DIJEBAK PERJODOHAN

DIJEBAK PERJODOHAN
59


__ADS_3

Eliya meletakan alat perekam di meja, Ia lalu kembali duduk disamping Rania.


"Sejujurnya aku tak ingin melakukan ini karena aku tau pasti sangat menyakitimu."


"Tapi aku tak ingin orang baik sepertimu merasakan sakit lebih dari ini. itulah alasanku yang sebenarnya memberikan rekaman ini padamu."


Bullshit, ingin rasanya Rania mengatakan umpatan itu pada dirinya sendiri karena berhasil mengelabui Eliya. Ia memberikan rekaman itu bukan karena Eliya namun karena Ia ingin memiliki Ander. Rania memang sejahat itu.


Eliya hanya menunduk diam, Ia sudah tak menangis lagi namun hati dan pikirannya masih sangat kacau.


"Dari mana kamu bisa mendapatkan rekaman ini?" tanya Eliya dengan suara bergetar.


"Jika aku menyukai seseorang, aku suka mendengar suaranya jadi aku letakan alat perekam ini dimeja mereka."


"Kamu menyukai suamiku?"


Dengan penuh percaya diri Rania mengagguk, "Dulu sebelum akhirnya aku sadar jika dia tak pernah melihat ke arahku."


"Dia bahkan mengatakan secara terang terangan jika tidak bisa menyukaiku, lalu aku bisa apa? itulah alasanku sempat menyerah."


"Lalu sekarang kamu ingin merebut suamiku?" tanya Eliya menatap tajam ke arah Rania.


"Tidak, bukan merebut karena pada kenyataannya Ander tidak pernah mencintaimu, jadi aku tidak salah bukan jika ingin mendekatinya?" Rania tersenyum sinis berbeda dengan Eliya yang terlihat sangat terluka.


"Kenapa harus ada wanita sejahat ini." batin Eliya menahan tangis karena tak ingin Rania semakin mengejeknya.


Ia harus kuat, tidak boleh lemah di hadapan Rania. jika Ia lemah Rania akan semakin menindasnya.


"Ya sudah semoga berhasil." kata Eliya dengan nada tenang membuat Rania terkejut.


Rania pikir Eliya akan kembali menangis namum kenyataannya Eliya justru semakin tenang seolah siap melepaskan Ander.


"Jadi kamu akan melepaskan Ander untuk ku?" tanya Rania penuh percaya diri.


Kini giliran Eliya yang tersenyum sinis, "Untuk apa aku repot repot melepaskan Ander, bukankah Ander yang memang akan melepaskanku?"


"Tunggu saja sampai Ander benar benar melepaskan ku dan kamu bisa memilikinya."


Rania tersenyum lega, "Baiklah, aku pasti akan menunggu waktu itu jadi siapkan hatimu agar nanti tidak terlalu terluka."


Rania bangkit dari duduknya "Aku pikir sudah tidak ada urusan dengan mu jadi aku pergi sekarang."


"Semoga kandungan mu baik baik saja. siapkan dirimu untuk jadi ibu tunggal setelah ini." ejek Rania sebelum akhirnya keluar.


Eliya mengunci pintu ruangan nya, Ia ambruk didepan pintu. Memeganggi dada nya yang terasa sakit mengetahui kenyataan pahit.


Ya kenyataan dimana Ander sama sekali tidak pernah mencintainya, lalu selama ini apa?

__ADS_1


Disaat Ander selalu perhatian padanya, apa ini semua nya palsu?


Apa Ander juga tak menginginkan bayi mereka?


Jadi semua ini palsu? Eliya sudah tertipu.


Padahal Eliya sudah menyerahkan semuanya pada Ander bahkan Eliya sudah percaya Ander bisa menjaganya namun semuanya hanya kepalsuan belaka.


Ander tak pernah mencintainya.


Dan Ander hanya ingin balas dendam. Ander membencinya dan Eliya tak pernah sadar itu.


Apa kesalahannya terlalu fatal hingga Ander begitu membencinya dan bahkan berniat buruk padanya.


Tak sadarkah Ander jika awalnya Ia juga tak bisa menerima pernikahan ini namun Ia berusaha menjadi istri yang baik untuknya namun apa balasannya? Ander bahkan berniat meninggalkan dirinya dan bayi mereka.


"Kau benar benar bodoh, terbuai rayuan hingga menyerahkan segalanya pada pria brengsek seperti Ander."


