
Ran memasuki toko bunga dengan membawa kantong berlogo nama restoran fastfood. Saat ingin keruangan Eliya, tak sengaja Ran berpapasan dengan Nana yang baru selesai membucket bunga untuk pelanggan.
Ran berjalan begitu saja melewati Nana, membuat Nana melonggo tak percaya.
"Ada apa dengan pria itu? apa dia benar benar marah?" batin Nana "Terserahlah," Nana melanjutkan langkahnya.
Sementara Ran kini sudah berada diruangan Eliya, "Makan siangnya Nona." Ran meletakan makanan di meja Eliya yang terlihat sibuk didepan laptopnya.
"Makasih Ran," balas Eliya.
"Hanya satu?" tanya Eliya melihat Ran hanya membawa satu bungkus saja. "Mas Ander mana?"
"Tadi Tuan bilang harus menemui klien jadi tidak bisa makan siang bersama Nona." jelas Ran yang langsung diangguki oleh Eliya.
"Ck, ya sudah. terima kasih Ran sudah mengantar makan siangnya."
"Baiklah Nona, saya permisi."
"Kau langsung pergi?" tanya Eliya heran.
"Apa Nona membutuhkan bantuan saya lagi?"
"Tidak, bukan seperti itu. aku pikir kau akan mengajak Nana makan siang." kata Eliya yang langsung mendapatkan gelengan dari Ran.
"Tidak Nona, kapan kapan saja."
"Kalian ini sedang bertengkar apa bagaimana? tadi pagi Nana juga hanya melihat mu dari balik gerbang toko, dan sekarang kau juga tak ingin menemuinya." heran Eliya.
"Nana menunggu digerbang toko?" tanya Ran memastikan dan langsung diangguki Eliya.
Seketika Ran tersenyum, sepertinya rencana Ran akan berhasil kali ini.
"Mungkin Nana sedang menunggu orang lain, bukan saya." kata Ran.
"Tidak mungkin. pasti Nana sedang menunggumu. ajaklah makan siang." pinta Eliya .
"Tapi Nona, Tuan pasti marah jika saya tak segera menjemputnya."
Eliya hanya menghela nafas lelah,
"Ya sudah, pergilah sana."
"Saya permisi Nona." Ran segera berbalik keluar dari ruangan Eliya.
Diluar, Ran melihat keseluruhan toko namun tak menemukan Nana, akhirnya Ran segera keluar dari toko.
Baru selangkah melewati gerbang, Ran dikejutkan oleh Nana yang berdiri disamping mobil dinas Ran.
__ADS_1
Ran mencoba mengacuhkan Nana, melangkah dengan kaki lebar dan hendak memasuki mobil.
"Hey pria menyebalkan! ada apa denganmu?" teriak Nana dengan wajah kesal.
Ran menunjuk dirinya sendiri, "aku? kau berbicara dengan ku?" tanya Ran dengan wajah polos.
Dengan kesal Nana mendekati Ran, "Tentu saja denganmu! memangnya di sini ada orang lain selain dirimu?"
"Oh aku pikir kau berbicara sendiri." kata Ran santai.
"Dasar pria menyebalkan." Nana hendak berbalik meninggalkan Ran, namun seketika tangannya ditahan oleh Ran.
"Apa kau merindukanku sayang?"
.....
Vano akhirnya bisa tersenyum penuh kemenangan. Setelah perdebatan alot dengan sang istri akhirnya Dia lah pemenangnya, meski dengan bantuan dari dua keponakannya yang teramat menyebalkan. Randi dan Ander.
Randi dan Ander memasuki ruangan Revan setelah mendengarkan pembicaraan alot antara Tante dan om mereka. Randi dan Ander pula lah yang memberikan saran terbaik mereka agar perdebatan alot ini segera berakhir.
"Jika siang hari tante bisa menemani Revan, dan khusus malam harinya biarkan Randi yang menemani Revan." saran Dari Randi yang langsung disetujui oleh semua orang kecuali Riska yang masih menatap suaminya kesal karena tak mau mengalah pada putranya sendiri.
"Sepertinya itu ide yang bagus, tentu Om kita yang paling tampan sedunia ini akan setuju." kata Ander sambil menepuk bahu Vano membuat Vano melirik tajam ke arah Ander.
