
Ander melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang, hingga perjalanan yang biasanya hanya membutuhkan waktu dua jam kini harus melambat hingga tiga jam lamanya.
"Setelah lampu merah, ambil yang kanan jalan." kata Sandi yang berada di samping Ander, sementara Eliya dan Nisa berada di kursi belakang.
"Kenapa ke kanan? bukannya harusnya ke kiri?" tanya Ander.
"Sudah lah, turuti saja." perintah Sandi yang langsung diangguki Ander.
Baru kali ini Ander tidak terlalu kesal dengan Sandi meskipun Ia sedang diperintah oleh Sandi, tentu saja bukan tanpa sebab karena sekarang Sandi adalah Ayah mertua nya jadi Ia harus bersikap lebih baik pada Sandi.
"Kok belok sini sih? bukannya rumah kita belok kiri ya?" protes Eliya yang baru menyadari kala Ander membelokan mobil ke kanan.
"Ayah..." panggil Eliya kala Sandi tak membalas Eliya.
"Nanti kamu juga tau sendiri." kata Sandi santai.
Eliya hanya mengangguk paham, hingga mobil yang mereka tumpangi berhenti disebuah apartemen mewah.
"Lho kok di sini?" tanya Ander dan Eliya bersamaan.
Sandi tersenyum, Sandi mengeluarkan sebuah kunci lengkap dengan gantungan kunci bertuliskan dua angka.
Eliya yang melihat Sandi mengeluarkan kunci membuat perasaan Eliya menjadi tak enak.
"Untuk sementara kalian akan tinggal di sini sesuai dengan intruksi Tuan Alex. dan setelah rumah kalian selesai dibangun kalian akan pindah ke rumah yang sudah di siapkan untuk kalian nantinya." jelas Sandi yang langsung membuat Ander tersenyum lebar selebarnya.
Untuk pertama kalinya Ia benar benar menyukai keputusan Sandi dan juga Dad nya yang membuat mereka tinggal terpisah dengan orangtua. padahal tadinya Ander pikir mereka masih harus tinggal bersama orangtua yang membuat Ander akan sedikit kesulitan untuk menjalankan rencana nya namun sekarang, jalan itu terlihat sangat terang.
"Ta-tapi Ayah, kenapa Eliya nggak tinggal bareng Ayah sama Bunda saja?" tanya Eliya dengan wajah memelas.
"El kan udah punya suami sekarang jadi ya harus ikut sama suami kemanapun Nak Ander tinggal." nasihat dari Nisa.
"Tapi Bund..."
"Nggak apa apa sayang, bukan nya kalau kita tinggal sendiri malah lebih nyaman dan kita jadi lebih mandiri juga kan?" kata Ander yang membuat Eliya melotot sebal ke arahnya.
"Kamu udah nikah El, kamu harus turuti apa kata suami kamu." kata Sandi membuat Ander semakin tersenyum lebar karena merasa dibela.
Dengan tatapan malas, Eliya mencium punggung tangan Ayah dan Bundanya lalu keluar dari mobil tanpa sepatah katapun.
__ADS_1
"Saya janji akan menjaga istri saya dengan baik." entah kerasukan apa, tiba tiba Ander mengucapkan kata itu pada Sandi membuat Sandi mengangguk dan tersenyum lega.
Ander segera keluar mengikuti sang Istri yang sudah berdiri diluar.
"Disana sudah ada semua yang kalian butuhkan. jaga diri kalian baik baik, dan jangan lupakan untuk segera memberi kami cucu." kata Sandi dari dalam mobil membuat Ander mengacungkan jempolnya sementara Eliya hanya diam membisu pura pura tak mendengar.
"Ayo sayang, kita segera masuk ke dalam." kata ajak Ander membuat Eliya melotot.
"Berhenti memanggilku seperti itu!"
"Bukankah kau yang memulai tadi sayang? kenapa sekarang kau marah?" ejek Ander membuat Eliya semakin kesal lalu meninggalkan Ander yang masih berdiri ditempat.
"Sayang, tunggu aku." teriak Ander membuat Eliya geli sekaligus malu karena menjadi bahan tontonan orang orang yang ada disana.
Mereka memasuki lift, dan sialnya hanya mereka berdua yang ada didalam lift itu.
