DIJEBAK PERJODOHAN

DIJEBAK PERJODOHAN
110


__ADS_3

Revan keluar dari mobil, dengan bangganya Revan membawa kantong plastik hitam berisi seblak pesanan Rania yang masih hangat.


Namun saat Revan memasuki kamar hotelnya, sedikit kecewa karena Rania sudah terlelap diranjang.


Dengan sentuhan pelan, Revan mencoba membangunkan istrinya Rania untuk makan seblak yang sedang di inginkan Rania.


"Sayang, bangun. Aku udah bawain seblaknya."


Dengan mata masih mengantuk, Rania menguap dan memaksa untuk bangun karena mendengar suara Revan.


"Kenapa lama?" tanya Rania.


"Maaf ya, aku tadi sempet kesasar pas nyari tempatnya." ucap Revan.


Revan hanya sempat melewati warung seblak itu namum belum pernah kesana karena memang Revan tak menyukai seblak dan saat malam hari, jalan gelap Ia semakin bingung mencari tempatnya, beruntung ada google maps yang membuatnya Revan menemukan warung seblak itu.


"Kamu lama, sekarang aku udah nggak pengen.'' kata Rania santai membuat Revan melotot.


"Nggak pengen gimana? aku udah keluar malem gini buat beliin seblak ini dan sekarang kamu nggak mau makan?" tanya Revan dengan tatapan melotot membuat Rania menunduk.


"Sekarang aku pengennya seblak itu kamu yang makan." kata Rania dengan suara lirih dan masih menunduk.


"Please sayang, nggak usah aneh aneh. kamu tau kan aku nggak suka seblak." protes Revan.


"Aku tau kamu lagi ngidam." kata Revan membuat Rania terkejut, "Jadi mendingan kamu makan seblaknya dari pada nanti anak kita ileran."


"Tapi sekarang aku maunya kamu yang makan." kata Rania.


"Sayang, kamu tau kan aku-"


"Kamu mau anak kita ileran?" tanya Rania menatap Revan, "Ini maunya anak kita, bukan aku."


Revan menghela nafas, malam pertama yang seharusnya menjadi malam terindah dan terpanas untuknya kini malah menjadi malam yang sangat menyebalkan.


Oh oke son, kamu benar benar sedang mengerjai Papa sekarang.


"Oke, aku makan seblaknya." kata Revan segera mengambil seblak yang sudah Ia pindahkan dimangkuk.


Baru saja menyuapkan satu sendok ke mulutnya sudah membuat Revan mual, entah karena Ia tak menyukai seblak atau karena memang efek ngidam Rania yang berpindah padanya dan ini benar benar mengesalkan.


"Beneran sayang, aku nggak mau makan lagi." kata Revan saat keluar dari kamar mandi.

__ADS_1


"Tapi aku maunya kamu habisin seblaknya," kata Rania dengan suara manja. "Kamu mau anak kita ile-"


"Iya oke oke, aku habisin. please jangan ngomong anak kita ileran." kata Revan kembali menyuapkan seblak, memaksa untuk masuk meski perutnya terasa sangat mual.


"Kamu yang duluan bilang ileran dari tadi." Rania mengingatkan namun tak digubris oleh Revan yang sibuk menghabiskan seblaknya.


Selesai menghabiskan seblaknya, Revan meneguk jus jambu untuk menghilangkan rasa mual sehabis makan seblak.


"Dah seneng kan? udah aku habisin." ucap Revan melihat Rania tersenyum geli menatapnya.


"Ga boleh marah dong, namanya juga lagi ngidam."


Revan tersenyum lalu membawa Rania duduk dipangkuannya.


"Aku nggak marah sayang, seneng kok bisa nurutin ngidamnya istri aku ini."


"Ya walaupun harus tersiksa ngrasain seblak, nggak apa apa yang penting anak kita nggak ileran."


Rania tersenyum, Ia kembali menguap pertanda ngantuknya datang.


"Ya udah bobok lah, nggak usah malem pertama. kasian kamu capek." ajak Revan.


"Yakin nggak mau?" tawar Rania dengan tatapan mengoda.


Rania tersenyum mendengar pengertian Revan yang luar biasa, namun senyumnya memudar setelah keduanya berbaring diranjang, nyatanya Revan langsung meminta haknya.


"Katanya nggak mau." cibir Rania kala mereka selesai dironde pertama.


"Nggak mau nolak maksudnya." kekeh Revan membuat Rania memutar bola matanya malas.


Hanya satu ronde saja, lalu keduanya sudah terlelap ke alam mimpi.


....


"Ini kado dari Papa dan Mama." kata Revan memperlihatkan kotak warna merah maroon bertali pita yang sangat cantik.


"Buka aja." Rania yang baru saja selesai mandi masih sibuk mengeringkan rambutnya.


Revan menuruti Rania membuka kado yang ternyata berisi kunci rumah.


"Ck ternyata Papa sama Mama beliin kita rumah, padahal aku udah rencana buat rumah sendiri." keluh Revan melihat kunci beserta sertifikat rumah diperumahan mewah yang ada dikota mereka.

__ADS_1


"Ya udah nggak apa apa, kita tinggal disana dulu sementara sampai rumah yang kamu pengen jadi." kata Rania "Hitung hitung kita nyenengin Papa sama Mama."


"Bener juga sih," kata Revan lalu memeluk Rania dari belakang "Memang nggak salah pilih istri nih."


"Apa sih gombal banget deh." omel Rania "Mandi sana. Papa sama Mama pasti udah nungguin buat sarapan."


"Oke siap Nyonya."


Selesai mandi Revan dan Rania pun turun kelantai bawah, tepat direstoran hotel tempat mereka menginap.


Dan benar saja, Riska dan Vano sudah menunggu disana.


"Ck, mentang mentang pengantin baru kemana mana gandeng terus." celetuk Vano melihat Revan mengenggam tangan Rania saat berjalan kemanapun membuat Rania tersipu malu. merasa tak enak dengan godaan mertuanya itu.


"Ck, mas... nggak usah mulai deh." Riska mencubit pinggang Vano.


Sementara Revan menatap sebal papanya, "Kayak Papa nggak pernah muda aja."


Ya begitulah Vano, saat marah Ia bisa melakukan apapun namun setelah semuanya selesai, kembali lagi pada sifat menyebalkan seperti biasanya.


"Kamu nggak usah dengerin omongan Papa ya Ran, biasa Papa emang suka bercanda." jelas Riska tak ingin Rania salah paham.


"Iya Ma, nggak apa apa kok."


"Semalem katanya kamu ngidam ya? gimana diturutin kan sama Revan?" tanya Riska membuat Rania menatap ke arah Revan seolah bertanya Kok mama bisa tau?


"Semalem aku ketemu Papa dibawah," jelas Revan yang langsung membuat Rania mengangguk paham.


"Diturutin kok Ma, dapet seblaknya. tapi pas udah ada mendadak males makan. cuma pengen lihat mas Revan makan." jelas Rania sambil tersenyum geli mengingat semalam.


"Revan makan seblak?" tanya Riska dan Vano bersamaan, seolah tak percaya karena tahu Revan tak menyukai seblak.


Rania mengangguk,


"Terpaksa dari pada anaknya ileran." gerutu Revan.


Vano terkekeh, "Belum lahir aja udah ngerjain bapaknya gimana kalau udah lahir."


"Ya semoga aja besok nggak rese kayak kakeknya." kata Revan sambil menatap sebal Vano yang tak berhenti tertawa mengejek dirinya.


Bersambung...

__ADS_1


jangan lupa like vote dan komen....


__ADS_2