Sekali brengsek tetap brengsek! tak ada yang akan berubah bahkan hukuman sewaktu itu bukan membuat Dia sadar malah semakin menjadi.


Jadi apa sebaiknya Eliya yang pergi lebih dulu? Eliya kembali menangis. Entah mengapa rasanya semakin berat dan menyakitkan untuknya.


"Dasar pria brengsek." umpat Eliya disela tangisannya.


Cukup lama Eliya menangis dan Ia merasakan keadaan nya yang semakin lemah. Eliya akhirnya memutuskan untuk pulang dan istirahat saja.


"Mbak nangis?" tanya Mira saat Eliya keluar dan wajah Eliya terlihat sembab.


Eliya hanya menggeleng lemah "Capek, mau istirahat aja."


"Biar dianterin agus ya mbak."


Agus tukang kebun yang mengurus tanaman bunga ditoko bunga itu.


Eliya kembali menggeleng, "Aku naik taksi aja Mir."


"Tapi mbak..."


Eliya tak menjawab langsung keluar dari toko meninggalkan Mira yang masih penasaran.


"Ada apa sih mbak El kok sampai nangis gitu? apa karena wanita yang baru saja datang ya?" gumam Mira.


"Kenapa Mir?" salah satu rekan Mira ikut penasaran dengan perbincangan singkat Eliya dan Mira.


"Kamu tau wanita yang datang tadi kan?" Rekan Mira mengangguk,


"Habis wanita itu pergi, Mbak El keliatan sedih trus nangis juga. sekarang mbak El nya pulang sendiri padahal aku udah nawarin buat dianterin Agus." jelas Mira.

__ADS_1


"Duh, jangan jangan itu selingkuhan suaminya."


"Huss, jangan ngawur kamu."


Rekan Mira hanya nyengir, "Kan cuma nebak aja Mir."


Mira hanya menggeleng lalu meninggalkan rekan nya.


....


Ander keluar dari mobil dan memasuki apartemen dengan buru buru. mendengar Eliya yang tiba tiba pulang membuat Ander khawatir terjadi sesuatu pada Eliya dan bayinya.


Menekan password pintu lalu berhambur memasuki apartemen dan mencari Eliya hingga Ia menemukan Eliya berada walk in closet sedang memasukan bajunya ke dalam koper.


"Sayang, ada apa ini?" tanya Ander terkejut melihat semua baju Eliya sudah rapi dalam satu koper besar.


Tak menjawab, Eliya hanya menatap Ander tajam lalu kembali memasukan barang barang yang lain.


Hingga Ander mencekal tangan Eliya membuat Eliya tak bisa melakukan apapun.


"Kenapa? apa yang terjadi?" Ander masih saja menunggu jawaban Eliya apalagi melihat mata sembab Eliya.


Seingat Ander Ia tak melakukan sesuatu yang kejam akhir akhir ini,


Eliya menghela nafas sebelum akhirnya Ia mengeluarkan alat perekam dari Rania dan memberikan pada Ander.


"Sebelum kamu pergi, biarkan aku saja yang pergi."


"Terimakasih telah memberikan pelajaran hidup yang sangat berharga untuk ku dan..."


Eliya menjeda ucapan nya karena Ia tak tahan untuk tak menangis,


"Dan maaf jika aku membuatmu terluka di masa lalu."


"Apa maksudnya?" Ander masih saja bingung karena Ia belum mendengarkan isi rekaman yang diberikan Eliya.


"Aku akan pulang kerumah Ayah dan Bunda, terima kasih untuk kenangan selama 4 bulan ini." Eliya sudah berhenti menangis namun Ia tak bisa memandang ke arah Ander karena rasanya menyakitkan untuknya.


"Tidak, jangan pergi sebelum kamu menjelaskan semuanya!"


"Semua sudah ada di sini." Eliya menunjuk alat perekam dan disaat Ander sibuk mendengarkan rekamannya Eliya keluar dari apartemen.


Sampai di bawah, Eliya sempat menengok ke kebelakang berharap Ander mengejarnya namun sayangnya...


"Mana mungkin dia mengejarmu." Eliya tersenyum miris sebelum akhirnya Ia benar benar keluar dari apartemen.


Sementara masih di dalam walk in closet, Ander mendengarkan isi rekaman itu.

__ADS_1


Ander mengepalkan tangan nya, Sepertinya Ia tau siapa yang sudah merekam dirinya memberikan pada Eliya.


BERSAMBUNG....


__ADS_2