"Jangan lupa, kaulah penyebab semua ini." kata Vano sengit.
Tampak Revan, Ander dan Randi terkejut dengan kedatangan orang yang tak diundang. Sementara Riska terlihat penasaran dengan wanita yang sedang berdiri didepan pintu yang tak kalah terkejut nya melihat banyaknya orang yang ada diruangan Revan.
"Nona? kau sudah datang lagi? bukankah jadwal kontrolmu besok lusa?"
Rania terlihat menunduk malu, sementara Ander dan Randi terlihat penasaran jadwal kontrol apa yang dimaksud om Vano.
"Saya kesini bukan untuk kontrol dokter, saya ingin menjenguk Revan." kata Rania sambil memperlihatkan bingkisan yang Ia bawa.
"Jadi kalian saling mengenal?"
Rania mengangguk pelan, Rasanya sedikit tak nyaman. melihat Revan yang menatapnya acuh serta Ander dan Randi yang terlihat sebal menatapnya, Ah ya tentu saja mereka membenci Rania sekarang.
"Kamu sama Revan pacaran?" kini giliran Riska yang bertanya.
"Enggak Ma, udah deh nggak usah kepo." belum sempat Rania menjawab, Revan menjawabnya lebih dulu.
"Tante, Om... mendingan kita keluar dulu deh." ajak Ander yang langsung disetujui oleh Riska Dan Vano.
Setelah semua orang keluar, Rania menutup pintu kamar dan berjalaan mendekati Revan.
"Gimana keadaan kamu? apa ada luka yang parah?" tanya Rania terdengar gugup.
__ADS_1
"Ada."
"Bagian mana?"
"Hatiku." kata Revan menatap ke arah Rania "Hatiku yang paling sakit saat ini." kata Revan lagi membuat Rania menunduk.
"Ngapain kamu kesini? apa karna kasian sama aku? nggak perlu Ran. aku baik baik saja." kata Revan acuh.
"Maaf Van, gara gara aku, kamu..."
"Aku baik baik saja Ran, tak perlu merasa bersalah." jelas Revan.
"Jika sudah tak ada urusan, lebih baik kamu pergi." usir Revan membuat Rania terkejut.
"Apa kamu benar benar membenci ku Van?"
Revan menghela nafas, "Aku tidak membencimu. aku hanya tak ingin memiliki urusan denganmu lagi."
"Aku ingin move on Ran, jadi please. kamu nggak perlu nemuin aku lagi." jelas Revan yang entah mengapa membuat hati Rania berdenyut nyeri.
"Sekali lagi maafkan aku Van." kata Rania mencoba menahan isak tangisnya yang sebenarnya ingin keluar.
Rania berbalik, pergi meninggalkan ruangan Revan. Diluar sudah ada Randi dan Ander yang menunggu, menatapnya dengan tatapan sinis.
Rania memutuskan segera pergi meninggalkan klinik tanpa menyapa Randi dan Ander. Rasanya lebih baik Ia tak perlu memiliki urusan dengan mereka lagi.
Rania melajukan mobilnya menuju kafe, setelah dari bengkel Revan tadi memang Rania terburu buru pergi ke klinik.
Dan melihat keadaan Revan membuat dirinya sangat merasa bersalah. Dia hanya ingin mengungkapkan perasaanya jika dirinya belum bisa mencintai Revan tapi mengapa semua malah serumit ini?
Dan yang lebih aneh lagi, Ia yang dulunya sangat menganggumi sosok Ander, bahkan menyukainya lebih dari apapun, namun tadi saat Ia bertemu dengan Ander, Rania merasa perasaannya baik baik saja. Tak ada getaran dihatinya seperti yang selalu Ia rasakan jika melihat Ander.
Atau mungkinkah sebenarnya Ia sudah move on dari Ander?
Entahlah, kepala Rania mendadak berdenyut. Rania memasuki ruangannya dan segera bersandar disofa.
Namun sedetik kemudian, Rania berlari ke toilet karena Ia merasa perutnya sangat mual ingin muntah.
Dan... Hoek ... hoek... hoekk..
Rania sudah mengeluarkan semau isi perutnya.
"Ada apa ini? apa aku salah makan?"
BERSAMBUNG...
JANGAN LUPA LIKE VOTE DAN KOMEN
__ADS_1