
Vano membanting pintu kamarnya, diikuti Riska yang memasuki kamar. Vano duduk di pinggir ranjang dengan wajah emosi. Riska mengambil kotak obat sebelum akhirnya mendekati Vano.
Tanpa menunggu persetujuan dari suaminya, Riska mengambil tangan Vano lalu mulai mengobati luka ditangan Vano.
Luka karena baru saja Vano memukul Revan sebanyak 1x. Mendengar satu satu putra kesayangan nya menghamili wanita, orangtua mana yang tak kecewa. Apalagi Vano selama ini ingin Revan menikahi salah satu dokter atau perawat yang ada di kliniknya agar kelak klinik Vano ada yang meneruskan namun sayangnya, Revan malah menghamili wanita lain.
Terlalu kecewa hingga membuat Vano reflek memukul wajah Revan, setelahnya Vano malah memukul tembok yang ada diruang tengah hingga membuat tangan nya terluka.
"Kita sudah gagal menjadi orangtua untuk Revan, kita sudah gagal mendidiknya." ucap Vano kala Riska sedang mengobati tangannya.
"Selama ini apa yang kurang dari kita? kita turuti semua mau nya Revan, dan dia malah mengecewakan kita."
"Mas... sudahlah, semua sudah terjadi."
"Apa kamu tidak kecewa melihat putra kita menghamili wanita seperti itu?" tanya Vano sengit.
Riska hanya diam saja,
"Kita terlalu memanjakan anak itu!"
"Aku kecewa mas, sangat kecewa." balas Riska.
"Tapi Revan mau mengakui kesalahannya dan mau bertanggung jawab, lalu kita bisa apa selain mendukungnya?"
"Apa mas mau Revan meninggalkan wanita itu dan menelantarkan calon bayinya, calon cucu kita?"
Vano menunduk mendengar ucapan Riska.
"Revan anak yang baik, selama ini aku juga nggak pernah liat dia bawa perempuan apalagi gonta ganti perempuan, hanya wanita itu yang pertama kalinya Revan perkenalkan sama Mama dengan wajah bahagia."
"Ini pasti hanya kecelakaan mas, jadi lebih baik kita dukung Revan bertanggung jawab dan berhenti menyalahkan Revan karena kita juga salah Mas, kita salah karena terlalu mempercayai Revan."
Vano masih terdiam,
"Aku ngerti Mas kecewa karena Revan tak ingin mengikuti jejak mas menjadi dokter, aku juga tau mas kecewa karena Revan tak melirik perempuan pilihan mas, tapi bukannya Revan sudah membuktikan pada kita?"
__ADS_1
Vano menatap istrinya, meminta penjelasan dari ucapan Riska,
"Revan ingin kuliah dibidang otomotif dan mendirikan bengkel, dan lihat sekarang dia sukses dengan bengkel nya tanpa bantuan kita sepeser pun." kata Riska yang langsung saja diangguki setuju oleh Vano.
"Dan sekarang, Revan salah menghamili perempuan itu dan ingin tanggung jawab, kenapa kita nggak kasih kesempatan Revan? siapa tau dengan Revan bertanggung jawab, dia bisa menjadi seseorang yang lebih baik, bisa menjadi suami yang baik dan tentu saja hidupnya lebih bahagia karena menikah dengan wanita pilihan nya." jelas Riska.
"Kita pernah muda mas, dulu mas juga nggak mau kan kalau dijodohin sama pilihan mama? dan kenapa malah mas sekarang mau melakukan sama putra kita?"
Vano terlihat menghela nafas panjang, berdebat dengan istrinya tentu saja dirinya akan kalah.
Dan jika di pikir memang ucapan istrinya benar adanya. mungkin ini memang takdir Revan.
Tak ada salahnya menerima Rania sebagai menantunya karena jika dilihat, Rania juga wanita baik.
"Lagi lagi aku kalah." kata Vano menbuat Riska tersenyum.
Untuk kedua kalinya Ia harus berbicara dari hati ke hati dengan Vano untuk urusan putranya. Jika dulu Ia membujuk Vano agar membiarkan Revan kuliah otomotif dan sekarang Ia kembali membujuk Vano agar merestui hubungan Revan.
Siapa sangka pria menyebalkan dan suka bercanda seperti Vano ternyata memiliki hati sekeras ini, hati keras yang hanya bisa diluluhkan oleh Riska seorang.
"Apa kita sudah setua itu?" Vano menarik pinggang Riska hingga mendekat. "Tapi aku masih kuat." bisik Vano.
"Mas..."
"Kamu harus menerima hukuman malam ini, pokoknya sampai aku puas."
"Mas..." Riska menatap Vano sebal,
Vano mulai membawa Riska ke ranjang dan mulai menggerayangi tubuh Riska,
"Revan yang salah kenapa aku yang kena." omel Riska membuat Vano terkekeh namun tak menghentikan aksinya.
Sementara dikamar lain, Revan meringgis kesakitan kala Bik Siti sedang mengobati luka diwajah Revan. Luka akibat pukulan dari Vano.
Hanya sekali namun siapa sangka mampu membuat pipi Revan hingga lebam.
__ADS_1
"Aduh Bik, pelan pelan." kata Revan kala Bik Siti mengoleskan obat di wajahnya.
"Lagian tumben amat den, Bapak sampai marah seperti tadi?" kata Bik Siti heran pasalnya selama ini Bik Siti tak pernah melihat Vano semarah tadi, hanya candaan yang setiap hari Vano lontarkan pada keluarganya.
"Aku bikin masalah bik, jadi ya wajar lah Papa marah." jelas Revan yang langsung diangguki Bik Siti.
Selesai mengobati Revan, Bik Siti keluar dan Revan pun mulai berbaring diranjang.
Kepala Revan mendadak pusing mengingat Orangtuanya yang belum merestuinya, lalu bagaimana besok? apa iya dia harus menikahi Rania tanpa restu orangtuanya?
Entahlah, Revan hanya berharap besok orangtuanya berubah pikiran dan memberikan restu padanya dan Rania.
Pagi harinya, Revan keluar kamar sedikit siang dari biasanya. Hari ini dia memang berniat menghindari orangtuanya karena Ia masih malu sudah mengecewakan orangtuanya.
Namun siapa sangka kedua orangtuanya masih menunggu dirinya dimeja makan.
Dengan kepala menunduk Revan ikut duduk dan sarapan bersama dimeja makan meski orangtuanya sudah selesai sarapan.
"Pa, Ma... sekali lagi maafkan Revan karena telah mengecewakan Papa sama Mama." ucap Revan.
"Tapi Revan tetap akan menikahi Rania."
"Ya memang itu yang harus kamu lakukan!" kata Vano membuat Revan mendongak dan menatap ke arah Vano tak percaya.
"Menikahlah dengan Rania dan bahagiakan dia. beri kami cucu sebanyak mungkin." kata Vano membuat Revan tersenyum senang begitu juga dengan Riska.
"Dan ingat, jika sampai kau menyakiti Rania, Papa nggak akan segan segan untuk memukulmu lebih dari semalam." kata Vano lalu bangkit dari duduknya dan pergi.
"Makasih Pa... makasih Ma.. Revan janji akan mejadi suami yang baik buat Rania." kata Revan sedikit berteriak karena ingin Vano mendengarnya.
Bersambung....
Jangan lupa like vote dan komen.
Lega belum nih... si repan mau meritt ama pujaan hatinya 😁
__ADS_1