"Aku sudah tak sabar ingin segera masuk ke apartemen." kata Ander yang langsung membuat Eliya bergindik.
Eliya melihat jam tangan yang melingkar dipergelangan tangan nya,
"Ehm, sepertinya masih sore. apa tidak sebaiknya kita jalan jalan dulu saja?" tanya Eliya karena Ia tak ingin buru buru memasuki apartemen yang berakhir dengan kemesuman Ander.
Ting... pintu lift terbuka,
Ander keluar lebih dulu, sementara Eliya masih berdiri hingga Ander yang menarik tangan Eliya lalu merangkulnya.
"Ayolah sayang, jangan pendiam seperti ini. seperti bukan dirimu saja." kata Ander membawa Eliya memasuki apartemen nya.
Eliya yang tadinya hanya diam, kini cukup terpesona dengan kemewahan apartemen yang diberikan Papa Mertuanya.
Apalagi pemandangan kota terlihat jelas di blankon dekat ruang keluarga.
"Pasti akan indah jika malam hari." gumam Eliya.
"Ya, tentu saja. Apa kau tak ingin melihat kamar kita sayang?" tanya Ander sambil memeluk Eliya dari belakang membuat Eliya menegang tak bisa mengerakan tubuhnya.
"Ja-jangan seperti ini." kata Eliya gugup berusaha melepaskan diri namun gagal.
"Kenapa? bukankah jika seperti ini akan membuat kita menjadi semakin dekat sayang?" bisik Ander lagi.
__ADS_1
"Ba-baiklah ayo kita lihat kamar kita saja." ajak Eliya membuat Ander tersenyum kemenangan.
Eliya dan Ander pun memasuki kamar yang cukup luas, mewah dan terlihat sangat nyaman.
"Bagaimana menurutmu?" tanya Ander yang hendak memeluk Eliya lagi namun sayang nya Eliya lebih cepat menghindar.
"Ba-bagus, sangat bagus." kata Eliya gugup lalu pergi memasuki walk in closet untuk menghindari Ander yang sedari tadi ingin memeluknya.
"Semua barang barang kita sudah ada di sini?" tanya Eliya tak percaya melihat beberapa barang miliknya sudah terpajang disana.
"Hmm, mungkin Dad menyuruh seseorang untuk memindahkan barang barang kita." balas Ander.
Eliya mencoba membuka salah satu lemari besar dan terkejut melihat isinya yang dipenuhi ligerie berwarna warni yang digantung hampir memenuhi isi lemari itu.
Eliya segera menutup lemari itu namun sayangnya Ander lebih dulu melihat apa yang ada didalam lemari itu.
"Oh wow, lihatlah apa itu? Dad sungguh pengertian sekali." kata Ander ingin mengambil salah satu Ligerie namun tangan nya ditahan oleh Eliya.
"Ja-jangan." kata Eliya.
Namun Ander tak mengubris malah mengambil satu ligerie berwarna hitam.
"Sepertinya akan cocok untukmu sayang." Ander memperlihatkan dengan jelas bentuk ligerie yang hanya menutupi bagian dada dan bawahnya saja sementara yang lain hanya renda renda yang masih bisa tembus pandang.
Eliya yang sudah tak bisa menahan lagi, akhirnya Ia menatap Ander dengan tajam,
"Bukankah kemarin kau mengatakan jika tubuhku krempeng dan tak membuatmu bergairah? lalu untuk apa kau meminta ku mengenakan ini?" ketus Eliya.
"Tentu saja agar aku bisa bergairah, ayolah sayang coba pakai ini." bujuk Ander dengan senyuman nakal.
"Dasar pria mesum!" Eliya hendak keluar meninggalkan Ander namun terlambat kala Ander lebih dulu menahan nya dan mengendong tubuh Eliya ke atas meja lalu mencium bibir Eliya dengan rakus.
Sementara Eliya yang tak bisa melawan tubuh kekar Ander hanya bisa pasrah kala Ander meraup habis bibirnya.
"Sialan, kenapa bibirnya bisa semanis ini!" batin Ander di sela sela ciuman panasnya.
Bersambung....
Cie... yang dikit dikit nyosor 😂😂😂
__ADS_1
jangan lupa like vote dan komen ya pemirsahhhh....