya...
"Para siswa bahkan memberi julukan mereka, berandal sekolah. bahkan semua guru pun tau namun mereka bungkam karena diancam oleh Tuan Ander untuk membuat Tuan menghentikan sumbangan jika para guru berani mengadu pada Tuan Alex." jelas Sandi lagi.
"Jadi para guru itu sudah membohongiku?"
"Jika prestasi Tuan Ander para Guru tidak membohongi Tuan, namun mengenai kenakalan Tuan Ander memang sengaja tidak mengadukan pada Tuan karena takut Tuan marah dan menghentikan sumbangan pada sekolah itu."
Alex hanya termenung, mendengarkan setiap kata yang Sandi ucapkan.
"Namun Tuan, dibalik itu semua ada sisi kemanusiaan yang Tuan Ander lakukan bersama Tuan Randi dan Tuan Revan."
"Sisi kemanusiaan?" tanya Alex sedikit heran.
"Ya ternyata mereka melakukan ini semua untuk menutupi kebaikan yang mereka lakukan."
"Jelaskan secara detail apa maksudmu?" Tanya Alex tak sabar.
"Begini Tuan, mereka memang melakukan kenakalan dengan membully para siswa yang sudah menjadi incaran karena ingin membantu siswa itu. tadi saya kerumah Rio, anak yang tadi saya bawa kesini. Mama Rio bilang jika Tuan Ander dan saudaranya datang menjenguk dan melunasi seluruh biaya rumah sakit saat Mama Rio sakit."
"Menurut apa yang saya lihat, Tuan Ander ingin berbuat baik namun tak ingin semua orang tau kebaikan apa yang mereka lakukan Tuan." jelas Sandi lagi.
Seketika Alex terlihat lega, sangat lega mendengar penjelasan dari Sandi.
"Jadi Putraku tidak sejahat itu?"
"Tidak Tuan, Bisa dipastikan mereka aman."
Alex tersenyum lega, sepertinya Ia harus segera menghubungi Ella dan memberitahu kabar bahagia ini.
"Tapi mereka harus tetap diberikan hukuman karena telah mengancam para guru. jadi apa yang sudah kau pikirkan tentang hukuman mereka?"
"Apa Tuan yakin ingin tetap menghukum mereka?" Sandi terlihat ragu.
"Ya, katakan apa yang kau pikirkan?"
Sandi pun segera menceritakan ide apa yang kemarin Eliya berikan padanya.
Alex tersenyum tanda setuju "Ya segera lakukan! jangan lupa untuk mengumpulkan para orangtua dimansion nanti!"
"Baik Tuan."
BERSAMBUNG....
__ADS_1
JANGAN LUPA LIKE VOTE DAN KOMEN