
Kini Ander dan Eliya sudah berada dimeja makan dimana semua keluarga yang ikut menginap, sarapan bersama mereka.
Semua orang terlihat asyik mengobrol banyak hal, berbeda dengan Ander yang memasang wajah cemberut karena ciumannya yang gagal pagi ini. berbeda dengan Eliya yang hanya menunduk saja karena Eliya masih merasa gugup dengan apa yang baru terjadi tadi bersama Ander.
"Wah wah wah, apa yang terjadi dengan pengantin baru kita pagi ini? kenapa mereka terlihat tidak senang?" goda Rangga yang duduk didepan Ander.
"Mungkin semalam mereka gagal mencetak gol." ejek Vano membuat Ander semakin kesal.
"Apa semalam kau belum bisa menaklukan istri cantikmu itu Ander? oh ayolah Ander jangan membuat malu Dad mu." giliran Alex yang bersuara membuat Ander semakin kesal saja.
"Tentu saja tidak, kami semalam melakukannya berkali kali. bukankah begitu sayang?" kata Ander sambil merangkul bahu Eliya.
Uhuk Uhuk.. Eliya terbatuk kala Ander mengatakan itu padanya.
"Apa apaan pria ini? mengapa dia mengatakan hal memalukan seperti itu di sini?" batin Eliya menatap Ander dengan tatapan kesal.
"Benarkah? hebat sekali putraku... Ander memang tidak pernah mengecewakanku." kata Alex dengan tatapan senang.
"Sebentar lagi pasti kita akan memiliki cucu Sandi, apakah kau juga ikut senang?" tanya Alex pada Sandi.
Uhuk ... uhuk... lagi lagi Eliya terbatuk mendengar ucapan Alex apalagi Ayahnya yang ikut terlihat senang. Sungguh Eliya tak bisa membayangkan bagaimana kecewa nya sang Ayah jika semua tidak seperti yang diharapkan.
"Sudahlah, jangan mengoda mereka terus. biarkan mereka makan dulu." kata Ella mengingatkan.
"Aku hanya tak sabar sayang, ingin segera menimang cucu." ungkap Alex.
"Tenang saja brother. jika memang otong milik Ander kualitas super hanya butuh waktu sebulan untuk membuat Istrinya hamil." jelas Vano yang seorang dokter.
Ander yang lagi lagi kesal langsung membalas ejekan dari om nya itu.
"Om tenang saja, dalam waktu sebulan sudah kupastikan Istriku hamil." kata Ander membuat Eliya melotot ke arah Ander.
"Bukankah kita juga ingin cepat memiliki anak sayang?" tanyaAnder masih merangkul istrinya.
Eliya hanya memaksakan senyum dibalik amarahnya,
"Dasar pria mesum sialan!" batin Eliya.
Sementara Randi dan Revan hanya terkikik geli, menertawakan Ander yang sangat jago akting didepan keluarganya.
...
Brakkk... Eliya menutup pintu sekencang mungkin hingga menimbulkan suara, Ia ingin Ander paham jika dirinya sedang marah saat ini. sementara Ander pura pura tak melihat dan tak mendengar. Ia malah asyik berbaring dan memainkan ponselnya.
__ADS_1
"Kau gila?" tanya Eliya ketus melihat Ander tak memperdulikan dirinya yang sedang marah.
"Anggap saja begitu." balas Ander acuh.
"Bagaimana bisa kau mengatakan akan menghamiliku dalam waktu sebulan?"
"Apa kau meremehkan ku juga? aku bisa menghamilimu sekarang juga." Ander mulai bangkit dan melempar ponselnya di ranjang membuat Eliya sedikit takut.
"Bu-bukan seperti itu. jangan marah. aku hanya belum siap saja." kata Eliya gugup.
"Mereka mengejek ku, mana mungkin aku diam saja!" ketus Ander.
"Tapi, jika dalam waktu sebulan aku tidak hamil. kita bisa mengecewakan orangtua kita." kata Eliya sambil menunduk.
"Kalau begitu ayo kita lakukan, aku bisa menbuatmu hamil dalam waktu sebulan." kata Ander dengan nada nakal.
Eliya menatap kesal ke arah Ander sebelum akhirnya Ia memukuli dada bidang Ander.
"Dasar mesum, bisa bisanya kau mengatakan itu padaku!"kesal Eliya.
"Memang apa salahnya? aku bahkan berhak melakukan apapun atas dirimu." kata Ander yang kini sudah menangkap tangan Eliya.
Eliya sedikit takut karena Ia sudah terkurung lagi, "Jangan gila, bahkan kita tak saling menyukai untuk melakukan ini."
Ander memberanikan diri, Ia duduk dipinggir Ranjang lalu menarik tangan Eliya dan membuat Eliya duduk dipangkuan nya.
Eliya yang sudah sangat gugup hanya bisa diam dan pasrah, tak bisa melakukan apapun. Hingga Eliya merasa bibir Ander yang kenyal sudah menempel di bibirnya.
Awalnya Eliya tak membiarkan bibirAnder masuk hingga Ander mengigit pelan bibir Eliya membuat Eliya membuka bibirnya dan membiarkan bibir Ander menjelajah didalam sana.
Keduanya beradu bibir cukup lama hingga suara ketukanpintu kembali menganggu aktifitas mereka.
Eliya buru buru bangkit dan membuka kan pintu, Ander yang melihat sikap gugup Eliya hanya tersenyum.
"Hanya tinggal selangkah lagi." batin Ander tersenyum puas.
"Kalian masih mau nginep sini apa mau pulang sekarang?" tanya Nisa.
"Pu-pulang aja Bund." balas Eliya cepat karena Eliya tak ingin berada di sini terlalu lama dengan Ander.
"Oh ya sudah, nanti kalian satu mobil dengan Ayah dan Bunda ya. kalian siap siap dulu, Bunda tunggu dibawah."
"Iya bunda." Eliya segera menutup pintu, membalikan badan disana sudah ada Ander yang masih duduk di pinggir ranjang menatapnya nakal.
__ADS_1
"Ada apa?" Tanya Ander hendak menarik tangan Eliya agar Eliya kembali duduk dipangkuan nya namun gagal karena Eliya segera menepis tangan Ander.
"Kita akan pulang sekarang jadi lebih baik segera bersiap." kata Eliya yang kini sibuk mengemasi barangnya.
Raut wajah Ander berubah kecewa "Sayang sekali, padahal aku masih ingin bersenang senang di sini."
"Ya sudah jika memang begitu, kau tinggal di sini dulu saja biar aku pulang lebih dulu." kata Eliya santai membuat Ander melotot tak percaya.
"Hey mana bisa kau melakukan itu padaku?" protes Ander bangkit lalu mendekati Eliya.
"Bukankah istri itu harus mengikuti kemana suaminya pergi?"
Eliya tak bisa membayangkan jika Ia masih harus tetap disini bersama Ander, Aa bisa bisa Ander melakukan hal lain yang lebih dari ciuman. Tidak, Eliya tidak bisa melakukan itu sekarang apalagi dirinya tak berkutik jika Ander sudah mengurungnya seperti tadi, Hanya membayangkan saja Eliya sudah tak sanggup.
"Tapi aku sudah ingin pulang." balas Eliya tak mau kalah.
Eliya ingin segera pulang agar Ander tak berani macam macam padanya jika Ia sudah berada dirumahnya , begitulah pikiran Eliya.
Baiklah, baiklah... kita pulang sekarang!" Ander mengalah kali ini toh Ia bisa melanjutkan program hamilnya saat dirumah nanti.
Mereka pun segera menuju lobi saat sudah selesai berkemas. Disana sudah ada Nisa dan Sandi yang menunggu.
"Sudah siap? tidak ada yang tertinggal?" tanya Sandi.
Baik Ander maupun Eliya menggeleng pelan.
"Baiklah, kita berangkat sekarang." ajak Sandi.
Mereka pun bergegas menuju parkiran mobil, namun saat Sandi ingin memasuki mobil bagian depan suara Eliya menghentikan langkah Sandi.
"Sayang, apa kau akan membiarkan ayah mertua menyetir untuk kita?" tanya Eliya pada Ander dengan suara manja membuat semua orang terkejut.
"Bukankah lebih baik kau menyetir sayang?" tanya Eliya dengan suara manja.
"Ah tentu saja aku yang akan menyetir, mana mungkin aku membiarkan Ayah mertuaku menyetir untuk kita." kata Ander dengan suara penuh penekanan.
Eliya tersenyum puas.
Akhirnya Ia bisa membalas Ander yang sudah mempermalukan dirinya tadi pagi.
BERSAMBUNG...
Aku kok asik bikin cerita yang kayak gini ya😁 rasanya engga tega aja kalau.mau di kasih konflik berat hehehe jadi mungkin konfliknya ringan aja ya gays...
__ADS_1
Happy reading... jangan lupa like vote dan komen...